Berawal dari tahun lalu ketika kepala panti asuhan mengenalkanku dengan pengusaha itu, sebut saja Pa X. Kita bertiga kemudian berencana untuk melakukan kerjasama. Mereka tertarik dengan susu kedelai buatanku, selain itu Pa X juga ingin agar aku membantunya untuk memulai usaha kuliner dan membuka cafe, namun semua rencana ditahun kemarin hanya tinggal rencana, semuanya tidak diwujudkan.
Kemudian pada tahun ini secara tak terduga, Pa X menghubungiku dan mengatakan bahwa dia ingin memulai usaha kuliner dengan sistem waralaba. Dia yang membayar 5 tempat usaha, peralatan, dan semua modal yang dibutuhkan, sedangkan ide usaha dan pengelolaan semua diserahkan kepadaku. Aku diberi tanggung jawab untuk memegang kendali, termasuk kerjasama dengan mitra usaha dan pegawai.
Dari rencana tersebut, kita kemudian sering bertemu untuk membicarakan kelanjutan usaha dan survey lapangan, namun lambat laun, dia yang sudah beristri berniat untuk poligami. Dia kemudian ingin dikenalkan dengan teman-temanku. Mulanya aku melontarkan sikap sangat tidak setuju tentang poligami, terutama dia sembunyi-sembunyi dari istrinya, tapi dia terus berargumen, hingga pada suatu waktu dia melihat foto-fotoku bersama teman-teman saat fitness dan aku menceritakan tentang temanku yang tak lain adalah seorang janda, dia kemudian ingin agar aku mengenalkannya pada janda itu. Alhasil, hari itu temanku datang saat aku sedang makan siang bersama Pa X. Aku lalu pulang karena harus menjemput keponakan, sedangkan Pa X dan A pergi shopping.
Dari pertemuan itu, A bercerita bahwa Pa X menawarinya apapun yang dia mau di mall dan A hanya membawa sepatu seharga Rp. 400.000,00. Pa X sudah berani pegang tangan dan meminta A untuk jadi pacarnya, namun A mengatakan “Jalani saja dulu”. A sedikit kaget saat Pa X mengatakan bahwa dia tidak berani bersikap begitu jika dengaku (tidak berani pegang tangan). A kemudian protes, kenapa terhadapnya, Pa X berani bersikap demikian? Pa X tak bisa menjelaskan.
Pertemuanku dengan Pa X masih intens, meski rencana usaha kuliner ditunda setelah lebaran, namun aku mulai join dengan usaha distronya karena temanku I membutuhkan supplier baju. Aku pun jadi sering ke outlet Pa X. Dia memiliki konveksi, beberapa distro khusus pria dan grosir yang tersebar diberbagai kota. Dia juga supplier bagi toko-toko baju yang tidak memproduksi baju sendiri.
Hingga pada hari kamis, aku bertemu lagi dengan Pa X, dia mengajakku pergi ke tempat wisata esok harinya. Aku mengiyakan dan ingin mengajak teman-teman dan adikku. Pa X setuju.
Hari jumat, seperti yang telah direncanakan, aku mengajak adik dan dua anaknya, A dan juga B (dua-duanya janda dan mereka masih saudara jauh). Namun, A kemudian membatalkan setelah mengetahui aku mengajak adik.
Kita berencana berangkat setelah shalat jumat, namun setelah semua siap, Pa X tiba-tiba membatalkan dengan alasan ada saudaranya dari Jakarta datang.
Aku tak percaya begitu saja, aku tahu pasti alasan dia membatalkan adalah karena A tidak ikut. Aku sangat kecewa saat itu, karena keponakan-keponakanku batal jalan-jalan.
Sore harinya, aku melihat postingan foto A dan B di facebook tengah jalan-jalan di mall. B kemudian minta maaf karena tidak mengajakku, alasannya karena dadakan setelah Pa X membatalkan acara tadi.
Malam harinya, Pa X minta maaf kepadaku karena membatalkan acara hari ini, namun tak pernah aku balas.
Hari sabtu, aku, adik dan dua anaknya kemudian pergi juga jalan-jalan tanpa Pa X dan pulang tengah malam. Rasanya sangat menyenangkan walaupun sangat lelah.
Pa X kemudian mengajakku makan pada hari minggu sekalian pergi ke outletnya. Dan hari ini aku baru tahu satu hal yang sangat mengejutkan. Pa X menceritakan bahwa pada hari jumat, setelah dia membatalkan acara denganku, Pa X sebenarnya mengajak A untuk pergi dengannya. A kemudian setuju dan dia mengajak B. Namun, tiba-tiba Pa X membatalkan, padahal A dan B sudah menunggunya di jalan. Whatsapp Pa X kemudian diblokir oleh A.
Dari situ aku benar-benar kecewa dengan A dan B. Mereka seperti menikamku dari belakang. Pantas saja dari hari Jumat hingga tadi aku posting di FB, B seperti merasa bersalah.
Pa X juga kemudian tahu bahwa A punya banyak pacar dan tidak memberi kepastian kepada satupun diantara mereka. Pa X bahkan pernah mengajak A ke Bali hanya untuk mengetes dia, apakah dia wanita baik-baik atau bukan.
Dari situ, aku kapok mengenalkan teman pada teman, karena sebelum kasus ini, aku juga pernah punya teman C yang dikenalkan pada D untuk kerjasama travell. C meminjam uang kepada D melalu perantara aku dan aku diberi komisi oleh C. Namun, setelah aku kenalkan C kepada D langsung (melalui whatsapp dan tidak pernah bertemu) , mereka kemudian kerjasama lagi dengan uang pinjaman yang lebih besar tanpa sepengetahuanku. Tapi, akhirnya D cerita setelah uangnya di C macet sampai sekarang.
Hingga kasus sekarang antara aku, Pa X dan A sebenarnya sedikit membingungkan. Aku dan Pa X hanya partner bisnis, namun Pa X selalu sembunyi-sembunyi dari keluarga dan karyawannya saat harus komunikasi dengaku, padahal statusku bukanlah pacarnya. Seperti hari tadi saat aku harus ke outletnya setelah kita makan siang, aku diturunkan lebih dulu sebelum mobilnya parkir di depan outlet. Lalu dia akting di depan karyawannya saat bertemu denganku seolah-olah memang kita baru saja bertemu di outlet, padahal beberapa menit lalu dita makan siang bareng. Padahal Pa X tidak perlu bersikap seperti itu, karena akupun menganggapnya seperti partner bisnis dan seperti orang tua sendiri. Dan karena sikapnya ini, A juga merasa aku dan dia seperti saingan untuk mendapatkan Pa X.
Tidak. Aku ingin mengatakan itu Pada Pa X atau A. Aku tidak ingin jadi “Pelakor”, apalagi hanya karena alasan uang. Allah Maha Pemberi Rezeki dan hanya Allah yang bisa membolak-balikan hati manusia. Jika sekarang Pa X baik terhadapku, itu karena Allah yang membolak-balikan hatinya sehingga jadi baik, dan bisa saja suatu hari Allah membalikkannya lagi. Aku hanya ingin bergantung kepada Allah, bukan kepada makhluk. Aku tidak ingin seperti A yang mengandalkan dukun dalam segala hal dan mengandalkan banyak laki-laki yang menyukainya tanpa memberi kepastian sedikitpun.
*Nulis sepanjang ini di smartphone.
Foto-foto hari Sabtu dan tadi.





















No comments:
Post a Comment