Wednesday, January 27, 2016

Boneka


Terpajang mewah
Boneka berpita tanpa harga
Bertengger di sana
Tarpantul pada gurat matamu dan matanya

Boneka itu,
Boneka pajangan paling wah..
Tertambat pada relung batas jiwa
Terbelah, terbagi dua..

Padamu ada cinta, ada perisai lara
Sedang padanya ada sayang, tertera jalan pulang

Matamu berbinar-binar,
Sedang matanya berkunang-kunang..

Kalian saling merapat,
Memelukku erat..
Hangat,

Namun, waktu lalu menyerbu
Mendamparkan pilu boneka itu
Memajangnya haru,
Di pojok etalase penuh debu..

Yang pergi, yang berlari
Mampirlah sesaat tanpa benci
Pada boneka mewah yang kini serupa sampah

Peluklah, sayangilah..
Sapa dia,
Bersihkan debunya..

Dia tak ingin kalah
Atau mengalah
Pada sejarah

Saturday, January 23, 2016

J-U-L-I

Lidahku menari
Berulang kali meliuk-liuk
Huruf-huruf pada kata yang dieja berulang-ulang
M-A-A-F
Maaf?
Benarkah??
Ya, lidahku terlanjur mengatakannya
Tapi, foto-foto itu
Malam ini lantas menikam lagi
Nyerinya menggurita pada ingatan yang lumpuh di penghujung Juli
J-U-L-I
Juli, mestinya ada tawa sumringah
Atau ada hati yang berdebar-debar tak sabar
Menunggu, meretas pada tarian jarum waktu
Tapi..
Juli itu terlalu sunyi
Meninggalkan sepotong kue, lilin dan nyanyian yang aku ratapi sendiri..
Lalu diakhir Juli,
J-U-L-I
2-4 J-U-L-I
Aku melihatnya,
Sebuah kejutan
Nyaris tiba-tiba,
Tanpa pita, ataupan kata-kata
Dia,
Mira...