Wednesday, September 29, 2021

MERANGGAS

 



Mengenalmu ketika daun-daun meranggas dan hujan tertahan di atas langit ibarat mengunci luka yang sekian lama mengendap di palung hati. 

Sunyi itu lalu mekar pada duri. Keindahan lain yang tidak bisa aku miliki lagi. Kau telah melukis bias pada matahari yang seiring dengan langkahmu untuk berlari. Ada dua abjad lain di sana. Dua nama yang menjadi judul pada kertas kosong yang menjadi peta atas nama cinta.


    Siapa aku? Pengagum wayang yang tengah dimainkan oleh dalang. Siluetnya telah mengiris alur cerita yang tidak pernah bisa aku ubah. Aku memandangnya dari jauh. Meraba senyumnya di balik layar cahaya lilin. Aku merasakan hangatnya pada cerita-cerita klasik yang tidak pernah ingin aku dengar. Dia telah meminang kebahagiannya sejak lama.


    Aku ingin mengenalnya, seperti sepasang sayap yang telah membuatku terbang jauh. Dia hadir ketika aku tengah merangkak dan terinjak-injak. Dia datang ketika aku tengah terbuang. Dia memeluk ketika dunia bersikukuh tentang hiruk pikuk. Dia yang aku kira tidak memiliki sayap lain.


    Ada nama lain di belakang namanya. Seperti masalalu yang seringkali menyakitiku. Nama yang kerap dijadikan ujung dari setiap perjalanan. Dan aku adalah peran yang tak pernah diakui pada sebuah permainan. Gelap adalah tempatku meminang kesepian.  Tak ada ujung yang bisa aku akhiri dengan kalimat pengandaian. Semua akan terputus dan kembali pada tali yang seharusnya bisa merekatkan senja dan melahirkan sang mentari baru.


    Aku terlalu menyukai rasa sakit. Tertawa dengan lukanya. Jatuh cinta dengan tetesan darahnya. Hingga akhirnya aku tahu semua hanyalah diksi yang mereka beri judul “mencintai”.

Aku tengah dibantai oleh rasa. Oleh angan-angan yang seringkali memutar balikan senja.


    Meranggas, pelan-pelan luruh dan jatuh. Aku lupa akan tanggalnya. Aku tidak ingat dengan tempatnya. Semua prosa telah menjadi sia-sia. Semua rindu telah menjadi cemburu. Semua yang berjudul “aku” tidak bisa lagi menjadi “kamu”. Tak ada lagi yang bisa berjalan dalam kata “beriringan”. Kita telah terpisah begitu jauh, pada kayuh-kayuh yang tak bisa lagi mendayuh. Tak bisa utuh.

Tuesday, September 21, 2021

DOPAMINE DETOX


    Dulu, aku tidak mengerti dari mana sumber kebahagiaan itu berasal. Kenapa kita bisa berbunga-bunga dan bersemangat saat jatuh cinta? Kenapa mata kita bisa kuat berjam-jam melihat tontonan yang kita sukai? Kenapa kita bisa berkorban mati-matian untuk orang yang seringkali menyakiti kita? Kenapa kita banyak membuang waktu untuk hal-hal yang sebetulnya tidak bermanfaat bagi kehidupan kita? Jawabannya adalah satu, yaitu karena efek dopamin yang membuat kita kecanduan karena rasa bahagia yang ditimbulkannya.


    Sekarang, aku paham kenapa kita harus bisa mengubah sumber kebahagiaan yang bisa merusak produktivitas hidup kita. Bayangkan saja, bila sumber kebahagiaan bagi kita adalah pacar kita, mungkin kita akan melakukan apa saja untuknya meskipun kita menderita. Bila sumber kebahagiaan kita adalah nonton video porno, maka kita akan membuang-buang waktu untuk melihat tontonan yang justru akan merusak sel-sel otak. Bila sumber kebahagiaan kita adalah sex bebas,  maka tubuh kita akan beresiko mengidap penyakit kelamin. Bila sumber kebahagiaan kita adalah narkoba, maka jelas kita telah menjerumuska hidup dalam masa depan yang suram. Dan banyak sekali sumber kebahagiaan yang sebetulnya bukan kebahagiaan yang sejati, tapi itu adalah efek dopamin yang dihasilkan dan membuat kita merasa bahagia.


    Dari pemahaman ini, aku mulai bertanya-tanya, apakah selama ini kita benar-benar menyayangi “mantan pacar”? atau sebetulnya kita hanya membutuhkan dopamin yang membuat perasaan kita bahagia? Coba bandingkan disaat kita menyayangi ibu kandung sendiri, menurutku itulah kasih sayang yang paling tulus, karena kita hanya ingin membuatnya bahagia dan kita tidak mengharapkan timbal balik apapun darinya. Berbeda ketika kita menyayangi pacar, kadang kala kita selalu mengharapkan pujian, timbal balik atau apapun itu yang membuat kita jadi posesif.


    Pernahkah kita berpikir untuk menjadikan Allah menjadi sumber kebahagiaan kita? Mungkin akan sedikit sulit bagiku yang selama ini penuh dengan dosa. Tapi, apa salahnya jika kita mencoba?

Mungkin akan sangat luar biasa bila yang membuat kita kecanduan adalah dzikir dan mengingat dosa-dosa, atau bilamana sumber kebahagian kita adalah ketika kita mampu menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Bila itu terjadi, maka kita akan menjadi orang yang paling beruntung didunia ini karena kita telah hidup sesuai dengan perintah-Nya dan bukan sesuai dengan nafsu kita.


    Kembali kepada dopamine detox. Dopamine detox adalah adalah suatu cara mereset sistem otak agar otak tidak bergantung dengan rangsangan tertentu yang dapat membuat candu, seperti menerima notifikasi WhatsApp. Tujuan dari Dopamine Detox adalah mengurangi kecanduan dengan mengubah kebiasaan buruk menjadi lebih produktif, seperti berolahraga, memasak, membaca buku, dan meditasi. Aktivitas tersebut dapat menghasilkan dopamin, tetapi jauh lebih sehat daripada dopamin yang dihasilkan dari bermain sosial media. (https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-samarinda/baca-artikel/14073/Reset-Otak-dengan-Dopamine-Detox.html)


    Seperti yang kita ketahui saat ini, sumber kebahagiaan di era digital berada di ujung jari. Smartphone sudah menjadi alat yang membuat kita kecanduan sehingga kita rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk itu, entah untuk melihat social media, bermain games, berbelanja atau menonton film, sehingga disadari atau tidak kita sudah tidak produktif lagi dan selalu menginginkan semua hal secara instant. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, maka kita akan menjadi mayat hidup yang tidak punya lagi cita-cita, tidak bahagia dan selalu tidak puas dengan kenyataan yang kita hadapi dalam hidup.


Melintasi jejak rumah kupu-kupu

Ulat-ulat masih merayap di atas dahan

Ada yang terbang dan ada yang tertatih-tatih berjuang

Pagi telah meluaskan sayapnya 

Membuka pagar harapan dan menutup ketakutan

Gerimis lalu bercerita dalam rintik-rintiknya yang cantik

Tentang rindu yang tak lagi merindu

Tentang hujan yang kini menjadi perjuangan

September berkedip malu-malu

Pada boneka pucat yang kini bergincu tebal

Pada doa-doa yang tertinggal di celah jendela airmata

Rintiknya mengering dan tumbuh menjadi ranting hijau yang basah oleh sukacita

“Bahagia”

Itu katanya

   

Dan kali ini dia sedang baik-baik saja

Sangat baik-baik saja

Sebab dia mengenal-Nya..


(Indriani - Hijrah Pagi) 




Sunday, September 19, 2021

MELUPAKAN

 






    Kemarau di bulan September dan sedikit gerimis yang turun mengintip malu-malu. Tanggal-tanggal di kalender sekali-kali menyapa dengan penuh ketegangan. Angkanya adalah waktu, penanda pada barisan yang kelak akan jatuh menjadi masalalu.


    Aku tengah mengingat, menelanjangi sunyi yang kini menceritakan tentang dirinya sendiri. Ada yang berkabung, secuil harapan yang tidak lagi bisa bersenandung. Dari jarak, aku mengerti tentang riak. Sesak yang aku sirami agar kelak tidak kembali menjadi onak.


    Aku ingin mengenali siapa pemilik nadi ini? Pengatur hilir mudik nafas yang membuatku paham akan cara meredam nafsu.

Namun, kadang kenangan membuatku lupa akan batas. Akan rasa yang semestinya tidak dibiarkan bebas berkelana melucuti palung iman. Kadang aku lupa bahwa hanya Dia yang kemudian bisa membuatku baik-baik saja.


    Senja datang diantara mimpi yang mengetuk pada siang hari. Cuplikan 9 wali yang kemudian berganti menjadi kilas balik wanita penunggu hutan hujan. Lautan yang lantas berubah menjadi sungai dan pegunungan. Aku sungguh tidak mengerti akan risalah Ilahi atau kumpulan nafsu diri.


    Aku ingin berteman dengan hening. Dengan rasa tenang ketika hidup tak lagi memikulkan bebannya pada hati. Aku ingin baik-baik saja, tersenyum kepada matahari dan tertawa lebar kepada rembulan yang datang pada malam hari. Aku ingin kembali, menorehkan garis putih pada lembaran hitam yang telah penuh oleh noda kehidupan. Aku ingin harapan.


    Aku ingin waktu mengajakku berlari dan tidak bertekuk lutut pada rasa takut. Aku ingin tarian hujan membuatku basah dan paham akan pentingnya hidup dalam kenyataan. Aku ingin mengakhiri dongengku yang penuh dengan naskah-naskah khayalan. Aku ingin sadar bahwa hidup tidak seperti cerita pangeran dan putri raja yang ujungnya berakhir bahagia dan baik-baik saja. Aku ingin lupa cara bersedih agar aku yakin bahwa aku adalah manusia terpilih. 

Aku adalah aku, yang kini tengah menghapus jejak rindu. Mengemas tumpukan kenangan untuk kemudian aku beri judul “Melupakan”.

(Dalam kenangan 24 September 2017)