Sunday, July 15, 2018

JULI 2018



   
Bulan Juli ini cukup sibuk untukku berkutat pada masalah pekerjaan, sehingga aku tidak sempat mengurus hal-hal kecil yang semestinya menjadi prioritas, seperti memberikan kado ulang tahun untuk orang lain yang spesial. Pada awal bulan Juli pasca libur lebaran, aku harus mulai mengejar target produksi, sehingga aku melakukan aktivitas di lapangan dengan cukup padat, berangkat pagi dan pulang malam. Lalu tanggal 8-9 Juli, aku membantu sepupu yang mau nikah dan tadinya aku dipaksa jadi pagar ayu, namun beruntung hal itu tidak jadi, karena aku kurang suka berada di keramaian dan diam berjam-jam dengan memakai makeup, sedangkan aku masih harus mengejar target produksi.

Tanggal 10-13, aku harus mengikuti acara “Fundamental Training Leader”, yaitu sebuah training yang dikhususkan untuk para leader, mulai dari Agency Manager, Senior Agency Manager dan Agency Director. Acara ini diadakan di Yello Hotel yang terletak di dalam gedung Paskal Hyper Square. Para peserta yang berasal dari luar kota atau yang berasal dari Bandung Timur diberikan penginapan gratis oleh kantor di hotel ini. Yello hotel merupakan salah satu hotel yang baru saja dibangun dan merupakan saudaranya POP Hotel (maksudnya merupakan hotel-hotel yang dimiliki oleh sebuah perusahaan yang sama).
Aku sangat suka desain dari POP dan Yello Hotel. Meski terbilang hotel yang ekonomis (kisaran 300-500 ribu/malam), namun warna khas dan desain dari hotel tersebut sangat segar, minimalis dan modern. Jika POP Hotel identik dengan warna hijau dan kamar mandi mini (berbentuk kapsul berdiri), lain halnya dengan Yello Hotel yang identik dengan warna kuning, namun kamar mandi lebih besar dibandingkan POP Hotel. Salah satu yang menarik dari Yello Hotel adalah sandal kamarnya yang unik, seperti sepatu bustong tapi bertali dan berwarna kuning. Hal ini terlihat unik, mengingat hampir disemua hotel, termasuk hotel bintang lima, sandalnya ya begitu-begitu saja dan tidak ada terobosan baru.
Entah kenapa diantara semua hotel yang pernah aku singgahi, termasuk hotel bintang lima sekalipun, aku lebih suka hotel yang identik dengan warna cerah, fresh dan unik. Fasilitas dihotel bintang lima yang mewah, banyak fasilitas yang ditawarkan dan banyak pelayanan ekstra memang sangat menyenangkan, namun suasananya sangat membosankan. Dengan cat berwana krem dan gorden cokelat, semua tampak monoton.

    Oke, kembali lagi pada training yang aku ikuti selama empat hari, tiga malam itu, acaranya benar-benar full, mulai jam 09.00-22.00 dan hampir setiap malam aku tidak bisa tidur cepat karena harus mengerjakan tugas. Para peserta training ini sungguh luar biasa dan kebanyakan adalah senior-seniorku yang telah melanglang buana kemana-mana dengan penghasilan fantasitis. Aku yang masih berusia di bawah tiga puluh tahun dengan stasus Agency Manager baru tiga bulan sungguh merasa insecure berada di tengah-tengah mereka. Namun, aku bisa banyak belajar dari pengalaman para senior terutama belajar dari mereka yang bisa bangkit saat berada dalam titik terendah hidup.

    Dalam pelatihan ini, para leader diajarkan untuk memanage para agennya, aktivitas hariannya dan banyak hal tentang sistem, sehingga pekerjaan seorang leader bisa terencana dengan baik. Pada hari ketiga, para peserta diberikan waktu selama 45 menit untuk melakukan kanvasing (menemui orang-orang yang tidak dikenal) dan mencatat nama serta nomor telpon sebanyak-banyaknya. Dalam sesi ini, aku menang karena mengumpulkan 100 nama. Nama-nama tersebut berasal dari pegawai hotel, tamu hotel, pengunjung mall, dll dan setiap orang yang aku temui, aku minta nomor-nomor yang ada di Hpnya. Alhasil terkumpullah 100 nama dan itu sangat menyenangkan, karena aku belajar tentang keberanian, mengatasi rasa malu, dan juga belajar menggunakan strategi yang kreatif untuk mencapai target.

    Mulanya aku berencana membeli kado saat break acara pelatihan, namun acaranya sangat padat. Hingga pelatihan berakhir pada hari jumat, dan aku tiba di rumah pada malam hari, aku tidak sempat lagi menulis apa-apa untuk ucapan ulang tahun atau sekedar menulis pengalaman di blog. Aku sangat lelah dan langsung beristirahat.

    Hari sabtunya, aku masih sangat lelah dan masih harus mengurusi masalah bisinis baju, sepatu dan rencana waralaba kuliner, di samping target di dua perusahaan tempatku bekerja (Perusaan B/kerugian dan Z/life). Hari sabtu juga merupakan ulang tahunku dan biasanya aku sangat suka Triple Cake Harvest, namun karena tidak sempat lagi ke sana karena weekend macet dan delivery tidak bisa sampai ke sini, akhirnya kembali pada kue lama kesukaanku di Holland, yaitu Chocolate Cherry Cake.
Bu Heni pernah bertanya kepadaku saat aku akan membeli kue di Harvest,
“Kenapa Indri yang beli? Seharusnya mama atau papa yang beliin buat Indri?”
Aku lalu teringat ucapan seorang pembicara saat acara MDRT, yaitu Imakulata yang mengatakan bahwa kita tidak perlu merengek untuk meminta kebahagiaan kepada orang lain, tapi selama kita bisa membahagiakan diri sendiri, ya lakukanlah. Itu yang sering dilakukan Imakulata dengan membeli bunga untuk diri sendiri.

    Perkataan Bu Heni memang bisa aku jawab, namun sepanjang jalan pulang hingga hari sabtunya, aku memikirkan kata-kata itu. Aku jadi merasa kasihan dengan diriku sendiri. Saat susah atau senang, jarang sekali orang menunjukkan kepedulian secara nyata kepadaku. Jika mengingat saat ada sahabat sakit atau di rawat, aku selalu ingin jadi orang pertama yang nengok dan memberikan kepedulian. Saat ada yang ulang tahun, aku selalu ingin memberikan kejutan untuk mereka, apapun bentuknya, aku ingin mereka tahu bahwa aku peduli. Tapi, saat aku di posisi itu, saat aku tabrakan, saat aku tipes, dll tak ada satupun teman atau sahabat, atau pacar nongol untuk menunjukkan kepeduliannya. Di saat seperti itu, hanya keluarga inti dan keluarga jauh yang masih peduli untuk datang.
Dan di saat ulang tahun lebih parah lagi, tapi ya sudahlah sebenarnya aku tidak pernah mempermasalahkan itu, karena aku tidak ingin balasan apapun atas apapun yang aku lakukan, tapi karena ucapan Bu Heni lah, aku jadi memikirkan tentang diriku sendiri, “Ko kasihan sekali ya aku!”

Malam harinya, aku bermimpi dengan seseorang dan aku tahu bahwa dia berulang tahun pada hari ini (15 Juli 2018), dan lagi-lagi, hari ini aku membantu ibu membuat tumpeng, membagikannya dan menemani teman juga yang datang ke rumah untuk berobat herbal ke tempat praktek yang berada tidak jauh dari sini. Hari ini juga Pa X nelpon berkali-kali untuk memastikan usaha kuliner yang harus launching pada hari rabu. Dan karena hal ini, aku tidak mengucapkan sepatah katapun ucapan selamat ulang tahun padanya (selain karena whatsapp diblockir). Aku berencana memberikan hadiah besok setelah selesai meeting dan prospek, semoga masih sempat atau memang harus disempat-sempatkan. Tapi, pertanyaanya untuk apa? Simple, untuk kebahagiaan diri sendiri, cukup.

Dan dari sekian banyak kesibukan, target, kesedihan dan puncak insecurities ku di bulan Juli, ada kejutan indah dari-Nya, tepat setelah aku selesai berdoa dengan airmata berurai, tiba-tiba Pa X menelpon dan mengatakan padaku bahwa rekannya yang punya pengaruh setuju untuk membuat kartu asuransi kecelakaan diri yang berbentuk seperti kartu ATM dengan gambar partai atau ormas atau organisasi tertentu dengan manfaat kartu selama satu tahun, adanya penggantian biaya pengobatan karena kecelakaan, adanya santunan meninggal dunia karena kecelakaan dan meninggal dunia biasa dengan biaya hanya 10.000 per kartu. Targetku  adalah menjual minimal 10.000 kartu, karena komisi kartu ini adalah sebesar 25% dan itu adalah target sementaraku pada akhir bulan Juli di Perusahaan B/Kerugian), selain target dari kartu-kartu pelajar plus asuransi di sekolah-sekolah yang tinggal panen saja, karena aku sudah memasukkan propoasal jauh-jauh hari. Sedangkan untuk di Perusahaan Z/Life, targetku jauh lebih besar dan waktu untuk mencapai target sudah tinggal menghitung hari. Ada kontes bulan Juli yang sedang aku incar, yaitu Honda Brio atau uang tunai Rp. 125.000.000,00 dan ini hanyalah kontes bulanan dan bukan komisi utama serta bukan kontes internasional trip utama ke Rovaniemi atau trip kedua ke Turki. Aku sedang mengincar kontes bulan ini, bukan mobilnya, tapi uang tunainya, cukup. Dan untuk itu, aku harus kerja cerdas, tekun dan mati-matian untuk mendapatkannya, serta aku harus mengesampingkan dulu hal-hal yang berkaitan dengan perasaan yang ujungnya menjadikan suasana hati mellow dan tidak bersemangat untuk bergerak.

Menjadi seorang leader alangkah lebih baik jikalau isi dompetnya, timnya dan semuanya memang sudah menunjukkan bahwa dia seorang leader. Dan Bulan Juli ini adalah anak tangga pertama atau pondasi bagiku untuk memantapkan diri sebagai seorang leader. Menemui orang minimal enam orang per hari dan closing (mendapatkan nasabah) sehari satu sudah aku lakukan, namun aku msih perlu meningkatkan case size agar bisa cepat mencapai target besarku di akhir Desember, yaitu uang tunai Rp. 200.000.000, 00 plus internasional trip, aamiin.

    “Penjual bunga itu telah pergi. Puisi-puisinya ia jadikan pelipur lara yang ia baca sendiri tatkala kesepian. Tak ada lagi kelopak-kelopak mawar yang esok lusa layu tatkala sudah dipetik dari pohonnya. Tak ada lagi pecundang yang menghitung rintik-rintik hujan yang jatuh di balik jendela dari orang yang bersikukuh diam di dalam apartemen tua untuk membeku di dalamnya.
Tak ada lagi! Tak ada siapapun di sana! Selamat jalan, sampai jumpa di masa depan!”

Hello-Adelle
Hello, it's me
Halo, ini aku
I was wondering if after all these years
Aku bertanya-tanya apakah setelah bertahun lamanya
You'd like to meet, to go over everything
Kau mau bertemu, menimbang segalanya
They say that time's supposed to heal ya
Orang bilang seharusnya waktu tlah menyembuhkanmu
But I ain't done much healing
Tapi aku tak banyak sembuh
Hello, can you hear me?
Halo, bisakah kau mendengarku?
I'm in California dreaming about who we used to be
Aku di Kalifornia sedang memimpikan kita yang dulu
When we were younger and free
Saat kita belia dan bebas
I've forgotten how it felt before the world fell at our feet
Aku tlah lupa seperti apa rasanya sebelum dunia bersujud di bawah kaki kita
There's such a difference between us
Begitu banyak perbedaan di antara kita
And a million miles
Dan jarak yang membentang

II
Hello from the other side
Halo dari sisi lain
I must've called a thousand times
Aku pasti tlah menelpon ribuan kali
To tell you I'm sorry, for everything that I've done
Tuk meminta maaf, atas semua yang tlah kulakukan
But when I call you never seem to be home
Tapi saat kutelpon, sepertinya kau tak pernah di rumah
Hello from the outside
Halo dari luar sini
At least I can say that I've tried
Setidaknya aku bisa mengatakan bahwa aku tlah berusaha
To tell you I'm sorry, for breaking your heart
Meminta maaf padamu, karena tlah menghancurkan hatimu
But it don't matter, it clearly doesn't tear you apart anymore
Tapi tak masalah, jelas-jelas semua itu tak lagi menyiksamu

Hello, how are you?
Halo, bagaimana kabarmu?
It's so typical of me to talk about myself, I'm sorry
Aku masih seperti dulu, suka bicara tentang diriku sendiri, maaf
I hope that you're well
Kuharap kau baik-baik saja
Did you ever make it out of that town
Pernahkah kau keluar kota itu
Where nothing ever happened?
Dimana tak ada apa-apa?
It's no secret
Bukanlah rahasia
That the both of us are running out of time
Bahwa kita berdua kehabisan waktu

So
Maka

Back to II

Ooooohh, anymore
Ooooohh, lagi
Ooooohh, anymore
Ooooohh, lagi
Ooooohh, anymore
Ooooohh, lagi
Anymore
Lagi








No comments:

Post a Comment