Saturday, June 29, 2019

Angin yang Tersampaikan

*postingan blog ini tgl 16 Juni yang kemarin dihapus karena kesal.

Keluargamu adalah jembatan, tempat dimana resah mampu disampaikan melalui jarak. Melalui tempat dan orang-orang terdekatmu, aku bisa menghadirkanmu lebih cepat. Menghalau rindu yang seringkali berarak melambat.
Aku adalah doa-doamu dimasalalu. Harapan yang seringkali kau gaungkan diantara deburan ombak dan matahari terbenam.
Mungkin kau sedikit lupa dengan apa yang pernah kau panjatkan kepada Tuhan. Tentang kegilaan rasa yang membuat tulisan-tulisanmu bersenandung dalam gendang telingaku.

    Di kamar itu, ada cuplikan-cuplikan kenangan yang bisa aku putar berkali-kali. Dinding dan angin yang masuk melalui celah jendela adalah saksi. Aku menghadirkanmu sekali lagi, melalui kehadiranku yang tak bisa tergenapi.

    Ibumu, keluargamu dan tempat kelahiran, dimana udara hilir mudik menghidupkanmu yang kini bisa berdiri tegak menopang beban kehidupan, membuatku mampu merabamu lebih dekat meski kau tak ada tepat di depan kelopak mata.

Kau tahu? Entah sejak kapan rasa berbalik arah kepadaku. Mengeja satu persatu waktu yang tak pernah aku cicipi dimasalalu. Ingatkah kau tatkala air laut hampir saja menenggelamkanmu tatkala kau bersaing dengan temanmu? Namun kemudian kau memenangkannya karena kau membayangkan aku?
Ah lucu memang jika aku membayangkan kegilaanmu dulu. Namun, kini kau berangsur-angsur menjadi dewasa dan haluan rasamu sudah pindah dari satu dermaga ke dermaga lain. Orang-orang baru sudah cukup mewarnai buku harianmu dengan kisah-kisah yang mampu membuatmu melangkah tanpa harus membaca ulang apa yang pernah kau tuliskan.

    Diantara rak buku itu, mungkin pernah terselip surat-surat bertinta biru. Sajak-sajak yang menyampaikan diri sebagai simpul dari rindu. Ada pula wajah kecilmu tersenyum begitu lugu dan potret-potret lain tanda jejak kehidupanmu dimasalalu. Aku lalu merasakanmu begitu dekat, sedekat aku meraba sprai dikasurmu. Sedekat aku memandang wajah ceria ibu dan nenekmu. Sedekat aku mampu memeluk angin yang masuk melalui pori-pori kulitku.

    Ada apa denganku? Kadang-kadang aku tidak mengerti tentang apa yang merangsak masuk dalam hati. Mengendap-endap dan terasa begitu menyayat.
Andai saja mereka tahu, andai saja aku bisa memeluk mereka erat di depan penghulu, atau barangkali aku bisa mengatakan dengan terus terang seperti dia yang dulu hendak meminangmu, mungkin dunia akan terasa lebih berbeda. Namun, aku tak bisa dan tak akan pernah bisa.
Diam adalah bahasa dimana aku bisa menyampaikan rahasia tanpa kalimat terbuka. Biar saja aku menyayangi mereka seperti ketidakmungkinan yang tak pernah bisa aku gapai. Ini adalah caraku mengobati keinginan untuk memiliki apa yang tak akan bisa dimiliki.

Ombak, karang dan kenangan..
Bahasa dan kata-kata
Surat-surat dan suara tersampaikan melalui batin ibu!
Mungkin dia tahu..
Mungkin dia tak tahu..

Aku adalah cincin yang tengah meminang kenangan,
Meminta restu pada resah dan heningnya cemburu..
Mengirim hantaran pada sudut-sudut kamar bisu

Tak akan pernah ada saksi dan penghulu
Tak mungkin ada ucapan-ucapan selamat
Tak ada berkat..
Dan mereka akan lupa begitu saja
Tentang aku yang kerap datang mengetuk pintu..

Mereka menyebutku “Tamu”
Selamanya begitu..
   


   

No comments:

Post a Comment