Jingga, adakah malam yang kau sisakan untukku?
Senyumku kini tertambat pada sepotong rembulan yang bernamakan sepi..
Sakit yang merambat pada pilar-pilar kekosongan,
Mendamparkan khayalku pada sisi lain tanpa kamu..
Menoleh, namun hanya ada siluet palsu mengatas namakan rindu..
Tiada wajahmu lagi kali ini,
Berkali-kali setiap aku menghirup udara pagi..
Mataku berkaca-kaca..
Menanyakan kembali pada angin, dimanakah hatimu kini berada?
Namamu kusimpan rapi dimana-mana,
Dilemariku, tempat baju-baju darimu terlipat tanpa harga
Dibotol parfumku, tempat wangi kasihmu merebak, menanggalkan penat-penat penyesak dada..
Ditumpukan puisi-puisiku, tempat kata-kata berkumpul membentuk simfoni rasa..
Dikedua mataku, tempat indah senyummu bersemayam tanpa jeda..
Jingga, bukalah tumpukan kertas-kertas itu..
Ada kegilaanku tercatat menuliskan bagian-bagian lain dari rindu,
Duduklah! Baca sejenak!
Peluk aku!
Hangatkan kembali jarak yang menorehkan kebekuan!
Ada surat-surat yang aku kirimkan dari hati..
Surat-surat tak beralamat, bernamakan nyeri..
Surat-surat yang akhirnya kembali padaku,
Karena aku tau, cerita kita telah berlalu..
Jingga, adakalanya aku tak sanggup menahan lagi,
Semua batas seakan menelanku hidup-hidup..
Batas dari dimensi yang menghantarkanku pada pijaran lain berapi-api..
Jingga, kenapa rindu itu begitu nyeri?
Rindu seakan menguliti tubuhku tanpa henti..
Menikam dadaku dan meremukkan tulang belulangku..
Rindu ibarat pemangsa liar yang siap melahap mangsanya kapan saja..
Rindu adalah candu, tempat aku menggila memeluk foto-foto itu..
Jingga, ada surat-surat dungu bertebaran tak tepat waktu..
Mengurai airmata yang lirih dipenghujung ceritaku
Mengering dan terbakar jadi abu..
Tahun demi tahun hanya membuatku sekarat
Aku terperangkap diatas jendela tuamu yang rapuh
Bersarang diantara debu-debu dan kenangan masalalu..
Jingga, peluk aku!
Lelapkan tidurku!
Aku lelah terjaga,
Hanya untuk satu sapa bernamakan cinta
Dari Jingga..

No comments:
Post a Comment