Bagaimana rasanya memiliki sayap? Bagaimana rasanya terbang melintasi pagi dan membangun harapan dari anyaman jerami yang dianyam sehelai demi sehelai di atas ranting pohon? Bagaimana rasanya bebas, sedang taring-taring malam tengah bersiap-siap untuk mencengkrammu?
Masih sebagai penonton, aku menikmati alur yang disajikan pagi setiap hari. Aku memeluk malam, terjaga dalam gaduh yang tak pernah selesai aku mainkan dalam spasi.
Kenapa hari-hari menjadi lebih asing daripada belasan tahun yang lalu? Kenapa secepat ini denting waktu mengubah haluan harapan yang lebih dahulu aku sapa dimasalalu?
Aku membacanya berulang-ulang, kalimat-kalimat pengandaian yang terjebak di batas relung penyesalan. Ada apa? Sepertinya pondasi-pondasi yang dulu berdiri tegak, kini mulai rapuh dimakan rayap. Tawa itu, bising yang tengah mengirimku pada jurang rasa sakit. Sebut saja hari ini adalah apa yang tak pernah aku pikirkan dahulu. Lompatan dari angka-angka yang masih menyala di atas lilin usia. Garis wajah dan simetrisnya yang mulai tak sama. Lekuk tubuh dan pesonanya yang mulai pudar oleh masa.
Kita tak akan lagi sama, seperti sebutan dan panggilan yang layak aku sebut sebagai petir dari neraka. Aku tak pernah menginginkannya. Hidup telah memperjelas di mana sekarang kita berada, di batas mana!
Aku merasa kalah oleh rasa takutku sendiri. Rasa asing di mana dunia telah berbeda dari apa yang aku lihat dulu. Kenapa sekejam ini putaran waktu menari dalam tariannya? Kenapa gravitasi telah mengendurkan harapanku untuk tetap berjalan dengan sebutan “muda”?
Kesedihan itu, tawa yang sengaja dikemas agar orang-orang tidak merasa iba. Jalanan yang kusut, dan khayalan-khayalan manis menjadi satu-satunya jalan pintas untuk menghibur hati dari kenyataan yang tak pernah habis-habisnya menyayat diri.
Riak-riak air dan kerikil yang jatuh di atas bukit masih bisa aku dengar dengan sangat jelas. Suara-suara tangisan bayi yang kini menjadi mainan baru teman-teman sebayaku, mengingatkanku akan waktu yang terus melaju tanpa pernah bisa untuk menunggu.
Kamar-kamar kosong itu, tempat di mana dulu kita berdesak-desakan setiap malam, kini lengang oleh kata-kata kiasan dan debu rindu.
Kakak!
Adik!
Dan semua anak-anak itu, kini telah dengan sukarela menjelma menjadi “Ibu”.
Sedang aku? Aku tertinggal jauh dari gerakan roda para pemimpi. Aku telah melintasi bukit, menaklukan angin, dan meneduhkan panas mentari, namun saat aku kembali, tidak ada satu orang pun di sana. Mereka telah pergi dan aku tidak bisa kemana-mana.
Aku tertegun, memegang kalender yang aku kira masih berjalan, namun ternyata telah berlalu. Ini adalah kalender belasan tahun yang lalu dan aku masih terjebak di dalamnya.
Jari-jari tanganku bergetar, jantungku berdegup dengan cepat. Aku terdampar di lorong ini!
Aku hanya bisa menuliskannya. Gaduh yang bersuara dalam hati. Tangisan yang terjebak di koridor waktu dan sunyi yang seringkali memperlihatkan kehampaannya pada langit.
Dan kini cermin bahkan dapat berterus terang kepada laba-laba yang masih bertengger di sarangnya. Dia mengatakan bahwa penyangga di dinding itu telah retak, dan sebentar lagi dia akan pecah.
Ada bagian dari waktu yang tidak pernah bisa aku sentuh. Aku hanya mampu melihatnya dari jauh dan menghidupkannya dalam lorong-lorong khayalan, tanpa ada satu pun pemain yang aku kenal di dalamnya. Aku adalah penikmat imajinasi yang tertidur pulas diantara lalu lalang orang-orang yang kerap berterus terang akan hati dan puisi. Aku adalah seekor kupu-kupu yang tertinggal dari kawanannya yang kini telah terbang tinggi. Aku masih saja bergelut dengan daun, rumput dan embun pagi, sedang mereka telah menembus batas awan dan melukiskan betapa indahnya pelangi.
Aku masih di sini, diantara sekumpulan ulat yang baru saja memiliki sayap. Mereka berbicara dengan bahasa yang tidak mampu aku mengerti. Mereka terbang dengan sayap warna-warni yang tidak aku miliki. Dan kini aku menjadi asing di tempat kelahiranku sendiri. Aku tak kuasa menghijau lagi bersama rumput, atau bermekaran bersama bunga-bunga di musim semi. Aku tak mengenali semua yang aku lihat kali ini!

No comments:
Post a Comment