Mengenalmu ketika daun-daun meranggas dan hujan tertahan di atas langit ibarat mengunci luka yang sekian lama mengendap di palung hati.
Sunyi itu lalu mekar pada duri. Keindahan lain yang tidak bisa aku miliki lagi. Kau telah melukis bias pada matahari yang seiring dengan langkahmu untuk berlari. Ada dua abjad lain di sana. Dua nama yang menjadi judul pada kertas kosong yang menjadi peta atas nama cinta.
Siapa aku? Pengagum wayang yang tengah dimainkan oleh dalang. Siluetnya telah mengiris alur cerita yang tidak pernah bisa aku ubah. Aku memandangnya dari jauh. Meraba senyumnya di balik layar cahaya lilin. Aku merasakan hangatnya pada cerita-cerita klasik yang tidak pernah ingin aku dengar. Dia telah meminang kebahagiannya sejak lama.
Aku ingin mengenalnya, seperti sepasang sayap yang telah membuatku terbang jauh. Dia hadir ketika aku tengah merangkak dan terinjak-injak. Dia datang ketika aku tengah terbuang. Dia memeluk ketika dunia bersikukuh tentang hiruk pikuk. Dia yang aku kira tidak memiliki sayap lain.
Ada nama lain di belakang namanya. Seperti masalalu yang seringkali menyakitiku. Nama yang kerap dijadikan ujung dari setiap perjalanan. Dan aku adalah peran yang tak pernah diakui pada sebuah permainan. Gelap adalah tempatku meminang kesepian. Tak ada ujung yang bisa aku akhiri dengan kalimat pengandaian. Semua akan terputus dan kembali pada tali yang seharusnya bisa merekatkan senja dan melahirkan sang mentari baru.
Aku terlalu menyukai rasa sakit. Tertawa dengan lukanya. Jatuh cinta dengan tetesan darahnya. Hingga akhirnya aku tahu semua hanyalah diksi yang mereka beri judul “mencintai”.
Aku tengah dibantai oleh rasa. Oleh angan-angan yang seringkali memutar balikan senja.
Meranggas, pelan-pelan luruh dan jatuh. Aku lupa akan tanggalnya. Aku tidak ingat dengan tempatnya. Semua prosa telah menjadi sia-sia. Semua rindu telah menjadi cemburu. Semua yang berjudul “aku” tidak bisa lagi menjadi “kamu”. Tak ada lagi yang bisa berjalan dalam kata “beriringan”. Kita telah terpisah begitu jauh, pada kayuh-kayuh yang tak bisa lagi mendayuh. Tak bisa utuh.

No comments:
Post a Comment