Tuesday, October 15, 2019

Perjalanan Luka


    Menapaki relung, lalu senja memperkenalkan dilema atas nama kasih sayang. Wajahnya merekah diantara tumpukan foto-foto lama yang tidak lebih indah dari senyuman bunga matahari kali ini. Hijau, perkenalkan namanya hijau. Hijau adalah hadiah dari perjalanan panjang luka yang tak pernah selesai diobati.

    Hijau, wajahnya mampu menyihir jutaan pasang mata karena sinarnya yang memancar. Diamnya adalah sejuk yang menenangkan riak-riak air yang mengalir. Aku memetiknya diantara pusara keheningan. Menggenapinya diantara waktu yang mulai menjemput senja. Matanya, hidungnya, bibirnya dan tariannya diantara bahasa angin, membuat mataku terpaku dan tak bisa kemana-mana.

    Hijau adalah singgasana terindah yang aku temukan dipenghujung malam penuh buncahan. Aku terpana di bawah sinar rembulan. Geraknya menaklukan dinginnya ego dan kerasnya ujian hidup. Aku menyukai diamnya. Aku mencintai gemulainya yang mempesona. Aku masih tak percaya bisa memeluk hijau seerat ini. 

    Aku menginginkan waktu mengutarakan kerinduan. Menjemputnya dari tragedi airmata dan terjalnya perjalanan menuju gerbang impian. Aku ingin dia menyalakan api diantara dinginnya  sunyi. Aku ingin dia hadir diantara kelopak mata ketika aku membuka mata. Aku menggilainya setiap lara menyapa luka. Dia adalah penawar, bahagia yang kemudian menjenguk malam dengan penuh kelembutan.

    Hijau, bangunkan aku! Tampar kewarasanku agar aku mampu mengingat kapan bunga matahari mengecupku kala itu. Ingatkan aku pada setiap buncahan dan kupu-kupu. Peluk aku dalam diam bahasa yang kau namakan terimakasih. Aku menginginkannya sekali lagi.

    Hijau menyelinap diantara luka yang menganga. Mengeringkan sayatan-sayatan  yang tak pernah mengering oleh cinta. Hijau adalah lembaran baru yang memperlihatkan padaku tentang cerahnya hari-hari tanpa pilu.

    Terimakasih untuk tumpuan rasa yang kemudian berlabuh pelan-pelan. Terimakasih untuk rekah kelopak-kelopak mawar pagi itu. Terimakasih karena membuat getaranku merona di balik payung rindu. Terimakasih untuk kecupan-kecupan ayu dibalik lukisan rahasia jendela airmata. Terimakasih banyak! Aku tak ingin lagi berkata-kata, sebab aku tengah jatuh cinta.

Sunday, October 13, 2019

Kesempatan Kedua



    Aku memaafkannya dan dia kembali menjadi seorang remaja yang kembali ceria. Kemarin bahkan dia memperlihatkan daftar kontak whatsapp yang telah dia blockir.
Ya, aku cukup senang melihatnya, meskipun aku belum benar-benar percaya bahwa dia memutus komunikasi dengan orang itu. Tapi, kali ini aku tidak mau ambil pusing. Kemarin, aku sakit kepala bukan main, mungkin karena baru tidur beberapa jam saja setelah menggendong bayi adikku yang tidak berhenti menangis hingga pukul setengah tiga subuh.

    Aku senang melihat dia kembali ceria, tapi hari itu aku merasa kehilangan selera untuk apapun. Mungkin aku masuk angin atau apa. Karena sesampainya dirumah, sakit kepala bagian kiri bawah semakin menjadi-jadi, bahkan sakitnya hingga ke rahang dan leher sebelah kiri. 

    Aku merasa kehilangan kupu-kupu diperutku untuk sementara. Aku tak pernah tahu kenapa. Kenapa setiap kali ada lampu hijau, aku malah menjadi sedingin es. Kenapa, setiap kali kesempatan datang, aku kehilangan banyak rasa yang semula membuncah membabi buta. Aku tidak mengerti dengan diriku sendiri.

    Aku senang membahagiakan orang lain, meskipun tidak ada orang lain yang benar-benar ingin membahagiakanku, tapi setidaknya aku bisa membuat orang lain merasakan apa yang ingin aku rasakan, yaitu diperhatikan dan disayangi. Aku sudah cukup kenyang dengan pengabaian dan ketidakpedulian orang-orang terhadapku sejak aku masih kecil, sehingga aku tidak mau orang lain merasakan kesepian dan tidak dicintai sepertiku.

    Semoga kemarin adalah titik awal di mana semua rencana berjalan sebagaimana mestinya. Aku ingin kembali pada rutinitasku semula. Aku tidak ingin terlalu mengekang orang-orang yang aku sayangi, tapi aku juga tidak ingin membiarkan dia terlalu bebas dan lupa dengan apa yang harus dia pertanggungjawabkan.

    Aku sudah sampai pada titik jenuh dalam hidup. Titik dimana kadang-kadang aku merasa tidak sedang hidup. Aku seperti berada pada dimensi kehampaan, dimana semua tidak bergerak sama sekali, hingga suatu ketika aku hanya mampu merasakan semilir angin, kicauan burung dan suara-suara alam yang kemudian memberitahuku kembali tentang suara hati yang sudah terlalu lama tidak didengarkan.

    Aku sering memberikan kesempatan kedua kepada orang lain. Sebuah kesempatan yang menurutku sangat berharga, karena seringkali aku tidak mendapatkan kesempatan-kesempatan yang ingin aku dapatkan dari orang-orang sebelum ini. Aku terlalu baik atau bodoh, lemah atau tidak tegas, entahlah aku tidak benar-benar mengerti.

    “Kamu hanya kesepian!”

Itu yang pernah diucapkan salah seorang sahabatku beberapa minggu yang lalu saat berkunjung ke Bandung. Sepertinya kata-katanya memang benar. Aku hanya kesepian dan aku selalu ingin mendapatkan kasih sayang yang tulus, bukan kepura-puraan atau bahkan hutang budi, bukan itu yang aku mau.

    Aku ingin bahagia dan hanya diri kita sendiri yang bisa membuat kebahagiaan itu datang. Kebahagiaan hanyalah sebuah pilihan. Kita bisa menentukan perasaan apa yang benar-benar ingin kita rasakan dan perasaan mana yang ingin kita tinggalkan. Sesederhana itu dan seringkali kitalah yang membuat semuanya menjadi rumit.

    Kali ini aku hanya ingin benar-benar hidup pada hari ini. Tidak ada bayangan-bayangan sedih dan penyesalan, tidak ada cemas, was-was dan gelisah. Aku ingin sebentar saja mencicipi apa yang orang lain katakan sebagai ketenangan, kedamaian, hingga kemudian keajaiban Tuhan benar-benar datang dan memberikan apa yang selama ini aku impikan.











Saturday, October 12, 2019

Pertengkaran Kecil


    Kemarahan datang lagi melalui kebohongan yang dia sembunyikan pelan-pelan. Dia berkilah bahwa dia tidak benar-benar ingin menemuinya, karena dia memang hanya ingin datang ke acara wisuda pelatihnya yang tidak lain adalah saudara dari pacarnya.
Dari awal dia sudah membohongiku. Diawali dengan dia mengatakan bahwa dia tidak memiliki pacar, lalu kemudian dia memposting satu tahun dia jadian dengan pacarnya, lalu aku melihat foto-foto pacaran yang tidak layak dilihat untuk ukuran pacaran seumuran dia,dll. Hingga beberapa kali dia mengatakan bahwa dia sudah putus dan ternyata belum putus.

    Aku tidak suka dibohongi dan puncaknya adalah kemarin lusa, ketika aku harus melihat postingan dia di instagram, dimana dia bolos sekolah dan datang ke acara itu. Dia bahkan sudah menyuruh ibunya ikut berbohong. Aku lalu meluapkan kekecewaanku kepada ibunya. Aku juga memblockir nomornya. Aku sudah benar-benar marah. Hingga kemudian dia mengirimkan sms dan membicarakan beberapa hal pribadi, aku terpaksa membuka kembali blockir whatsapp dia. Aku sudah menegaskan kepadanya untuk yang terakhir, apakah dia akan memilih sekolah atau pacaran, karena jika masih mau pacaran, maka aku akan memutuskan sekolahnya. Kejam? Menurutku tidak. Aku butuh komitmen, kedisiplinan dan fokus. Seharusnya dia memang sudah mengetahui itu sejak awal.

    Keesokan harinya, aku ke rumahnya membawa dua orang keponakanku untuk mengantarkan sepatu dan sorenya kita berempat pergi ke bioskop sekalian jalan-jalan, tapi seharian itu suasana hatiku belum juga pulih. Aku masih memendam kemarahan terhadapnya dan aku sulit memberikan kepercayaan lagi kepada anak yang sudah membohongiku berkali-kali.

    Kamu tahu siapa pacarnya? Dia bukan laki-laki seumuran dia. Usianya menurut ibunya 23 tahun, lulusan SMP dan sekarang bekerja di pabrik. Laki-laki itu bahkan beberapa kali berani memaki-maki dan berkata kasar kepada Dea. Aku mengetahui semuanya dari ibunya. Entahlah, aku cape membahas hal ini. Dea tidak bisa dipegang ucapannya. Dia bisa menjalin hubungan dengan orang itu yang menurut dia hanya sebatas chatting di whatsaap dan jarang bertemu, tapi di sisi lain, Dea juga bisa menjalin hubungan sembunyi-sembunyi dengan yang lainnya. Jadi, kalau sudah seperti itu, kamu bisa menilai dia bagaimana?

    Kali ini aku bukan hanya marah kepada Dea, tetapi juga kepada ibunya, karena ibunya juga berbohong kepadaku sewaktu Dea pergi ke acara wisuda, ibunya mengatakan bahwa Dea sedang tidur. Walaupun ibunya sudah meminta maaf, tapi aku sulit sekali menjadi biasa kembali.
Bayangkan, disaat aku tengah memikirkan tentang rumah yang akan dia tinggali, disaat aku menguras waktu dan kebahagiaanku untuk kelangsungan hidupnya, ternyata dia kembali mengecewakan dengan berbohong. Aku sampai geram dan mengatakan untuk apa memiliki pacar jika tidak berguna sama sekali. Apa pacarnya memberi biaya untuk sekolah? Memikirkan dimana dia akan tinggal? Memikirkan banyak hal untuk kelangsungan hidupnya? Bahkan yang sederhana, memberi uang untuk quota internet saja pacarnya tidak mampu. Lalu apa gunanya pacar seperti itu? Hidup perlu BIAYA, bukan hanya CINTA.

    Dea memang sudah memilih sekolah dan memutuskan dia. Dia mengirim screenshoot ketika dia memutuskan pacarnya. Apa aku percaya begitu saja? TIDAK. Aku sudah lelah memikirkan dia, sehingga semalam aku langsung memblockir dia kembali. Rasanya aku terlalu jauh masuk dalam kehidupannya, sehingga aku lupa untuk menjalani kehidupanku sendiri. Aku sekarang tidak peduli lagi apapun yang akan dia lakukan, karena dia susah untuk diberitahu. Entah dia akan pacaran sembunyi-sembunyi, atau apapun, dia yang akan menanggung konsekuensinya, karena jika sampai dia kepergok berbohong lagi, maka aku akan langsung berhenti membiayai sekolahnya dan aku tidak ingin mengenalnya lagi.

    Hidup adalah pilihan dan kesempatan. Seharusnya dia bisa bersyukur dengan beberapa kesempatan yang datang dalam hidupnya, seperti kesempatan sekolah, punya ini dan itu, bahkan punya keluarga baru. Seharusnya dia bisa menilai mana yang lebih berharga, mana yang lebih memberikan manfaat bagi dia dan ibunya. Dia harus bisa menurunkan sisi egoisnya dan bisa menyayangi ibu dan orang-orang yang telah membesarkannya hingga dia bisa tumbuh seperti saat ini.

    Dia adalah anak yang kurang bersyukur tentang banyak hal dan itu yang tidak aku sukai. Dia mengeluhkan kenapa hidup dari keluarga seperti sekarang,dll. Aku justru bersimpati kepada ibu angkatnya yang bisa membesarkannya seorang diri ditengah kesulitan hidup. Aku lebih menghargai ibunya yang bisa menghargai pengorbanan orang lain. Tidak seperti Dea yang sudah bertengkar berkali-kali dengan ibunya hanya untuk laki-laki kurang ajar itu.

    Kamu tahu alasan perempuan sesulit itu melepaskan laki-laki? Bahkan berani bertengkar dengan seorang ibu? Sebagian besar perempuan mengaku bahwa keperawannannya telah hilang oleh laki-laki tersebut, atau dia kecanduan karena sudah melakukan kontak fisik pertama kali dengan pacarnya, atau bahkan dia dipelet, dll. Wallahuallam, hanya Dea dan Tuhan yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, yang pasti kali ini aku benar-benar kecewa dan kemarahanku juga tak bisa reda.






Wednesday, October 9, 2019

GETARAN


         Kau tahu di mana pertama kali aku melihatmu? Mungkin kau akan menjawab di tempatku sekarang berada. Salah, kali ini kau keliru. Kalau saja kau tahu, aku pernah melihatmu pertama kali di sebrang jalan kala itu. Aku menatapmu begitu lama dari kejauhan dan getaran itu mulai hadir pertama kali, namun aku menghiraukannya dan menganggapnya angin lalu.

Hingga kemudian kau datang untuk pertama kalinya ke tempatku. Aku tidak ingat bahwa kau adalah orang yang aku lihat waktu itu. Tapi, getaran yang aku rasakan terasa semakin kuat, bahkan setelah kau berlalu, ada rindu hadir menggebu-gebu. Aku terus memikirkanmu.

Ternyata benar apa yang dikatakan oleh hukum tarik menarik bahwa apa yang kita pikirkan terus menerus dengan penuh perasaan, maka kita akan menariknya ke dalam kehidupan kita, entah itu hal positif atau negatif, semuanya akan terwujud. Dan ajaib, semua yang aku pikirkan dan rasakan semua menjadi kenyataan. Seperti ketika aku menceritakan mimpi aku denganmu yang terasa seperti nyata dan beberapa lama setelahnya semua memang terjadi.

Aku tak pernah mengetahui apa isi hatimu, apa yang berkecamuk dalam kepalamu, dan bagaimana kamu memperlihatkan kebahagiaan, tapi yang aku tahu kemarin aku bisa mendapatkan apa yang aku mau. Kemarin-kemarin aku tidak mempedulikan banyak hal selain keinginanku bisa tercapai, namun lain dengan kali ini. Aku menundanya, padahal keinginan itu sudah tidak bisa ditahan lagi, bahkan kau pun ragu ketika aku “mengundur-undurnya”. Kau beberapa kali menanyakannya padaku, “Yakin ga mau hari ini?” dan aku mengiyakannya. Menolak keinginanku sendiri selama dua hari berturut-turut. Aku bahkan mengatakan kepadamu bahwa aku ingin kamu melakukan semuanya dengan hati dan aku tidak mau kamu melakukan semua hal yang tidak sesuai dengan kata hatimu.

Aku ingin mengetahui isi hatimu lebih jauh. Mengenal apa yang bisa membuatmu benar-benar berbinar. Tapi, semakin aku berusaha masuk ke ranah itu, kamu semakin melupakan aku yang berusaha membahagiakanmu mati-matian. Kau terlalu mencintai dirimu sendiri, hingga kau lupa bahwa ada yang harus berkorban airmata untuk menebus satu senyuman dibibirmu.

Aku terbiasa disuguhi kepura-puraan, sandiwara dan drama romantis tanpa isi. Aku hanya mesin yang mereka kira bisa bahagia dengan cara dibodohi oleh sandiwara. Aku terbiasa ditinggalkan ketika mereka sudah mendapatkan apa yang mereka mau. Aku sudah terbiasa menikmati rasa sakitku sendiri. Hingga kemudian aku sadar bahwa aku benar-benar bodoh.

Andai aku bisa memasuki mesin waktu, aku ingin mengulangi semua yang pernah aku alami dan aku ingin memberikan banyak ruang untuk membahagiakan diri sendiri. Aku teramat lelah menjadi badut yang hanya bertugas untuk menghibur orang lain, tanpa ada satu pun yang memperhitungkan bagaimana perasaanku, apa yang aku mau dan bagaimana cara membuatku bahagia.

Gerimis turun di petala langit,
Mentertawakan kemarau di atas rumput yang tak lagi hijau..
Mengering, kuning dan layu,
Seperti kepura-puraan yang memasuki ambang waktu..
Batas di mana aliran air yang mengalir tidak lagi terlihat jernih.

Mereka sibuk berjibaku dengan peluru,
Menikam hujan dengan guyuran kepalsuan..
Dan hilang mematahkan sayup-sayup penghibur di balik senja..

Lagi-lagi aku harus menelan ludahku sendiri..
Mengunyah apa yang ayu dan menelan getaran yang menggebu-gebu.
Adalah aku budak nafsu..
Dan mereka adalah pemburu kebodohan..

Aku adalah boneka pajangan di depan mesin uang..
Boneka yang kerapkali menukar nominal dengan kebahagiaan.
Boneka yang kerap dijadikan tumbal demi kepuasan.

Aku lelah dan benar-benar lelah!
Mahalkah tanganmu membelai seperti 
belaian lembutmu terhadap
hewan-hewan itu?

Beratkah tubuhmu memeluk seperti 
pelukan tulusmu terhadap anak-anak kecil 
yang kau temui hari ini?

Sulitkah?
Susahkah?
Hingga semua harus kau tuliskan 
dengan kalkulator hitung-hitungan!
Aku ingin hati, bukan ego 
yang harus aku tebus mati-matian..
Ditoko berlian!

Monday, October 7, 2019

KEBAHAGIAAN



        Kita adalah kupu-kupu tanpa induk yang baru saja dilepaskan. Tawa adalah barang langka yang baru saja kita nikmati di bawah terik siang. Apa yang lebih berharga dari kebahagiaan tatkala melihat wajah sumringah yang kalian suguhkan akhir-akhir ini. Hingga aku sadar bahwa tawa adalah penyejuk diantara sekelumit hitamnya pikiran.

    Dari tawamu aku mengerti bahwa sepi adalah racun yang seringkali mengurungmu dalam tawanan kemurungan. Seringkali kita memang butuh interaksi, kita perlu untuk saling memahami dan bukan hanya terpaku pada rutinitas baku tanpa adanya kehangatan itu. 
Kita berada dalam antrian yang sama kali ini. Aku, kau dan bahkan bocah itu hanyalah kupu-kupu kecil yang haus akan kasih sayang. Dan kini, kita terbang bersama-sama hingga mencair sudah kutub dingin yang kerap kali membekukan kesendirian.

    Aku tak peduli lagi dengan mereka yang memandang kita sebelah mata. Aku menjadi tuli ketika mereka berbisik-bisik mengata-ngatai. Aku menjadi buta ketika mereka memperhatikan dengan tatapan hina. Aku tidak peduli lagi karena di depanku aku bisa melihat kalian tertawa bahagia. Di mataku hanya ada wajah-wajah ceria yang tengah tertawa. Di telingaku hanya ada suara-suara canda yang lepas dan tanpa beban. 

    Aku lahir dari kesedihan hujan yang terbawa angin. Tumbuh dari badai yang kerapkali berkelahi dengan pelangi. Dan kini aku harus menghadapi kenyataan bahwa aku tengah berdiri di tepi jurang. Tapi, ketika aku melihat ke atas langit, ada banyak sekali senyuman yang telah aku ciptakan. Ada banyak kebahagiaan yang menari-nari tanpa sepi, hingga kemudian aku lupa bahwa aku tengah menghadapi detik-detik kematianku sendiri.

    Aku membeli kebahagiaan dengan nyawaku satu-satunya, meskipun ketidakberpihakan kerapkali menikamku berkali-kali. Aku menikmatinya.
Aku adalah lukisan. Mereka bisa memandangku, namun tak bisa meraba perasaanku. Aku sudah terbiasa dengan pengabaian, tapi aku tidak terbiasa mengabaikan. 

    Kebahagiaan adalah magnet yang bisa menarik orang lain untuk ikut merasakan apa yang tengah kita rasa, atau barangkali sebaliknya, bahagia adalah sebuah perasaan yang dirasakan ketika kita mampu membahagiakan orang-orang yang kita sayang. Apapun itu, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku tengah berbahagia, sesepi apapun hati, tapi tawa mampu dengan mudah menghiburnya. Terimakasih untuk hari ini.