Ada yang menamakan dirinya senja, ketika malam baru saja mengatupkan kelopaknya di bawah nirwana. Langit memucat dan jam dinding berlarian mematuk hening. Tinggal satu putaran lagi, dan lembaran keajaiban akan melepaskan tudung kepalanya. Ada riak-riak cemas berkerumun di atas sajadah. Melafalkan rasa takut yang berkejaran di setiap titik sujud.
Aku takjub memandang isi langit. Ada lembaran-lembaran noktah sejarah bercerita kepada sejumput rasa putus asa. Kisah ketika Ibrahim menolak bantuan Jibril tatkala dirinya hendak dibakar hidup-hidup. Kisah ketika Musa menengadah ke atas langit tatkala hamparan laut mulai menjumpai barisan umatnya yang tertindas.
Ada kobaran rasa yakin berpijar di dalam dada Ibrahim. Ada tekad menyala diantara kedua mata Musa. Mereka menghamba kepada Sang Pemilik Jagat Raya. Mereka berserah kepada Sang Maha Rahman dan Rahim. Mereka telah menang pada babak di mana seharusnya rasa takut menjajah diri.
Berjalan bersama barisan para nabi, mataku lantas berkaca-kaca. Dzikirku hanya pemanis bibir yang dilantunkan berulang-ulang tanpa rasa yakin. Shalatku ibarat gerakan-gerakan tak bernyawa yang hanya mementingkan bilangan rakaat tanpa rasa taat. Muhasabah dan tangisan malamku hanyalah drama yang dimainkan ketika putus asa mencekik kelamnya lara.
Aku kehilangan “ruh” dimana aku biasa bermunajat penuh kepada-Nya.
Lalu, dimanakah aku bisa menjumpai-Nya malam ini? Sedang batinku masih saja dipenuhi rasa takut kepada makhluk.
Dimanakah iman aku letakkan saat ini? Apakah iman hanya aku sisipkan diantara kalimat syahadat yang entah kapan terakhir kali aku ucap? Apakah iman hanyalah identitas yang bisa dengan mudah mereka lihat hanya dengan membaca KTP? Apakah iman selemah itu? Atau justru akulah yang masih belum beriman?
Ada banyak teka-teki di dalam isi kepalaku. Ada gaduh yang jelas-jelas menampakkan diri saat ini. Harus bagaimanakah aku berjalan lagi? Haruskah aku menelan jam dinding itu bulat-bulat? Agar waktu bisa berhenti tepat di atas jantungku yang telah letih berdegup dengan cepat. Dimanakah aku bisa mengunci hidup? Dan memetik rasa damaiku sendiri tanpa perlu meminjamnya.
Bicaralah! Aku sedang tidak baik-baik saja. Rona-rona senja mulai luput dari hadapan mata dan malam akan segera menemuiku sesaat lagi. Aku takut menjemput pagi. Aku tidak mau memeluk fajar dan menyambut bulan baru diantara tekanan hidup.
Kenapa hati menjadi serapuh ini? Padahal masih ada sedikit sisa yakin yang aku endapkan di bawah terang bulan.
Mereka tak pernah tahu, ada benang kusut yang belum selesai aku rapikan untuk memintal baju. Mereka tak pernah tahu, ada jam-jam malam yang kerap kali mencekik rasa takutku untuk melihat esok hari dengan wajah berseri-seri. Mereka tak pernah tahu dan mungkin tak ingin tahu bahwa separuh nyawaku berada di bawah galian tanah.
Tuhan, aku ingin Kau memelukku sekali lagi! Aku ingin Kau menceritakan tentang megahnya alam semesta dan rumitnya otak manusia! Aku ingin Kau meneriakiku dan berkata bahwa ubun-ubun setiap manusia berada ditangan-Mu! Aku ingin Kau menumbuhkan kembali rasa yakin itu dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja!
Tuhan, terimakasih! Terimakasih telah mengajariku cara menjemput malam dan berkenalan dengan pagi.
Tuhan, beri aku keajaiban tanpa harus tersesat pada pertikaian waktu!
Beri aku kepastian tentang akhir dari gelisah dan resah!
Beri aku keberanian untuk merebut kembali harapan!
Beri aku kehidupan tanpa beban!
Beri aku kemenangan!
Kedamaian!
Kebahagiaan!

No comments:
Post a Comment