Segelas teh hangat tanpa gula.
Dan jam-jam yang lupa untuk dilihat putarannya.
Teh mengusir dingin, menelisik kesepian, meminang bulir-bulir impian.
Seperti bayangan yang mengekor kemana kaki melangkah.
Segelas teh hangat tanpa gula. Tak ada aturan, tak ada perdebatan.
Dia di sana, memangku, memeluk, bertepuk tangan.
Aku suka caranya tersenyum.
Senyuman tatkala aku menyukai senja, lalu dia melukiskan kata-kata.
Seperti ketika aku ingin terbang, lalu dia menyiapkan sayap.
Kita seiring, tiada geming.
Gelas kedua setelah teh adalah kopi.
Segelas kopi panas dan baunya yang menggugah.
Manis, hangat, hitam pekat.
Penuh tanda tanya.
Nikmat, namun dia menggertak.
Sakitnya melilit.
Dedaknya tertinggal.
Tak ada malam berjam-jam untuk terbang.
Tak ada sayap-sayap yang dia siapkan.
Aku menghadap mentari, dia mengekor rembulan.
Gelasnya digenggaman, namun tak beriringan.
Kopi..
Masih saja bersikeras dengan hitamnya.
Begitu saja.
Sudah..

No comments:
Post a Comment