Monday, February 24, 2020

Nonton Anime "CITRUS"


    Kemarin, saat seharian sibuk karena mengadakan table talk di Ngopdul dan malam harinya mengantar tante aku ke dokter, menjelang tidur aku marathon nonton anime Jepang. Well, semuanya tanpa rencana memang, karena mulanya aku tidak sengaja nonton Citrus episode satu di Youtube dan ternyata lumayan seru, nah esok harinya setelah mengadakan acara, aku jadi ingin nonton Citrus Full Episode Sub Indonesianya dan setelah menemukannya di https://otakudesu.org/anime/chitrus-subtitle-indonesia/, maka aku menyelesaikan menonton anime itu hingga episode 12. Alhasil aku tidur pada pukul setengah dua dini hari. Anime ini memang tidak bisa diterima oleh semua kalangan, tapi kalau untuk sekedar hiburan, apa salahnya? Karena akan ada selalu pelajaran yang bisa kita ambil dari apa yang telah kita tonton, itu pun tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Bagiku, segala sesuatu memang selalu memiliki nilai, jika kita bisa menyimpulkannya dengan pikiran positif. Jadi, aku tidak pernah idealis dalam memilah tontonan, selama apa yang aku tonton tidak menimbulkan efek yang negatif. Oke, mari sekarang kita membahas tentang anime Citrus yang membuat aku ingat terus dua karakternya yang sangat bertolak belakang, yaitu Aihara Yuzu dan Aihara Mei.

    Kisah ini bermula ketika Yuzu harus pindah sekolah, karena ibunya telah menikah lagi. Tanpa diduga, sekolah baru Yuzu adalah sekolah khusus wanita dan peraturan di sekolah itu sangat ketat. Yuzu yang tidak terbiasa dengan aturan, mulai bermasalah ketika ketua Osis yang bernama Aihara Mei memeriksanya ketika hendak memasuki sekolahnya. Adegan Mei yang tengah mencari handphone ini mulanya aku kira sebagai adegan mesum, karena Mei seperti tengah memeluk Yuzu dan meremas pantatnya.haha, dan hal itu juga yang membuat Yuzu kaget, sehingga wajahnya memerah, namun siapa sangka, yang dilakukan Mei hanyalah untuk mencari handphone yang ada di saku jaket milik Yuzu, dan setelah handphonenya ditemukan, maka Mei menyitanya dan berlalu begitu saja dari hadapan Yuzu.
Ini adalah adegan terpenting menurutku yang kemudian mengubah orientasi seksual seorang Yuzu. Oke, sebetulnya yang ingin aku bahas di sini adalah bukan penghakiman tentang orientasi seksual atau beberapa adegan yang vulgar, namun yang membuatku tertarik adalah beberapa kondisi psikologis manusia ketika pertama kali mendapat sentuhan, hingga kemudian jatuh cinta, itu merupakan hal yang luar biasa yang bisa mengubah kehidupan seseorang.

    Mulai saat itu (setelah Mei merazia handphone Yuzu), Yuzu marah terhadap Mei, namun dia juga mulai memikirkan Mei. Dia seperti merasakan sesuatu yang membuat pipinya memerah ketika mengingatnya. Dan ia kembali terkejut ketika pulang ke rumah dan mengetahui bahwa saudara tiri barunya adalah Mei yang merupakan cucu dari kepala sekolah di sekolah baru Yuzu. Ayah tiri Yuzu adalah orang kaya yang memiliki sekolah itu. Perasaan Yuzu menjadi campur aduk, terlebih dia harus sekamar dengan Mei, padahal sikap Mei terlihat biasa-biasa saja dan malah sangat dingin.

    Esok harinya, Yuzu memergoki Mei tengah dicium oleh wali kelasnya yang ternyata adalah tunangan Mei. Yuzu kaget dan berlari dari hadapan mereka. Mei yang melihatnya tidak ada reaksi apapun. Namun, ketika mereka berdua sudah ada di rumah, Yuzu membahas tentang kejadian Mei dicium oleh wali kelasnya dan Yuzu juga mengatakan bahwa wali kelasnya hanya memanfaatkan Mei dan kakeknya untuk mendapatkan jabatan di sekolah itu (Yuzu mengetahui hal ini ketika tanpa sengaja dia mendengar wali kelasnya berbicara dengan wanita lain di balik telepon). Reaksi Mei seperti biasa, datar, dingin, namun wajahnya menyiratkan kesedihan mendalam.

    “Aku tahu!”

Hanya itu yang diucapkan oleh Mei yang membuat Yuzu semakin tidak mengerti dengan Mei.  Tapi, Mei kemudian mendekati Yuzu, lalu mencium bibirnya. Yuzu benar-benar terkejut, wajahnya memerah dan dia semakin merasakan perasaan aneh terhadap Mei yang baru pertama kali dia rasakan. Sedangkan Mei? Dia terlihat biasa saja, dan tidak menunjukan reaksi yang berlebihan. 
Selain terkejut, di sisi lain, Yuzu juga sangat marah dalam hatinya terhadap Mei, karena Mei telah merenggut ciuman pertama yang selama ini Yuzu damba-dambakan akan sangat romantis dengan seorang pria.

    Dari sini, kita bisa melihat dahsyatnya sentuhan pertama, walaupun itu hanya sebatas ciuman, tapi efeknya untuk jangka panjang. Lihat saja sikap Yuzu setelah dicium oleh Mei, dia tidak bisa berhenti memikirkan Mei, jantungnya berdebar-debar ketika di dekat Mei, dan Yuzu juga ketagihan untuk dicium oleh Mei.

    Oya, untuk sekedar diketahui bahwa karakter Yuzu dan Mei sangat bertolak belakang. Yuzu adalah perempuan yang fashionable, suka dandan, girly, supel, tingkat percaya dirinya tinggi, serampangan, tidak menyukai hidup yang membosankan, tapi dia adalah sosok yang setia kawan, sangat memikirkan perasaan orang lain dan rela berkorban, maka dalam serial anime nya, Yuzu selalu full color. Berbeda dengan Yuzu, Mei adalah sosok yang pendiam, monoton, taat pada peraturan, smart, cool, tapi dia juga sosok yang berani, tegas, namun banyak menyembunyikan segala hal, termasuk perasaan, kesedihan dan dia selalu mengalah dalam beberapa situasi tanpa bisa mengutarakan apa yang dia inginkan sebenarnya. Mei juga adalah sosok yang rela berkorban dalam sisi diam dan misteriusnya.

    Dari perbedaan inilah, Mei dan Yuzu bak dua kutub magnet yang berlawanan namun kemudian menjadi sebuah ketertarikan. Mereka seolah mengisi kekosongan masing-masing, meskipun yang sangat ditegaskan dalam serial ini adalah bahwa sebuah hubungan terjadi bukan untuk saling mengisi kekosongan, tapi sosok Mei dan Yuzu seakan memberitahu kita bahwa mereka mendapatkan apa yang selama ini tidak ada dalam diri mereka.

    Bagi pembaca yang penasaran dengan serial ini, aku sarankan untuk menontonnya terlebih dahulu, karena di sini aku tidak akun menceritakan sinopsisnya, atau bahkan full episodenya karena kepanjangan.

    Yuzu dan Mei telah melewati batas norma, entah itu sebagai sesama perempuan, bahkan sebagai saudara tiri dalam lingkungan keluarga barunya. Pengalaman ciuman pertama Yuzu, pengalaman Mei mendapatkan anggota keluarga baru yang sangat perhatian, intensitas pertemuan mereka di sekolah dan di rumah, membuat Yuzu dan Mei kemudian jatuh cinta satu sama lain, meskipun beberapa masalah datang, entah itu dari orang-orang yang menyukai Mei, atau dari orang-orang yang menyukai Yuzu, tapi mereka tidak merubah haluan perasaannya. Mei dan Yuzu kemudian bisa mengungkapkan apa yang selama ini mereka sembunyikan, bahwa mereka saling mencintai.

    Jujur, aku suka alur ceritanya. Aku bahkan menunggu kelanjutan dari anime ini. Aku suka dengan karakter Yuzu yang penuh dengan warna dan terlihat sangat menikmati hidup, karena selama ini mungkin aku lebih mirip dengan sosok Mei yang monoton, cool, kesepian dan banyak menyembunyikan perasaan, sehingga ketika melihat karakter Yuzu, aku seperti melihat sebuah kehidupan yang sempurna dan penuh kebahagiaan. Yuzu bisa menjadi dirinya sendiri tanpa beban. Dia penuh dengan rasa percaya diri, bisa tertawa dengan lepas dan dia sangat polos, namun memiliki pendirian yang kuat. Aku suka dengan sosok Yuzu, karena sepertinya aku tidak bisa hidup seperti itu. Hidupku cenderung membosankan seperti Mei, memendam banyak perasaan, beban masalalu dan aku melihat hidup seakan penuh dengan kesedihan, seperti binar-binar airmata yang sering terlihat dimata Mei, maka seperti itulah aku.

    Apapun itu, anime ini sangat menghibur bagiku, di tengah-tengah aktivitas yang padat dan membosankan. Jadi bagi pembaca yang sedang penat, kesepian dan ingin sedikit melihat tontonan yang berbeda, maka Citrus bisa jadi pilihan.
   
    Relationship arent’t Games! Don’t think of them in such cheap concepts as winning and losing (Hubungan bukan Game! Jangan menganggap mereka dalam konsep murahan seperti menang dan kalah).
-Yuzu lecturing Matsuri, in Chapter 12




No comments:

Post a Comment