Berdiri di halaman kedua, dia mengejutkan bulan dengan sinarnya yang mampu membelah bumi.
Ditangannya tak ada sebilah pedang atau busur, tak ada pula pena dan selembar kertas.
Dia menjelajah dengan pensil, koas dan kawan-kawannya yang berwarna cerah.
Berkelana pada mata, alis, bibir dan semua yang mampu dia jadikan karya di wajahnya.
Jantung berdegup kencang dan warna merah lalu bermunculan sebelum ia memolesnya lebih dulu.
Ada yang tak sempat dipandang, ketika tengah memandang.
Dua pasang mata dan sepuluh jari tangan.
Dekat, mendekat ia hingga pengap seakan membuat lupa!
Mendekat sekali lagi..
Hingga pelik terasa dalam hati!
Dan hangat itu ibarat belaian yang tengah menyapu imaji.
Objek!
Dialah objek yang lupa akan tugasnya..
Padahal dia hanyalah kanvas yang tengah dilukis atau kayu yang sedang dipahat.
Tak lebih!
Hanya saja kini kanvasnya bernafas dan kayu itu rindu.
Sedang di depannya adalah seniman yang tengah bekerja dan menjadikannya karya, bukan cinta..