Saturday, February 29, 2020

MENGUBAH KEBIASAAN




    Masih di depan layar handphone berukuran 6,53 inci, dengan handsfree terpasang ditelinga, mataku tidak bosan-bosannya menonton anime itu lagi dari episode satu. Ini bukan kali pertama aku menonton sesuatu secara berulang-ulang. Pernah sebelum ini aku keranjingan salah satu drama saeguk Korea yang menceritakan tentang seorang pelukis pada jaman Dinasti Joseon, lalu aku juga hanyut dengan film yang diangkat dari kisah nyata yang menceritakan kisah seorang model dunia yang terkena AIDS di Amerika, dan terakhir aku menyukai serial Mandarin di jaman Dinasti Song. Tidak ada yang aneh dengan film, drama, serial atau anime itu, tapi yang membuatku heran hingga detik ini adalah aku selalu menontonnya berulang-ulang, ketika sebuah tontonan begitu menyentuh perasaanku. Dan setelah menontonnya, aku seakan hanyut ke dalam alur cerita film yang telah aku tonton. Setelah sadar akan hal ini, aku berusaha untuk mengubah kebiasaanku, karena aku pikir aku akan kehilngan banyak waktu jika kebiasaan ini terus dilakukan.

    Belum lama ini, aku membaca sebuah buku yang sangat bagus, berjudul “The Power Of Habit” karya Charles Duhigg. Di dalam buku itu dijelaskan tentang pentingnya sebuah kebiasaan dalam mempengaruhi kehidupan kita. Pernah suatu ketika seorang kakek kehilangan sebagian ingatannya. Dia bahkan tidak bisa menggambarkan denah rumahnya. Dia juga tidak mengetahui di mana letak kamar mandinya. Namun, ketika dia ingin buang air, dia tiba-tiba berjalan ke kamar mandi, padahal baru beberapa menit yang lalu dia lupa di mana kamar mandinya berada. Sang kakek tua juga pernah tiba-tiba membuat istrinya khawatir, ketika suatu pagi, sang istri tidak melihatnya di rumah. Nenek itu kemudian mencarinya kemana-mana. Dia khawatir kalau suaminya tidak bisa pulang karena tidak ingat tempat tinggalnya. Namun, alangkah terkejutnya nenek itu, ketika dia sampai di rumah, dia mendapati suaminya tengah menonton TV.
Dari kejadian ini, seorang peneliti kemudian mengetahui bahwa kakek tersebut bisa mengetahui kamar mandinya di mana dan juga pulang ke rumah tanpa tersesat karena adanya kebiasaan yang berulang-ulang, sehingga tanpa disadari, otak akan dengan mudah menujukkan jalan yang telah terekam di alam bawah sadarnya.

    Hal serupa terjadi pada seekor tikus yang dijadikan objek penelitian, di mana seekor tikus itu di masukan ke dalam sebuah lorong yang di sudut lorong itu disediakan cokelat. Pada awalnya, otaknya bekerja keras untuk bisa menemukan cokelat itu. Tikus terus mencari ke berbagai sisi tanpa lelah, karena bau cokelat itu membuat lelahnya hilang begitu saja. Dan ketika tikus kemudian menemukan cokelatnya, maka ada yang terjadi di dalam otaknya, ada sebuah kepuasan yang mampu mengganti energinya yang hilang karena berusaha mencari cokelat untuk pertama kalinya.
Pada hari-hari selanjutnya, tikus bisa melakukan kegiatan mencari cokelat itu dengan lebih cepat, tanpa kendala dan energi yang dia keluarkan juga tidak terlalu banyak. Tikus bisa menemukan cokelat itu karena adanya kebiasaan yang berulang-ulang, sehingga tanpa dia sadari, dia bisa menemukan apa yang dia cari tanpa perlu bersusah payah berpikir dan mencari.

    Belajar dari beberapa kasus yang ada dalam buku ini (Ada banyak sekali, termasuk kisah pemilik Starbucks, dll), kebiasaan adalah sebuah ukuran yang bisa menentukan kesuksesan seseorang. Bagaimana tidak, sebuah kebiasaan yang buruk jika dilakukan terus menerus, maka kebiasaan tersebut akan mengambil alih bagian di dalam alam bawah sadarnya dan kemudian secara perlahan kebiasaannya menjadi identitas dari orang yang bersangkutan.
Betapa mengerikannya ternyata sebuah kebiasaan secara tidak langsung membentuk pola perilaku kita selanjutnya.

    Kembali kepada kebiasaanku menonton film secara berulang-ulang, sebetulnya aku tidak setiap saat menonton film, karena aku melakukannya jika ada waktu luang, dan kebanyakan adalah ketika menjelang tidur. Tapi, ketika aku menggali kebiasaanku ini lebih jauh, ternyata aku menghabiskan waktu untuk menonton, ketika aku mengalami beberapa kondisi, diantaranya adalah ketika sedang menstruasi (tidak shalat dan suasana hati berubah-ubah), ketika kesepian, dan ketika terlalu banyak pikiran di kepala (entah tentang bisnis atau tentang apapun). Dari sini, aku bisa menarik kesimpulan bahwa aku menonton hanya untuk mengalihkan suasana hati yang sedang aku rasakan. Dengan tontonan yang pas, aku seakan bisa meluapkan apa yang aku mau, namun tidak bisa terwujud dalam kehidupan nyata. Yang aku dapatkan dari menonton adalah sebuah perasaan puas dan lega yang tidak bisa aku temukan dengan kegiatan lain (dalam kondisi tertentu). Aku kemudian sadar, bahwa aku harus mengganti kebiasaan itu dengan sebuah kebiasaan yang bisa memberikan  rasa puas yang sama, dan jawabannya adalah dzikir.

    Aku sudah mengetahui hal ini sejak lama, betapa dzikir bisa memberikan ketenangan lebih besar dibandingkan ketika menonton. Tapi aku tidak menjadikannya sebuah kebiasaan, sehingga dzikir tidak otomatis aku lakukan ketika suasana hati sedang penat dan jenuh.
Aku kemudian memilih istighfar sebagai dzikir yang aku sebut setiap saat, sebab aku sadar bahwa dengan istighfar, dosa-dosa juga bisa terampuni.

    Istighfar memang sungguh dahsyat, karena ketika bersitighfar selepas wudlu, aku bisa melakukan muhasabah diri, mengingat kesalahan-kesalahan di masalalu, dan aku juga bisa berpikir ulang ketika ingin melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat.
Ternyata mengubah satu kebiasaan saja bisa mengubah banyak hal dalam hidup kita. Maka dari itu, sebaiknya kita bisa mengubah kebiasaan yang tidak baik secepatnya, sebelum kebiasaan itu mengubah jati diri kita dimasa depan.

    Sekarang aku bisa bernafas dengan lega, karena dorongan kuat dan obsesi diri untuk menonton sesuatu yang begitu menyentuh perasaan secara berulang-ulang bisa aku alihkan dengan istighfar. Dan alhamdulilah aku mendapatkan ganjaran berupa rasa tenang dan damai yang jauh lebih besar dibandingkan ketika aku menonton film.

"Kebiasaan itu kuat, tetapi halus. Mereka dapat muncul di luar kesadaran kita, atau dapat dirancang dengan sengaja. Kebiasaan sering terjadi tanpa izin kami, tetapi dapat dibentuk kembali dengan mengutak-atik bagian mereka. Mereka membentuk hidup kita jauh lebih dari yang kita sadari — mereka begitu kuat, pada kenyataannya, sehingga menyebabkan otak kita melekat pada mereka dengan mengesampingkan semua hal lain, termasuk akal sehat. ” - Charles Duhigg

No comments:

Post a Comment