Kemarin badai datang di tengah gagap gempitanya bahagia. Wanita dengan hijab dan helm yang masih dipakai dikepalanya dengan tergesa-gesa memesan banyak sekali sepatu dan tas. Aku dan ibu sampai kewalahan menyiapkan pesanannya, menjawab pertanyaannya seputar harga dan juga tawar menawar dengan dalih dia akan menjadi reseller. Perasaan siapa yang tidak senang, ketika uang hampir terkuras oleh biaya rawat inap Rumah sakit Santosa, lalu tiba-tiba ada pembeli datang dan hendak membeli banyak sekali sepatu?
Ucapan subhanallah terus terucap dibibir ketika sepatu-sepatu itu dihitung dan dimasukan kedalam dus. Baru satu jam yang lalu sebelum pembeli datang, saudaraku yang bekerja di RS Santosa memberitahu harga obat yang harus dibeli nilainya jutaan dan aku langsung membayarnya karena obatnya harus diminum malam ini juga. Betapa kalutnya pikiran ketika setelah ini ada beberapa tahap proses penyembuhan yang harus dijalani, seperti operasi dan cuci darah, sedangkan BPJS tanteku baru selesai pada tanggal 20 Maret (karena diubah dari BPJS PT ke Mandiri dan sudah berhenti ketika keluar bekerja pada bulan Agustus 2019).
Aku mengira kedatangan pembeli ini adalah sebuah keajaiban. Wajahku berseri-seri di tengah rasa lelahnya malam kemarin. Tapi, belum selesai sepatunya dimasukan ke dalam karung, pembeli tersebut meminta ijin membeli ayam goreng terlebih dahulu dan aku mengijinkannya karena letak tempat ayam gorengnya adalah di samping toko sepatuku. Tidak ada kecurigaan sedikitpun ketika dia masih belum kembali ke toko karena sebelumnya dia berkata bahwa akan makan ayam gorengnya di tempat dan dia juga hendak memindahkan motornya karena hujan.
Satu jam kemudian, ketika ibu meminta uang untuk membeli ayam goreng, aku kaget karena dompetku tidak ada. Setelah isi tas dikeluarkan semua, ternyata hp Vivo lamaku juga tidak ada. Aku dan ibu panik, lalu kita mendatangi pedagang ayam goreng dan wanita tersebut tidak ada dan tidak pernah membeli ayam goreng.
Setelah menutup toko, aku berangkat ke Polsek dan pulang sekitar pukul 00.00. BAP dijadwalkan hari rabu karena polisi khawatir aku kelelahan.
Sepanjang jalan, aku menahan diri untuk tidak menangis. Aku bukan menangisi uang yang ada di dompet, tapi HP dan Flashdisk yang aku simpan di dalam dompet sungguh menyimpan banyak data penting, dan bukan hanya itu, di dalamnya banyak sekali foto-foto kenangan yang tidak pernah aku upload ke media sosial. Aku takut data-data tersebut disalah gunakan, karena di HP tersebut ada banyak data penting milik orang lain juga, tapi yang paling aku syukuri, ada beberapa data yang aku masukan ke dalam brankas file.
Di tengah musibah ini, aku masih bisa bersyukur, karena dua HP ku (HP Vivo yang baru dan HP Outdoor) dan tempat kartu (KTP,STNK,NPWP,ATM,Kartu Kredit, Kartu Asuransi, dll) masih ada di dalam tas. Meskipun, sewaktu-waktu aku masih saja bersedih karena kehilangan banyak sekali moment berharga yang tersimpan di dalam HP yang aku abadikan sejak 2017. Moment di masalalu yang tidak mungkin bisa aku alami kembali. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Mau tidak mau, aku harus belajar ikhlas di dalam menerima kejadian ini. Aku sangat berterimakasih kepada keluarga dan teman-teman yang membantuku sejak malam kemarin. Semoga pencuri tersebut segera diberi hidayah dan kelimpahan rezeki agar dia bisa menghentikan kebiasaannya dalam mencuri dan mengubahnya dengan mencari rezeki yang halal. Aamiin.
Hening datang ketika lelah terlambat menyambut dengan berdiri..
Kesadaranku hilang, sampai malam berlari menjemput dini hari!
Jam delapan malam dan mimpi buruk baru saja dimulai!
Aku mengemas kepanikanku!
Dan dia bertepuk tangan dalam kemenangan!
Aku panik!!
Sekali lagi panik!!
Sebab apa yang dulu tersembunyi
Kini mulai bisa diendus pagi..
| Foto pencurinya (Saat aku merekam video dan dia tidak sadar, lalu videonya aku screnshoot) |

No comments:
Post a Comment