Sunday, July 18, 2021

Ulang Tahun ke 32

 


    14 Juli 2021 adalah hari dimana usiaku genap menjadi 32. Usia yang menurutku sudah terbilang tua, tapi ada banyak yang bisa aku syukuri di usiaku saat ini, yaitu aku bisa mengendalikan hawa nafsu, belajar memperbaiki diri dan belajar mengenal Allah dengan lebih baik.


    Ulang tahun kali ini juga cukup istimewa karena aku baru saja sembuh dari sakit, lalu ada banyak orderan, dan ada hadiah-hadiah yang cukup bermanfaat yang aku dapatkan kali ini. Ada dua kue tart pemberian orang terdekatku, lalu kiriman masakan dari RM Sukahati, ditambah hadiah Al Quran masterpiece 55 gold yang sangat komplit isinya dan juga printer yang ada scanner dan fotocopynya. 


    Pertama melihat Al Quran ini, aku langsung jatuh cinta. Selain ada kotak penyimpanan dan dudukannya yang terlihat mewah, yang paling penting adalah isinya yang benar-benar komplit. Al Quran ini selain ada laten dan terjemahannya, serta tajwid, ada juga penjelasan-penjelasan lain yang dikupas secara detail, selain itu ada juga penjelasan tentang sejarah islam, tempat-tempat bersejarah islam, doa-doa dan dzikir, dll. Kertasnya juga sangat bagus karena berwarna gold dan menurut temanku kertasnya memang ada campuran emas. Tapi yang paling penting bagiku adalah ketika kita bisa mengamalkan isi dari Al Quran tersebut dan bukan hanya membacanya.


    Terimakasih Ya Allah atas semua nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku. Nikmat iman, islam, sehat, masih punya keluarga yang utuh, masih bisa makan dan punya tempat tinggal. Sungguh aku sangat bersyukur atas semuanya. PPKM Darurat dimana banyak pedagang bangkrut dan tidak bisa makan, tapi Allah masih berbaik hati sehingga aku dan keluarga masih bisa makan dan diberi kesehatan. Ulang tahun ke 32 ini aku jadikan sebagai ulang tahun yang penuh dengan rasa syukur.












Monday, July 12, 2021

FILM TENTANG DIA (Kisah Melly dan Nike)

 


    Hai Bulan Juli, apa kabar? Aku baru saja dua hari sembuh dari sakit. Sakit kali ini sungguh sangat menyiksa dan lama, yaitu sekitar dua puluh hari dan aku hampir saja diinfus karena tidak bisa masuk makanan. Dan parahnya lagi, aku dan ibu sakit secara bersamaan. Kalau ibuku sakit DBD, sedangkan aku sakit tyfus. Dan sampai hari ini aku masih belum bisa keluar rumah. Aku masih harus istirahat total. Besok juga hari ulang tahunku tidak ada yang istimewa. Semua biasa-biasa saja.


    Ada yang ingin aku tuliskan sejak lama sebelum aku sakit, yaitu tentang Film favoritku sejak SMA, yaitu Film Tentang Dia. Sebuah film, yang diangkat dari cerpen karya Melly Goeslow yang belakangan aku tahu bahwa sebagian kisah itu adalah pengalaman nyata antara Melly Goeslow dan almarhum Nike Ardilla. Dulu aku tidak banyak mengetahui tentang almarhum Nike, karena aku bukan penggemarnya, tapi semua karya Melly Goeslow Aku sangat tahu karena aku penggemar karya-karya Melly Goeslow. 


    Sewaktu SMA, aku menonton film Tentang Dia, aku sungguh hanyut di dalam kisahnya. Saat itu aku nonton berempat dengan teman genk-ku. Dan kita semua nangis melihat film itu. Tak berhenti sampai di situ, aku lalu membeli kumpulan cerpen karya Melly, soundtrack filmnya dan terakhir adalah novelnya karya Titien Wattimena. Salah satu soundtrack filmnya adalah sebuah lagu berjudul “Cukup” dan lagu itu adalah lagu wajib yang harus aku putar ketika akan menulis.


    Akhir-akhir ini setelah aku tahu tentang persahabatan antara Melly dan Nike, aku jadi tahu dari mana datangnya inspirasi Melly saat menulis cerpen “Tentang Dia”. Inspirasi tentang kehilangan dan kematian ternyata datang dari pengalamannya sendiri saat kehilangan Nike Ardilla. Aku sungguh trenyuh membayangkan bagaimana saat itu Melly harus kehilangan secara mendadak orang yang selama ini selalu bersamanya. Aku sekarang tahu dari sekian banyak karya Melly yang menyentuh hati, semua tidak lepas dari luka dan kesedihan masalalunya. Dan aku sangat menyukai semua karya Melly. Musik-musiknya sungguh menyentuh dan bisa menggerakkan intuisi yang selama ini tertidur pulas.


    Oya, sebelum aku sakit, aku sempat datang lagi ke rumah almarhummah Nike Ardilla untuk mengambil mobil. Saat ini aku sudah menganggap mereka seperti keluarga aku sendiri. Dan saat ini memang kita ada bisnis juga yaitu handuk dan gula semut yang sempat tertunda karena aku sakit. Dan ada hal lucu sewaktu aku terakhir ke sana bersama Bu Tina dan Pa Erwin, yaitu kakak Nike mengatakan kalau dia sekarang duda dan apa aku mau nerima dia? Sontak kita semua tertawa. Aku menganggap semua hanya gurauan belaka, karena aku masih tidak berpikir untuk menikah.

Saat ini aku dekat dengan beberapa orang, tapi hampir semuanya tidak ada yang masuk ke dalam hati. Hatiku sudah mati dan aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi.


    Kembali kepada film “Tentang Dia”. Aku rasa film ini memang kisah tentang Melly dan Nike. Walau pasti ada bumbu-bumbu imajinasi di dalamnya, tapi secara garis besar film ini memang bercerita tentang kesedihan dan kehilangan, seperti salah satu cuplikan puisi dalam film itu:



    “Cuma ada dua hal besar dalam hidup, yaitu cinta dan kematian. Saat kita bisa menerima keduanya, maka kita bisa menghadapi apa saja.”

*Sambil mendengarkan lagu "Kamu dan kenangan - Melly Goeslow"

   

Saturday, June 19, 2021

19 JUNI

 


    Pernah ada yang menikam ulu hati dimusim hujan. Angka sembilan belas yang bertengger pada barisan kalender lama. Juni yang meradang bak bayangan pengulang ingatan. Bilangan-bilangan yang baru saja menetas di angka 2012. Masih ingatkah waktu? Akan buncahan-buncahan yang kini sudah mulai menjadi debu.


    Aku pernah menamainya senja. Jingga yang kemudian menjadi penanda akan hati yang mulai terbuka. Hari-hari yang kemudian menjadi liar tak terkendali. Aku pernah menjadi waktu. Menjadi kilas balik yang tak pernah dijumpai rindu.


    Ada tahun-tahun yang hilang sejak Juni datang berkenalan. Usia yang kerap berlalu seperti tiupan lilin di atas kue ulang tahun. Secepat itu, seperti hilir mudik rasa yang tak bisa lagi berkata-kata. Hai Jingga, masihkah ada nama “kita” diantara lalu-lalang rahasia? 


    Sembilan tahun yang lalu, sejak badai mengamuk dalam pertarungan yang tak usai. Sejak cincin melingkar pada kalimat tersembunyi. Sejak aku menjatuhkan hati pada pilihan yang tak bisa aku pilih hati-hati. Sejak saat itulah aku berjalan atas nama kerinduan. Atas nama kesedihan yang kemudian dinamakannya kehilangan.


    Hai Jingga, sudah terlalu lama ternyata. Dan aku masih berselimut sepi dalam abu yang mulai larung di lautan. Tak ada lagi yang bisa aku kenali dari gerimis atau basahnya air hujan. Tak ada lagi yang bisa aku eja dari panasnya kemarau atau redupnya musim gugur.

Aku terkungkung di balik lukisan tanpa coretan. Bingkai yang kini renta oleh waktu dan menjadi butiran debu.


    Aku kembali mengingat angka sembilan belas yang telah tertiup angin malam. Perjalanan mendaki bukit ego untuk bisa tahu bagaimana cara memeluk sunyi. Kau ingat bagaimana kupu-kupu bertebaran di atas ranting harapan? Kau ingat bagaimana aku bisa menaklukan jarak pada pertarungan yang tak mudah? Kau tahu betapa lelahnya aku mengenalmu? Betapa letihnya aku ketika jarak mulai memecah hatimu menjadi racun?

    Ada kenangan di balik saku bajuku. Di antara selimut-selimut berbulu angsa yang belum sempat aku rapikan lagi. Aku ingin menyulam benang kenangan dan memajangnya di rumah masalalu. Aku ingin bertegur sapa dengan bayangan yang tak bisa lagi bertatap muka. Aku ingin menyalakan lilin doa diantara nama-nama yang aku beri judul “Jingga”. Aku ingin kembali berahasia, tanpa ada lagi yang menganggapnya sia-sia.  

Sunday, June 13, 2021

JUNI 2021

 




    Tak ada lagi hujan di bulan Juni, sebab semua hujan telah dipayungi Tuhan dengan indah. Semua bentuk air mata, gerimis dan genangan perjuangan kerap Dia perhitungkan. 

Dia tidak pernah salah menuliskan jalan cerita bagi kita. Jalan yang menurut kita berliku, curam dan terjal ternyata adalah jalan menuju suatu pemandangan yang indah yang tak pernah bisa kita raih jika kita hanya berjalan lurus tanpa tantangan.


    Bulan Juni kali ini adalah babak baru bagi CV Indriani Sukses untuk mengepakkan sayap di dunia bisnis. Setelah orderan seragam dan sepatu satpam dari anak perusahaan Bank Sentral, aku kemudian mendapatkan orderan karpet untuk gedung seluas 900 m2, lalu baru beres pemasangan karpet, semalam aku baru saja melakukan pemasangan karpet juga untuk tempat fitness seluas 207 m2. Aku sampai diam di tempat fitness hingga pukul 00.00 sampai pemasangan karpet selesai. Setelah ini ada orderan towl dan linen untuk hotel (sedang dalam proses), lanjut orderan selimut bulu untuk hotel, bedong bayi dan karpet bayi untuk rumah sakit anak. Senin juga aku harus survey lokasi bersama tante aku yang ingin menyewa gedung yang aku tawarkan untuk wedding sepupuku. Semua orderan besar terus masuk di bulan Juni.


    Semua kemudahan ini tidak lepas dari rahmat Allah yang begitu besar, ibu yang terus mendukung dan mendoakan, ayahku juga yang sekarang memberikan dukungan, serta saudara dan sekretarisku yang mau berkorban untuk kesuksesan CV ini.


    Aku sudah berencana membuka kantor untuk CV ini di Bandung kota, selain di Bandung Timur, karena tidak bisa dipungkiri, client dan timku rata-rata berdomisili di Bandung Kota, sehingga aku berencana membuka kantor di sana dan direktur salah satu perusahaan rekananku sudah menyiapkannya.


    Aku selalu ingat bahwa nama adalah doa. Aku berharap, nama CV Indriani Sukses bisa menjadi doa bagiku. Aku ingin bisa memiliki kebebasan finansial agar bisa total dalam membahagiakan orang tua dan orang-orang yang membutuhkan.

Perjuanganku memang sangat melelahkan, tapi Allah selalu mengajarkan umatnya agar tidak putus asa dan terus berjuang.


    Alhamdulilah semoga lelahku kali ini bisa menjadi lilah. Targetku saat ini adalah selain membuka kantor di Bandung Kota, aku juga masih ingin membeli mobil double cabin impianku, entah itu dari Ford (sudah tidak produksi lagi), atau Hilux, semoga keinginanku bisa terwujud. Aamiin.


    Special thanks to Ayu, sekretaris yang luar bisa mau berkorban dan mensupport semua rencanaku. Semoga kita bisa membangun CV ini menjadi besar dan bisa bermanfaat bagi orang-orang di sekitar. Aamiin YRA.

















Saturday, May 29, 2021

Rembulan Patah

 


Banyak hujan di bulan Mei. Seperti gerimis yang tak bisa tertidur pulas di atas guguran daun-daun kering. Aku suka wangi tanah basah selepas hujan, tapi aku juga suka dengan guguran daun-daun kering yang jatuh dari pohon yang meranggas. Aku menikmati apa yang gugur. Aku menghayati apa yang telah lepas dari tangkainya. Hingga kemudian ada yang datang lagi, tarian kelopak-kelopak jingga, pada lembaran waktu yang aku beri judul “Selamat Datang”.


Aku tak pernah bisa berpura-pura dengan rasa. Dengan sandiwara yang bisa membuat orang lain bahagia. Aku tak bisa menyambut kemarau ketika aku tengah menikmati hujan. Aku tak bisa berlari ketika aku tengah tertatih-tatih untuk berjalan. Aku ingin menjadi diriku sendiri.


Jangan paksa aku untuk bisa menjadi selembut bidadari atau sebijak Kartini, sebab aku bukanlah peri-peri cantik yang kerap duduk manis di atas nampan kemewahan. Aku bukan pula gadis bergincu tebal yang suaranya melengking terkikik-kikik tatkala dihujani gombalan dan rayuan-rayuan penuh umpan. Aku tak pernah berada dalam satu barisan yang mereka namakan “perempuan”. 


Aku tak pernah ramah dengan kata “menikah”. Sebab aku masih ingin berkelana memecahkan teka-teki dalam kepala. Terlalu banyak benang kusut mengendap dalam hati. Aku ingin melepasnya satu persatu.


Aku masih enggan membuka pagar diri dan mempersilahkan  masuk apa yang tak pernah aku hadirkan dalam mimpi. Aku masih suka berangan-angan, tentang bunga, tentang daun, tentang kupu-kupu, tapi bukan tentang kumbang atau macan. Aku suka kelembutan, wewangian, ketulusan, bukan nafsu dan kekangan dalam cemburu.


Aku sedang tidak baik-baik saja. Hingga aku tendang apa yang merangsak masuk, namun aku ucapkan selamat datang bagi yang baru saja pulang. Tapi, hatiku kini mati, sebab hidup terlalu keras untuk bisa aku perjuangkan sendiri.



Monday, May 17, 2021

Diksi Hati


 


    Ada ledakan besar dihari senin. Kemarau yang basah di sepanjang sisi hati. Kisruh yang berlari dari harapan panjang akan kemenangan. Aku terjebak diantara topeng-topeng penuh kebohongan. Senyuman-senyuman palsu para penipu kebahagiaan. Ada rasa sakit diantara batas yang membendung perisai pertahanan. Rapuh.


    Anak-anak panah berdatangan bak udara yang bersalaman tanpa rasa iba. Mereka menghujamku dalam tawa yang tak bisa berkata-kata. Menjulurkan lidahnya dalam hujatan yang dibalut oleh kalimat-kalimat pujian.  

Mereka menawanku pada jeruji janji agar aku tidak bisa melarikan diri. Dan aku kehilangan kebebasanku untuk bisa meneguk senyum pada barisan pelangi yang ditawarkan oleh pagi.


    Aku ingin mengasingkan pikir. Mengurai kekeliruan masalalu yang aku ulang-ulang dalam rindu. Aku ingin menenggelamkan pilu pada kekosongan ruang yang aku sesaki dengan penyesalan.


    Aku lelah, Tuhan! Dosa seakan menjadi duri pada bahagia yang hampir saja aku teguk hari ini. Dosa ibarat pagar-pagar kawat bertegangan listrik tinggi yang harus aku lewati untuk bisa hidup lagi. Aku masih terkungkung dalam dosa yang tak bisa terhapus hanya dalam satu kalimat istighfar. Dosa ibarat siluet yang masih membuntutiku hingga aku sulit untuk bisa terbang tinggi.


    Peluh dan benci datang beriringan. Sunyi yang mengaduh pada ketidaksiapan ludah untuk menelan bara api. Sungguh, lelah telah berkidung lebih lama dibanding fajar yang terus bergerak mengibur. Aku ingin pulang! Pada bayang-bayang fatamorgana khayalan. Pada bianglala masa kanak-kanak yang membuatku lupa akan norma dan etika. Aku ingin bebas mendaki senyum dan leluasa memetik bahagia.


    Bawa kembali beban-beban itu! Aku ingin beristirahat. Aku ingin mengenang masa-masa balitaku. Aku ingin menutup mata dari dunia yang penuh dengan keberingasan. Aku ingin pulang pada jalan lain yang tidak bisa mereka bawa pulang. Aku ingin kembali! Aku lelah kali ini! 

Thursday, May 13, 2021

Ranah Pengasingan

 


    Ada barisan kalimat penyemangat hadir ketika takbir memekik di atas lintasan kefitrahan. Namanya menyapa diantara pesan-pesan yang tertunda. Dia mengingat tugasnya laksana lebah yang tak lupa membuat madu. Manis, dan jadilah pagi ini aku tahu bahwa namanya masih aku utarakan dalam rindu.


    Tepat pukul satu malam, dia masih bercengkrama dengan abjad-abjad yang menari di atas keyboard, sedang aku tengah bersitegang dalam mimpi yang tak kunjung bertegur sapa.

Aku memikirkannya, mengingatnya dalam selaksa semesta yang enggan berterus terang.

Dia, yang namanya bahkan telah dipahat pada jari manis milik orang lain. Dia yang bahkan telah memangku kupu-kupu kecil sebagai mahkota dari istana. Aku memandangnya dari jauh, seperti sang pengagum lukisan yang tak mampu memilikinya hanya dengan ungkapan kasih sayang.


    Dari parfum itu, kupu-kupu menari ibarat tarian bola salju. Wanginya mengendap dalam labirin kerinduan. Kidung suaranya bersemayam pada ranah pengasingan yang aku namakan hati. Indah, resah, dan terus terngiang-ngiang apa yang tak bisa dimiliki oleh diri. Not-not balok yang tak bisa aku baca hanya dengan menerka-nerka. Dia misteri hidup yang belum bisa aku simpulkan hanya dengan satu sapaan biasa.


    Andai saja dia tahu apa yang mengebu-gebu dalam kalbu. Getaran yang melaju pada frekuensi yang tak bisa didengarkan. Andai saja dia mengerti, apa yang terbayang-bayang dalam ingatan. Teduh-teduh yang bernaung di bawah langit hujan. Simpul senyum yang tak pernah bisa aku ajak pulang. Cincin ikatan yang tak pernah bisa aku pisahkan lagi. Dan bahtera bahagia yang tak akan bisa dibagi dua.


    Aku mencarinya pada dunia kasat mata yang mereka katakan “dunia maya”. Namanya tak banyak terpampang di sana. Fotonya ibarat sampul buku pada novel misteri yang penuh teka-teki. Dia tak banyak bercerita. Dialah tanda tanya yang tak bisa aku utarakan langsung kepadanya. Ah, aku masih saja mengingatnya dalam balutan rasa bertemakan rahasia.


    Kapan kemarau bisa berpendar dimusim semi? Menelurkan wajah baru dari daun-daun gugur yang tak bisa bercerita panjang. Aku ingin mengenalnya. Mendengar lebih jauh apa yang hilir mudik di dalam isi kepalanya. Aku ingin suaranya menggema bak senandung rindu yang kini menggenggam ranah kupu-kupu. Aku ingin dia. Ombak rasa yang masih membentur karang tanda tanya. Aku ingin namanya. Abjad-abjad halus yang aku pajang di atas dinding kerinduan. Aku ingin sapanya. Beberapa baris kalimat tanya, bukan tentang pekerjaan atau tugas-tugas yang menjadi batas kedekatan. 

Aku ingin dia bertanya tentang pagi yang abadi atau tentang senja yang membuatku jatuh cinta. Aku ingin mengenalnya lebih jauh, seperti sunyi yang kini terasa utuh.

Bulir-bulir harapan seperti yang ia sematkan pada malam di ujung titik penantian.

Aku menunggunya bercerita panjang lebar. Tentang dia, tentang dunianya dan tentang rasa yang ia pikir tak lebih berharga dibandingkan dengan logika dan hitungan matematika.

Aku jatuh cinta..

Sekali lagi, pada harapan yang membuatku putus asa.