Hatiku hancur mengenang dikau
Berkeping-keping jadinya
Kini airmata jatuh bercucuran
Tiada lagi harapan..
Tiada seindah waktu itu
Dunia berseri-seri
Malam bagai siang
Seterang hatiku
Penuh harapan
Padamu..
Kini hancur berderai
Kepedihan berantai
Kuncup di hatiku
Yang lama kusimpan
Hancur kini
Sebelum berkembang..
Mengapa ini harus terjadi
Ditengah kebahagiaan
Ingin kurasakan
Lebih lama lagi
Hidup bersama denganmu..
Hidup bersama denganmu..
(Broery Marantika – Layu Sebelum Berkembang)
Setiap lagu menyimpan kenangannya sendiri. Kadang-kadang satu lagu bisa membawa kita kembali ke masalalu dan mengingat dengan jelas apa yang kita alami waktu itu. Lagu adalah jembatan penghubung yang bisa mengembalikan ingatan kita dengan cepat mengenai seseorang. Setiap judul lagu mempunyai ceritanya sendiri, entah tentang bahagia atau terluka, pertemuan atau perpisahan, bahkan kehilangan, meskipun kita tidak pernah siap untuk itu.
Aku adalah orang yang paling senang hidup dalam etalase bernama kenangan. Mengenang luka dan rasa sakit menjadi hal manis yang bisa aku putar berulang-ulang. Hingga kemudian lagu Broery terdengar lagi tanpa sengaja, ingatanku tentang dia muncul lagi begitu saja, begitu meresap dalam dada. Lagu “Hati yang Terluka”, “Layu Sebelum Berkembang”, dan lagu “Kemesraan” nyaris menyayat kembali hatiku yang sebelumnya sudah lupa tentang sosok bernama luka.
Ada tiga orang penting dalam kisah asmaraku. Sebut saja tiga, karena hanya kepada tiga orang ini aku bisa menjalin hubungan dengan penuh perasaan. Jingga, Biru dan Black (Sebut saja begitu karena aku tidak memiliki panggilan khusus untuk dia).
Jika ditanya, siapakah yang paling aku cintai diantara ketiganya?
Maka aku tidak akan bisa menjawab, karena tidak pernah ada takaran yang pasti tentang seberapa banyak atau sedikit kadar cinta yang bisa kita berikan untuk orang lain.
Jingga, aku akan mengingatnya sebagai cinta pertama. Kata pertama adalah sesuatu yang paling sulit untuk dilupakan. Aku butuh proses yang tidak mudah untuk bisa melupakan dia. Hubunganku dengan dia adalah yang paling lama, namun sepertinya kurang berkualitas. Tapi, bagaimanapun itu, darinya aku bisa belajar banyak hal tentang hidup, terutama tentang menjalin hubungan dengan orang lain dan tentang menghargai waktu yang Tuhan berikan kepada kita. Usia 22-26 aku habiskan dengan orang ini. Cinta pertama lebih gila dibandingkan narkoba. Luar biasa sia-sia.
Biru, aku bisa tahu rasanya dikagumi dan dicintai dari orang ini. Orang yang paling tulus yang pernah aku temui. Aku seperti melihat diriku sendiri ketika melihat dia. Dengannya aku merasakan kenyamanan dalam dunia maya. Di depannya aku bisa menjadi diriku sendiri. Tapi, sedalam apapun perasaannya, aku tidak pernah bisa mengenal dia dengan pasti. Diamnya penuh dengan misteri. Apa yang dia katakan belum tentu sama dengan apa yang dia rasakan.
Aku mengenalnya bersamaan dengan aku mengenal Jingga. Dia bahkan tetap menunggu ketika aku sudah menjalin hubungan dengan Jingga.
2012 mengenalnya, 2015 bertemu, dan September 2017 menjalin hubungan, lalu putus pada bulan Desember 2017 (tanpa ada kejelasan), hingga kita hilang kontak, dan berkomunikasi lagi ketika aku menjalin hubungan dengan orang baru hingga sekarang.
Aku senang berkomunikasi dengan biru. Aku bisa menceritakan apa saja kepadanya. Aku suka panggilan dia untukku yang masih dia sebut hingga sekarang. Dia membuat aku mengerti tentang arti pengorbanan, meskipun dia pernah beberapa kali menyakitiku dengan alasan yang tidak jelas (2015 dan 2017), tapi aku bisa memaafkannya karena dia masih menyayangiku, meskipun menyayangi dengan caranya sendiri.
Black, dia berbeda dengan Jingga dan Biru, karena aku yang menyukai Black lebih dahulu dan ternyata dia pun memiliki perasaan yang sama. Black adalah kebahagiaan. Dengannya aku bisa tertawa setiap hari. Dia orang yang begitu asyik. Aku bisa dengan bebas bercanda dengan dia. Aku juga nyaman dengannya. Saat di starbucks tiba-tiba aku mual dan pusing, dia kemudian dengan cepat memijat beberapa titik pada kakiku hingga aku fit lagi.
Aku tertarik kepadanya sejak awal aku melihat dia, hingga kemudian perasaan tertarik itu berubah menjadi rasa penasaran, dan dari rasa penasaran itu kemudian cinta hadir.
Lagu-lagu Broery mengingatkan aku lebih banyak tentang Black. Aku pernah menyanyikan lagu “Hati yang Terluka” di panggung ketika dia berada dihadapanku. Kita pernah bersama-sama menyanyikan lagu “Kemesraan” juga di atas panggung. Lalu ketika kita harus break sesaat pada bulan Desember 2018, aku seringkali menyanyikan “Hati yang Terluka” karena mengingat dia. Dan kini saat aku benar-benar kehilangan, maka lagu “Layu Sebelum Berkembang” seakan mewakili hatiku yang kadang-kadang masih merindukan dia yang sekarang entah dimana, padahal Januari-Februari 2019 kita masih bersama dan tidak ada masalah sedikitpun, namun kini dia raib ditelan glamournya dunia hiburan.
Jingga, Biru dan Black selalu aku ingat ketika aku harus memutar kembali lagu kenangan. Aku suka lagu-lagu mellow yang seringkali diejek oleh teman-temanku. Seperti ketika aku menyukai lagu-lagu Broery, aku dianggap seperti orang tua, karena untuk generasi millenial sepertiku, rasanya lagu Broery terlalu jadul. Padahal menurutku setiap lagu memiliki rohnya masing-masing yang bisa menggerakan intuisi seseorang, sehingga setiap manusia memiliki karakter yang berbeda-beda dalam menyukai lagu, entah itu lagu-lagu lama yang mendayu-dayu ataupun lagu-lagu baru yang nge-rock.
Penampilanku sekarang sering dibilang seperti rocker, karena aku tak bisa lepas dari jaket kulit, sepatu boots kulit,dll, padahal hatiku masih mellow, hingga udara pun mentertawakanku karena aku masih menyimpan rapi kenangan pada tempat yang tak pernah mereka lihat.
Kan kucari jalan yang sunyi
Untuk menghindar darimu
Ku berjanji di dalam hati
Takkan lagi ku menjumpaimu
Di tengahnya kabut bermandi embun pagi
Dingin membuat hatiku membeku
Kau yang telah membuat luka di hatiku
Kau yang telah membuat janji-janji palsu
Kau yang selama ini aku sayangi
Kau merubah cintaku jadi benci
Oh kau yang telah membuat luka dihatiku
Kau yang telah membuat janji-janji palsu
Oh kau yang selama ini aku sayangi
Kau merubah cintaku jadi benci
Kau merubah cintaku jadi benci
Oh benci..
(Broery Marantika – Hati Yang Terluka)
*Abaikan suara jelek. Ini nemu potongan video waktu karokean (tidak sadar direkam oleh temanku) saat break dengan Black pada bulan Desember, sebelum balikan lagi pada bulan Januari.

No comments:
Post a Comment