Monday, August 5, 2019

Menjadi Orangtua Angkat




Dea

    Hari ini adalah hari yang cukup bersejarah bagi hidupku. Aku yang tahun ini sudah berusia tiga puluh tahun, belum menikah dan tidak memiliki pacar. Ya, hari ini aku resmi memiliki seorang anak angkat. Seorang anak perempuan yatim piatu yang sekarang tinggal dengan ibu angkat yang secara finansial tidak bisa lagi membiayai sekolahnya. Ibu angkatnya sekarang juga sudah mulai sakit-sakitan dan beliau khawatir tidak bisa merawatnya lagi.

    Namanya Dea, aku mengenalnya tanggal 1 Agustus kemarin, waktu yang sangat singkat untukku kemudian masuk ke dalam dunianya. Mulanya dia datang ke tokoku bersama dua orang temannya untuk membeli sepatu. Dia kemudian meminta nomorku dan menjadi reseller sepatu. Beberapa hari setelahnya, dia menanyakan produk lain dan berjanji akan membelinya setelah gajian. Sejak mendengar kata “gajian” aku cukup kaget dan mengatakan kepadanya bahwa aku mengira dia masih sekolah. Dia kemudian mengatakan bahwa memang seharusnya dia masih sekolah, namun dia tidak bisa melanjutkan ke SMA karena Ibunya tidak bisa lagi membiayai. Dia juga mengatakan kalau ayahnya sudah meninggal dunia dan ibunya yang sekarang juga bukan ibu kandungnya.

    Mendengar kisahnya, hatiku tergerak untuk membantu dia agar tidak putus sekolah. Aku kemudian menghubungi partner bisnisku yang merupakan kepala sekolah SMK dan juga tidak memiliki anak. Dia tinggal di Bogor, namun menurutnya hanya ada pesantren di Bekasi yang bisa menggratiskan semua biaya dan tempat tinggal, tapi pesantren itu khusus pria. Dari situ, semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkan bagaimana cara menolongnya. Akhirnya setelah istikharah, aku berniat menjadi orangtua angkatnya. Aku kemudian meminta ijin kepada ibuku dan dia sangat menyetujuinya. Ibu juga bahkan akan membantu aku saat menyekolahkannya.

    Hari ini aku resmi mendaftarkan dia ke salah satu SMK yang tidak jauh dari rumahnya, setelah sebelumnya menemui ibu angkatnya terlebih dahulu. Ibunya kemudian menceritakan tentang latar belakang dia dan siapa ibu kandungnya (menceritakannya ketika Dea sedang ke warung). Seperti petir disiang bolong, ketika aku mendengar kisah sebenarnya tentang kelahiran Dea, dll hatiku teriris bukan main (maaf aku tidak bisa menceritakannya di sini). Ibunya juga belum lama ini mengatakan kepada Dea bahwa Dea bukanlah anaknya dan Dea shock bukan main, namun ibunya tidak memberi tahu dengan jelas tentang ibu kandung dan asal usulnya. Padahal ibu kandungnya sudah meninggal tertabrak truk. Tapi, yang lebih menyedihkan bukanlah soal meninggalnya, tapi tentang siapa ibunya dan bagaimana kondisi ketika Dea dilahirkan, tapi biarlah itu menjadi rahasia antara aku dan ibunya.

    Setelah mendaftar ke SMK dan dia memilih jurusan Teknik Pembuatan Kain, kita kemudian pergi membeli baju seragam, tas dan peralatan sekolah lainnya. Beberapa orang merasa keheranan dan tidak mengira bahwa aku memiliki anak seusia Dea. Mungkin lebih cocoknya dia menjadi adikku. Setelah belanja, kemudian kita pergi ke toko mas tempat dia bekerja untuk mengundurkan diri. Kemudian setelah itu, kita pergi ke toko aku untuk mencoba sepatu converse. Ibuku sempat menemuinya juga di toko dan memberinya uang jajan saat aku sedang ke rumah dan ketika aku kembali ke toko, aku tengah melihat Dea menangis sambil memeluk ibuku. Suasana yang begitu mengharukan. Ibuku bahkan mengatakan bahwa dia sudah menjadi keluarga baru sekarang.

    Setelah semua perlengkapan sekolah komplit, aku mengantarkan kembali dia ke rumahnya. Aku dan Dea selalu terlihat kaku, beda ketika Dea bersama ibuku. Entahlah, aku paling sulit menunjukkan ekspresi, kepedulian, atau apapun itu. Aku tidak pernah memeluk orang terlebih dahulu, siapapun itu, bahkan orang tuapun tidak pernah. Aku jarang menyampaikan rasa sayang secara langsung. Aku memang selalu bersikap dingin, padahal jelas aku sangat peduli. Mungkin karena itulah aku tidak bisa bersikap lebih hangat kepada Dea, seperti sikap ibuku. Aku hanya bisa bertindak, seperti menyekolahkan dan membiayai, tapi aku tidak bisa memeluk atau mengungkapkan rasa sayang seperti itu. Itu adalah hal yang paling aku sulit lakukan sejak dulu.

    Sejak mengenalnya, masuk dalam hidupnya dan sampai aku menulis ini, aku tidak bisa berhenti memikirkan Dea, termasuk ibuku. Semoga Allah memberi kepercayaan agar aku bisa menyekolahkan dia hingga perguruan tinggi. Ibu angkatnya sekarang juga sudah memberikan wasiat bahwa ketika dia meninggal, hanya aku keluarga Dea selanjutnya dan mungkin Dea akan tinggal bersama keluargaku.

    Ini adalah kado terindah dari-Nya di usiaku yang ke tiga puluh. Dea adalah kebahagiaan baru yang ingin aku perjuangkan masa depannya. Dia juga berjanji bahwa dia akan belajar sungguh-sungguh dan tidak akan mengecewakanku. Terimakasih Dea, telah mengajarkanku banyak hal tentang hidup ini. Tidak pernah ada yang kebetulan dalam hidup, karena semua sudah diatur oleh-Nya. Dialah sang perencana terbaik yang mempertemukan kita sekarang. Selamat datang keluarga baruku, selamat menuntut ilmu lagi besok, pasti kamu sudah tidak sabar untuk menjadi siswa SMK. Good luck!











3 comments: