Memegang bulan di atas pundak langit, pada purnama yang tengah menggenapi cahayanya dalam ayunan mendung. Aku terbelalak, menimang apa yang telah dipinang oleh malam. Cahaya, silauan yang memancar di balik jendela kaca. Kenari, aku menjatuhkan namanya diantara bilik rahasia. Membuatnya berkicau pada dahan dan ranting-ranting tersembunyi di dalam gua. Hasrat umpama rindang dedaunan dan kicauan mesra burung-burung yang tengah berkelana.
Sayup-sayup menorehkan cerita pada jalanan tempat ilalang memadu rekah dengan daun-daun senja. Pada sebait kata-kata tempat angin memayungi langit berwarna jingga. Aku tengah mengagumi barisan awan yang berarak. Meneriaki sejumput harapan yang masih saja kalah oleh resah. Seperti senyap yang masih berdiri di atas palung rindu, aku pun beku.
Burung-burung masih saja berterbangan dengan leluasa. Mereka menjumpai rasa pada koridor yang bisa terlihat oleh setiap pasang mata yang memandangnya. Mereka memadu kasih pada bulan purnama yang bertandang di depan teras pagi. Menjemput setitik harapan yang dititipkan matahari di atas petala langit. Bahagia, seperti alur dongeng yang mengisahkan cerita manis sang putri raja.
Kenari, hujan kali ini terdengar begitu sendu. Siluet gerimis tak bisa lagi bersalaman dengan damai yang tak pernah bisa dibeli dua kali. Di balik sangkar yang begitu sangar, kebebasan terpenjara lebih awal. Senja memisahkan harapan dari takdir yang telah ditulis Tuhan. Aku patuh, meski hatiku runtuh.
Kenari, ajari aku berkicau dengan lebih lembut. Ajari aku memahami tentang kerumunan rasa yang meronta-ronta di depan pagar rahasia. Ajari aku untuk mengerti, kenapa aku berbeda dengan panas matahari dan kenapa aku tak sama dengan terang bulan. Ajari aku untuk bisa duduk di tempat seharusnya aku bersemayam.
Hujan mengakhiri bulan Maret dengan pukulan begitu kejam. Mengelabui sakitnya dan merampas tenang yang mulai terbiasa menghilang dalam diam. Dan esok akan datang begitu saja, menelurkan makian atau tarian pertolongan. Seperti bahasa senja yang seringkali diutarakan dalam doa. Kenari, aku butuh harapan. Aku perlu tangan-tangan Tuhan. Aku terlalu kecil untuk bisa menaklukan rasa takutku menjemput bulan baru di atas jurang kematian. Aku butuh jawaban, keajaiban..

No comments:
Post a Comment