“Demi
waktu dluha (ketika matahari naik sepenggalan), dan demi malam apabila telah
sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak pula membencimu, dan
sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan. Dan
sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau
menjadi puas. Bukankah Tuhanmu mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia
melindungi(mu). Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia
memberikan kecukupan. Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku
sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau
menghardik(nya). Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan
bersyukur)” (QS.Ad-Duha:1-9)
Pernahkah kita
mencermati dengan seksama maksud dari surat Ad-Duha yang tertera di atas?
Apabila kita cermati dengan baik, di dalam surat tersebut Allah telah menjelaskan
tentang adanya solusi dalam setiap perkara yang terjadi di dalam kehidupan.
Ada satu kata kunci yang tertera pada ayat di atas, yaitu SYUKUR.
Pernahkah kita bersyukur?? Coba bandingkan, apakah kita lebih sering melontarkan
kalimat syukur atau justru mengeluh karena selalu merasa kekurangan?? Apakah
kita sering membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain yang secara
materi berada di atas kita?? Jika ya, berarti kita belum mampu merealisasikan
satu kata yang telah Allah katakan dalam surat Ad-Duha, yaitu tentang bersukur.
Sebagaimana kita
ketahui bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas, dan dalam perjalanannya
mencapai kepuasan ternyata manusia selalu merasa kurang, oleh karenanya banyak
kita temui orang-orang serakah dan menghalalkan segala cara demi memenuhi apa
yang diinginkannya.
Sikap zuhud dalam hal ini sungguh sangat diperlukan, mengingat
sifat dasar manusia yang telah saya sebutkan di atas bahwa manusia punya
peluang untuk menghalalkan segala cara, karena sifatnya yang tidak pernah
merasa puas.
Lihat saja persentase jumlah koruptor yang ada di Indonesia saat
ini, sungguh memprihatinkan. Sisi intelektualitas dan kekuasaan yang telah
mereka dapatkan justru dijadikan alat untuk meraup keuntungan
sebanyak-banyaknya tanpa berpikir tentang peraturan dan konsekuensi yang ada.
Padahal jika kita amati, para koruptor itu masih dapat hidup berkecukupan, makan
enak dan bahkan mendapatkan fasilitas yang tidak bisa dinikmati oleh semua
orang, namun itulah yang terjadi, nilai-nilai etika dan moral diera modern ini
telah merosot tajam.
Kembali pada surat
Ad-Duha, Allah juga berpesan kepada kita untuk dapat bersabar. Seperti kita
ketahui bahwa pergantian waktu antara siang dan malam tidak terjadi secara
ekstrim, melainkan perlahan-lahan dan melalui proses yang panjang, sebagai
contoh pergantian malam menuju siang, malam yang gulita tidak tiba-tiba
dikejutkan dengan pijaran matahari yang langsung panas, akan tetapi ada waktu
subuh, di mana matahari bersiap-siap akan muncul dengan udara yang masih segar,
kemudian ada waktu dluha, di mana matahari mulai naik sepenggalan, dan
seterusnya hingga terik matahari terasa di atas kepala, begitupun Allah
memberikan solusi atas setiap persoalan hidup yang dialami oleh
hamba-hamba-Nya, tidak akan instan, akan tetapi melalui sebuah proses.
Proses adalah
sebuah tahapan yang paling berharga dalam kasus apapun yang dihadapi oleh
setiap manusia, karena melalui proses itulah, kita dapat melihat seberapa kuat
kita untuk bangkit dan menemukan solusi. Banyak sekali kasus-kasus sederhana
yang berujung fatal karena robohnya ketahanan diri manusia ketika berada pada
alur sebuah proses, sebagai contoh orang-orang yang bunuh diri karena terlilit
hutang, atau orang-orang yang rela mengeksploitasi tubuhnya demi memenuhi tuntutan
hidup, serta orang-orang yang menghalalkan segala cara karena terdesak. Ada
banyak alasan kenapa orang-orang tersebut mengambil jalan pintas, selain ingin
segera mendapatkan solusi yang instan, di sini juga adanya kesenjangan sosial
yang mengakibatkan beberapa kasus seperti di atas kerap terjadi disekitar kita.
Disadari atau tidak, kesenjangan sosial telah menjadi momok bagi
setiap lapisan sosial, tidak mengenal ras, genre dan usia, semuanya seringkali
terlibat dalam hal ini. Ada banyak kasus yang telah terjadi tentang akibat
buruk dari kesenjangan sosial, diantaranya kasus anak Sekolah Dasar yang bunuh
diri karena terdesak hutang senilai dua puluh ribu rupiah kepada temannya,
kemudian seorang ibu yang membunuh anak-anaknya lalu bunuh diri karena tuntutan
ekonomi, selain itu kasus-kasus prostitusi dikalangan pelajar dan mahasiswa
sebagai dampak dari adanya kecemburuan sosial yang marak terjadi belakangan
ini.
Melihat kasus tersebut, perlulah sekiranya kita untuk dapat
menjadikan KESEDERHANAAN sebagai bagian dari konsep yang kita tekankan pada
perilaku keseharian kita, agar hal-hal di atas dapat diminimalisir jumlahnya.
Sederhana dan syukur adalah dua kunci penting agar keseimbangan sosial dapat
terwujud dalam kehidupan sehari-hari.
Bayangkan, bila kita dapat meminimalisir kesenjangan sosial dengan
merealisasikan hidup sederhana dan penuh syukur, maka tidak akan ada lagi
perbedaan yang kaya dan yang miskin secara mencolok, dan alangkah lebih baik
apabila kelebihan harta dari si kaya dapat disalurkan kepada orang-orang di
bawahnya melalui cara yang tepat, maka akan terjadilah pemerataan penduduk. Bukankah
tujuan dari adanya zakat dan infak adalah demikian?? Akan tetapi kenapa masih
banyak orang-orang muslim yang hidup kekurangan bahkan kelaparan?? Kejahatan
merajalela dan anak-anak di bawah usia banyak yang menjadi pengemis jalanan.
Oleh karena itu,
perlulah sekiranya kita bermuhasabah sejenak dan memikirkan solusi yang tepat
untuk persoalan ini. Yang sering saya cermati dari kasus-kasus yang saya
sebutkan di atas adalah kurangnya kesadaran sebagian orang untuk berbagi kepada
sesamanya, alasan utamanya adalah kebutuhannya belum bisa tercukupi, masih
kekurangan, dsb, padahal untuk mengatasi hal ini, Allah telah memberikan
jawaban melalui shalat dluha.
Dalam kitab: “an-nuraini fiisylahid-daraini”, diterangkan dalam
sabda Nabi Muhammad saw : “Shalat dluha itu mendatangkan rezeki dan
menolak kefakiran/kemiskinan, dan tidak ada yang akan memelihara shalat dluha,
kecuali orang-orang yang bertaubat.”
Dengan
demikian, maka jelaslah bahwa solusi atas segala persoalan hidup adalah ada
pada diri kita sendiri, tinggal kita dapat mengubah pola pikir dan mau untuk
berubah secara optimal dengan terus mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara
bersyukur dan hidup dengan sederhana, serta berbagi dengan sesama selama masih
diberi kesempatan untuk hidup di dunia.
Dari Nuwas bin Sam’an ra. Bahwasanya Nabi
Muhammad saw bersabda:
“Allah.SWT berfirman: Wahai anak Adam, jangan
sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang
(yakni shalat dluha), nanti pasti Ku cukupkan kebutuhanmu pada sore harinya.”
Dari Abu Dzzarriin ra. Bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Jadilah
atas setiap anggota daripada tiap-tiap seseorang kamu itu hak sedekah. Dan tiap
tasbih itu sedekah, tiap tahmid itu sedekah, menyuruh dengan ma’ruf itu
sedekah, mencegah dari kemunkaran itu sedekah, dan sebagai gantinya semua itu,
cukuplah menjalankan shalat dluha dua rakaat yang melakukannya seorang dari
hamba.” (HR.Ahmad,
Muslim dan Abu Daud).
No comments:
Post a Comment