Sunday, July 1, 2018

LIA




Kapal berlabuh di atas muara tanpa kata-kata.
LIA!
Jika esok pintu terbuka segera, akan aku tanyakan tentang rembulan yang tak ingin kembali pada sarang bumi.
Dedak kopi mengendap di dalam cangkir teh hangat. Tapi,  itu bukan kopi, bukan pula teh!
Dan mata masih mengais-ngais resah pada jembatan yang hampir roboh di atas sungai tanpa nama.
Mungkinkah esok,  kaki-kaki itu segera berlari?  
Dan “LIA” masih jelas terbaca dalam reruntuhan puing-puing kapal tua?

Matanya berkaca-kaca,  mungkin ada yang dikenang dalam ejaan L-I-A yang dia baca.
Atau bisa saja ada yang ditunggu dan diharapkan datang tatkala kapalnya mulai karam.

LIA, bulan Juli telah datang!
Tengoklah bumi sekali-kali.
Barangkali di sana masih ada puing-puing yang bisa kau rakit lagi.
Tak usah berlayar! Tak perlu menyebrangi!
Rakit saja, biarkan ia utuh lagi!

No comments:

Post a Comment