Sunday, November 7, 2021

KEMBALI

 


Dulu, jika ditanya tentang penyesalan apa yang paling besar dalam hidup, aku selalu menjawab hal-hal yang berkaitan dengan dunia, namun sekarang jika aku ditanya hal yang sama, maka aku akan menjawab, penyesalan terbesarku adalah ketika aku tidak menjadi seorang manusia yang hidup sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah.


Sekarang aku tahu rasanya damai puasa setiap hari dan shalat tahajud dimushola dengan ibu sejak pukul 03.00 hingga menjelang subuh dan tidak tidur lagi. Sekarang aku tahu indahnya memanfaatkan waktu sebaik mungkin, meskipun saat ini aku sedang menghadapi banyak persoalan hidup, namun aku masih bersyukur karena diberikan kesempatan untuk bertaubat dan menyelesaikan semuanya.


Sekarang aku juga tahu bahwa tidak ada yang namanya sahabat sejati, karena yang ada hanyalah kepentingan abadi. Kekecewaan aku akhir-akhir ini saat Bu Tina dan Pa Erwin yang sudah aku anggap orangtua aku sendiri ternyata hanya memanfaatkanku. Mereka yang mengajukan KUR dengan memakai BPKB mobil dan meminjam toko aku sebagai tempat usahanya dan berjanji bahwa hasilnya akan dibagi dua, namun saat pencairan mereka hanya mengatakan bahwa aku hanya kebagian dua juta. Aku menolaknya dan sampai detik ini mereka juga tidak pernah datang ke sini lagi, padahal sebelumnya mereka datang ke rumah setiap hari. Aku sangat tidak menyangka mereka akan berbuat seperti itu dalam kondisi aku kekurangan modal untuk memenuhi orderan yang belum selesai.


Aku sekarang paham, kenapa kita hanya harus berharap 100% kepada Allah, karena berharap kepada manusia hanya akan melahirkan kekecewaan. 

Istri salah satu pejabat tinggi juga yang mau transfer 100 juta tidak ada kabarnya. Kepala panti dan pesantren yang mau pasang karpet untuk tiga lantai hanya PHP, dan banyak lagi ujian lain disaat aku sedang berusaha hijrah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Namun, disituasi begini, aku sangat bersyukur Allah mendatangkan teman-teman baru yang satu iman yang saling tolong menolong. Aku sangat berterimakasih kepada Teh Deia dan organisasinya yang hampir setiap hari datang ke toko dan berbelanja. Teh Deia bahkan tidak mau aku berikan komisi karena dia mengatakan lilahitaala.


Semoga aku bisa kuat menjalani ujian demi ujian yang aku hadapi saat ini dan bisa istiqomah untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sebab kelak saat aku harus kembali kepada-Nya, aku tidak ingin malu dengan membawa banyak bekal dosa. Aku ingin total berserah diri, membersihkan diri, walaupun jalan untuk itu terjal dan berliku. Mudah-mudahan aku tidak tergoda agi oleh jebakan-jebakan setan yang menipu dan seringkali memperdayakan manusia agar tersesat.


Dalam sujud yang panjang

Iring-iringan tangis serupa rintihan rindu yang tertunda

Waktu yang memanggil sunyi untuk kembali

Dan rintik hujan basah mengisyaratkan kebahagiaan


Dia yang menunggu sejak lama

Pada pintu cahaya yang aku sebut lentera

Memampah rindu yang sejak lama terkubur pada kalbu

Kini merumah, menujukkan peta pada jalan-jalan yang berliku


Duhai Sang Penenang kegelisahan,

Aku ingin bisa mengetuk pintu-Mu setiap malam

Pada resah yang tidak bisa aku sembunyikan lagi

Ajak aku berlari..

Pada masa dimana aku belum mengenal nafsu diri

Aku ingin kembali!

Ajak aku pergi..



Monday, November 1, 2021

TITIK NADIR

 


    Aku telah sampai pada titik ini. Titik dimana seleksi alam mulai berlaku, tentang siapa yang masih berada di dekat kita dan tentang siapa yang telah pergi dan menjauh.

Ini adalah hari ke delapan aku puasa dalam rangka puasa Nabi Musa (40 hari) untuk membersihkan diri. Aku dan ibu juga sekarang mulai membiasakan diri shalat di Mushola keluarga, bukan lagi dikamar. Jadi, pukul dua dini hari kita bangun dan shalat di Mushola hingga menunggu adzan subuh dan setelah subuh, aku langsung membuka toko. Walau jam tidur jadi berkurang drastis, tapi aku merasakan sesuatu yang belum aku rasakan sebelumnya, yaitu sebuah ketenangan jiwa.


    Aku sangat berterimakasih kepada orang tua, terutama ibu yang selalu ada dalam suka dan duka. Ibu yang selalu mau mendampingi berjuang hingga titik darah penghabisan. Aku juga bersyukur ada Pa Erwin dan Bu Tina yang selalu siap sedia 24 jam, bahkan di saat aku hampir putus asa dan ingin mati, mereka selalu ada untuk menssuport, baik materi (jika ada) ataupun tenaga. Ayu Fitri aku juga sangat berterimakasih untuk semua pengorbanan yang dilakukan hingga detik ini, walau mungkin kelak dia akan membatasi dirinya karena beberapa hal, tapi mungkin itu sudah menjadi pilihan baginya.


    Aku sudah melangkah terlalu jauh. Terbang tanpa kendali hingga menabrak banyak rambu-rambu dan melukai orang lain. Aku terlalu berambisi untuk menjelajahi semesata dan menggenggam beberapa bagian dari bintang-bintang, namun aku lupa bahwa banyak andil orang lain di sana. Jadi, di saat kendali aku lepas, dan semua tidak sesuai dengan rencana, aku kemudian membuat amarah mereka meluap.


    Tuhan tengah menegurku dengan beberapa kejadian agar aku total berharap kepada-Nya. Tuhan sedang mengujiku agar aku bisa membersihkan diri dari dosa-dosa masalalu. Jujur, kadang aku sudah sangat tidak kuat, tapi aku kemudian sadar bahwa Dia tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya.


    Aku tidak akan pernah bisa mengulang waktu, namun mungkin aku bisa memperbaikinya. Tapi, aku tidak yakin apakah keadaan akan menjadi lebih baik atau tidak, namun yang pasti sekarang aku hanya ingin Dia menerima taubatku dan memberikan kesempatan bagiku untuk menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.


    Malam ini aku ingin menganggap bahwa hari ini hari terakhirku, sehingga aku bisa mempersembahkan yang terbaik untuk Tuhanku dan orang-orang disekitarku. Aku sangat minta maaf kepada orangtua, saudara dan teman-teman karena aku belum bisa berguna dan memberikan yang terbaik untuk mereka. Semoga esok hari, saat aku diberikan kesempatan untuk hidup lagi, aku ingin berada dijalan yang lurus dan lebih berguna bagi orang lain.


Melepas banyak airmata pada hujan yang tak jatuh

Dan mereka pun gugur satu persatu

Pada belenggu yang mereka kira beku

Tinggallah kini sepasang ranting basah dan ulat yang tak hidup

Diam menghiburku tanpa melihat belenggu itu


Kini aku paham tentang seleksi alam

Tentang eliminasi persahabatan, persaudaraan

Tentang topeng kepura-puraan atau ketulusan

Tentang memanfaatkan atau mengorbankan

Tentang teman atau lawan

Tentang mana yang bertahan atau meninggalkan


November bersenandung tentang awan dan denting hujan

Tentang kehilangan dan kepergian

Dan tentang jiwa yang mulai kembali pada kesucian

Menuju Tuhan

   

Thursday, October 28, 2021

GULA JAWA


 

    Bukan kembang gula, manis tapi tidak memakai warna. Manis, namun tidak beraneka rupa. Aku suka sisi gelapnya. Hitam, legam, namun memiliki rasa. Murni dan manisnya adalah sejati. Gula jawa, kejora lain dari langit yang tengah mengusik jiwa.


    Aku suka mengamati diamnya. Selaksa yang mampu membuat jari-jariku hidup menari dalam kota impian. Dia adalah lampu malam tatkala imajinasi terpenjara dalam pintu keterbatasan. Dia adalah peta ketika aku ingin mencapai satu titik rasa. Dialah matematika, kalkulator hidup yang bisa merancang gubuk tua menjadi istana.


    Gula jawa, bukan kembang gula. Manis , namun tidak berlebihan. Aku terpesona dengan rasa, bukan dengan rupa yang menjadikan nestafa. Aku suka wanginya yang khas, aroma lain yang disuguhkan pagi tatkala hidup tak bisa lagi mengambil nafas.


    Aku butuh keberadaannya pada secangkir kopi pahit yang aku seduh setiap hari. Aku butuh rasa manis pada pahitnya rasa yang aku teguk tanpa gula. Aku menikmatinya, hingga kemudian rasa manis itu berangsur-angsur hilang, meninggalkan kopi pahit yang selamanya tetap pahit.


    Kini, aku paham tentang arti sebuah keberadaan, kesementaraan. Tentang rasa panas yang pelan-pelan menguap dan menjadi dingin. Tentang rasa dingin yang kemudian mengembun pada segelas kaca yang lalu membuatnya biasa. Ada begitu banyak perubahan dalam setiap fase kehidupan yang membuatku mengerti bahwa banyak hal yang tidak pernah abadi.


    Seperti gula jawa, manisnya ibarat sebuah rasa sabar yang perlahan-lahan terkikis oleh amarah. Tulusnya bisa mengendur oleh getirnya ujian hidup yang kadang-kadang melampaui batas pikir seorang manusia. Gula jawa yang kemudian bisa habis dan tak bisa lagi membuat secangkir kopi menjadi manis.


    Kini, yang pahit aku biarkan menjadi pahit. Aku ingin kopi tetap bisa menjadi dirinya sendiri. Kopi yang tak akan bisa semanis gula, tapi wanginya tetap menggugah selera. Aku tak ingin lagi menjadikan rasa pahit sebagai alasan agar gula datang untuk memberikannya sedikit rasa manis. Sebab rasa manis yang sebenarnya ternyata bukanlah dari gula, namun dari rasa syukur ketika lidah masih mampu mengecap rasa.


    Gula jawa, aku akan tetap mengingatnya sebagai “rasa manis” ketika kopiku terasa begitu pahit. Terimakasih telah membuat aku menikmati secangkir kopi yang aku seduh setiap pagi. Terimakasih banyak, manis itu kini telah aku jadikan pelangi, pada kembang gula yang aku cicipi hari ini.


   

Sunday, October 17, 2021

KOTAK ILUSI

 


    “Hai Moy, selamat datang didunia ilusi. Sebuah ruang hampa dimana tak ada lagi hukum gravitasi. Tak ada batas, tak ada ujung dan tak ada aturan baku yang bisa memenjarakan kreativitasmu. Di sini kamu bisa bebas mengambil gambar dan warnamu sendiri. Hitam atau pun putih tidak akan ada yang menyalahkan. Bukalah matamu dan rasakan ruang hampa ini. Duniamu melayang, ringan dan sunyi. Perkenalkan, aku Nay!”


    Bergerak memutar, nyaris hanya bola mataku yang menjelajah semua tempat ini. Monokrom, hitam dan banyak titik cahaya putih bertaburan melingkar seperti bintang-bintang. Tubuhku melayang dengan wajah menengadah ke atas. Ringan, tidak ada beban apa-apa. Tak ada kebisingan, kegaduhan, bahkan suara degup jantung pun terdengar begitu halus.


    “Nay, apakah aku sedang bermimpi? Nay, apakah kamu laki-laki atau perempuan? Kenapa aku tidak bisa melihatmu? Suaramu membuatku tidak bisa menebak jenis kelaminmu!”


    Nay, satu nama dalam kotak ilusi yang baru saja memperkenalkan dirinya sendiri. Tak berwujud, tak berupa, hanya bersuara, bergetar dan menghantarkan fibrasi.


    “Kamu tidak sedang bermimpi, tapi kamu baru saja terbangun. Aku bukan laki-laki dan bukan pula perempuan. Aku bisa menjadi apa saja yang kamu mau. Laki-laki atau perempuan, hewan atau tumbuhan, kemarau atau hujan, semua hanya ilusi. Apa yang kamu lihat selama ini pun hanya fatamorgana yang terbentuk oleh kepadatan cahaya dan getaran. Sejatinya semua kosong. Dan yang ada hanyalah kamu dan siapa yang telah membuatmu ada!”


    Kotak ilusi dan rahasia fibrasi yang selama ini telah memancarkan frekuensi ke segala penjuru dunia. Dan manusia-manusia berbaris dengan antenanya sendiri. Merangkum gambar dan rasa yang telah dia dapatkan dari sinyal-sinyal yang bisa ditangkapnya. Semua yang terekam kemudian menjadi benda padat yang bisa dinamai dan diklasifikasikan ke dalam kelompok-kelompok. Mereka lalu memberinya nama, memberikannya pembeda, sehingga kemudian semua menjadi begitu rumit.


    Aku tengah mengasingkan rasionalitasku ke dalam dimenasi lain yang tidak bisa dikenali oleh logika. Aku ingin mulai paham akan dasar dari sebuah penciptaan. Aku ingin mengerti tentang partikel-partikel terkecil yang membuat kita bisa merasakan tentang apa itu mencintai.

Sebab aku pernah terbangun dan membawa rasa sakit dan rindu yang begitu dalam pada ilusi yang mereka namakan mimpi, padahal sudah sejak lama rasa itu aku kira sudah tidak pernah ada lagi. Aku ingin jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang masih aku gantungkan pada denting ketidakpastian yang semakin menua dan berkarat dimakan senja.


    “Nay, aku sangat lelah dengan aturan. Aku ingin beristirahat, namun belum waktunya aku untuk bisa tertidur lelap. Aku butuh lampu ajaib yang bisa membuat semuanya berubah seperti apa yang seharusnya terjadi. Aku telah membuat banyak kekacauan. Aku telah membuat diriku sendiri bingung. Entahlah, aku merasa begitu terasing dan sunyi. Bisakah kamu menampakkan diri?”


Aku kemudian bisa melihat Nay dalam wujud seperti yang aku mau. Tubuhnya, rambutnya, baunya, suaranya, nyaris tak ada yang meleset dari apa yang aku bayangkan sejak lama. Dia tersenyum dan memeluk dengan begitu erat.


“Bahagia! Dan jadilah bahagia! Kamu hanya perlu tersenyum dan bahagia!”


Nay masih memelukku erat, membuat kata “bahagia” menjadi melodi lain yang mampu menggerakkan titik-titik airmata ke pundaknya. Apakah ini arti dari memeluk tubuh sendiri? Apakah inilah arti dari menyandarkan harapan pada afirmasi yang diucapkan sendiri?


    “Nay, aku sudah tidak tahu lagi bagaimana mengembalikan telur-telur itu ke sarangnya, sedangkan semua telur yang sudah aku ambil telah aku habiskan tanpa sisa. Aku kira ayamku akan bertelur lebih banyak dari telur-telur yang sudah aku ambil, tapi ayamku ternyata hanyalah ayam mainan yang tidak akan pernah bisa bertelur sampai kapanpun.”


Nay tersenyum tulus dan kedua tangannya menepuk pundak manusia yang tengah kehilangan harapan ini.


    “Segala sesuatu di dunia ini memiliki nilainya sendiri. Kamu bisa memberi harga sesuai dengan apa yang kamu mau. Siapa bilang ayam mainan ini tidak bisa menghasilkan telur? Siapa bilang ayam mainan ini tidak bisa membuatnya bisa membeli ayam hidup yang mampu bertelur? 

Kamu telah membatasi dirimu sendiri dengan berbagai analogi ketidakmungkinan yang membuat ide dan harapan kemudian mati begitu saja. Bayangkan saja, seorang public figur pun bisa menjual mainan itu dengan harga 100x lipat dari harga produksi mainan itu sendiri. Apa yang membuat mainan itu berbeda? Bukan mainannya yang berbeda, tapi cara kamu menempatkan dan memberi nilai pada mainannya yang membuatnya berbeda. Mungkin kamu pernah membeli air mineral di pasar, di tempat pariwisata dan di Café dan harga air mineral itu berbeda-beda, padahal memiliki merk yang sama, lalu apa yang membuat yang satu bisa lebih mahal dari yang lain? Kamu tentu tahu jawabannya. Tempat, pengemasan, dan cara kamu menjual adalah cara yang bisa menaikkan harga sebuah produk. Jadi, berpikirlah dengan lebih bijak. Ide-ide dalam kepalamu tentu jauh lebih mahal dibandingkan dengan ayam mainan ini. Idemu bahkan bisa menghasilkan telur-telur emas yang mampu membuatmu mendirikan sebuah peternakan ayam. Ayo, bangkitlah! Harapan tidak pernah kalah oleh kesedihan!”


    Cahaya benderang berpendar memenuhi isi kepala. Terang, jelas dan terasa begitu membantu perjalananku ketika membaca peta.


“Terimakasih Nay! Tapi, apakah harapan itu masih ada? Meskipun waktu yang kita miliki sudah tidak banyak lagi?


Nay menatap bola mata yang masih penuh dengan ketidakyakinan akan hidup. Wajah Nay semakin mendekat, tak berkedip. Tatapannya seakan berbicara banyak hal akan harapan.


    “Kali ini kamu harus belajar lagi tentang apa itu waktu dan siapa yang telah menciptakan waktu. Bukankah waktu di ruang hampa dan di dunia berbeda? Bukankah hanya sang pemilik waktu yang bisa mengubah-ubah jarum jamnya? Kamu hanya perlu mengenal-Nya lebih dekat dan dia akan memberikan apa saja termasuk ketidakmungkinan yang selama ini membuatmu resah!”


    “Mengenal-Nya? Bagaimana cara aku mengenal-Nya?”


Nay tersenyum dan menghela nafas panjang.


    “Dengan cara mengenal dirimu sendiri!”


Wednesday, September 29, 2021

MERANGGAS

 



Mengenalmu ketika daun-daun meranggas dan hujan tertahan di atas langit ibarat mengunci luka yang sekian lama mengendap di palung hati. 

Sunyi itu lalu mekar pada duri. Keindahan lain yang tidak bisa aku miliki lagi. Kau telah melukis bias pada matahari yang seiring dengan langkahmu untuk berlari. Ada dua abjad lain di sana. Dua nama yang menjadi judul pada kertas kosong yang menjadi peta atas nama cinta.


    Siapa aku? Pengagum wayang yang tengah dimainkan oleh dalang. Siluetnya telah mengiris alur cerita yang tidak pernah bisa aku ubah. Aku memandangnya dari jauh. Meraba senyumnya di balik layar cahaya lilin. Aku merasakan hangatnya pada cerita-cerita klasik yang tidak pernah ingin aku dengar. Dia telah meminang kebahagiannya sejak lama.


    Aku ingin mengenalnya, seperti sepasang sayap yang telah membuatku terbang jauh. Dia hadir ketika aku tengah merangkak dan terinjak-injak. Dia datang ketika aku tengah terbuang. Dia memeluk ketika dunia bersikukuh tentang hiruk pikuk. Dia yang aku kira tidak memiliki sayap lain.


    Ada nama lain di belakang namanya. Seperti masalalu yang seringkali menyakitiku. Nama yang kerap dijadikan ujung dari setiap perjalanan. Dan aku adalah peran yang tak pernah diakui pada sebuah permainan. Gelap adalah tempatku meminang kesepian.  Tak ada ujung yang bisa aku akhiri dengan kalimat pengandaian. Semua akan terputus dan kembali pada tali yang seharusnya bisa merekatkan senja dan melahirkan sang mentari baru.


    Aku terlalu menyukai rasa sakit. Tertawa dengan lukanya. Jatuh cinta dengan tetesan darahnya. Hingga akhirnya aku tahu semua hanyalah diksi yang mereka beri judul “mencintai”.

Aku tengah dibantai oleh rasa. Oleh angan-angan yang seringkali memutar balikan senja.


    Meranggas, pelan-pelan luruh dan jatuh. Aku lupa akan tanggalnya. Aku tidak ingat dengan tempatnya. Semua prosa telah menjadi sia-sia. Semua rindu telah menjadi cemburu. Semua yang berjudul “aku” tidak bisa lagi menjadi “kamu”. Tak ada lagi yang bisa berjalan dalam kata “beriringan”. Kita telah terpisah begitu jauh, pada kayuh-kayuh yang tak bisa lagi mendayuh. Tak bisa utuh.

Tuesday, September 21, 2021

DOPAMINE DETOX


    Dulu, aku tidak mengerti dari mana sumber kebahagiaan itu berasal. Kenapa kita bisa berbunga-bunga dan bersemangat saat jatuh cinta? Kenapa mata kita bisa kuat berjam-jam melihat tontonan yang kita sukai? Kenapa kita bisa berkorban mati-matian untuk orang yang seringkali menyakiti kita? Kenapa kita banyak membuang waktu untuk hal-hal yang sebetulnya tidak bermanfaat bagi kehidupan kita? Jawabannya adalah satu, yaitu karena efek dopamin yang membuat kita kecanduan karena rasa bahagia yang ditimbulkannya.


    Sekarang, aku paham kenapa kita harus bisa mengubah sumber kebahagiaan yang bisa merusak produktivitas hidup kita. Bayangkan saja, bila sumber kebahagiaan bagi kita adalah pacar kita, mungkin kita akan melakukan apa saja untuknya meskipun kita menderita. Bila sumber kebahagiaan kita adalah nonton video porno, maka kita akan membuang-buang waktu untuk melihat tontonan yang justru akan merusak sel-sel otak. Bila sumber kebahagiaan kita adalah sex bebas,  maka tubuh kita akan beresiko mengidap penyakit kelamin. Bila sumber kebahagiaan kita adalah narkoba, maka jelas kita telah menjerumuska hidup dalam masa depan yang suram. Dan banyak sekali sumber kebahagiaan yang sebetulnya bukan kebahagiaan yang sejati, tapi itu adalah efek dopamin yang dihasilkan dan membuat kita merasa bahagia.


    Dari pemahaman ini, aku mulai bertanya-tanya, apakah selama ini kita benar-benar menyayangi “mantan pacar”? atau sebetulnya kita hanya membutuhkan dopamin yang membuat perasaan kita bahagia? Coba bandingkan disaat kita menyayangi ibu kandung sendiri, menurutku itulah kasih sayang yang paling tulus, karena kita hanya ingin membuatnya bahagia dan kita tidak mengharapkan timbal balik apapun darinya. Berbeda ketika kita menyayangi pacar, kadang kala kita selalu mengharapkan pujian, timbal balik atau apapun itu yang membuat kita jadi posesif.


    Pernahkah kita berpikir untuk menjadikan Allah menjadi sumber kebahagiaan kita? Mungkin akan sedikit sulit bagiku yang selama ini penuh dengan dosa. Tapi, apa salahnya jika kita mencoba?

Mungkin akan sangat luar biasa bila yang membuat kita kecanduan adalah dzikir dan mengingat dosa-dosa, atau bilamana sumber kebahagian kita adalah ketika kita mampu menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Bila itu terjadi, maka kita akan menjadi orang yang paling beruntung didunia ini karena kita telah hidup sesuai dengan perintah-Nya dan bukan sesuai dengan nafsu kita.


    Kembali kepada dopamine detox. Dopamine detox adalah adalah suatu cara mereset sistem otak agar otak tidak bergantung dengan rangsangan tertentu yang dapat membuat candu, seperti menerima notifikasi WhatsApp. Tujuan dari Dopamine Detox adalah mengurangi kecanduan dengan mengubah kebiasaan buruk menjadi lebih produktif, seperti berolahraga, memasak, membaca buku, dan meditasi. Aktivitas tersebut dapat menghasilkan dopamin, tetapi jauh lebih sehat daripada dopamin yang dihasilkan dari bermain sosial media. (https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-samarinda/baca-artikel/14073/Reset-Otak-dengan-Dopamine-Detox.html)


    Seperti yang kita ketahui saat ini, sumber kebahagiaan di era digital berada di ujung jari. Smartphone sudah menjadi alat yang membuat kita kecanduan sehingga kita rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk itu, entah untuk melihat social media, bermain games, berbelanja atau menonton film, sehingga disadari atau tidak kita sudah tidak produktif lagi dan selalu menginginkan semua hal secara instant. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, maka kita akan menjadi mayat hidup yang tidak punya lagi cita-cita, tidak bahagia dan selalu tidak puas dengan kenyataan yang kita hadapi dalam hidup.


Melintasi jejak rumah kupu-kupu

Ulat-ulat masih merayap di atas dahan

Ada yang terbang dan ada yang tertatih-tatih berjuang

Pagi telah meluaskan sayapnya 

Membuka pagar harapan dan menutup ketakutan

Gerimis lalu bercerita dalam rintik-rintiknya yang cantik

Tentang rindu yang tak lagi merindu

Tentang hujan yang kini menjadi perjuangan

September berkedip malu-malu

Pada boneka pucat yang kini bergincu tebal

Pada doa-doa yang tertinggal di celah jendela airmata

Rintiknya mengering dan tumbuh menjadi ranting hijau yang basah oleh sukacita

“Bahagia”

Itu katanya

   

Dan kali ini dia sedang baik-baik saja

Sangat baik-baik saja

Sebab dia mengenal-Nya..


(Indriani - Hijrah Pagi) 




Sunday, September 19, 2021

MELUPAKAN

 






    Kemarau di bulan September dan sedikit gerimis yang turun mengintip malu-malu. Tanggal-tanggal di kalender sekali-kali menyapa dengan penuh ketegangan. Angkanya adalah waktu, penanda pada barisan yang kelak akan jatuh menjadi masalalu.


    Aku tengah mengingat, menelanjangi sunyi yang kini menceritakan tentang dirinya sendiri. Ada yang berkabung, secuil harapan yang tidak lagi bisa bersenandung. Dari jarak, aku mengerti tentang riak. Sesak yang aku sirami agar kelak tidak kembali menjadi onak.


    Aku ingin mengenali siapa pemilik nadi ini? Pengatur hilir mudik nafas yang membuatku paham akan cara meredam nafsu.

Namun, kadang kenangan membuatku lupa akan batas. Akan rasa yang semestinya tidak dibiarkan bebas berkelana melucuti palung iman. Kadang aku lupa bahwa hanya Dia yang kemudian bisa membuatku baik-baik saja.


    Senja datang diantara mimpi yang mengetuk pada siang hari. Cuplikan 9 wali yang kemudian berganti menjadi kilas balik wanita penunggu hutan hujan. Lautan yang lantas berubah menjadi sungai dan pegunungan. Aku sungguh tidak mengerti akan risalah Ilahi atau kumpulan nafsu diri.


    Aku ingin berteman dengan hening. Dengan rasa tenang ketika hidup tak lagi memikulkan bebannya pada hati. Aku ingin baik-baik saja, tersenyum kepada matahari dan tertawa lebar kepada rembulan yang datang pada malam hari. Aku ingin kembali, menorehkan garis putih pada lembaran hitam yang telah penuh oleh noda kehidupan. Aku ingin harapan.


    Aku ingin waktu mengajakku berlari dan tidak bertekuk lutut pada rasa takut. Aku ingin tarian hujan membuatku basah dan paham akan pentingnya hidup dalam kenyataan. Aku ingin mengakhiri dongengku yang penuh dengan naskah-naskah khayalan. Aku ingin sadar bahwa hidup tidak seperti cerita pangeran dan putri raja yang ujungnya berakhir bahagia dan baik-baik saja. Aku ingin lupa cara bersedih agar aku yakin bahwa aku adalah manusia terpilih. 

Aku adalah aku, yang kini tengah menghapus jejak rindu. Mengemas tumpukan kenangan untuk kemudian aku beri judul “Melupakan”.

(Dalam kenangan 24 September 2017)