Thursday, August 26, 2021

Hijrah Hati

 

    Tahun baru hijriyah dan bulan Muharam yang menjadi tangga awal di mana aku ingin mengenal-Nya lebih dekat. Dia yang sering kali aku berikan harapan palsu berkali-kali dalam hal pertaubatan. Dia yang dulu seringkali aku lupakan ketika aku memilih lebih mencintai makhluk-Nya dibanding dengan pencipta-Nya yang mulia.


    Kemarau menguning di sela senja bulan Agustus. Aku membangun kembali rumah-Nya yang dulu terbengkalai tak terpakai. Kenangan dari sang kakek yang dulu menanam amal jariyah yang kini ingin dipanennya ketika tiada. Aku mulai menyebarkan syiar-Nya dengan cara yang bisa diterima oleh semua kalangan. Aku membagikan kitabnya seiring dengan perkembangan jaman, melalui suara, melalui jejak-jejak digital yang terekam oleh semesta.


    Lalu hatiku kemudian jatuh. Dia tertambat kembali kepada hiruk pikuk yang hendak mengaburkan iman. Hasratnya bergejolak, rindunya memamah biak. Hatiku tertaut kembali padanya. Dia yang tak lain ibarat secercah harapan di atas gurun tandus. Dia ibarat satu firman Tuhan yang kerapkali menyadarkanku untuk tetap lurus pada jalan menuju pertaubatan. Dia adalah ketulusan yang aku temukan di dasar hampa yang selama ini kerap kali tidak bersuara.


    Aku tengah diuji oleh perasaan. Oleh babak yang dulu seing membuatku kalah. Namun, kali ini aku melihatnya “tepat” dalam rasa yang keliru. Dia ibarat malaikat yang tidak biasa memuja nafsu. Dia adalah buku berjalan yang menuntunku untuk tetap berjalan sesuai peta hidup. Dia ingin aku baik-baik saja.


    Aku ibarat menemukan jarum pada tumpukan jerami kusut. Sungguh beruntung aku mengenalnya. Dia adalah satu kelip bintang diantara ribuan bintang kepura-puraan. Sang mualaf yang kerap menuntunku untuk tetap berjalan pada apa yang seharusnya aku tempuh.

Dia tidak pernah memaksaku untuk berlari atau memarahiku ketika aku menengok ke belakang sekali lagi. Dia tahu aku tengah berproses untuk dapat menjadi diriku yang seharusnya.


    Terimakasih kawan, manusia berhati malaikat yang jarang aku temukan saat ini. Terimakasih untuk senja di langit biru yang pernah kau selipkan kala itu. Terimakasih untuk doa dan tindakan nyata yang kau perjuangkan ketika gelisah mulai merontokkan harapan. Terimakasih banyak, semoga Tuhan membalas semua kebaikan itu. 

Dan kali ini aku merasa baik-baik saja, sebab kehadiran-Nya adalah sumber kebahagiaan yang sejati.


No comments:

Post a Comment