Tuesday, September 21, 2021

DOPAMINE DETOX


    Dulu, aku tidak mengerti dari mana sumber kebahagiaan itu berasal. Kenapa kita bisa berbunga-bunga dan bersemangat saat jatuh cinta? Kenapa mata kita bisa kuat berjam-jam melihat tontonan yang kita sukai? Kenapa kita bisa berkorban mati-matian untuk orang yang seringkali menyakiti kita? Kenapa kita banyak membuang waktu untuk hal-hal yang sebetulnya tidak bermanfaat bagi kehidupan kita? Jawabannya adalah satu, yaitu karena efek dopamin yang membuat kita kecanduan karena rasa bahagia yang ditimbulkannya.


    Sekarang, aku paham kenapa kita harus bisa mengubah sumber kebahagiaan yang bisa merusak produktivitas hidup kita. Bayangkan saja, bila sumber kebahagiaan bagi kita adalah pacar kita, mungkin kita akan melakukan apa saja untuknya meskipun kita menderita. Bila sumber kebahagiaan kita adalah nonton video porno, maka kita akan membuang-buang waktu untuk melihat tontonan yang justru akan merusak sel-sel otak. Bila sumber kebahagiaan kita adalah sex bebas,  maka tubuh kita akan beresiko mengidap penyakit kelamin. Bila sumber kebahagiaan kita adalah narkoba, maka jelas kita telah menjerumuska hidup dalam masa depan yang suram. Dan banyak sekali sumber kebahagiaan yang sebetulnya bukan kebahagiaan yang sejati, tapi itu adalah efek dopamin yang dihasilkan dan membuat kita merasa bahagia.


    Dari pemahaman ini, aku mulai bertanya-tanya, apakah selama ini kita benar-benar menyayangi “mantan pacar”? atau sebetulnya kita hanya membutuhkan dopamin yang membuat perasaan kita bahagia? Coba bandingkan disaat kita menyayangi ibu kandung sendiri, menurutku itulah kasih sayang yang paling tulus, karena kita hanya ingin membuatnya bahagia dan kita tidak mengharapkan timbal balik apapun darinya. Berbeda ketika kita menyayangi pacar, kadang kala kita selalu mengharapkan pujian, timbal balik atau apapun itu yang membuat kita jadi posesif.


    Pernahkah kita berpikir untuk menjadikan Allah menjadi sumber kebahagiaan kita? Mungkin akan sedikit sulit bagiku yang selama ini penuh dengan dosa. Tapi, apa salahnya jika kita mencoba?

Mungkin akan sangat luar biasa bila yang membuat kita kecanduan adalah dzikir dan mengingat dosa-dosa, atau bilamana sumber kebahagian kita adalah ketika kita mampu menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Bila itu terjadi, maka kita akan menjadi orang yang paling beruntung didunia ini karena kita telah hidup sesuai dengan perintah-Nya dan bukan sesuai dengan nafsu kita.


    Kembali kepada dopamine detox. Dopamine detox adalah adalah suatu cara mereset sistem otak agar otak tidak bergantung dengan rangsangan tertentu yang dapat membuat candu, seperti menerima notifikasi WhatsApp. Tujuan dari Dopamine Detox adalah mengurangi kecanduan dengan mengubah kebiasaan buruk menjadi lebih produktif, seperti berolahraga, memasak, membaca buku, dan meditasi. Aktivitas tersebut dapat menghasilkan dopamin, tetapi jauh lebih sehat daripada dopamin yang dihasilkan dari bermain sosial media. (https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-samarinda/baca-artikel/14073/Reset-Otak-dengan-Dopamine-Detox.html)


    Seperti yang kita ketahui saat ini, sumber kebahagiaan di era digital berada di ujung jari. Smartphone sudah menjadi alat yang membuat kita kecanduan sehingga kita rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk itu, entah untuk melihat social media, bermain games, berbelanja atau menonton film, sehingga disadari atau tidak kita sudah tidak produktif lagi dan selalu menginginkan semua hal secara instant. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, maka kita akan menjadi mayat hidup yang tidak punya lagi cita-cita, tidak bahagia dan selalu tidak puas dengan kenyataan yang kita hadapi dalam hidup.


Melintasi jejak rumah kupu-kupu

Ulat-ulat masih merayap di atas dahan

Ada yang terbang dan ada yang tertatih-tatih berjuang

Pagi telah meluaskan sayapnya 

Membuka pagar harapan dan menutup ketakutan

Gerimis lalu bercerita dalam rintik-rintiknya yang cantik

Tentang rindu yang tak lagi merindu

Tentang hujan yang kini menjadi perjuangan

September berkedip malu-malu

Pada boneka pucat yang kini bergincu tebal

Pada doa-doa yang tertinggal di celah jendela airmata

Rintiknya mengering dan tumbuh menjadi ranting hijau yang basah oleh sukacita

“Bahagia”

Itu katanya

   

Dan kali ini dia sedang baik-baik saja

Sangat baik-baik saja

Sebab dia mengenal-Nya..


(Indriani - Hijrah Pagi) 




1 comment: