Friday, March 6, 2020

LEDAKAN KEAJAIBAN


    Di atas ranjang itu, tubuh-tubuh terbaring tak berdaya, wajahnya pucat, dengan jarum infus tertancap ditangannya. Ini hari ketiga aku berada di RS Santosa dengan sekelumit cerita di dalam kepala yang tidak habis-habisnya selesai begitu saja. Di depanku terbaring seorang ibu dengan semangat hidup yang luar biasa tinggi, ia sedang di kemoterapi. Ia sudah menang melawan rasa takutnya akan operasi, kemoterapi dan berbagai proses penyembuhan lainnya yang akan kau temui di setiap tempat dengan nama rumah sakit.

    Aku sudah terbiasa dengan “proses”, dengan perjuangan yang tak lelah aku jalani sejak masuk sekolah dasar. Dan aku tahu bagimana rasanya terasing dalam kebisingan harap dan gaduh yang seringkali mereka sembunyikan di balik layar. 
Sesaat aku melihat wajah-wajah bertopeng manis menampakkan kepalsuan itu. Tangan-tangan yang masih saja enggan untuk menggenggam dan hati yang juga kerap iri dengan sebuah pencapaian diri.

    Aku sedang bernostalgia dengan drama yang tahun lalu tertulis dalam diariku. Masa kecil yang kadang-kadang menjadi cuplikan dari lamunan pahit tempatku memintal rasa sakit. Runtutan tragedi yang masih saja mengendap dalam ingatan, namun aku lepaskan satu persatu dari rumah “perasaan”.

    Bukan aku yang kini terbaring di ranjang itu. Bukan aku yang kini tak berdaya menunggu  tetesan demi tetesan cairan infus yang masuk ke dalam tubuh. Bukan pula aku yang harus berdamai dengan rasa takut ketika mendengar kata “operasi” dan “cuci darah”.
Tapi, peranku kali ini hanyalah sebagai pejuang rupiah ketika kartu sakti bernama “BPJS” miliknya tak bisa mengulurkan tangan dan bersalaman dengan bagian administrasi rumah sakit. Ketika masa tunggu 14 hari menjadi terlalu lama untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Ketika kartu sakti itu hanya bisa mampir lagi setelah masa tunggu 14 hari, maka dengan ucapan “bissmillah”, maka aku berdiri di barisan paling pertama untuk menolongnya.

    Ada tatapan sinis dari beberapa pasang mata yang memelukku dengan sandiwara terhebat dan ucapan “terimakasih”. Ada pula doa-doa ikhlas yang diberikan dengan bingkisan syukur dan lukisan kebahagiaan. Semua bersatu menjadi melodi dengan not-not yang berbeda untuk  menghasilkan sebuah lagu. Aku menikmati setiap alunannya. Aku terharu dengan skenario hidup Sang Pemilik Kehidupan. Aku kembali mengenal-Nya lewat kejaiban-kejaiban yang dipertontonkan malam kepada rasa putus asa. Aku kembali melihat kasih sayang-Nya.

    Di tengah kekalutan pikir pada malam yang begitu sunyi, aku lalu mendapati pagi menghampiriku dengan sekelumit masalahnya yang harus segera dipecahkan. Aku menatap hening yang tergesa-gesa hendak merenggut nyawa. Aku melihat semuanya sebelum keajaiban datang memberikan segelas penawar hidup.

    Aku semakin mengerti tentang apa itu “kasih”. Aku menjadi paham, kenapa “yakin” bisa menyalakan cahaya pada malam yang gelap gulita. Aku tak ingin lagi membelakangi dan meninggalkan-Nya yang sampai detik ini merindukanku di ujung senja tanpa batas.
Aku pun kini merindu-Nya. Rindu yang tak pernah Dia sela karena “terlambat”. Rindu yang tak pernah Dia acuhkan karena pernah “berkhianat”.

    Aku ingin memeluk-Nya lagi di tengah ledakan-ledakan keajaiban. Aku ingin Dia merasakan debaran jantungku dan gagap gempitanya hati yang mendapati rahmat datang melimpah ruah. Aku ingin Dia melihat rasa syukur yang memenuhi isi kepalaku. Aku ingin Dia kembali berlari ketika aku datang kepada-Nya dengan berjalan. Aku ingin kerinduan ini menetap selamanya dalam perasaan. Aku ingin memberikan kado “terimakasih” dengan sujud-sujud malam yang tak sekedar gerakan penggali “pahala”. Aku ingin memberi pelukan rasa sayang dengan perut-perut kelaparan yang tak meminta imbalan syurga. Aku ingin memberikan rasa hormat dengan uluran-uluran tangan kepada dhuafa yang tidak bertopengkan “riya”. 
   
    Aku ingin memulai lagi semuanya, di atas sajadah yang dulu aku gadaikan di dalam istana kemaksiatan. Aku ingin memulainya kembali, sebelum malaikat-malaikat-Nya memaksaku pergi dari hingar bingar dunia malam. Aku ingin kembali dan belajar pelan-pelan untuk mengerti bagaimana cara “mencintai”.





No comments:

Post a Comment