Saturday, March 24, 2018

ENYAH


Tak pernah reda
Angin kerapkali berkelahi dalam hujan
Mencipta badai di balik keruhnya pelangi

Lagi-lagi,  seperti pagi ini!
Awan,  hujan,  langit,  bumi dan genangan yang menyisakan kubangan basah..

Wajah-wajah terkubur sebagai sosok drakula penghisap darah,  perenggut bahagia!

Pergi! 
Pergi!
Pergi saja!

Kau!
Kau!
Dan Kau!

Drakula..
Serigala..
Buaya..

Enyah!
Musnah!

Thursday, March 22, 2018

PALSU



Jangan lupa, kau pernah mengecapnya!
Rasa..

Lepas topengnya dan lihat siapa yang kau teriakkan dalam hati!

Jangan bersembunyi!
Tak perlu hentakkan kaki pada langit-langit atap bumi. 

Baca! 
Teriaki! 
Resah yang kau pajang dalam tawa sunyi. 

Kosong! 
Bohong!

Tak ada apa-apa..
Tak ada siapa-siapa.. 

Kembali saja! 


Wednesday, March 14, 2018

Dilupakan Jakarta



Apa kabar Jakarta? 
Di sini sayap-sayap burung tanggal dan taring harimau rontok berjatuhan. 
Auman garang kini bak suara cacing merengek dimalam hari. 

Apa kabar matahari di sana? 
Di sini redup. 
Panas tak ingin bergelayut diantara mata hujan. 
Dan hujan bersikeras tak ingin cepat turun. 
Angin bahkan mengubur dirinya dalam salju yang tak putih. 

Apa kabar senyummu? 
Aku kehilangan cara untuk tersenyum. 
Aku juga lupa cara mendamaikan gigi dan lidah agar tidak berseteru.

Di sini kacau. 
Tapi kau masih saja bercakap-cakap dengan cermin yang tak bisa berkata apa-apa. 
Kau memujanya yang terlihat sempurna di dalam cermin. 
Kau begitu bangga! 

Kau tak pernah tau,  bahwa burung-burung tak bisa lagi terbang kali ini. 
Dan harimau kesulitan menggigit bangkai rusa di depan matanya. 

Hingga kaki jenjangmu berdiri di atas gedung megah itu, 
Kau tak pernah tau bahwa ada jiwa lain yang terkubur jauh di balik hingar bingar Kota Jakarta. 

Kini kau bisa menggenggam langit dan bercengkrama bersama matahari,  tapi coba lihat sepatumu! 
Ada namaku tertinggal di balik pijakannya..
Kau menginjaknya! 
Aku yang pernah menuntunmu berjalan menaiki tangga, 
Hingga sampai ke puncaknya.. 
Kau lupa? 

Tuesday, March 13, 2018

WAJAH DALAM PENA



Berdiri di halaman kedua, dia mengejutkan bulan dengan sinarnya yang mampu membelah bumi.

Ditangannya tak ada sebilah pedang atau busur,  tak ada pula pena dan selembar kertas.
Dia menjelajah dengan pensil,  koas dan kawan-kawannya yang berwarna cerah.
Berkelana pada mata,  alis,  bibir dan semua yang mampu dia jadikan karya di wajahnya.

Jantung berdegup kencang dan warna merah lalu bermunculan sebelum ia memolesnya lebih dulu.

Ada yang tak sempat dipandang, ketika tengah memandang.
Dua pasang mata dan sepuluh jari tangan.

Dekat,  mendekat ia hingga pengap seakan membuat lupa!

Mendekat sekali lagi..
Hingga pelik terasa dalam hati!

Dan hangat itu ibarat belaian yang tengah menyapu imaji.

Objek!
Dialah objek yang lupa akan tugasnya..
Padahal dia hanyalah kanvas yang tengah  dilukis atau kayu yang sedang dipahat.

Tak lebih!
Hanya saja kini kanvasnya bernafas dan kayu itu rindu.

Sedang di depannya adalah seniman yang tengah bekerja dan menjadikannya karya, bukan cinta..