“Tersenyumlah ibuku.. cerita sedih masa
kecilmu adalah alasan di mana kini aku harus berjuang. Tersenyumlah bu.. aku
tau kau sangat lelah.. tersenyumlah.. biarkan mimpiku yang menerbangkanmu
dilangit kata-kata tanpa bahasa.
Aku
di sini merangkai bunga paling cantik untuk mengusap airmata pedih itu.. tutup
matamu bu, resapi apa yang bergemuruh dalam jiwaku.. itu kobaran semangatku..
semangat ingin membahagiakanmu.. Jadi tersenyumlah.. ^_^
Tak
usah kau dengar kata-kata yang merendahkanmu.. tak usah kau pedulikan
cibiran-cibiran yang menjatuhkanmu, tak usah kau tanggapi perkataan-perkataan
pedih yang menghinakan martabatmu.. aku di sini, dengarlah kata-kataku.. kaulah
inspirasi.. kaulah alasan.. alasanku beranjak tatkala aku larut dalam kesedihan
yang sia-sia. Seperti katamu, kau rela menjadi pelindungku sampai titik darah
penghabisan.. aku pun ingin begitu.. jadi tersenyumlah.. “
Rembulan, bolehkah aku bercerita
sedikit tentang ibuku?? Ya sedikit saja karena terlalu banyak yang ingin aku
ceritakan tentangnya.. tentang wanita luar biasa yang berjiwa tangguh..
Rembulan,
kau harus tahu satu hal tentang ibuku.. yaitu ketegaran.. itu yang aku kagumi
darinya.
Sering
aku dengar ceritanya yang menyayat hati.. seringkali aku mendengar bahwa
mimpi-mimpinya hanya menjadi nyanyian kosong tanpa bunyi.. sering-sering sekali
aku menatap wajahnya yang merindukan sebuah kedamaian..
Dia
bilang,, aku harapan..
Harga
dirinya telah dia pertaruhkan demi sebuah keyakinan yang menyatakan bahwa aku
adalah tumpuan.
Hai
rembulan, aku malu.. malu sekali dengan kalimat ibu..
Aku
malu dengan kerumunan kupu-kupu diperutku..
Aku
malu, seperti bunga-bunga yang kuncup di taman waktu..
Aku
malu..
Malu
pada ibu..

No comments:
Post a Comment