Sabtu, 21 Juli 2018
Dari sekian orang yang aku undang untuk hadir dalam acara ZMS (Acara untuk merekrut agen), akhirnya aku berhasil membuat Ibu L dan Pak R datang. Ibu L adalah salah satu nasabahku, sedangkan Pak R adalah seorang senior yang sudah melanglang buana ke mana-mana. Dia sering mendapatkan trip ke luar negeri dan dia sering mendapatkan closing besar di Perusahaan B (Kerugian). Aku mengenal Pak R sudah cukup lama, yaitu pada tahun 2010 saat aku masih kuliah dan bekerja di salah satu perusahaan Trading Valas, hingga kemudian pada akhir 2017, kita bertemu lagi di perusahaan B, dan dia adalah Suvervisor RC di situ.
Satu kebanggaan tersendiri untukku yang kemudian bisa merekrut Pak R menjadi agenku di Perusahaan Z (Life) tanpa paksaan, padahal menurut Pak R, sebelumnya Ibu H (Agency Manager) dan Ibu N (Agency Director) sudah membujuknya berkali-kali untuk menjadi agen mereka.
Ibu N juga cukup kaget ketika dia masuk ke kelas ZMS dan melihat Pak R sudah berada di salah satu kursi di dalam kelas. Ibu N juga menceritakan bahwa susah sekali membujuk Pak R untuk menjadi agen. Mendengar hal itu, aku jadi ingin tertawa sepanjang hari, alasannya adalah sederhana, karena sebenarnya pada hari jumat, aku mengajak beberapa orang datang tanpa memberitahukan bahwa aku akan merekrut mereka di perusahaan Z. Aku tahu beberapa hal yang bisa memancing Ibu L dan Pak R datang menemuiku, dan aku memakai cara itu. Aku memakai cara tersebut hanya agar mereka datang terlebih dahulu tanpa paksaan dan mendengarkan trainer menjelaskan tentang perusahaan, produk, jenjang karier, komisi dan bonus-bonus yang akan diberikan jika calon agen bergabung di sini. Alhasil, mereka kemudian mulai tertarik, meskipun masih ragu-ragu untuk masuk.
Selesai kelas ZMS, aku mengajak mereka ke Jl Braga. Tadinya kita akan makan siang disalah satu Cafe milik teman aku, namun ternyata sebelum jam 12, makanan masih belum ready. Kemudian, kita memutuskan untuk makan di Upnormal yang tidak jauh dari situ. Pak R tampak tak punya banyak waktu saat di Cafe, karena dia harus menjemput anaknya, namun dia menyempatkan minum kopi hangat karena aku terus membujuknya. Aku juga tidak berhenti meyakinkan Pak R untuk jadi agen. Dia kemudian setuju dan akan mengirimkan persyaratannya setelah sampai di rumah.
Hari itu, aku juga memiliki janji dengan H (agen Ibu N yang sedikit memiliki perbedaan mental dengan teman-teman lainnya) yang selalu ingin belajar dariku. Aku kemudian meminta dia datang ke Upnormal.
Hari itu, aku menghabiskan waktu bertiga di Cafe. Aku mencoba mengajarkan teknik kanvasing kepada Ibu L dan H. Berhasil, kasir di tempat itu kemudian mau menjadi nasabah. Selesai dari Upnormal, kita datang lagi ke Cafe temanku, meskipun temanku tidak berada di situ, namun aku bertemu managernya dan kemudian menjelaskan kerjasama untuk mengelola kesejahteraan karyawaan dalam bidang kesehatan (pengganti BPJS) dalam bentuk tabungan. Dan manager tersebut menyambut hangat kerjasama itu dan dia akan mendiskusikannya dalam meeting dengan owner dan karyawan.
Selesai coaching dan kanvasing dengan agenku, aku menemui teman lama yang suaminya baru saja meninggal pada Bulan Februari 2018, namanya Ibu T. Sebelumnya, aku sudah datang ke tempatnya, namun dia tidak berada di sana. Aku lalu menitipkan kartu namaku pada orang yang sedang duduk di OP Warnet (Temanku ini memiliki usaha warnet dan rental mobil).
Dan hari ini, saat aku ke tempatnya, dia bercerita bahwa laki-laki yang waktu itu aku berikan kartu namaku, tak lain adalah bandar ayam dan dia mau daftar jadi nasabahku. Aku senang bukan main, karena aku tidak menjelaskan apa-apa kepada orang itu, namun dia mau menjadi nasabah, mungkin temanku yang punya andil di sini, karena setidaknya dia pasti menjelaskan tentang aku kepadanya. Selain bandar ayam itu, temanku T juga masuk menjadi nasabah pada hari ini. Dia bercerita bahwa saat ini dia sungguh merasakan beratnya menjadi tulang punggung, terlebih lagi suaminya tidak meninggalkan apapun untuk dia dan keempat orang anaknya. Dia menyesal, seharusnya dulu sebelum suaminya sakit, dia sudah sadar tentang asuransi. Sekarang, warisan satu-satunya yang ditinggalkan suaminya adalah hutang bekas berobat. Karena hal itulah, Ibu T kemudian membuka polis asuransi.
Minggu, 22 Juli 2018
Hari ini aku harus datang pada acara kopi darat pertama, Asosiasi Home Industri Indonesia di Cafe temanku di Jl. Braga. Pagi harinya, seperti biasa aku memproduksi susu kedelai, selain untuk dikirim ke toko-toko, aku juga membawa sample dan pesanan beberapa peserta Asosiasi Home Industri Indonesia.
Sebelum berangkat, aku meminta sepupuku untuk memakaikan makeup sederhana untukku. Namun, berbeda dengan makeup salon pada acara dinner, kali ini wajahku terlihat jadi lebih gelap. Mulanya aku tidak sadar dengan hal itu, dan berangkat seperti biasa.
Aku menjemput Ibu L terlebih dahulu, hingga akhirnya datang terlambat ke acara karena Ibu L sangat lelet (dandannya sangat lama).
Saat sampai di Cafe, acara berlangsung di lantai dua. Singkat cerita, hari itu aku cukup memberikan kesan yang baik tentang produkku saat diberikan waktu untuk mengenalkan diri, padahal peserta yang hadir adalah para senior yang rata-rata usianya lebih tua dariku, dan sebagian peserta sudah memiliki perusahaan besar yang rutin mengekspor produk ke luar negeri.
Aku berusaha agar bisa berbicara lantang ketika mengenalkan diri dan mengenalkan produk. Aku tidak ingin saat aku berbicara, masih ada peserta yang ngobrol ke sana kemari. Alhasil, saat aku berbicara, suasana menjadi jadi hening.
Usai acara, banyak peserta menghampiriku dan memuji packaging dan keunggulan lain dari produkku. Mereka kemudian meminta nomor telepon. Dan saat aku memberikan kartu nama, mereka kemudian bertanya, “Di Asuransi juga?”. Aku hanya nyengir dan tidak menjelaskan apa-apa. Dulu aku selalu gengsi menunjukkan kartu nama itu, namun sekarang mindsetku berubah. Kenapa harus gengsi? Merry Riana saja bisa sukses dibidang itu. Hingga kemudian salah peserta dari Subang bercerita bahwa dia juga nasabah di perusahaan ini. Jadilah kita ngobrol panjang lebar.
Selesai dari Cafe temanku, aku mengajak Ibu L untuk makan di Cafe sebelahnya, karena aku suka dengan menu-menu western dan live music di sana. Jadilah kita makan di sana hingga pukul 19.30. Dan saat hidangan penutup tiba, aku melihat rombongan bule masuk. Diantara mereka ada Pak I (teman Pa X yang sama-sama pengusaha). Aku memanggilnya, dan ternyata Pak I datang dengan Pa X. Kemudian kitapun bergabung dalam satu meja.
Aku dan Ibu L yang mulanya bersiap akan pulang, harus duduk kembali, terlebih saat Pa X menelpon temannya yang akan mencalonkan diri menjadi anggota legislatif agar datang ke Cafe. Temannya tersebut yang akan membuat kartu asuransi kecelakaan diri untuk para kadernya, dll. Pukul 21.00, Pa D datang dan akhirnya deal membuat kartu, namun dia akan masuk pada bulan September, karena nomor urut Caleg akan diumumkan pada bulan September. Walau sedikit kecewa karena harus menunggu hingga September, namun aku bersyukur karena bisa closing besar.
Hari ini aku sampai di rumah pukul 22.30, dan ayahku sedikit marah pada ibu dengan tuduhan-tuduhan yang negatif, karena hampir setiap hari aku pulang malam, namun kali ini cukup larut sekali dan aku memakai makeup (padahal sangat tidak PD karena makeup nude, wajah jadi berwarna cokelat tua).
Senin, 23 Juli 2018
Hari ini meeting pukul 09.00 hingga pukul 10.00, setelah itu ada kelas MDRT (Kelas khusus dan berbayar bersama ex Presiden MDRT Indonesia, tujuannya adalah agar peserta cepat menjadi MDRT/penghasilan agen asuransi yang mencapai millyaran dan kelas ini diadakan beberapa bulan). Dan lagi-lagi aku terlambat karena menjemput Ibu L dan dia dandan sangat lama, sedangkan hari ini aku sudah tidak ingin memakai makeup lagi (ribet). Kita tiba pukul 10.00 saat meeting sudah selesai dan akhirnya kita masuk kelas MDRT, padahal sebelumnya aku tidak daftar untuk masuk kelas itu. Namun, aku tidak menyesal saat masuk kelas MDRT. Hari pertama di kelas ini, Pak D mengajarkan tentang NLP (neuro linguistic programming) dan aku sangat menyukai topik itu. Dan di kelas ini ternyata baru aku seorang yang sudah tahu dan menerapkan NLP dalam kehidupan sehari-hari, hingga kemudian aku diminta untuk sharing.
Selain NLP, ada sesi menarik saat Pak D menyuruh para peserta memilih simbol yang kita sukai, diantaranya kotak, piramida, huruf Z dan terakhir adalah lingkaran. Hanya aku sendiri yang mengacungkan tangan saat memilih huruf Z yang aku sukai, sedangkan semua peserta di kelas memilih lingkaran. Pak D kemudian menjelaskan arti dari masing-masing simbol. Orang yang memilih kotak adalah orang pintar dan tegas dalam mengambil keputusan. Orang yang memilih piramida adalah orang yang bijaksana, menyukai kedamaian,dll. Orang yang memilih Z adalah orang yang kreatif, memiliki imajinasi tinggi dan cocok untuk menjadi leader, sedangkan orang yang memilih lingkaran adalah orang yang kecanduan SEX. Sontak semua peserta tertawa mendengar bahwa mereka adalah orang-orang yang kecanduan SEX. Pak D kemudian menjelaskan bahwa SEX di sini adalah Smile, Enthusiasm, dan Xcitement. Mendengar hal itu, para pesertapun mulai bertepuk tangan.
Hanya untuk diketahui, aku memilih simbol Z karena aku ingat cuplikan di film Korea “Painter of The Wind”, saat semua peserta magang yang tak lain adalah para pelukis diberikan tugas untuk menghubungkan tiga baris titik-titik tanpa terputus dan Shin Yoon Bok berhasil memecahkannya dengan membentuk huruf Z. Dia kemudian menjelaskan tentang sesuatu yang tanpa batas dari huruf Z tersebut dan sesuatu tanpa batas itu seperti sebuah lukisan karena kita bebas untuk mengekspresikan apa saja dan arti dari lukisan juga tanpa batas karena setiap orang akan memiliki perbedaan dalam menafsirkan lukisan itu.
Dan karena aku memilih simbol ini, aku diartikan sebagai orang kreatif, memiliki imajinasi tinggi dan cocok untuk menjadi leader, aku sependapat.hehehe.
Selasa, 24 Juli 2018
Hari ini aku banyak menghabiskan waktu di BCA karena harus mencetak rekening koran untuk mendapatkan bukti setor asuransi nasabah baruku. Dan antrian ke Customer Service itu sangat panjang. Tak ingin membuang-buang waktu, aku kemudian menjadikan situasi tersebut untuk prospek kepada orang-orang yang duduk di sebelahku. Alhasil di BCA aku prospek 5 orang, dua mau jadi nasabah dan satu orang yang sedang hamil mau menjadi agen. Seperti biasa, aku kemudian posting status di whatsapp dengan menceritakan pengalaman prospek di BCA. Salah satu temanku dari Asosiasi Home Industri Indonesia (orang Subang), kemudian mengomentarinya. Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku kemudian mengajak dia untuk menjadi agen dan berhasil, dia dengan sangat antusias mengirimkan persyaratannya dan transfer ke perusahaan untuk membayar ujian AAJI. Luar biasa, dia bahkan membatalkan acara bakti sosial hari minggu agar bisa ujian AAJI di Bandung. Dulu dia adalah seorang pengusaha maju, hingga kemudian bangkrut dan sekarang dia sedang merintis lagi. Dia adalah seorang kristiani yang taat dan sosialnya juga tinggi. Aku sangat bersyukur bisa merekrutnya. Semua kemudahan ini karena-Nya yang membolak-balik hati mereka, Ibu L, Pak R dan Ibu Lam.
Rabu, 25 Juli 2018
Kita memang tidak bisa selalu mengandalkan orang lain dalam beberapa hal. Hari ini seharusnya aku pergi ke beberapa sekolah yang deal akan membuat kartu untuk siswa, namun Spv ku di Perusahaan B (Kerugian) sakit. Aku kemudian followup beberapa sekolah itu via telp. Selesai melakukan tugas itu, Aku mengantar D untuk survey lokasi di salah satu properti milik Ibu L (Ceritanya panjang, jadi tidak perlu dijelaskan). Aku seharian bersama D dan pulang sore hari, tadinya mau langsung fitness, tapi ternyata masih banyak yang harus aku kerjakan (urusan administrasi nasabah-nasabah dan agen baru), jadi aku memutuskan untuk pulang.
Seharian ini, pikiranku juga masih tertuju pada orang yang jauh di sana. Aku kemudian misscall dia tanpa alasan. Dan tanpa aku duga, saat aku melihat grup, aku melihat video dari temanku tentang apa yang terjadi di Kotanya. Aku kemudian sangat khawatir, namun tidak bisa berbuat apa-apa.
HARAPAN
Garis cahaya dalam arah vertikal.
Dan awan-awan putih meliuk-liuk ibarat gelombang.
Sinarnya akan tertutup gelap, pelan-pelan, perlahan.
Tak panas dan tak terlalu dingin.
Anginnya sepoi dan ranting pohon menjulang diantara ruas jalan.
Ranting tak berdaun..
Ini senja?
Dan pikiranku tanpa waktu, tak ada batas waktu.
Tak bergulir..











