Tuesday, February 28, 2023

Karang Hujan

 



Pernahkah kamu menapaki jejak pelangi yang jatuh di atas laut? Mengenali biasnya pada gulungan ombak yang menghantam karang?

Dan kepada pasir yang pernah menyimpan jejak-jejak kaki tanpa nama, pernahkah kamu mengingat, berapa banyak rindu yang terkubur di sana? Tertidur dalam waktu yang tak akan pernah bisa mengulang lagi pada halaman pertama kita berjumpa.


Ada banyak narasi warna yang tidak bisa aku utarakan pada waktu. Goresannya adalah Bahasa hati yang bergerak dalam dimensi warna warni. Kamu tahu, berapa banyak abjad yang berlari di balik matahari? Meredam pijaran panasnya untuk kemudian mendingin dalam pelukan malam sang rembulan.

Sudahkah kamu mengingat, berapa banyak judul puisi yang hanyut dalam derasnya kehilangan tatkala dua pasang kaki tidak bisa berjalan beriringan?


Melodi-melodi terus berputar dikepala dan resah gelisah berlari bersama mengunci palung jiwa. Sungguh hujan telah kembali pada teras-teras asing tempat sunyi mengenalkan diri. Pada sudut paling gelap dimana rasa terus saja menggaungkan kalimat-kalimatnya tanpa rahasia.


Aku suka bercerita kepada rintik hujan. Pada basahnya airmata ketika mengenang kehilangan. Dan kepada genangan air yang kemudian menjadi keruh, aku bercerita bahwa semua yang keruh pernah bening pada mulanya. Bahwa kesedihan diawali oleh senyum tawa. Bahwa kehilangan adalah langkah terakhir dari cinta. Bahwa ada yang pernah indah dibalik duka.


Malam mengajariku banyak hal tentang kepergian. Tentang apa yang tidak bisa bertahan dalam badai rintangan. Tentang matahari tenggelam yang tidak menyisakan harapan layaknya matahari terbit. Tentang “memiliki” yang tidak bisa termiliki. Tentang kenangan yang tetap menjadi kenangan dan bukan “surat undangan”.


Inilah aku, karang hujan yang masih dihantam ombak kehidupan. Berputar-putar pada arus yang sulit aku hentikan. Bimbang akan tujuan, berlari ke depan atau berbalik arah. Bersujud pada-Nya, tapi hati masih terbagi-bagi. Munafiknya aku kali ini, memilih Tuhan tapi tak beriman.


*Tak beriman = Tidak 100% total mencintai Tuhan (masih mencintai makhluknya secara berlebihan).


Sunday, February 26, 2023

Surat Untuk Ombak

 



Sudah sangat lama, sejak terakhir kali aku duduk diam menatap kekosongan di depan mata. Hening yang sejatinya adalah gambaran dari sesuatu yang hilang dari balik rasa. Kau tahu? Aku sudah memetik banyak bunga indah setelahmu. Memajang koleksi kupu-kupu cantik, dan membiarkan kumbang-kumbang juga datang untuk menerangi gelapnya hati. Ada banyak “gemerlap cinta” di balik palsunya senyuman itu. Namun, “ruang” terasingku semakin menganga dalam kekosongan yang tidak pernah bisa aku mengerti.


Ada banyak nama dalam daftar kata “setiaku”. Nama-nama yang aku urutkan satu-satu dalam catatan masalalu. Jingga, Biru, Cina, Sunda, Merah dan Abu-abu, hingga mungkin Mejiku Hibiniu. Semua berjejer di depan pintu rasaku yang riuh ricuh. Sampai aku kadang-kadang lupa untuk menandainya sebagai rindu.


Aku terlalu bangga dengan banyak kelap-kelip rasa disekelilingku. Koleksi-koleksi keindahan yang sejatinya hanyalah fatamorgana yang aku rindukan dari masa kecil yang abu-abu. Pelukan, perhatian dan kecupan yang hilang pada fase dimana seharusnya aku tumbuh dalam kasih. Aku lalu haus akan apa yang hilang dimasa itu. Aku mengejarnya, hingga lupa untuk membingkai sebuah komitmen dalam rumah tangga. Aku tidak menyukainya.


Aku mungkin tumbuh dengan membawa banyak luka, hingga aku takut untuk percaya bahwa aku akan “baik-baik” saja jika kelak aku mengarungi bahtera yang tidak searah dengan apa yang ingin aku tuju. Aku tidak mau “melangkah” pada jalan yang tidak pernah aku pilih. Aku ingin memilih bahagiaku sendiri. Tersenyum dengan banyak kenangan manis dan bunga-bunga mekar yang sebenarnya hanyalah siluet-siluet palsu yang aku mainkan di balik layar kesepian.


Biru, diantara semua warna itu, kini aku tengah merindukanmu. Kau yang memanggilku biru, namun kini aku yang mengenangmu sebagai biru dihatiku. Warna lain yang mengisi buku harianku yang saat itu mendung dan kelabu. Aku mengenangmu bukan dari apa yang terlihat oleh mata, layaknya banyak kupu-kupu koleksiku, namun aku memahatmu dalam rasa tanpa rupa. Mungkin karena itulah aku tak pernah bosan mengingatmu, meski kadang-kadang memang benar-benar “kasih” yang aku rasakan, tanpa adanya sensasi kupu-kupu diperutku.


Aku selalu nyaman dengan percakapan-percakapan kita yang terbatas. Kalimat-kalimat murni yang memang kau kirimkan dari hati. Aku selalu merasa “hidup” ketika pertama kali kau mengagumiku dalam “senja”. Dalam dunia maya yang memang tidak bisa kita kenali secara kasat mata. Aku suka melihatmu berjuang kala itu, hingga membuatku “datang” pada fase dimana kamu begitu tidak nyaman. Aku tidak pernah tahu, rasa apa yang aku miliki terhadapmu, sebab semua terlalu berbeda dengan rasa-rasa lain yang aku sebut nafsu. Denganmu, aku hanya ingin tumbuh. Denganmu, aku bahagia ketika kau hanya menjadi pengagumku. 


Kau mungkin ingat, ketika pertama kali kita bertemu. Aku hanya ingin diam memandangi laut, tanpa mau berkata-kata lebih banyak. Kau mungkin tahu, mulanya aku hanya sebongkah es yang tidak pernah bertanya lebih banyak tentang “duniamu”. Aku adalah kata-kata melankolis yang hanya ingin mengalir dalam melodi-melodi tragedi dibanding senyum sumringahnya pelangi. Aku hanya ingin duduk diam dalam kesedihanku dan kau mengagumiku dari jauh. Aku belum sembuh dari onak, pengabaian masa kanak-kanak.


Aku tak pernah tahu bagaimana seharusnya bereaksi. Wajahku datar tanpa ekspresi, namun jiwa meronta-ronta penuh kemarahan dan  haus kasih sayang.

Biru, masihkah ada waktu untuk kita bisa bertegur sapa?

Aku hanya ingin bercerita tentang matahari terbit dan terbenam, atau tentang apa yang berkeliaran dikepalaku tentang banyaknya kisah-kisah kehidupan. Aku hanya suka menelurkan kata-kata dan kau mengeraminya hingga menetaslah melodi keindahan itu. Aku suka kau mengagumiku seperti dulu. Mengagumi karya bukan rupa. Menghargai apa yang aku munculkan dari hati, bukan yang fana lewat fisik semata.


Biru, mungkin aku hanya butuh “penghargaan” dan mungkin kamulah yang paham akan apa yang aku butuhkan. Aku tidak menyukai kata “cantik” atau “tampan”, sebab kita tidak pernah bisa memilih “cangkang” yang harus kita kenakan dalam kehidupan. Aku lebih menyukai apa yang tersembunyi di balik “cangkang” itu, sebab itulah sejatinya diri kita yang sebenarnya. Dan kau telah menghargaiku apa adanya, melalu karya dan rasa, bukan rupa dan kepalsuan dari gemerlapnya huru hara dunia.


Biru, aku ingin mendengarmu mengucapkan selamat malam. Selamat malam yang kau sampaikan dari jauh melalui ombak yang tak pernah bisa lagi aku sentuh. Atau “Selamat Pagi” yang telah pergi ketika aku menjadi “saksi” ketika kau tengah menautkan hati. Atau bahkan kata “Selamat Datang” yang benar-benar sudah terbuang ketika “cincin hitam” itu tergantikan oleh “cincin putih” yang memang seharusnya engkau pilih.


Sayang, aku pamit malam ini. Pamit sebagai “Aku” yang pernah ada dihidupmu. Agar kita bisa saling sapa sebagai dua orang yang berbeda. Bukan lagi sebagai aku dan kamu, atau Biru dan Jingga. Aku ingin kita berkenalan sebagai dua orang tanpa nama, sehingga kata “Hai” dan “Apa kabar” menjadi pembuka bagi mereka yang sebelumnya terluka dan berduka.

Sampai jumpa.


“Aku ingin menjadi asing, agar tidak terasing dimatamu yang bagiku tak pernah asing.”




Saturday, February 18, 2023

SURI (Bagian 2)

 


Sudah tiga bulan sejak kehadiran Suri dan ayahnya ke rumah, aku dan keluarga menjadi sangat sibuk untuk mengurus semua perubahan data diriku, mulai dari perubahan nama, jenis kelamin di KTP, dll, setelah sebelumnya melakukan sidang terlebih dahulu ke pengadilan.

Aku juga harus melakukan sunatan sebagaimana yang diharuskan dalam ajaran islam.

Aku merasa sangat lega karena telah melalu waktu tiga bulan ini dengan banyak kemudahan. Dan kini, tiba waktunya Suri dan keluarganya datang lagi ke rumah untuk membeli tanah milik keluargaku yang akan dijual. Tanah seluas 3520 m² dengan harga per meter Rp. 6.000.000,00 atau dengan total senilai Rp. 21.120.000.000,00. Bukan hanya itu, Suri juga memberiku uang senilai Rp. 2.000.000.000,00, dimana Rp. 1.000.000.000,00 akan aku gunakan untuk membayar hutang-hutangku dan sisanya akan digunakan untuk modal usaha ke depannya.


Suri memberiku waktu selama 10 bulan sejak dia membeli tanah ini dan membayar hutang-hutangku untuk kemudian melangsungkan pernikahan denganku. Dia ingin melatih diriku terlebih dahulu untuk menjadi seorang “laki-laki” dan untuk kembali merintis usahaku secara mandiri. 


Tanganku bergetar ketika pertama kali melihat tumpukan uang sebanyak itu. Suri datang tidak hanya berdua kali ini, tapi Suri datang beserta 10 orang yang diantaranya adalah orangtuanya, notaris, pengacara dan pegawai ayahnya. Dari pihak keluargaku juga sudah berkumpul keluarga besar ayahku, diantaranya satu kakak perempuannya dan 7 orang adiknya untuk transaksi jual beli tanah peninggalan kakekku ini.

Semua wajah tampak berseri-seri, sebab ini adalah waktu yang sangat ditunggu-tunggu sejak tahun 2016 ketika kakekku sudah meninggal dunia dan tanah ini diwariskan kepada anak-anaknya.


Aku masih tidak percaya ketika tumpukan uang itu tampak di depan mataku. Baunya yang khas membuat jantungku berdebar-debar dan pikiranku menjadi melayang-layang membayangkan bahwa sebentar lagi aku akan melunasi semua hutang, memulai kembali usaha, dan bahkan akan menikahi Suri layaknya khayalan seorang pemimpi yang bagi sebagian orang tidak masuk akal.

Aku masih berbunga-bunga karena sekarang aku menjadi seorang milliarder, yang kelak akan memiliki pesantren, panti asuhan dan sekolah bagi yang tidak mampu. Aku juga sudah mencium wangi jok baru mobil yang aku naiki, mencium wangi cat rumah dan kantor baruku tempat aku menghabiskan waktu untuk bekerja dan beristirahat, dan aku sudah tidak sabar melihat ka’bah saat berangkat ibadah haji dengan keluargaku. Disaat aku sedang tersenyum-senyum sendiri, suara seorang laki-laki kemudian membuyarkan semua lamunanku.


“Alhamdulilah ya transaksi jual beli tanah ini sudah selesai. Dan saya di sini juga ingin saudara-saudara menjadi saksi bahwa Suri sudah menyiapkan juga uang sebanyak 2 Millyar untuk Indri (walau namaku sudah diganti menjadi Indra, tapi aku masih tetap ingin dipanggil nama lamaku) yang diperuntukkan untuk membayar hutang dan modal usaha. Selain itu, 10 bulan sejak hari ini, insyaallah pada tanggal 25 Desember 2023, Suri akan menikah dengan Indri dan tanah rencananya juga kami atas namakan saudara Indriani dengan berbagai macam pertimbangan. Itu saja informasi tambahan yang mau saya sampaikan, semoga kita semua diberikan kemudahan dan kelancaran sampai hari H Indri dan Suri menikah, Aamiin Ya Rabbal Alamin.”


Mendengar ucapan dari perwakilan keluarga Suri itu, tiba-tiba tubuhku lemas dan tangis tak kuasa kembali pecah. Aku kaget, bahagia, tidak percaya dan semuanya campur aduk.

Semua orang mengucapkan alhamdulilah dan selamat kepadaku dan terimakasih kepada Suri dan keluarganya. Dan sebelum transaksi jual beli ini berlangsung, aku dan keluarga juga baru mengetahui bahwa ayah Suri adalah salah satu konglomerat di Inggris, jadi sudah tidak aneh jika uang senilai ini sangat mudah bagi mereka. Suri juga merupakan anak tunggal, begitu juga dengan orangtuanya. Aku sangat bersyukur kepada Allah yang terlah memberikan nikmat tak terkira ini. Benar-benar sangat bersyukur.


Sebelum rombongan keluarga Suri pergi, Suri mengajakku berbicara sebentar. Dia mengajakku untuk ngobrol diteras mushola.


“Alhamdulilah ya akhirnya hari ini tiba. Saya sangat bahagia sekali bisa membuat kamu bebas dari hutang dan bisa memiliki tanah ini. Nanti coba kamu rencanakan akan membangun apa di sini. Coba buat proposalnya. Oya, sebelum hari H kita nikah, saya sudah berencana mendaftarkan kamu untuk privat pelatihan militer dan pelatihan untuk menjadi laki-laki, tapi yang terpenting, saya ingin kamu bisa bela diri. Kamu jangan menolak ya mengikuti pelatihan itu. Saya ingin melihat kamu juga bisa kuat secara fisik dan mental.”


Mendengar kata “pelatihan militer” sebetulnya aku kaget, sebab selama ini aku paling tidak suka olahraga atau mencoba hal-hal yang berkaitan dengan fisik. Tapi, aku sadar bahwa aku harus berubah dan keluar dari zona nyaman ini. Akupun mengiyakan permintaan Suri dan kembali mengucapkan terimakasih.


“Aku ga akan nolak apa yang kamu mau selama itu untuk kebaikan bersama. Sekali lagi terimakasih banyak. Aku masih berasa sedang bermimpi. Oya, untuk tempat ini, aku ingin membangun sarana olahraga umum, tapi tidak semua, di belakang aku ingin tetap menjadikannya kebun ditambah kolam pancing. Nanti deh aku rinci dulu ya sebelum aku persentasiin ide-ide aku. Makasih banyak Suri, aku pasti bakal susah tidur malam ini. Makasih banyak.”


Suri tersenyum begitu manis. Rasanya ingin memeluknya dan menari jingkrak-jingkrak karena sekarang aku punya banyak uang. Tapi, aku berusaha mengendalikan diri dan tidak bahagia secara berlebihan. Aku tahu, semua ini adalah kasih sayang Allah, jadi sepatutnya aku berterimakasih seutuhnya kepada Allah.


Aku masih merasa berada di langit ketujuh dan melayang-layang di angkasa ketika mobil Suri dan rombongannya sudah berlalu di depan mata. Aku memandangi tumpukan uang-uang itu. Aku terus tersenyum dan tidak percaya. Aku juga sudah menyiapkan daftar orang-orang yang akan aku temui untuk membayar hutang. Aku berencana mendatangi mereka satu persatu besok. Setelah selesai, aku baru akan merencakan usaha untuk kelangsungan hidupku kedepannya.


Pagi ini, aku mendatangi dulu tiga mantan investor yang berasal dari keluarga ayah dan satu investor dari pihak ibu. Aku mendatangi mereka disertai oleh dua orang saksi dari pihakku.

Aku sungguh tidak percaya bahwa sikap mereka kini berubah 180°. Mereka memelukku erat, mengucapkan terimakasih, meminta maaf dan bersikap sangat ramah. Sikap mereka jauh berbeda ketika usahaku mengalami kerugian.


Sikap serupa, aku dapatkan juga dari mantan-mantan investor lainnya. Mereka girang bukan main. Hingga masuk hari ketiga, aku sudah menyelesaikan semua kewajibanku. Dan kabar baiknya, hutang yang aku perkirakan sebanyak satu millyar, ternyata pada realitasnya adalah Rp.500.000.000,00 dan itupun sebetulnya bukan angka bersih, sebab data yang kami pegang sudah tidak akurat karena yang dihitung dari uang investor tersebut bukan hanya modalnya tapi juga beserta bagi hasil.


Sekarang aku memegang sisa uang dari Suri sebanyak satu koma lima millyar, ditambah tanah seluas 3520 atau senilai Rp. 21.120.000.000,00, dan bukan hanya itu, tadinya ayahku juga akan memberiku uang warisannya, tapi aku menolak karena aku merasa pemberian dari Suri sudah lebih dari cukup. Jadi, aku menyarankan agar uang tersebut dipakai oleh orangtuaku, atau jika orangtua memang ingin memberi kepada anaknya, aku sudah menyarankan agar mereka memberikannya kepada kakak atau adikku.


Setelah selesai melunasi hutang-hutang, aku berencana mengajak orangtua, adik dan kakak untuk berangkat umroh bersama dan beribadah di sana. 

Aku juga meluangkan waktu satu beberapa malam setelah aku melunasi hutang-hutang untuk berdiam diri di masjid untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya.


Aku adalah setitik debu dialam semesta ini. Debu yang kadang-kadang merasa menjadi begitu congkak karena lupa akan Sang Maha Agung pemilik segalanya. Aku sempat jatuh dan putus asa, hingga nyaris menyerah tanpa ingat bahwa kasih-Nya tak akan pernah membiarkanku terlantar seorang diri.

Ya Rabb, kini aku menyaksikan betapa dahsyatnya “Kun Fayakunmu!”. Kuasa tak terbatas yang tidak dimiliki satu makhlukpun dimuka bumi. Kini aku menyaksikan “Rahman dan Rahimmu” yang tanpa batas. Cinta paling tulus diantara semua cinta. Aku merasa tak layak mendapatkan kasih ini, sebab aku sering mengkhianati-Mu. Tapi, hamba benar-benar mengucapkan terimakasih banyak. Terimakasih karena Kau selalu mencintaiku. Ya Rabb, hiduplah dalam hatiku dan jadilah satu-satunya yang aku cintai dalam hidupku. Ya Rabb, hanya Engkaulah cinta sejati yang abadi, kekal dan tidak pernah berubah. Terimakasih Ya Rabb.


Bersambung..

Tuesday, February 14, 2023

SURI

 


Sudah pukul 23.00 sejak aku berputar-putar untuk mencari lokasi calon pembeli laptop yang ingin melakukan transaksi COD di daerah Mahmud, namun aku masih belum menemukannya. Sialnya, disaat seperti ini, sinyal handphoneku juga tidak ada sama sekali.

Aku kemudian beristirahat sejenak didepan sebuah gapura besar bertuliskan, “Makam Mahmud”. Melihat tulisan “makam”, tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Aku kemudian melajukan motorku dengan cepat dan segera mengambil arah pulang tanpa menunggu lagi balasan dari calon pembeli laptop.


Udara dingin terasa terasa begitu menusuk-nusuk pori-pori kulitku. Jalanan sudah lengang dari lalu-lalang kendaraan. Aku masih harus berkendara sekitar dua jam untuk sampai dirumahku. Itu berarti, aku akan tiba dirumah pada pukul 01.00, cukup melelahkan.

Sepanjang jalan, aku masih tidak habis pikir, kenapa aku bisa tersesat hingga ke makam tersebut. Dan ini bukanlah kejadian mistis pertama yang pernah aku alami dalam hidup. Aku sudah mengalaminya berkali-kali, sampai kemudian aku tahu bahwa ada yang tidak biasa dengan diriku, terutama ketika aku harus menjadi perantara penyampai pesan dari orang-orang yang sudah tiada. Namun, kali ini aku masih belum bisa menerka tentang apa yang akan terjadi setelah ini.


Sesampainya dirumah, aku langsung mengguyur badanku yang sudah sangat lelah beraktivitas seharian untuk melakukan COD barang-barang preloved. Aku lalu beristirahat sejenak agar nanti masih bisa bangun untuk tahajud.

Pukul 03.30 aku terbangun untuk melakukan shalat sunat tahajud dan munajat kepada-Nya di saat sebagian orang masih tertidur dengan pulas. Di jam-jam seperti ini otakku masih terasa fresh untuk melakukan banyak hal selain ibadah, diantaranya adalah menulis atau mencari ide-ide baru untuk mengembangkan bisnis. 

Tiba-tiba, sebelum tubuhku akan beranjak dari tempat tidur, aku merasakan demam yang tidak seperti biasanya. Aku juga merasakan sesuatu yang agak aneh di bawah pusarku. Tapi, aku tetap memaksakan diri untuk ke kamar mandi dan mengambil air wudlu.


“Astaghfirullahaladzim!!!”


Spontan aku berteriak kaget ketika aku meraba sesuatu yang aneh saat aku akan membersihkan kemaluan setelah buang air kecil. Mataku terbelalak melihat sesuatu yang asing di sana. Aku sampai menampar pipiku berkali-kali untuk memastikan bahwa aku sedang tidak bermimpi.


“Aya naon Ndi??? (Ada apa Ndi?)”


Ibuku yang mendengar teriakanku dari kamar mandi kemudian terbangun dan menanyakan apa yang terjadi. Aku yang belum siap untuk bercerita kemudian mengatakan bahwa aku baik-baik saja.


“Teu aya nanaon, Mah (Ga ada apa-apa, Mah)!”


Aku lalu melanjutkan aktivitasku mengambil air wudlu dan shalat tahajud, meskipun aku sangat bingung. Aku bingung, sebab aku harus shalat menggunakan mukena atau sarung.

Sebelum shalat, aku masih termenung dan berkali-kali melihat ke bawah pusarku. Aku juga kemudian membuka semua bajuku untuk memastikan apa yang sedang terjadi sebenarnya. Dan, BUUUM!! Ini seperti bom waktu yang menyadarkanku bahwa ini bukan tubuhku yang biasanya. Aku lalu melihat ke depan cermin untuk memastikan bahwa wajahku juga berubah, namun aku tidak melihat perubahan apa-apa di sana. Aku masih memiliki wajah yang sama.


Beberapa hari setelah itu, aku belum bisa beraktivitas seperti biasanya dan lebih banyak menghabiskan waktu beristirahat di dalam dikamar. Aku masih bingung bagaimana harus menjelaskan kondisi ini kepada orangtua. Rasa malu masih menyelimuti diriku. Lidahku kelu dan keberanianku ciut. 

Hingga waktu menunjukkan pukul 20.00, aku masih diam dikamarku. Samar-samar, aku mendengar suara mobil berhenti tepat dihalaman rumah dan tidak lama kemudian terdengar seseorang mengetuk pintu.


“Permisi!”


Aku yang mendengar suara itu lalu kemudian meminta ibu untuk membuka pintu, sebab aku masih ketakutan kalau-kalau yang datang ke rumah adalah orang yang menagih hutang. Sejak berbisnis tahun lalu, aku mengalami kerugian besar sehingga harus menanggung hutang sebanyak satu millyar. Dan banyak sekali ancaman dan intimidasi dari para penagih hutang yang datang ke rumah, sehingga aku sangat ketakutan.


“Maaf, mau bertemu siapa ya? Darimana?”


Ibuku tampak tidak mengenali tamu yang datang ke rumah. Aku juga belum berani melihat ke luar, sebab aku masih belum tahu tentang siapa tamu yang datang.


“Perkenalkan bu, saya Joseph dan ini putri saya Suri. Kita datang ke sini untuk bertemu putra ibu yang memiliki tahi lalat di bawah bibir sebelah kiri dan berkacamata.”


Mendengar ucapan tamu tersebut, ibuku tampak kebingungan dan kemudian memanggilku untuk keluar.


“Ndi kadieu sakedap! (Ndi kesini sebentar)”


Aku kemudian menghampiri ibu, sebab aku takut kalau-kalau tamu tersebut berniat jahat kepada keluargaku.

Jantungku kemudian berdebar-debar tak karuan melihat dua orang yang tengah berdiri di depan pintu. Satu laki-laki bule dan satu orang perempuan yang juga terlihat bule ada di depan mataku. Perempuan berambut coklat dengan kulit putih bershih, hidung mancung, bibir tipis dan tubuh semampai itu kini tersungkur dengan mata berkaca-kaca.


“Oh my God, this is a miracle!!!”


Aku dan ibu kemudian merasa aneh menyaksikan tingkah tamu tersebut yang tidak biasa. Beberapa menit kemudian ayahku datang dan menanyakan ada perlu apa kepada tamu tersebut. Ayahku juga mempersilakan mereka masuk untuk menjelaskan maksud dan tujuan mereka datang kesini.


“Perkenalkan Pa, Saya Joseph dan ini putri saya Suri. Saat ini istri saya sedang koma di rumah sakit karena kecelakaan. Dia orang Indonesia. Maaf, sebetulnya saya ingin menjelaskan sesuatu yang mungkin terdengar agak mustahil. Tapi, kami ingin memastikannya sehingga kita datang jauh-jauh datang dari London untuk mencari alamat ini. Kita cukup kesulitan untuk menemukan rumah ini, tapi Suri terus meyakinkanku bahwa mimpi dia dan ibunya itu pasti benar.”


Ayahku kini terlihat masih belum mengerti apa maksud Pak Joseph dan Suri datang kemari. Namun, sebelum ayahku bertanya kepada mereka, Suri kemudian mulai berbicara.


“Saya mau menikah dengan dia!”


Suri menunjuk ke arahku tanpa berpikir panjang. Aku hampir tersedak karena kaget. Bukan hanya aku yang terkejut, ayah dan ibuku juga menganggap mereka sudah gila.


“Tapi…”


Belum selesai ayahku berbicara, Suri tiba-tiba memotong pembicaraan.


“Anda pasti akan mengatakan bahwa dia perempuan bukan? Tapi, Anda harus tahu bahwa sekarang dia adalah laki-laki dan saya bisa menjamin bahwa apa yang datang dalam mimpiku dan ibuku selama satu bulan ini pasti tidak salah. Kami bahkan sudah menjadi mualaf. Bukan hanya itu, saya tahu bahwa anak anda saat ini sedang terlilit hutang sebanyak satu millyar. Apa semua ucapan saya ada yang keliru? Mohon dikoreksi.”


Mulutku seakan terkunci saat mendengar ucapan dari Suri. Ibu kemudian menarik tanganku dan mengajakku berbicara dikamar. Ibu kemudian memastikan kebenaran tentang semua yang dikatakan oleh Suri. Aku yang bingung harus memulai dari mana untuk menjawab pertanyaan ibu, kemudian membuka baju untuk memperlihatkan perubahan fisik yang terjadi padaku. Ibu terperanjat tidak percaya. Ia sampai menggeleng-gelengkan kepala dan mengucek-ngucek matanya untuk memastikan bahwa dia sedang tidak bermimpi.

“Subhanallah!! Allohuakbar!! Kuasa Allah”


Ibu tidak bisa berkata-kata lagi selain hanya memuji kuasa Allah yang telah membuat semua hal mustahil ini terjadi.


Aku dan Ibu kemudian kembali ke ruang tamu untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku lalu bercerita keanehan-keanehan ketika aku tersesat sampai di makam Mahmud, dan setelah aku mencari tahu tentang tempat itu, konon tempat itu nyaris seperti Makkah, sebab dulu ada wali Allah yang mengambil tanah di dekat Ka’Bah dan menaburkannya dikampung Mahmud, sehingga tempat itu terbilang suci. Selain itu, masyarakat di kampung Mahmud juga hidup sangat sederhana, dengan tidak membangun rumah dari beton, tapi hanya rumah panggung. Disana juga tidak ada hiburan sama sekali, sebab menurut mereka hidup itu sementara dan hiburan-hiburan hanya akan membuat kita terlena dan lupa akan kematian. Itulah sekilas tentang kampung dan makam Mahmud yang aku ketahui dari internet. Namun, Ibu bersikukuh bahwa apa yang terjadi tidak ada kaitannya dengan tempat tersebut. Ibu hanya mengatakan bahwa semua adalah kuasa Allah, sebab dia hanya tinggal berkata, “Jadi!”, maka jadilah sesuatu itu.


“Jadi, maaf maksud kedatangan bapak ke sini untuk menikahkan anak bapak dengan anak saya? Saya tidak bisa menjawabnya jika masalahnya adalah pernikahan, sebab semua keputusan ada ditangan anak saya. Selain itu, adanya perubahan jenis kelamin ini juga harus diuruskan secepatnya ke pengadilan.”


Pak Joseph tersenyum mendengar ucapan ayah saya. Dia kemudian melihat ke arah Suri. Dengan mata berkaca-kaca, Suri mencoba meyakinkan aku dan keluargaku bahwa dia sedang tidak main-main.


“Saya bukan hanya ingin menikah dengan dia, tapi saya mau melunasi hutang-hutangnya. Saya juga berencana membeli tempat ini. Saya ingin dia bisa mewujudkan apa yang selama ini dia mohonkan kepada Tuhan. Saya dan ayah saya hanya perantara. Ini mungkin kasih sayang dari Tuhan untuk hamba-Nya. Tuhan tidak pernah salah. Bukankan ini adalah jawaban dari doa yang selama ini dipanjatkan?”


Mendengar ucapan Suri, refleks aku bersujud. Tangisku pecah, betapa luar biasanya Allah ketika berkehendak. Aku tidak bisa menengadah lagi. Aku terlalu jatuh cinta kali ini kepada-Nya. Orangtua kemudian merangkulku. Kita menangis bersama-sama.

33 tahun aku hidup dalam keterasingan. Dalam kepura-puraan untuk menjadi orang lain. Bersembunyi ketika mencintai. Berkorban materi ketika ingin memiliki. 33 tahun dimana airmata sudah menjadi lautan kesedihan dimana aku selalu diingatkan tentang ketidakmungkinan. Dan kini, kuasa-Nya berbicara lebih nyaring dari logika-logika manusia yang terbatas. Aku menyaksikan keajaiban itu hari ini, menit ini, detik ini, ketika senyum Suri membangunkanku untuk mulai meminang masa depan, kebahagiaan. Suri, bidadari itu bernama Suri.


Suri, apa yang harus aku lakukan untuk percaya akan semua ini? Untuk yakin bahwa aku tidak sedang bermimpi atau berimajinasi. Jelaskan padaku bahwa semua yang terjadi adalah nyata dan bukan pura-pura. Suri, inikah wujud asli dari seorang bidadari? Senyummu adalah nyawa lain yang bersarang diteluk bumi. Aku ingin membingkaimu pada lukisan keajaiban yang dikirimkan Tuhan hari ini. Suri, aku tidak bisa berkata-kata lagi. Aku terlalu bahagia, sampai-sampai aku mengira sudah mati. 

Suri..

Suri..

Suri..

Aku jatuh hati!


Bersambung…




Serial Thailand "GAP The Series"

 



Beberapa minggu ini aku sedang tergila-gila dengan serial Thailand “GAP The Series” yang tidak sengaja aku temukan di youtube. Awal mula aku menontonnya, aku sampai movie marathon hingga pukul 04.00 karena aku tidak mengikuti serial tersebut dihari pertama tayang sejak pertengahan tahun 2022 (setiap hari sabtu). Ini adalah pertama kalinya lagi aku membuang-buang waktu hanya untuk menonton, padahal sejak dua tahun terakhir ini aku nyaris tidak pernah begadang lagi demi menonton film atau serial. Tapi, gara-gara serial ini, akupun akhirnya kecanduan, haha.


Yang membuatku sangat menyukai serial ini bukan hanya karena romansa percintaan antara Sam dan Monnya saja, namun ada hal-hal lain yang menurutku sangat menarik, diantaranya adalah tentang perjuangan menggapai mimpi untuk bertemu orang yang dikagumi sejak kecil, tentang kekuatan pikiran, tentang rasa yakin tokoh Mon yang kemudian membuahkan hasil.

Kegigihan Mon yang sedari kecil mengagumi sosok Sam membuat dia begitu bersemangat untuk terus mencari tahu tentang idolanya, sehingga dia masuk di Universitas yang sama, dan kemudian dia bisa bekerja di perusahaan Sam. Apa yang dilakukan oleh Mon seperti hukum Tarik menarik yang selama ini dijelaskan dalam buku “The Secret”. Mon selalu yakin bahwa suatu hari dia bisa bertemu dengan Sam, sehingga dia selalu melakukan visualisasi (berimajinasi) bertemu Sam, bahkan ada satu adegan dimana Mon membayangkan bahwa Sam akan menciumnya. Dan, pelan-pelan tapi pasti, semua visualisasi dan harapan Mon menjadi kenyataan. Sam bisa dengan mudah jatuh cinta kepadanya setelah melewati proses yang begitu panjang.


Bukan hanya tentang ajaibnya “kekuatan pikiran” saja yang bisa aku lihat di sini, tapi ada juga keajaiban “pasrah” yang dilakukan oleh Sam ketika kemudian dia harus memilih neneknya dan meninggalkan Mon. Mulanya Sam sudah bulat untuk memilih Mon dan meninggalkan tunangannya Kirk, dia bahkan berani melawan sang nenek, namun pada detik-detik terakhir neneknya jatuh sakit, Sam kemudian mengubah keputusannya dan mengikuti keinginan nenek untuk menikah dengan Kirk. Pasrah, itu yang kemudian dipilih oleh Sam. Dia tidak seperti kedua kakaknya yang melawan sang nenek habis-habisan, bahkan salah satu kakaknya Song yang juga menyukai sesama perempuan kemudian meninggal dunia ketika tidak mendapatkan restu sang nenek untuk menjalin hubungan dengan perempuan.


Keajaiban itu datang ketika Sam sudah tidak berdaya untuk mempertahankan Mon. Tuhan kemudian membolak-balikan hati Kirk dan sang nenek, sehingga mereka merestui hubungan Sam dan Mon. Bukan hanya itu, Sang nenek dan keluarga Sam memberikan ijin kepada Sam dan Mon untuk melangsungkan pernikahan sesama perempuan yang semula sangat amat begitu tabu dan terlarang di sana.

Dan mereka kemudian melangsungkan pernikahan dengan sangat meriah dengan restu yang mereka dapatkan dari kedua belah pihak. Sungguh luar biasa.


Serial ini memang cukup unik dan kompleks, sebab dalam serial ini tidak hanya menyuguhkan kisah percintaan sesama perempuan yang biasanya berakhir tragis, namun ada banyak komedi, perjuangan dan kegigihan yang disuguhkan di sana. Sosok Mon yang begitu gigih dan tidak pernah menyerah membuat aku juga bersemangat untuk mengejar apa yang selama ini aku impikan. Sosok Sam yang bisa berubah dan melihat dunia dengan lebih berwarna juga merupakan sebuah kemajuan, sebab sebelumnya hidupnya begitu abu-abu.


Saat melihat sosok Sam dalam serial ini, aku seperti melihat diriku sendiri. Aku yang dibesarkan oleh keluarga yang acuh, cuek, dingin dan disiplin, nyaris membuatku menjadi orang yang kaku, kekurangan kasih sayang, perhatian dan sulit untuk beradaptasi dengan orang lain. Aku benar-benar mirip dengan sosok Sam, bahkan sifat kekanak-kanakanku juga tidak berbeda jauh dengannya. Pengalaman pertamaku saat kuliah dan bersahabat dengan Rina, nyaris seperti apa yang dialami Sam ketika bertemu Mon. 

Rina yang merupakan anak bungsu dan begitu berkelimpahan kasih sayang kemudian memanjakan aku. Dia sering memperlakukanku seperti anak kecil, menyuapi aku, memelukku saat tidur, dan banyak perhatian-perhatian lain yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya. Aku yang kemudian merasakan kasih sayang yang semula tidak pernah aku dapatkan kemudian menjadi sosok yang posesif dan cemburuan. Aku tidak pernah tahu kenapa kita banyak merasakan hal yang begitu dalam padahal kita hanyalah dalam zona persahabatan. Namun, aku dan Rina seringkali merasakan “kupu-kupu dalam perut” yang membuat kita begitu bersemangat untuk bertemu saat akan kuliah. Hingga kemudian sosok “A..”  datang dan membuat hidupku hancur berantakan dan aku mengalami depresi berkepanjangan hingga saat ini.


Kembali pada serial ini, aku sungguh tidak menyangka bahwa mereka akan berakhir dipelaminan. Sebuah akhir indah dari setiap perjalanan cinta manusia. Hidup bersama dengan orang yang benar-benar kita cintai, tanpa takut oleh apapun dan siapapun. Andai aku bisa begitu, mungkin hidupku tidak akan diliputi oleh banyak kepura-puraan, kesedihan, bahkan kehilangan.

Selamat hari Valentines, semoga kita bisa memperjuangkan cinta sejati kita.


Obat stress alami saat menulis