Friday, December 20, 2019

Sepatu Merah



Ada rindu di balik sepatu. Kisah yang mengendap diam-diam di balik solnya. Drama yang terlupa diantara tali-talinya yang kian berujar tentang lara. Merahnya menghitam, tak pudar terkena sinar. Merah yang lugu, malu-malu dan memucat seperti tahun-tahun dimana bunga pertama kali bermekaran. Hei, dimanakah kau menyimpannya?


Sudah tujuh tahun rupanya, sejak sajak aku nyanyikan di balik semak-semak. Sejak senja dan malam menjadi judul-judul yang aku gambarkan pada lukisan. Sudah tujuh tahun, namun aku mengira tujuh jam, aku menduga tujuh menit dan aku merasa tujuh detik. Seperti itulah derit langkahnya berjalan diantara teras harapan. Seperti itulah siluet sepatunya aku pahat dalam ukiran-ukiran hujan.


Sepatu merah dan senyuman memukau di balik lambaian pertemuan. Aku masih mengingatnya. Kupu-kupu dan pelangi menamainya mimpi. Ombak dan pasir menjulukinya abadi. Hilang, memang telah lama berakhir pada bait yang berjudul “pergi”, tapi merahnya tetap mengendap pada debaran yang mereka sebut sebagai hati.


Empat tahun yang lalu angin menjumpainya tanpa permisi. Memudarkan merahnya tanpa empati dan mencurinya dengan sangat hati-hati. Dia merebutnya, sepatu merah yang aku semir setiap pagi. Dia mengambilnya, sepatu merah yang aku pajang dalam etalase ketulusan. Dia mengoyak bunga-bunga yang baru saja bermekaran.


Aku membenci sepatu merahku. Aku murka dengan pencuri sepatu merah itu. Aku terluka oleh keduanya. Aku merangkak tertatih-tatih di jalanan tanpa alas kaki. Aku berlari di bawah hujan dengan perut kelaparan. Aku tertidur di atas perapian yang menghanguskan dan memusnahkan harapan. Aku menatap langit dengan bintang-bintang yang kemudian mentertawakan. Itulah saat terburuk dimana aku mengakhiri perjumpaan dengan sepatu merah yang dulu aku kenakan setiap waktu.


Kini, aku merindukannya. Sepatu merah yang kerap aku tuliskan setiap saat. Sepatu merah yang seringkali bertengger di ujung pena dengan nama “Jingga”. Aku ingin sekali melihatnya sekali lagi. Aku ingin menatapnya diantara sepatu-sepatu lain yang aku pajang kali ini. Aku ingin dia melihatnya. Toko sepatu dengan sesaknya akan luka. Sepatu-sepatu lama yang seringkali menyembunyikan lara. Aku ingin dia melihatnya. Perjalanan dari langkah kaki yang pernah dengan sangat dalam patah hati. Aku ingin dia tahu, ada rindu yang tak pernah seiring dengan waktu. 


Apa kabar kau di sana? Aku harap kau baik-baik saja, seperti sol sepatu merah yang tak pernah kalah oleh resah. Seperti panas yang tak pernah bisa memudarkan warnanya yang cerah. Seperti aku dan tumpukan rinduku yang lelah pada sepatu merah. 19-06-2012.

Wednesday, December 18, 2019

November



    Ada banyak yang terlewatkan di bulan November yang belum sempat aku tulis, diantaranya adalah perjalanan ke Pangandaran bersama Dea dan ibunya untuk menghadiri pernikahan Dewi, salah saeorang sahabat yang banyak berjasa dalam kehidupanku saat aku jatuh.

    Mulanya aku ingin pergi ke Pangandaran bersama keluargaku, namun semua anggota keluarga sibuk. Orangtua sibuk dengan usahanya, begitupun kakak dan adik yang masih memiliki anak kecil. Karena hal itulah, aku kemudian meminta ijin kepada ibuku untuk mengajak Dea dan Ibunya. Ibuku menyetujui aku pergi dengan mereka karena Ibu khawatir jika aku pergi seorang diri.

    Dea belum pernah pergi ke pantai sekalipun, sehingga aku ingin bisa membuatnya merasakan keindahan dari pantai. Mulanya, ibunya tidak mau ikut serta, namun aku terus membujuknya, karena aku tidak ingin membiarkan ibunya seorang diri di rumah.

    Hari pertama di Pangandaran, kita menghabiskan waktu untuk istirahat karena kita tiba pada pukul lima sore dan cuaca mendung. Tapi, malam harinya karena lapar, kita kemudian ke luar untuk mencari makan, sekaligus melihat pantai sebentar, walaupun terlihat sangat gelap.
Malam itu, Ibunya Dea bertemu dengan teman lamanya sewaktu di SEMEA, sehingga mereka berbincang-bincang cukup lama. Setelah itu, kita bertiga menyewa odong-odong untuk jalan-jalan, lalu hujan turun dengan deras, tapi kita tetap mengayuh odong-odongnya, hingga bercucuran keringat. Alhasil malam itu kita semua tidur dengan pulas karena kelelahan.

    Pagi harinya, aku berniat berangkat lebih awal ke Madasari untuk melihat akad nikah Dewi, tapi rupanya cuaca tidak mendukung, karena hujan turun terus menerus dan sangat deras, selain itu sewa motor tidak ada yang bisa, grab mobil juga belum dapat satupun, hingga kemudian pada pukul sepuluh, aku memutuskan untuk pergi memakai jas hujan yang mendadak membelinya dulu dan menyewa motor milik penginapan. Mulanya aku akan memakai baju yang biasa dipakai untuk ke undangan dan berniat memakai makeup, tapi ketika melihat cuacanya hujan terus, jadi aku malas dandan dan memakai baju yang sudah aku siapkan sebelumnya. Jadilah aku hanya memakai kaos, jeans dan jaket hoodie, serta sandal, karena sepatu adidas putih yang aku pakai aku masukan ke dalam bagasi (rencananya setelah sampai di rumah Dewi baru diganti). Mungkin kesannya aku seperti sedang tidak akan datang ke undangan dengan penampilan seperti itu, tapi aku pikir biar sajalah yang penting aku datang, tidak peduli dengan penampilanku seperti apa, lagi pula tidak ada orang yang aku kenal di sana, selain dari keluarga Dewi sendiri.

    Aku berangkat berdua dengan Dea, sedangkan Ibunya menunggu bersama temannya di Pangandaran. Sesampainya di tempat resepsi, penampilan aku dan Dea sungguh acak-acakan. Celana kita basah kuyup meskipun memakai jas hujan. Kita menyimpan sebagian barang-barang di pos ronda dan membereskan dulu penampilan kita yang basah kuyup.

    Hari itu aku membawa buket bunga (terbuat dari kain) dan cinderamata hasil karya Teh Linda dan suaminya, tapi di samping itu juga aku tetap memberikan ampelop kepada Ibunya. Belum sampai di pelaminan pengantin, aku bertemu terlebih dahulu dengan ibunya Dewi. Alhamdulilah, rasa malu aku datang ke undangan dengan penampilan begini dan basah kuyup, hilang setelah bertemu dengan Ibu Rukmini. Ibunya Dewi memang sangat ramah dan orangnya selalu bisa membuatku tertawa. Aku bahkan lebih akrab dengan ibunya dibandingkan dengan Dewi yang jarang sekali bercanda denganku.

    Setelah ngobrol sebentar dengan Ibu Rukmini, aku kemudian bersalaman dengan Dewi dan suaminya. Aku senang melihat dia menikah, terlebih dengan orang yang sepertinya memiliki karakter yang sama dengan dia. Menurut informasi dari ibunya, suami Dewi ini adalah dosen Unpad Pangandaran. Mulanya Dewi menolak untuk menikah dengan orang ini, namun setelah berbicara beberapa kali dengan ayah Dewi, Dewi kemudian menerima lamarannya atas keinginan Dewi sendiri. Mungkin itulah jodoh. Aku harap suaminya bisa menjadi imam di dunia dan akhirat, serta pernikahannya langgeng hingga maut memisahkan.

    Setelah dari undangan, kita pergi sebentar ke pantai Madasari. Dea sangat senang melihat pantai dan dia ingin sekali berenang di pantai, tapi yang pasti berenang di Pangandaran, bukan di Madasari karena ombaknya sangat besar.
    Kita sampai di Penginapan sore hari dan sepertinya kita tidak bisa pulang ke Bandung hari itu juga karena sangat lelah dan hujan terus menerus turun dengan deras. Alhasil kita menginap lagi di Pangandaran, tapi tidak di tempat penginapan yang sama, karena aku menemukan penginapan lain yang lebih murah dan ada fasilitas kolam renangnya.

    Malam harinya, aku dan Dea berenang di kolam renang hotel, karena hujan dan tidak memungkinkan untuk pergi ke pantai. Esok harinya baru kita bermain ke pantai, sekaligus snorkeling di pantai pasir putih. Mulanya aku senang snorkeling di sana, meskipun kakiku sempat berdarah karena tergores terumbu karang, tapi kemudian aku mendapat info lain bahwa snorkeling lebih enak di pantai barat di bandingkan dengan pantai timur, karena bebas dari karang dan kita juga di pandu di tengah-tengah laut, aku lalu menyesal sebelumnya tidak memilih pantai barat untuk snorkeling, tapi sudahlah mungkin lain waktu aku bisa mencoba di sana. Selesai snorkeling, kita pulang ke penginapan dan sayangnya kamar kita tidak bisa diperpanjang karena sudah di booking tamu lain, jadilah kita pindah ke penginapan lain yang banyak bulenya dan berniat pulang ke Bandung besoknya.

    Hari-hari terakhir di Pangandaran, aku sungguh bimbang, karena kecemburuan ibuku mulai muncul lagi ketika dia melihat status whatsaap ibunya Dea. Ini bukan kali pertama ibuku merasa cemburu, tapi pertama kalinya dia cemburu adalah ketika aku pergi ke Subang dengan Dea dan besoknya pulang larut malam dan ibuku mengira aku pulang ke rumah Dea terlebih dahulu padahal saat itu aku tengan menunggu gojek di Cileunyi untuk pulang ke rumah, tapi ibuku sudah terlanjur marah.

    Hari minggu, kita bertiga kemudian pulang, setelah sebelumnya membeli oleh-oleh untuk keluarga di Bandung. 
Pulang dari Pangandaran, ibuku sudah terlihat biasa dan tidak ada kecemburuan terhadap Dea dan ibunya, bahkan ketika beberapa hari kemudian Dea dan ibunya menginap di toko bersamaku, ibu masih terlihat biasa. Sampai suatu ketika, terjadilah sesuatu yang membuat ibuku marah dan menangis, padahl aku merasa tidak ada masalah apapun, tapi ibuku merasa aku sudah tidak menganggapnya dan lebih perhatian kepada Dea dan ibunya.

    Karena semakin hari hubunganku dengan ibu menjadi tidak baik, kakak dan adikku mencari informasi tentang Dea dan ibunya tanpa sepengetahuanku. Dan esoknya orang itu kemudian memberikan informasi kepadaku tentang mereka, namun tidak begitu komplit, hingga aku terpaksa mencari info lebih lengkap dari yang lainnya dan aku mendapatkannya.

    Bagaikan petir di siang bolong, hari itu di depan aku dan adikku orang itu memberitahukan banyak hal tentang Dea dan ibunya yang tidak bisa aku ungkapkan di sini, tapi salah satu yang membuatku kecewa adalah Dea sudah bertunangan belum lama ini dengan pacarnya sebelumnya, padahal Dea dan Ibunya mengatakan kepadaku bahwa mereka sudah putus karena Dea ingin fokus sekolah, namun semua ternyata bohong. Selain itu, si pemberi informasi mengatakan bahwa saat tunangan itu, sepertinya ada uangku yang terpakai untuk hajatan dan aku tidak diberitahu sama sekali, bahkan diundangpun tidak. Esoknya setelah tunangan, Dea dan Ibunya mengirimkan 40 nasi bungkus yang aku pesan untuk abang-abang becak. Nasi bungkus ini aku beli, tapi menurut orang yang memberikan informasi, nasi bungkus yang dikirimkan kepadaku adalah sisa dari hajatan saat tunangan.

    Aku adalah orang yang tidak bisa menahan rasa marah dan kesal. Aku kemudian menanyakan soal pertunangan itu langsung kepada ibunya. Mulanya ibunya kaget dan memaksaku untuk memberitahukan siapa yang telah membocorkan semuanya, tapi aku tidak menjawabnya. Ibunya lalu memberitahu hal lain tentang masalalu anaknya yang membuatku sangat shock.
   
    Dari kejadian itu, ketika rasa sakit dan kecewaku belum pulih, aku kemudian mendapatkan info lain yang lebih lengkap, jelas dan detail yang membuatku benar-benar runtuh. Kekecewaanku kali ini bukan hanya kepada Dea, tapi juga kepada ibunya.

    Aku mencoba ikhlas dan memaafkan, begitupula dengan ibuku. Tapi aku mengatakan kepada mereka bahwa aku tidak akan membiayai sekolahnya lagi. Aku memang sudah membayar SPP Dea hingga bulan Desember, tapi aku tidak akan melanjutkannya, karena sekarang ada yang lebih wajib membiayai, yaitu tunangannya. Dea dan ibunya sepertinya tidak terima karena beberapa kali aku melihat status ibunya yang terus menerus mengeluh dan menyesal telah memilih sekolah.

    Karena kesal melihat status-status whatsapp ibunya yang seperti tidak bersyukur, aku kemudian memblockirnya dan dia pun memblockirku. Aku juga mengeluarkan Dea dan ibunya dari grup reseller sepatu. Kali ini aku sudah bulat, aku bukannya ingin memutuskan tali silaturahmi, tapi aku ingin menjaga jarak untuk sementara untuk memulihkan rasa kecewa dan marahku.

    Aku lalu membuka blockir whatsapp Dea untuk mengirimkan total barang dagangan,dll yang ada pada mereka, karena sebelumnya mereka adalah reseller barang daganganku. Dan beberapa hari menjelang ulang tahun Dea, aku mengirimkan Al Quran digital agar dia bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah. Dan tepat pada tanggal 15 Desember, aku juga mengirimkan kue ulang tahun dan aku berharap Dea bisa bahagia.

    Dea selalu menanyakan kapan aku akan ke rumahnya lagi, tapi aku menjawab belum bisa karena aku harus menjaga perasaan ibuku dan aku juga sedang dalam pertaubatan di mana aku ingin lebih banyak menebus semua dosa-dosaku di masalalu dan tidak membuat dosa baru. Aku tahu itu tidaklah mudah, tapi aku harus memaksa diriku untuk melakukannya. Aku harus memprioritaskan perbaikan diri untuk hidupku sendiri dan tidak terus menerus mengorbaknkan diri untuk orang lain, karena tidak selamanya orang lain bisa menghargai pengorbanan kita.

    Kali ini aku merasa hidupku jauh lebih tenang, selain aku bisa melihat ibuku tersenyum lagi, Aku juga bisa belajar menjadi manusia yang tidak menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Semoga aku bisa konsisten kali ini dan semoga Allah senatiasa menuntunku, menjauhkanku dari kemaksiatan dan terus membimbingku pada jalan lurus yang bisa membawaku hidup di jalan yang benar yang selama ini diridhainya, Aamiin.

*Ketika sedang menulis ini, baru saja wali kelasnya memberitahu bahwa besok aku harus mengambil raport bersama Dea, tapi aku mengatakan bahwa ada ibunya. Aku hanya wali yang membiayai sekolahnya saja.

    Aku selalu berharap Dea bisa terus bersekolah, bahkan hingga ke Perguruan Tinggi. Ada ataupun tidak adanya aku, Dea pasti bisa untuk bersekolah, karena yang memberi rezeki itu adalah Allah dan selama ini aku hanyalah perantara dari Allah, semoga Dea dan ibunya sadar akan hal itu.













Monday, December 9, 2019

MATA



    Tak pernah sedini ini aku merelakan diri pada senja. Membiarkannya duduk pada kelopak yang mereka namai pagi. Baru saja aku menamakannya rekah, ketika purnama membelah langit dan memperlihatkan kegaduhannya.

    Aku bersumpah atas nama malam, pada rasa sakit yang tumbuh pada akar mawar yang aku sirami setiap hari. Mereka adalah duri. Adalah sekam yang kerap hadir pada rintih nyanyian tanpa arti.

    Ajari aku berkisah tanpa harus mengeja apa itu tragedi. Ajari aku memahami bait-bait dalam puisi tanpa harus menjadi sepi. Aku adalah prosa pada jarak yang kerap mereka tunggangi. Aku adalah cadangan pada kisah yang mereka namai sejati. Akulah ilalang yang hadir ketika sunyi menjemput airmatanya dini hari.

    Kenapa? Kenapa aku hanya menjadi peran pengganti pada drama yang aku tuliskan kisahnya sendiri? Kenapa skenario itu terlalu rumit untuk aku pahami dengan hati? Kenapa aku harus meminang “kehilangan” ketika semuanya mampu aku rengkuh dengan penuh perjuangan?

    Kini, bukan kau yang telah berlari mengakhiri, tapi aku yang dengan sukarela berbalik arah dan meninggalkanmu di sana. Kau adalah pemain sandiwara terhebat yang pernah aku lihat di atas pentas. Kau berjalan dengannya, lalu bergandengan tangan denganku. Semudah itu kau merengkuh dua hati di atas ikatan kebohongan.

    Aku berpamitan lebih awal untuk memulihkan rasa yang terhipnotis ular berbisa yang bersembunyi di balik kerang mutiara. Aku menanggalkan buncahan-buncahan dan aku lepas waktu yang kau namakan kesempatan untuk kembali merangkak pada apa yang mereka sebut perubahan. Aku ingin mengakhiri kebahagiaanku sendiri dengan apa yang tak bisa kau lihat diantara warna pelangi.

    Kau telah menjatuhkan harapan pada dia yang lebih dahulu menyiramimu dengan madu. Madu yang kemudian meracuni langkahmu untuk bisa terbang menggapai api di atas sandaran airmata yang kemudian menjatuhkanmu. Apa yang kau bisa pahami kali ini? Apa yang kau dapatkan darinya yang menyempitkan langkah dan merobek-robek namamu di atas kertas kepolosan? Apa kau bahagia sekarang?

    Langit tengah menamai dirinya senja dan bumi lantas berkidung dengan nyanyian yang penuh dengan duka. Di mataku ada sejumput rindu pada harmoni yang tak bisa aku miliki. Pada hati yang tak semudah raga yang kerap aku sentuh dan rasakan hangat, serta debarannya. Kau tak pernah benar-benar aku miliki, karena semua hanyalah sandiwara. Kau pemain terhebat, namun kau kalah dari naluriku yang kemudian membuka topengmu dengan cepat, dengan tangan-tangan-Nya yang merasa iba denganku yang tengah menjadi budak nafsu dan tokoh cadangan dalam sandiwara kebohongan.

    Selamat tinggal kenangan. Selamat tinggal candu yang selalu hadir tepat waktu. Diamku adalah lambaian perpisahan. Sunyiku adalah rintihan lara yang aku bendung sekian lama. Dan sendiri selalu menjadi akhir dari puisi yang mereka buang di atas lautan ketidakpedulian. 

    Selamat jalan, sampai jumpa  pada ukiran batu nisan yang kelak menandaiku dengan lebih bijak. Nisan tempat senja bersuka cita, sebab tak ada sejoli yang mampu menautkan rasa pada liang lahat yang mereka takuti setiap saat. 

    Aku pamit.. seperti kemarin. Seperti ketika setiap pasang mata memenjarakanku pada jeruji pembodohan, pengasingan dan penghakiman. 
Kau harus melihat lebih dekat kedalaman mataku kini. Ada kelelahan yang teramat sangat bersemayam di sana. Lelah dan sepi yang mengiris-iris peluhku dalam waktu. 

    Aku telah menyia-nyiakan waktu. Dan waktu kini mentertawakanku, ketika dengan mata berkaca-kaca aku menghitung setiap nama yang telah berjalan bergandengan. Mereka berjalan dengan nama-nama yang orang sebut sebagai “tujuan”, bukan denganku yang mereka katakan “persinggahan”, “kesalahan”, “kesedihan”.

    Selesai. Aku tak ingin lagi menuliskan mimpi, atau bahkan angan-angan kosong tentang harapan untuk bisa “memiliki”.