Thursday, February 27, 2020

Kolom Pertanyaan




    Tadi malam, ada seseorang yang tidak aku kenal mengirimkan email dan isinya adalah pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya pernah dia tanyakan di Ask.fm, namun tidak pernah aku jawab. Seingatku aku tidak pernah membuat akun Ask.fm, tapi sudahlah mungkin bisa saja aku lupa. Dan orang itu ingin aku menjawab pertanyaan-pertanyaan ini diblogku. Ok, sekarang aku akan menjawabnya.

    “Aku pernah membaca tulisanmu tentang sepatu dan ditulisan itu kamu menjelaskan bahwa sepatu yang kamu sukai adalah boots,  tapi seingatku tahun 2014, kamu keranjingan banget pakai sepatu sport. Nah, sekarang aku ingin tahu sepatu-sepatu sport apa saja yang kamu sukai saat ini?”

Membaca pertanyaan pertamanya membuat aku bertanya-tanya, siapakah orang ini? Karena yang aku baca di emailnya, dia memakai nama samaran dan alamat emailnya pun demikian. Dan sudah bisa ditebak kalau orang ini adalah orang yang mengenalku, entah teman, sahabat, atau mungkin mantan,haha. Oke, menjawab pertanyaannya, langsung saja aku tunjukkan dengan gambar, diantaranya adalah seri Nike Uptempo, Nike lebron, Nike Air Jordan, Nike Jordan 1 High Zoom  Fearless, Nike SB Dunk High Hornet, Nike Air Rift, Nike Lebron, Nike & Adidas Slip On, Asic Gel Lite. 













Secara keseluruhan, aku memang suka dengan sepatu-sepatu basket, meskipun aku tidak bisa bermain basket, tapi aku merasa nyaman menggunaknnya, namun untuk aktivitas sehari-hari, aku lebih banyak menggunakan sepatu slip on yang simple. Aku juga suka dengan sepatu yang unik, seperti sepatu Nike Jordan 1 High Zoom  Fearless yang aku pakai hari minggu, warnanya berubah ketika berada di bawah sinar matahari dan itu sangat unik, disamping sepatunya yang empuk dan solnya yang bagus.

Pertanyaan kedua:
    “Apa yang paling kamu sesali saat ini?”
   
    Banyak, tapi yang pasti aku telah menyia-nyiakan banyak waktu untuk hal-hal yang kemudian merugikan diri sendiri. Kalau bisa memilih, sepertinya aku ingin masuk ke dalam lorong waktu dan kembali ke masa perkuliahanku, karena ada banyak yang ingin aku perbaiki di sana, bukan soal nilai, tapi tentang hubungan persahabatanku yang telah mengacaukan semuanya.

    “Menurut kamu, apakah cinta pertama sangat penting, meskipun secara fisik dia tidak lebih tampan/cantik dari pacar kamu selanjutnya?”

    Kadang-kadang, cinta adalah bagian yang paling kita sesali saat ini, ketika cinta yang dulu kita puja ternyata hanyalah permainan dari hawa nafsu semata. Jadi, menjawab pertanyaan di atas, aku kira cinta pertama itu sangat tidak penting, begitupun dengan cinta-cinta selanjutnya, karena pada dasarnya semua hanya nafsu dan ketika kita sadar, kita telah melewatkan banyak waktu dan kesempatan, sedangkan mereka sudah berlalu begitu saja. Aku bukan pesimis ya, tapi ini adalah sebuah jawaban untuk “cinta yang salah” yang lebih banyak mempertuhankan hawa nafsu di dalamnya.

    “Apakah saat ini kamu sedang merindukan seseorang?”

    Ya, aku merindukan dia yang sudah aku anggap seperti sahabat dan saudaraku. Dia suka membaca tulisan-tulisanku dulu, tapi dia memutuskan silaturahmi karena perasaannya sendiri. Dia menjauh karena menurutnya, saat dia kembali berteman denganku, perasaannya kadang-kadang muncul lagi. Dan menurutku itu sangat konyol. Aku bahkan datang ke pernikahannya dan aku merasa bahagia, tapi kenapa dia masih bersikap seperti itu? Berarti masalah utamanya ada pada diri dia sendiri. Selain itu, aku merindukan dia yang orang-orang sebut “cinta pertama”, tapi saat ingat bahwa dia pernah selingkuh dengan teman kampusnya di Jakarta, rasa rindu itu kemudian hilang begitu saja.

    “Sepatu adalah caraku membahasakan rindu! Apa artinya kalimat itu? Apa itu berkaitan dengan usaha sepatu kamu sekarang?”

    Cinta pertamaku sangat menyukai sepatu. Awal aku bisnis sepatu adalah karena dia dan kita menjalankannya berdua, namun setelah lima tahun kita pacaran, lalu putus, maka aku melanjutkan usaha itu. Membuka toko sepatu adalah salah satu bentuk mengobati kerinduan aku terhadapnya. Melihat sepatu seperti mengingatkan aku kepadanya. Aku mungkin sangat merindukan dia, namun aku tidak pernah mengakuinya. 
Sejak 2016 sampai sekarang kita tidak pernah bertemu lagi dan berkomunikasi, sehingga sangat wajar kalau aku merindukan dia.

    “Ini pertanyaan terakhirku: Apa kamu pernah membenci takdir?”

    Mungkin saat aku berada dalam masa labil, aku pernah membencinya, tapi sekarang aku tidak membenci takdir sama sekali, karena aku sadar bahwa hidup adalah sekumpulan ujian dan ujian setiap orang berbeda-beda, sehingga yang harus aku lakukan adalah berjuang agar lolos dari ujian itu, bukan malah membencinya. Aku harus menjadi pemenang , bukan pecundang.

    Terimakasih sebelumnya telah mengirim pertanyaan-pertanyaan melalui email, semoga terjawab

No comments:

Post a Comment