Menyeduh kembali waktu. Februari, hujan dan sisa gerimis yang tertinggal di atas payung kerinduan. Aku masih duduk memandangi malam yang basah. Malam tanpa judul-judul puisi yang membuncah di atas palung kenangan.
Aku adalah pengingat. Perekam jejak dari beberapa pasang kaki yang kerap berteriak tentang jarak. Andai saja aku bisa mendalami hujan dan mengerti tentang keruhnya perasaan, mungkin aku tak akan mengulang-ngulang kenangan yang telah dengan sukarela duduk di atas pelaminan.
Mereka memadu kasih di atas langit. Mengulum kebahagiaan diantara lentera-lentera yang terluka oleh lara. Dan aku kerap menengadah ke atas langit untuk melihat awan menjatuhkan ceritanya tentang rasa sakit.
Aku memeluk petir, menikmati melodi dari batas-batas kidung yang kini terhenti oleh mendung. Kenapa Februari menyakitiku dengan pedang sepi? Menghadiahiku album yang tak bisa sekalipun memberi senyum.
Waktu memaksaku berhenti! Dan angin menghempaskan setia pada bilik sunyi yang tak pernah mereka tengok sekali lagi. Tapi, aku masih saja menunggu di depan gelas-gelas bertinta emas. Memainkan ranting-ranting kering yang dulu melingkar diantara jemarinya yang bening. Aku merindukannya.
Aku melihat mereka setiap hari, pada lirih yang bertepuk tangan di atas rangkaian upacara adat. Bajunya, wanginya dan kembang-kembang melati yang kerap menandakan bahwa dirinya kini telah dimiliki. Aku melihat sepasang pengantin, berjalan diantara sunyi tempatku meratapi diri sendiri.
Dulu, aku dinamakannya harapan, buncahan yang dirapalkannya setiap malam. Aku adalah surat-surat yang dia simpan di dalam saku kenangan. Akulah lukisan yang mulai pudar oleh debu dan tinta-tinta para pendatang baru. Aku telah dilupakannya begitu saja, begitu mudah.
Pada tulisan-tulisan ini, aku tengah memperlihatkan rasa sakitku sendiri. Mengeja dengan terbata-bata huruf-huruf yang aku rangkai utuh sebagai tragedi. Menuangkan peluh yang tak pernah bisa dimengerti oleh sepasang hati yang tengah memadu kasih. Aku menikmatinya, mengenang hujan tanpa ada satupun sapaan hangat dari malam.
November telah pergi dan kini aku menikmati jalanan basah di bulan Februari. Apa kabar hati?
Aku masih saja patah hati..

No comments:
Post a Comment