Asinnya tak hilang, meski kau bawa pulang..
Berjalan jauh ke hamparan gurun tandus,
Panasnya menjalar hingga ke kutub
Kita ibarat kaktus dan durinya
Melekat, kadang saling menyakiti..
Jauh, namun mudah tuk disauh..
Aku air laut dan kau garamnya,
Aku malam dan kau gelapnya,
Aku jasad dan kau nyawanya,
Aku pusara dan kau nisannya..
Kadang kita terpisah begitu lama..
Aku terpenjara di bawah akar pohon kelapa,
Sedang kau lepas, terhempas diangkasa,
Kita sekarat, lalu berujar pada surat-surat..
Hatiku laksana keju,
Lelehannya adalah kembang-kembang rindu
Sedang kau ibarat lampu-lampu kota..
Begitu gemerlap menyilaukan mata..
Kita adalah sepasang hujan rintik-rintik
Aku airnya sedang kau bunyi-bunyiannya
Kadang dekat tapi selalu berjarak..
Kadang jauh, begitu tak tersentuh..
Malam ini ibarat lagu kenangan..
Liriknya terputus di ujung persimpangan
Lantas bayangmu terkenang dilamunan
Mengalir pada aliran-aliran kehilangan
Waktu laksana bola salju
Ada namamu disetiap gerakannya..
Membesar dan semakin bertambah rindu
Lalu bersemayam pada puisi yang kau beri judul “Aku”
Sudahlah, kemasi saja!
Sepetak ingatan yang melekat dikepala
Lalu tidurkan aku laksana anak raja
Dipangkuanmu tanpa harus menukar senja..

No comments:
Post a Comment