Kadang-kadang hujan lupa bahwa ia pernah ingin menjadi angin..
Menjadi sesuatu yang mampu bergerak tanpa harus terlihat seperti apa wujudnya..
Kadang-kadang hujan malu untuk datang menyapa, karena ia takut akan membuat orang lain menjadi basah dan kedinginan..
Hujan tau, saat ini ia hanya mampu berucap dari jauh dan bergerak pelan-pelan, karena kadang-kadang ia sadar bahwa ia sedang tidak diharapkan untuk datang..
Sebab apa yang dibawa oleh hujan tak lebih berarti dari kemarau yang
mengibarkan bendera harapan..
Aku hujan, yang tengah menyalakan lilin di bawah rintik-rintik rindu dan kesedihan..
Mencoba menangkap siluetmu yang dulu riang dan kini hilang..
Kau mungkin sangat marah, karena aku membasahimu tatkala kau ingin terbang lebih tinggi..
Kau lalu jatuh..
Dan aku tak bisa berbuat apa-apa..
Kau lalu membenciku, tatkala aku tengah menggapai-gapai awan untuk bisa merengkuhmu..
Aku hujan, yang kini semakin basah karena merasa bersalah..
Aku hujan, yang pernah berulah dan salah..
Aku hujan, yang kini berharap menjadi angin..
Agar kau segera mengering dan terbang di atas langit..
Aku hujan, yang merindui masa-masa perkenalanku dengan masalalu..
Kamu..
(Puisi ini khusus untuk sahabatku yang hari ini ulang tahun. Maaf aku lupa, dan aku juga minta maaf untuk semua kesalahan, sehingga membuat kamu marah dan kecewa)

No comments:
Post a Comment