Sunday, December 30, 2012

Solusi Cantik Hidup Bahagia dengan Shalat Dluha


          “Demi waktu dluha (ketika matahari naik sepenggalan), dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak pula membencimu, dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan. Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas. Bukankah Tuhanmu mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu). Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik(nya). Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)” (QS.Ad-Duha:1-9)
                                                 ***
                                   
          Pernahkah kita mencermati dengan seksama maksud dari surat Ad-Duha yang tertera di atas? Apabila kita cermati dengan baik, di dalam surat tersebut Allah telah menjelaskan tentang adanya solusi dalam setiap perkara yang terjadi di dalam kehidupan.
Ada satu kata kunci yang tertera pada ayat di atas, yaitu SYUKUR. Pernahkah kita bersyukur?? Coba bandingkan, apakah kita lebih sering melontarkan kalimat syukur atau justru mengeluh karena selalu merasa kekurangan?? Apakah kita sering membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain yang secara materi berada di atas kita?? Jika ya, berarti kita belum mampu merealisasikan satu kata yang telah Allah katakan dalam surat Ad-Duha, yaitu tentang bersukur.
          Sebagaimana kita ketahui bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas, dan dalam perjalanannya mencapai kepuasan ternyata manusia selalu merasa kurang, oleh karenanya banyak kita temui orang-orang serakah dan menghalalkan segala cara demi memenuhi apa yang diinginkannya.
Sikap zuhud dalam hal ini sungguh sangat diperlukan, mengingat sifat dasar manusia yang telah saya sebutkan di atas bahwa manusia punya peluang untuk menghalalkan segala cara, karena sifatnya yang tidak pernah merasa puas.
Lihat saja persentase jumlah koruptor yang ada di Indonesia saat ini, sungguh memprihatinkan. Sisi intelektualitas dan kekuasaan yang telah mereka dapatkan justru dijadikan alat untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa berpikir tentang peraturan dan konsekuensi yang ada. Padahal jika kita amati, para koruptor itu masih dapat hidup berkecukupan, makan enak dan bahkan mendapatkan fasilitas yang tidak bisa dinikmati oleh semua orang, namun itulah yang terjadi, nilai-nilai etika dan moral diera modern ini telah merosot tajam.
          Kembali pada surat Ad-Duha, Allah juga berpesan kepada kita untuk dapat bersabar. Seperti kita ketahui bahwa pergantian waktu antara siang dan malam tidak terjadi secara ekstrim, melainkan perlahan-lahan dan melalui proses yang panjang, sebagai contoh pergantian malam menuju siang, malam yang gulita tidak tiba-tiba dikejutkan dengan pijaran matahari yang langsung panas, akan tetapi ada waktu subuh, di mana matahari bersiap-siap akan muncul dengan udara yang masih segar, kemudian ada waktu dluha, di mana matahari mulai naik sepenggalan, dan seterusnya hingga terik matahari terasa di atas kepala, begitupun Allah memberikan solusi atas setiap persoalan hidup yang dialami oleh hamba-hamba-Nya, tidak akan instan, akan tetapi melalui sebuah proses.
          Proses adalah sebuah tahapan yang paling berharga dalam kasus apapun yang dihadapi oleh setiap manusia, karena melalui proses itulah, kita dapat melihat seberapa kuat kita untuk bangkit dan menemukan solusi. Banyak sekali kasus-kasus sederhana yang berujung fatal karena robohnya ketahanan diri manusia ketika berada pada alur sebuah proses, sebagai contoh orang-orang yang bunuh diri karena terlilit hutang, atau orang-orang yang rela mengeksploitasi tubuhnya demi memenuhi tuntutan hidup, serta orang-orang yang menghalalkan segala cara karena terdesak. Ada banyak alasan kenapa orang-orang tersebut mengambil jalan pintas, selain ingin segera mendapatkan solusi yang instan, di sini juga adanya kesenjangan sosial yang mengakibatkan beberapa kasus seperti di atas kerap terjadi disekitar kita.
Disadari atau tidak, kesenjangan sosial telah menjadi momok bagi setiap lapisan sosial, tidak mengenal ras, genre dan usia, semuanya seringkali terlibat dalam hal ini. Ada banyak kasus yang telah terjadi tentang akibat buruk dari kesenjangan sosial, diantaranya kasus anak Sekolah Dasar yang bunuh diri karena terdesak hutang senilai dua puluh ribu rupiah kepada temannya, kemudian seorang ibu yang membunuh anak-anaknya lalu bunuh diri karena tuntutan ekonomi, selain itu kasus-kasus prostitusi dikalangan pelajar dan mahasiswa sebagai dampak dari adanya kecemburuan sosial yang marak terjadi belakangan ini.
Melihat kasus tersebut, perlulah sekiranya kita untuk dapat menjadikan KESEDERHANAAN sebagai bagian dari konsep yang kita tekankan pada perilaku keseharian kita, agar hal-hal di atas dapat diminimalisir jumlahnya. Sederhana dan syukur adalah dua kunci penting agar keseimbangan sosial dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari.
Bayangkan, bila kita dapat meminimalisir kesenjangan sosial dengan merealisasikan hidup sederhana dan penuh syukur, maka tidak akan ada lagi perbedaan yang kaya dan yang miskin secara mencolok, dan alangkah lebih baik apabila kelebihan harta dari si kaya dapat disalurkan kepada orang-orang di bawahnya melalui cara yang tepat, maka akan terjadilah pemerataan penduduk. Bukankah tujuan dari adanya zakat dan infak adalah demikian?? Akan tetapi kenapa masih banyak orang-orang muslim yang hidup kekurangan bahkan kelaparan?? Kejahatan merajalela dan anak-anak di bawah usia banyak yang menjadi pengemis jalanan.
          Oleh karena itu, perlulah sekiranya kita bermuhasabah sejenak dan memikirkan solusi yang tepat untuk persoalan ini. Yang sering saya cermati dari kasus-kasus yang saya sebutkan di atas adalah kurangnya kesadaran sebagian orang untuk berbagi kepada sesamanya, alasan utamanya adalah kebutuhannya belum bisa tercukupi, masih kekurangan, dsb, padahal untuk mengatasi hal ini, Allah telah memberikan jawaban melalui shalat dluha.
Dalam kitab: “an-nuraini fiisylahid-daraini”, diterangkan dalam sabda Nabi Muhammad saw : “Shalat dluha itu mendatangkan rezeki dan menolak kefakiran/kemiskinan, dan tidak ada yang akan memelihara shalat dluha, kecuali orang-orang yang bertaubat.”
          Dengan demikian, maka jelaslah bahwa solusi atas segala persoalan hidup adalah ada pada diri kita sendiri, tinggal kita dapat mengubah pola pikir dan mau untuk berubah secara optimal dengan terus mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara bersyukur dan hidup dengan sederhana, serta berbagi dengan sesama selama masih diberi kesempatan untuk hidup di dunia.

Dari Nuwas bin Sam’an ra. Bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda:
“Allah.SWT berfirman: Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (yakni shalat dluha), nanti pasti Ku cukupkan kebutuhanmu pada sore harinya.”

Dari Abu Dzzarriin ra. Bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Jadilah atas setiap anggota daripada tiap-tiap seseorang kamu itu hak sedekah. Dan tiap tasbih itu sedekah, tiap tahmid itu sedekah, menyuruh dengan ma’ruf itu sedekah, mencegah dari kemunkaran itu sedekah, dan sebagai gantinya semua itu, cukuplah menjalankan shalat dluha dua rakaat yang melakukannya seorang dari hamba.” (HR.Ahmad, Muslim dan Abu Daud).
                                                                 ****

No comments:

Post a Comment