Sunday, August 18, 2019

Prasasti Hati



    Pernah satu kali luka berpapasan dengan waktu. Terlena dengan putaran jamnya, terbuai dengan dentingan iramanya dan mabuk oleh pesona tampilannya. 
Hijau yang lalu menandai kehadiran bab baru dari sang waktu. Ya, dia menamakan dirinya hijau. Pesona yang meliuk bersama gemulai tubuhnya yang tak lelah. Tariannya adalah bahasa. Wajahnya adalah dilema. Dan paduan keduanya adalah neraka bagi pemuja yang tak bisa memeluknya dari dekat.

    Dia adalah bisa. Alinea yang harus aku lewati dengan sangat hati-hati. Berjalan atau berlari hanya membuat gerakannya semakin liar. Aku terjebak, tapi aku menikmatinya. Teka-teki baru dari sang waktu yang tengah membelaiku. 

    Hijau penuh dimataku. Satu warna yang kuncup bersama rasa sakit. Hati kerap meletup-letup. Jantung seringkali menyeringai. Tapi mata kemudian tahu, wujud asli dari sang waktu.
Rasanya keruh dan hari-hari lalu menjadi semakin tak menentu. Dia memeluk, tapi juga menusuk.

    Ada apa dengan hati? Haluan yang kadang-kadang lupa batas diri. Berbunga-bunga, lalu layu tanpa kendali. Sedang dia masih baik-baik saja tanpa tahu tentang badai logika yang tengah membuka luka.

    Maafkan aku yang tengah jatuh kali ini. Rasa yang kemudian menguliti sisa mimpi. Maaf karena aku harus menarik diri dan menampar kewarasan untuk bangun dari khayalan.
Bukan aku tak mau kembali bertautan atau bercengkrama dengan kata-kata yang menghubungkan kasih sayang. Tapi, aku memang harus melambaikan tangan dan berterimakasih pada kenyataan yang kau perlihatkan dengan sangat terus terang.

    Tetap tersenyum dan teruskan jalan yang tengah kau perjuangkan. Biarkan aku terlelap di dalam peti yang tak pernah lagi ada sapa dari hati yang seringkali melukai berkali-kali.
Teruskanlah! 
Aku baik-baik saja.

   

No comments:

Post a Comment