Selamat datang Juni. Kalau saja aku bisa kembali pada bulan Juni di tahun 2012, aku ingin mengubah keputusanku menerima dia yang kemudian menyakitiku berkali-kali, seperti virus yang aku pelihara dan kemudian menggerogotiku pelan-pelan hingga aku mati.
Dulu aku memanggilnya Jingga, cinta pertama yang menghilangkan logika secara kasat mata. Bertahan atas nama candu yang gila. Masa muda yang aku habiskan tanpa sisa. Mendewakan sosok yang tak lebih mulia dari dosa yang dibalut dengan gejolak-gejolak asmara.
Andai aku bisa kembali pada masa itu, aku akan bijaksana dalam menghabiskan masa mudaku ketika masih berusia di bawah 25 tahun. Masa-masa yang saat ini begitu aku rindukan.
Menua, itu yang paling ditakutkan oleh sebagian orang. Perubahan wajah dan tubuh yang akan terlihat dengan signifikan dan perubahan-perubahan lain yang tak akan pernah bisa kita perbaiki, kecuali perubahan kualitas diri dan pertaubatan, itu lain cerita.
19 Juni 2012 selalu aku ingat dalam kepalaku. Tanggal bersejarah di mana kemudian aku bisa jatuh cinta dengan seseorang setelah sekian lama aku menjalin hubungan tanpa ada perasaan apapun di dalamnya.
Dia dulu begitu istimewa, hingga aku sadar bahwa dia tidak sebaik yang aku kira. Dia hanya parasit yang kemudian menampakkan wajah aslinya ketika aku sudah sekarat memujanya sekian lama. Dia adalah iblis yang tak memiliki rasa iba. Dia lebih jalang dari hewan jalanan yang tahu cara berterimakasih. Dia adalah mimpi buruk yang tak ingin aku ingat-ingat lagi setelah ini.
Bulan Juni seakan mengingatkanku tentang semua rasa sakit yang dia tertawakan tanpa ada arti sedikitpun di dalamnya. Bulan nostalgia dimana aku melakukan kesalahan besar pada penghujung masa mudaku. Kini aku menyesal, namun penyesalan tidak akan ada artinya lagi sekarang. Aku tidak membencinya, namun aku tidak ingin lagi mengingatnya. Dia terlalu menyakitkan untuk diingat, tapi dia juga terlalu jahat untuk aku lupakan begitu saja.
Mawar jatuh
Dan pekaranganku dipenuhi dengan duri
Kelopak-kelopak yang layu
Dan jalanan yang tak lagi semerah dulu
Waktu terlalu singkat untukku mengingat
Terlalu padat untukku mengurai dengan jelas
Hingga kerikil-kerikil mengelabui diri menjadi fatamorgana dalam cahaya
Menghidupkan bunga-bunga, namun mematahkannya ketika mekar
Luka adalah kalender tua dimana masa muda hilang begitu saja
Sakitnya raib, namun ingatan seperti jendela yang bisa kau buka setiap pagi
Ingat lagi, mengingat dan terus teringat..
Kau bisa mengulang-ulangnya, namun tak bisa kembali
Putaran ingatan yang hanya bisa dilihat dan disesali
Pengandaian adalah cambuk yang kerap melukai hati
Goresannya adalah darah yang dulu kau amini, namun kini kau sesali berulangkali
Bulan Juni, tujuh tahun lalu..
Gerimis menamakannya rindu..
Entah denganmu!
(Sambil mendengarkan lagu-lagu Payung Teduh)
No comments:
Post a Comment