Mereka telah berlalu, sedang aku masih tersesat pada satu titik waktu. Berputar-putar dan tak pernah bisa sampai.
Aku ibarat layang-layang putus..
Dibiarkan terbang begitu saja, hingga jatuh pada tempat yang tak pernah mereka tahu.
Mereka tak peduli, karena aku hanya layang-layang yang terbuat dari kertas..
Andai saja aku emas atau berlian..
Mungkin mereka akan panik saat aku tak ada
Dan mencariku hingga memakan banyak sekali waktu
Mereka peduli, mereka perlu, karena aku memiliki nilai
Nilai yang kadang-kadang hanya untuk dinikmati sendiri, bukan untuk berbagi..
Aku ibarat layang-layang putus, yang tak pernah ingin putus..
Berharap dicari lagi, untuk di bawanya pulang..
Karena langit terlalu luas untukku terbang tanpa kendali..
Dan aku teramat ketakutan..
Tapi, sekali lagi mereka tak peduli..
Karena mereka hanyalah pecinta diri sendiri..
Aku adalah layang-layang yang dimainkan tanpa hati..
Dibiarkan begitu saja pergi tanpa alas kaki..
Dan mereka dengan mudah bermain kembali,
Dengan banyak layang-layang baru sebagai pengganti..
Kini, tak ada lagi yang bisa disebut kenangan.
Karena mungkin kenangan ibarat rumah tua yang dipenuhi sarang laba-laba..
Dan mereka tak ingin kembali pada tempat lama yang dihuni oleh sesuatu yang mereka anggap telah mati..
Aku memang sebuah kuburan bagi kesedihan,
Aku menampung setiap episode dari jejak yang mereka tuliskan..
Dan aku tak akan pernah lupa..
Karena seringkali aku ingin melihat mereka lagi..
Satu persatu, hingga mengering sudah hujan yang kerap turun di atas pipi..
Aku tak ingin menjadi layang-layang, yang terbang sendiri dengan sisa benang sepi akan kepergian dan kehilangan..
Aku tak ingin melihat birunya langit dengan mata berlinang..
Aku ingin mendarat..
Dan berjalan bersama, menatap langit dari bawah..
Aku tak ingin terbang..
Aku tak ingin diterbangkan..
Karena aku adalah layang-layang pajangan..
Yang tak ingin jauh dari rumah dan kehangatan..
Aku adalah layang-layang di bulan Mei..
Yang berharap dicari lagi
Untuk dibawanya berlari..
Pergi..

No comments:
Post a Comment