Friday, July 22, 2016

Suara Api


Akan tiba saatnya api bersuara..
Suatu saat tatkala kau berselimutkan ketakutan..
Dan petir kelak akan mempertunjukan amarahnya,
Menghantammu yang semakin lupa diri..

Tuhan mengelus-elus pundak, mengusap airmata dan
meredakan apa yang bergejolak dalam dada..

Aku berbisik lembut pada-Nya dalam doa-doa..
Aku letih,
Aku tak kuat,
Aku lelah memikul beban-beban berat..

Kau telah lupa, ada namaku yang ternodai pada setiap jalan yang kau injak..
Ada harga diri yang aku pertaruhkan pada setiap senyummu yang mengembang..
Ada episode yang harus aku selesaikan pada setiap babak yang kau tinggalkan..

Aku masih memikul beban itu, sedang kau tengah bersenang-senang..
Aku masih berkecamuk dengan angka-angka yang tersirat dalam hitungan, sedang kau tengah bersenda gurau dalam nyanyian..

Bersiaplah!
Hujan akan reda, tapi api tak akan kehilangan panasnya!
Bersiaplah!
Kau akan mendengar suara api menggelegar..
Merobek gendang telingamu dan meluluh lantakkan persendianmu..
Api akan membakarmu hidup-hidup!
Menghanguskanmu hingga kau tau sakitnya direnggut..

Kau harus tau dan kau akan tau,
Bagaimana api meluluhlantakan tawa itu,

Kau harus tau dan kau akan tau,
Dimana letak akar waktu!

Tunggu saja, tak akan lama lagi!
Akan aku sumpahi hari-hari!
Hingga kau tak lagi berbekas abadi..
Mati!


Wednesday, July 20, 2016

Jurang Hati


Bersama daun-daun yang meranggas aku jatuh..
Rantingnya melambai di atas rintihan deru-deru hujan
Sedang kemarau berpesta bersama sajak perpisahan
Berjalan manis di dalam foto-foto kenangan

Dulu, jarakmu begitu dekat..
Sedekat selimut yang bergelut di atas sprai
Diam-diam aku menyimpanmu pada malam
Berbisik lembut tanpa mau menutup mata

Aku enggan kalah sedetikpun
Pada waktu yang tak pernah memberi jeda
Aku tak ingin terlelap..
Aku hanya ingin terpaku..
Menatapmu, bersama kupu-kupu diperutku..

Dingin..
Kini aku berselimutkan angin,
Meraba ruangmu namun tak ada
Aku gali sapamu namun tak bersua
Aku endus baumu, namun hampa..
Kau dimana?

Ku dengar dinding-dinding kamar tengah tertawa
Dan cermin-cermin retak meledekku tanpa bicara
Mereka menghujamku, tatkala aku mencarimu diantara tumpukan buku-buku..
Mereka berteriak, ketika aku memanggilmu tanpa mampu berkata rindu..

Kau dimana?
Tak dapat kutemukan kau dimana-mana..

Jangan lemparkan aku pada jurang kesepian!
Bicaralah!
Aku takut sendirian..


Saturday, July 16, 2016

Sepetak Ingatan

Umpama air laut dan garamnya,
Asinnya tak hilang, meski kau bawa pulang..
Berjalan jauh ke hamparan gurun tandus,
Panasnya menjalar hingga ke kutub
Kita ibarat kaktus dan durinya
Melekat, kadang saling menyakiti..
Jauh, namun mudah tuk disauh..

Aku air laut dan kau garamnya,
Aku malam dan kau gelapnya,
Aku jasad dan kau nyawanya,
Aku pusara dan kau nisannya..

Kadang kita terpisah begitu lama..
Aku terpenjara di bawah akar pohon kelapa,
Sedang kau lepas, terhempas diangkasa,
Kita sekarat, lalu berujar pada surat-surat..

Hatiku laksana keju,
Lelehannya adalah kembang-kembang rindu
Sedang kau ibarat lampu-lampu kota..
Begitu gemerlap menyilaukan mata..

Kita adalah sepasang hujan rintik-rintik
Aku airnya sedang kau bunyi-bunyiannya
Kadang dekat tapi selalu berjarak..
Kadang jauh, begitu tak tersentuh..

Malam ini ibarat lagu kenangan..
Liriknya terputus di ujung persimpangan
Lantas bayangmu terkenang dilamunan
Mengalir pada aliran-aliran kehilangan

Waktu laksana bola salju
Ada namamu disetiap gerakannya..
Membesar dan semakin bertambah rindu
Lalu bersemayam pada puisi yang kau beri judul “Aku”

Sudahlah, kemasi saja!
Sepetak ingatan yang melekat dikepala
Lalu tidurkan aku laksana anak raja
Dipangkuanmu tanpa harus menukar senja..






Thursday, July 14, 2016

Jendela Terbuka



Aku hidup di atas langit-langit kamar tua
Diantara pengapnya rumah tanpa jendela
Menengadah saat lelah
Tapi tak ada celah..

Diantara beban sejarah, bumi seakan terbelah..
Menelantarkanku sendiri tanpa arah..

Hari-hari kembali terulang
Berulang-ulang
Tak terbilang

Sembunyikan aku!
Dikedalaman kata yang kau rahasiakan abjad-abjadnya..
Aku terkepung..
Tersesat diantara jendela yang baru saja terbuka
Di sini gelap..
Aku kalap!

Aku bersembunyi..
Diantara sarang laba-laba
Bersama hujan yang seringkali basah menyapa
Dan angin yang bertiup tergesa-gesa
Temukan aku!
Aku tengah memandangmu!
Di bawah selimut, tempat lelahmu bergelut..
Aku berjelaga,
Dibalik kacamata yang tergeletak di atas meja

Dunia yang ku dengar tengah berkidung
Menyenandungkan lagu kematian..
Dekat,
Semakin dekat waktuku!

Datangi aku!
Sekali lagi sebelum matahari terbenam
Dan jejak-jejak kelam kembali menggelapar

Ada suara-suara lain yang harus kau dengar
Di balik pintu dan jendela di bawah sungai besar
Di sana ada aku, ada sukmaku..
Tenggelam..

Hitung jari-jari tanganku!
Lihat garisnya!
Temukan batasku!

Lihatlah apa yang tak kau lihat!
Dengarlah apa yang tak kau dengar!

Aku berkelana..
Berbekal nasehat-nasehat lusuh dunia

Berjalanlah!
Berjalan denganku!
Bergandengan..

Telah ku kantongi rembulan..
Dan ku hiasi petala langit
Mendakilah bersama!
Kita warnai lapisannya..

Dan pada jendela terbuka..
Aku menggapai-gapaimu resah..
Berbaliklah!

Batas adalah pemisah..
Tempatku menanggalkan ruang pandang
Mengikatku!
Seakan esok tak akan bisa aku miliki lagi..

Maka berlarilah!
Kejar aku!
Kali ini percepat!

Aku berdiri diantara pergantian siang dan malam
Aku mematung di atas palung senja
Aku terus berhitung..
Murung..

Aku menuliskanmu!
Pada sisa-sisa usiaku..
Pada ukiran batu nisan itu..

Rindu adalah wujud lain dari aku..
Sedang ragumu adalah benang untukku menyulam sepotong baju..

Gersang..
Terbalut panas ditengah terik siang..


Beku..
Sebelah hati mematung terpaku..
Aku meminangmu..
Berbekal sembilu dan sejumput cerita masalalu..
“Hiduplah denganku!”
Itu kataku..
Mau?


Tuesday, July 12, 2016

Jingga



Jingga, adakah malam yang kau sisakan untukku?
Senyumku kini tertambat pada sepotong rembulan yang bernamakan sepi..
Sakit yang merambat pada pilar-pilar kekosongan,
Mendamparkan khayalku pada sisi lain tanpa kamu..
Menoleh, namun hanya ada siluet palsu mengatas namakan rindu..
Tiada wajahmu lagi kali ini,
Berkali-kali setiap aku menghirup udara pagi..

Mataku berkaca-kaca..
Menanyakan kembali pada angin, dimanakah hatimu kini berada?

Namamu kusimpan rapi dimana-mana,
Dilemariku, tempat baju-baju darimu terlipat tanpa harga
Dibotol parfumku, tempat wangi kasihmu merebak, menanggalkan penat-penat penyesak dada..
Ditumpukan puisi-puisiku, tempat kata-kata berkumpul membentuk simfoni rasa..
Dikedua mataku, tempat indah senyummu bersemayam tanpa jeda..

Jingga, bukalah tumpukan kertas-kertas itu..
Ada kegilaanku tercatat menuliskan bagian-bagian lain dari rindu,
Duduklah! Baca sejenak!
Peluk aku!
Hangatkan kembali jarak yang menorehkan kebekuan!

Ada surat-surat yang aku kirimkan dari hati..
Surat-surat tak beralamat, bernamakan nyeri..
Surat-surat yang akhirnya kembali padaku,
Karena aku tau, cerita kita telah berlalu..

Jingga, adakalanya aku tak sanggup menahan lagi,
Semua batas seakan menelanku hidup-hidup..
Batas dari dimensi yang menghantarkanku pada pijaran lain berapi-api..

Jingga, kenapa rindu itu begitu nyeri?
Rindu seakan menguliti tubuhku tanpa henti..
Menikam dadaku dan meremukkan tulang belulangku..
Rindu ibarat pemangsa liar yang siap melahap mangsanya kapan saja..
Rindu adalah candu, tempat aku menggila memeluk foto-foto itu..

Jingga, ada surat-surat dungu bertebaran tak tepat waktu..
Mengurai airmata yang lirih dipenghujung ceritaku
Mengering dan terbakar jadi abu..

Tahun demi tahun hanya membuatku sekarat
Aku terperangkap diatas jendela tuamu yang rapuh
Bersarang diantara debu-debu dan kenangan masalalu..

Jingga, peluk aku!
Lelapkan tidurku!

Aku lelah terjaga,
Hanya untuk satu sapa bernamakan cinta
Dari Jingga..