Saturday, December 29, 2012

Ibu


          
            “Tersenyumlah ibuku.. cerita sedih masa kecilmu adalah alasan di mana kini aku harus berjuang. Tersenyumlah bu.. aku tau kau sangat lelah.. tersenyumlah.. biarkan mimpiku yang menerbangkanmu dilangit kata-kata tanpa bahasa.
Aku di sini merangkai bunga paling cantik untuk mengusap airmata pedih itu.. tutup matamu bu, resapi apa yang bergemuruh dalam jiwaku.. itu kobaran semangatku.. semangat ingin membahagiakanmu.. Jadi tersenyumlah.. ^_^
Tak usah kau dengar kata-kata yang merendahkanmu.. tak usah kau pedulikan cibiran-cibiran yang menjatuhkanmu, tak usah kau tanggapi perkataan-perkataan pedih yang menghinakan martabatmu.. aku di sini, dengarlah kata-kataku.. kaulah inspirasi.. kaulah alasan.. alasanku beranjak tatkala aku larut dalam kesedihan yang sia-sia. Seperti katamu, kau rela menjadi pelindungku sampai titik darah penghabisan.. aku pun ingin begitu.. jadi tersenyumlah.. “

            Rembulan, bolehkah aku bercerita sedikit tentang ibuku?? Ya sedikit saja karena terlalu banyak yang ingin aku ceritakan tentangnya.. tentang wanita luar biasa yang berjiwa tangguh..
Rembulan, kau harus tahu satu hal tentang ibuku.. yaitu ketegaran.. itu yang aku kagumi darinya.
Sering aku dengar ceritanya yang menyayat hati.. seringkali aku mendengar bahwa mimpi-mimpinya hanya menjadi nyanyian kosong tanpa bunyi.. sering-sering sekali aku menatap wajahnya yang merindukan sebuah kedamaian..
Dia bilang,, aku harapan..
Harga dirinya telah dia pertaruhkan demi sebuah keyakinan yang menyatakan bahwa aku adalah tumpuan.

Hai rembulan, aku malu.. malu sekali dengan kalimat ibu..
Aku malu dengan kerumunan kupu-kupu diperutku..
Aku malu, seperti bunga-bunga yang kuncup di taman waktu..
Aku malu..
Malu pada ibu..


No comments:

Post a Comment