Hidup kerapkali memenangkan pertarungannya sendiri.
Terkapar, menggelapar, terkucil diantara hiruk pikuk nama-nama yang mengatasnamakan kasih sayang.
Bukan sedang dinegri orang..
Tapi, sepinya ibarat terkubur di bawah tanah.
Dan orang-orang berlalu-lalang di atas tragedi kesunyian.
Dan airmata adalah satu-satunya pedang kesetiaan yang siap menelurkan perisai kata-kata.
Dan dari rasa sakit, puisi berdiri lebih dini sebelum bahagia mampu menopang dirinya sendiri.
Bergerak..
Dan parasit itu masih saja menghantui!
Bersumpahkan cinta mati, tapi tangannya terus menggerus materi!
Hari ini adalah bukti, sedang kemarin adalah kebodohan yang berulang kali diamini.
Esok, mungkin adalah pertaruhan dari kata “tegas” atau “pecundang sejati”.
Cinta bukan lagi alasan untukmu memelihara “parasit” yang siap memakanmu pelan-pelan dengan kelembutan.
Bukan pula dasar untukmu mengukuhkan kata rindu, padahal hasratmu hanya bertudung nafsu.
Pergi saja!
Dan sandarkan kasihmu pada angka-angka yang mereka sebut harta..
Aku masih terisolasi sendiri kali ini..
Tanpa parasit yang tak ingin bersusah payah diantara pasien-pasien rumah sakit!
Hidupmu bergelimang ambisi tanpa empati!
Saat ini aku lebih mengerti apa yang tak bisa dipahami oleh hati.
Seperti duka yang baru saja aku rangkai sebagai puisi dari traged-tragedi.
Sepi..

No comments:
Post a Comment