Terpajang mewah
Boneka berpita tanpa harga
Bertengger di sana
Tarpantul pada gurat matamu dan matanya
Boneka itu,
Boneka pajangan paling wah..
Tertambat pada relung batas jiwa
Terbelah, terbagi dua..
Padamu ada cinta, ada perisai lara
Sedang padanya ada sayang, tertera jalan pulang
Matamu berbinar-binar,
Sedang matanya berkunang-kunang..
Kalian saling merapat,
Memelukku erat..
Hangat,
Namun, waktu lalu menyerbu
Mendamparkan pilu boneka itu
Memajangnya haru,
Di pojok etalase penuh debu..
Yang pergi, yang berlari
Mampirlah sesaat tanpa benci
Pada boneka mewah yang kini serupa sampah
Peluklah, sayangilah..
Sapa dia,
Bersihkan debunya..
Boneka berpita tanpa harga
Bertengger di sana
Tarpantul pada gurat matamu dan matanya
Boneka itu,
Boneka pajangan paling wah..
Tertambat pada relung batas jiwa
Terbelah, terbagi dua..
Padamu ada cinta, ada perisai lara
Sedang padanya ada sayang, tertera jalan pulang
Matamu berbinar-binar,
Sedang matanya berkunang-kunang..
Kalian saling merapat,
Memelukku erat..
Hangat,
Namun, waktu lalu menyerbu
Mendamparkan pilu boneka itu
Memajangnya haru,
Di pojok etalase penuh debu..
Yang pergi, yang berlari
Mampirlah sesaat tanpa benci
Pada boneka mewah yang kini serupa sampah
Peluklah, sayangilah..
Sapa dia,
Bersihkan debunya..
Dia tak ingin kalah
Atau mengalah
Pada sejarah
No comments:
Post a Comment