![]() |
| Ketika waktu semakin berlari pergi |
Seharusnya masih tertinggal
di sini, kepingan-kepingan hati yang kemarin terasa utuh menyesapi. Seharusnya
masih bersemayam di sini, senyuman-senyuman menawan yang hidup dalam riangnya.
Seharusnya masih terpahat di sini, nama-nama yang kemarin tak asing lagi terbaca
oleh naluri. Seharusnya tak begini. Seharusnya tak begini…
Aku biarkan purnama bercahaya diantara gelap
dunia yang berserakan dosa. Aku biarkan ribuan kunang-kunang jiwaku pergi dalam
sajak-sajak airmata tanpa judul. Aku resapi malam ini. Riuh ramai diluar sana
suara nyaring bergeming. Riuh ramai rembulan diluar sana berpapasan.
Aku masih di sini.. meresapi apa yang ingin
diresapi hati.. Menghayati apa yang telah lama pergi..
Seharusnya tak begini..
Bingkai-bingkai yang masih aku tatap diantara
bunga-bunga tak bertangkai..
Cerita-cerita yang masih terekam dalam pita
jendela terbuka..
Aku meresapi..
Sejenak saja melihat sajak yang pernah
terbaca diri..
Sang pelangi.. sendiri.. di sini..mulai
mengenali..
Siapa?? Siapa dia yang mengendap diam-dam
kala pagi??
Aku bahkan tak lupa setiap inchi keindahan
makhluk Tuhan yang kini seakan berlari pergi..
Aku tak akan lupa debaran hati yang tak
teredam tatkala hati gerimis menyesali..
Ajak kembali aku mengenali.. ajak kembali aku
merakit hati..
Hariku terus beranjak.. berjalan dalam onak.
Memoriku terus terpenuhi oleh mimpi dan pijaran mentari esok pagi.. naluri ini kembali meronta, menguji dan
berjanji untuk tetap mengenali..
Mengenali sang pelangi yang terekam dalam
sunyi.
Duhai
para malaikat yang masih berbaris dalam barisannya.. jangan segera kau cepatkan
akhir tahun ini.. biarkan aku menengok kembali.. sesaat saja, hanya sejenak.
Aku rindu.. sungguh merindui ilalang-ilalang yang seakan hilang terbang.
Sungguh aku merindui jejak-jejak sang petualang bermata elang. Sungguh aku
merindui sebaris kalimat manis darinya yang kemarin hatinya teriris.
Duhai sang pemilik embun kelembutan..
teteskanlah sejenak ketegarannya yang kemarin masih berenang mengarungi
samudera keikhlasan. Perlambatlah sesaat waktu yang seakan membinasakan
keberadaan.
Duhai jiwa-jiwa yang kini menorehkan luka..
kembalilah sesaat dan hapus duka ini yang semakin menenggelamkan perahu makna.
Duhai perisai-perisai malam.. hentikan
sajalah setiap tarian jarum jam yang tak henti untuk beranjak melangkahi.
Duhai embun.. embun yang mengembun diakhir
tahun..
Aku lelah dengan tetesanmu yang tak lagi
menyuarakan keheningan..
Aku bosan dengan suaramu yang meninggalkanku
dalam kesepian..
Duhai embun.. embun yang mengitari akhir
tahun..
Sudahkah kau beralalu dari kenangan
masalalu??
Sudahkah kau tabahkan lenteramu yang
tertinggal terisak haru??
Sudahkah semuanya diakhiri dalam panas
kobaran api?? Api yang membakar sepenggal senyum kemarahan.. ketidakrelaan..
kepahitan..
Sudahkah?? Sudahkah tahun ini kau isi gelasku
dengan tawa riang dan senyuman??
Sudahkah merpati itu kembali untuk bisa
membingkai wajah yang senyumnya semakin tak terlihat lagi??
Sudahkah?? Sudahkah itu??
Kau masih membiarkan jemariku menari dalam kosong
hati.. kau masih tertinggal disepenggal hari yang sedetik lagi akan berlari..
Kau sisakan aku sebagai serpihan yang
menunggu sang hujan datang untuk terus membuatku teriris menyesali..
Kau tak akan pernah kembali..
Jadi biarkan saja sesaat ini aku menyesali..
Menangisi..
Menghayati..
Kuburan hati..

No comments:
Post a Comment