Hidup ini tidak seperti novel, yang kita bisa mengulang halaman pertama kapanpun kita mau. Dalam kehidupan nyata, saat sebuah kisah tidak lagi menyenangkan, mulai menyakitkan, kita tidak bisa mengulanginya dari halaman pertama lagi. Tapi tidak mengapa, karena kita selalu bisa membuat bab baru, halaman baru. Selalu bisa.
Thursday, September 13, 2012
Wednesday, September 12, 2012
Rumah Pelangi (Untuk Jingga)
![]() |
| Rumah Jingga |
![]() |
| Pelangi untuk Jingga |
Khayalku
berjalan tanpa ruas kata. Ada kalimat tanpa titik berkejaran disepanjang baris
paragraf tak berjudul. Ku cari makna tak beralasan. Ku cari jeda tak
berhimpitan. Ku cari apa yang Ku cari. Ku cari apa yang tak lagi Ku temui.
Bingung. Bingung Ku sematkan pada pagi.
Warnanya berpendar tanpa nyala. Ada ruang-ruang tak bertuan berdiri tegak
melemparkan bejana kekosongan. Diam searah. Merenung..
Ada
yang terlupakan, yang terlupakan dari senja. Aku lupa meraba asa Jingga. Aku
lupa akan barisan yang membentengi hati. Aku lupa akan barisan hujan yang
datang setelah gerimis. Aku lupa akan guguran daun-daun kering yang berserakan
dipijaran mentari yang membakar asap pelangi.
Maafku berujar pada Jingga. Maafku
berbisik menyelinap pada selimut berbulu angsa.
Ku biarkan puisiku mengaduh pada riuh. Ku
biarkan ragaku menyesap lara berjelaga.
Berteduhlah Jingga. Lelaplah pada barisan
kata yang aku sematkan di ujung petala. Nyalanya riang. Bunyinya melenguh dalam
rindu.
Berteduhlah Jingga. Ku teduhkan sinar
matamu yang berbinar. Ku teduhkan degup jantungmu yang nanar. Ku teduhkan asa
cemburumu yang terbakar.
Berteduhlah... Akulah rumah hatimu. Akulah
embun bagi jiwamu yang gersang. Akulah karang bagi gulungan ombakmu yang
menerjang. Akulah aliran darah bagi adrenalinmu yang berpacu. Akulah jantung
bagi ragamu yang hidup. Akulah nyawa itu... Nyawa bahagiamu.
Maka, berteduhlah Jingga.. berteduh pada
kepingan hatimu yang rindu.
Berteduhlah.. berteduhlah.. berteduhlah
tanpa cemburu..
Aku
eja hingar bingar dan sorak sorai gelisah hatimu. Aku baca gagap gempita
aksaramu tanpa jeda. Aku memelukmu haru... Berbaur dalam lelehan airmata
bersalju dimata itu.. Ada gerimis tertahan yang kini beku. Ada buncahan bahagia
yang mengendap dibilik berkayu pilu. Aku merabamu... meraba jantung hatiku yang
diam diufuk waktu.
Mendekatlah.. dekati rasaku yang bermuara
pada rasamu..
Mendekatlah.. dekati semusim mimpiku yang
bermukim pada mimpimu..
Kaulah angka-angka pada tarian jarum jam yang
berputar..
Kaulah penghubung bagi jarak-jarak yang
terpisahkan..
Kaulah perekat dalam doa yang
terpanjatkan..
Kaulah cahayaku..
Kau adalah perahu yang membawa seribu
kedamaian..
Maka, menepilah.. menepi dipesisir rinduku
yang kesepian..
Lihatlah
Jingga, di sini ada langit tak berawan. Di sini ada nampan tak bertuan. Di sini
ada bejana-bejana kosong tanpa isi. Di sini ada ranting-ranting tak berbunga.
Di sini banyak sayap tanpa kupu-kupu. Di sini ada malam tanpa siang. Di sini
ada cinta tanpa rindu. Di sini ada aku.. Ya, ada aku.. Aku yang tanpa kamu..
Jangan kau tanyakan kenapa, Jingga..
Karena kaulah awan bagi langit biru
jiwaku. Karena kaulah tuan bagi nampan ceritaku. Karena kaulah isi bagi
bejana-bejana kosongku akan sajak rindu. Karena kaulah bunga bagi
ranting-ranting semangat hariku. Karena kaulah kupu-kupu bagi sayap mimpiku.
Karena kaulah siang bagi malamku tanpa bintang. Karena kaulah satu-satunya
rindu yang bermukim pada cinta. Dan karena kau itu aku.. Ya, KAU ITU AKU..
Maka,
tetaplah bermukim dirumah jinggaku. Akan Ku jamu kau dengan madu kesetiaan.
Akan Ku hangatkan kau dengan lilin-lilin kedamaian. Maka, tidurlah Kau di
sini.. Tidurlah di sini.. Bukan, bukan di sisiku.. Tapi, tidurlah di sini..
Di sini...
DIHATIKU.. ( JINGGA,
AKU MENCINTAIMU)
Monday, September 10, 2012
Yang Terlupakan
Ada bait dalam sajakku yang Ku
biarkan tersembunyi di dasar danau.
Ada butiran-butiran kisah dalam prosaku
yang Ku biarkan menyatu dengan pasir di pesisir pantai. Ada arus-arus liar
dalam adrenalinku yang Ku biarkan hanyut di aliran sungai.
Ada rahasia-rahasia
kecil yang menggelikan yang Ku biarkan terselip diantara dedaunan rindang di
puncak gunung.
Untuk beberapa saat, aku memang
sempat melupakanmu.. Ya, hanya beberapa saat.. hanya untuk memulihkan jiwa yang
kemarin sempat meronta akan rindu. Agar aku tak lagi gila akan desau angin..
mencarimu bersama tarian udara yang berhembus..
Dimana?? Dimana.. Dimana lagi
harus Ku cari sosokmu yang begitu Ku rindukan??
Sedangkan semua seakan tak sempat
lagi..
Aku mencarimu diantara
semak-semak liar yang pernah kita injak bersama, tapi pijakkannya tlah hilang
tertelan masa..
Aku mencarimu diantara cahaya
rembulan yang pernah kau tatap malam itu, tapi rembulan tetap bisu.. bisu dan
membisu..
Aku menatapmu lekat.. menatap
tulisan OBITUARI dikoran itu.. BENAR??? BENAR??? BENARKAH ITU KAMU???
Tidak.. aku tidak ingin menatapnya
lagi..
Kau pun tak sempat mengembalikan
matahari terbit milikku yang kau simpan dibalik jiwa sederhanamu..
Kau pun tak sempat menaruh cahaya
malaikatmu diujung matahari yang tenggelam senja ini…
Kau belum menyelesaikan
semuanya.. BELUM.. :”
Aku berteriak dalam gua yang
sepi.. berharap kau datang lagi seperti kemarin..
Tapi, kosong..
Sempat ada yang bertanya tentang
kisah kita..
Aku diam..
Sempat ada yang bertanya tentang
kedekatan kita..
Aku membisu..
Haruskah aku perlihatkan apa yang
pernah terjadi diantara kita seperti mereka?? Seperti orang-orang terdekatmu
yang berkata pada dunia bahwa mereka adalah bagian penting dalam hidupmu??
Lantas mereka perlihatkan foto-foto yang tengah berfose denganmu??
TIDAK, aku tak ingin begitu..
Biar, biarlah alam yang merekam..
biar, biarlah hati kita yang menyimpan..
Biar-biarkan semua tetap begini..
menutupnya dari arus kebisingan..
Seperti katamu, tetaplah
berahasia..
Seperti katamu, jadilah mutiara..
Seperti katamu, cintamu
sederhana..
Hanya seperti sandal jepit dan
tuannya..
Atau seperti tas punggungmu dan
talinya..
Atau seperti senyummu dan
tulusnya..
Begitulah aku akan mengenang
tentangmu.. Aku tak usah berkoar terlalu banyak diantara lautan manusia.. Aku
hanya ingin menyalakan lilin diantara sudut kamarku yang sunyi..
Mengingatmu sejenak.. lalu pergi..
Bukan berarti melupakan.. aku
perlu untuk menata hati..
Mencoba menerima bahwa kau tak
akan pernah kembali..
Oya, satu lagi.. ada yang tak
sempat aku ceritakan padamu.. tentang seseorang..
Ya, seseorang setelahmu..
bolehkah??
Mungkin, dia adalah mentari yang
mengikatku untuk yang pertama kali.. Ya, karena aku dan kau tak sempat.. tak
sempat menautkan hati..
Pergi.. pergi.. pergilah dengan
tenang menuju rumah-Nya,,
Di sini aku tak akan menangis
lagi.. Di sini aku tak akan mencari-cari lagi.. Di sini aku tak akan
berteriak-teriak lagi..
Karena aku tau sebenarnya kau tak
pernah pergi..
Karena aku tau sebenarnya kau tak
ingin dilupakan..
Karena aku tau sebenarnya kau tak
ingin tergantikan..
Maaf.. maaf.. maaf, karena
kemarin, kau sempat.. TERLUPAKAN..
Terlupakan dalam genangan
airmata. Terlupakan dalam gerimis cinta. Terlupakan dalam kungkungan bejana
rindu..
Maaf.. karena kau sempat
terlupakan.. TERLUPAKAN DALAM DIRIKU..
Ya.. itu kata-kata terakhirku
untukmu..
Tidurlah, tidurlah dengan
tenang.. Aku di sisimu.. menyalakan lilin kedamaian, bilamana kau takut akan
gelap dan kesepian..
Tidurlah.. tidurlah.. tidurlah.. kau
tak sendiri.. kau tak ditinggalkan..
Tidurlah.. tidurlah.. tidurlah..
di sisi Tuhan..
Selamat jalan :”)
Subscribe to:
Comments (Atom)


