Sudah pukul 23.00 sejak aku berputar-putar untuk mencari lokasi calon pembeli laptop yang ingin melakukan transaksi COD di daerah Mahmud, namun aku masih belum menemukannya. Sialnya, disaat seperti ini, sinyal handphoneku juga tidak ada sama sekali.
Aku kemudian beristirahat sejenak didepan sebuah gapura besar bertuliskan, “Makam Mahmud”. Melihat tulisan “makam”, tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Aku kemudian melajukan motorku dengan cepat dan segera mengambil arah pulang tanpa menunggu lagi balasan dari calon pembeli laptop.
Udara dingin terasa terasa begitu menusuk-nusuk pori-pori kulitku. Jalanan sudah lengang dari lalu-lalang kendaraan. Aku masih harus berkendara sekitar dua jam untuk sampai dirumahku. Itu berarti, aku akan tiba dirumah pada pukul 01.00, cukup melelahkan.
Sepanjang jalan, aku masih tidak habis pikir, kenapa aku bisa tersesat hingga ke makam tersebut. Dan ini bukanlah kejadian mistis pertama yang pernah aku alami dalam hidup. Aku sudah mengalaminya berkali-kali, sampai kemudian aku tahu bahwa ada yang tidak biasa dengan diriku, terutama ketika aku harus menjadi perantara penyampai pesan dari orang-orang yang sudah tiada. Namun, kali ini aku masih belum bisa menerka tentang apa yang akan terjadi setelah ini.
Sesampainya dirumah, aku langsung mengguyur badanku yang sudah sangat lelah beraktivitas seharian untuk melakukan COD barang-barang preloved. Aku lalu beristirahat sejenak agar nanti masih bisa bangun untuk tahajud.
Pukul 03.30 aku terbangun untuk melakukan shalat sunat tahajud dan munajat kepada-Nya di saat sebagian orang masih tertidur dengan pulas. Di jam-jam seperti ini otakku masih terasa fresh untuk melakukan banyak hal selain ibadah, diantaranya adalah menulis atau mencari ide-ide baru untuk mengembangkan bisnis.
Tiba-tiba, sebelum tubuhku akan beranjak dari tempat tidur, aku merasakan demam yang tidak seperti biasanya. Aku juga merasakan sesuatu yang agak aneh di bawah pusarku. Tapi, aku tetap memaksakan diri untuk ke kamar mandi dan mengambil air wudlu.
“Astaghfirullahaladzim!!!”
Spontan aku berteriak kaget ketika aku meraba sesuatu yang aneh saat aku akan membersihkan kemaluan setelah buang air kecil. Mataku terbelalak melihat sesuatu yang asing di sana. Aku sampai menampar pipiku berkali-kali untuk memastikan bahwa aku sedang tidak bermimpi.
“Aya naon Ndi??? (Ada apa Ndi?)”
Ibuku yang mendengar teriakanku dari kamar mandi kemudian terbangun dan menanyakan apa yang terjadi. Aku yang belum siap untuk bercerita kemudian mengatakan bahwa aku baik-baik saja.
“Teu aya nanaon, Mah (Ga ada apa-apa, Mah)!”
Aku lalu melanjutkan aktivitasku mengambil air wudlu dan shalat tahajud, meskipun aku sangat bingung. Aku bingung, sebab aku harus shalat menggunakan mukena atau sarung.
Sebelum shalat, aku masih termenung dan berkali-kali melihat ke bawah pusarku. Aku juga kemudian membuka semua bajuku untuk memastikan apa yang sedang terjadi sebenarnya. Dan, BUUUM!! Ini seperti bom waktu yang menyadarkanku bahwa ini bukan tubuhku yang biasanya. Aku lalu melihat ke depan cermin untuk memastikan bahwa wajahku juga berubah, namun aku tidak melihat perubahan apa-apa di sana. Aku masih memiliki wajah yang sama.
Beberapa hari setelah itu, aku belum bisa beraktivitas seperti biasanya dan lebih banyak menghabiskan waktu beristirahat di dalam dikamar. Aku masih bingung bagaimana harus menjelaskan kondisi ini kepada orangtua. Rasa malu masih menyelimuti diriku. Lidahku kelu dan keberanianku ciut.
Hingga waktu menunjukkan pukul 20.00, aku masih diam dikamarku. Samar-samar, aku mendengar suara mobil berhenti tepat dihalaman rumah dan tidak lama kemudian terdengar seseorang mengetuk pintu.
“Permisi!”
Aku yang mendengar suara itu lalu kemudian meminta ibu untuk membuka pintu, sebab aku masih ketakutan kalau-kalau yang datang ke rumah adalah orang yang menagih hutang. Sejak berbisnis tahun lalu, aku mengalami kerugian besar sehingga harus menanggung hutang sebanyak satu millyar. Dan banyak sekali ancaman dan intimidasi dari para penagih hutang yang datang ke rumah, sehingga aku sangat ketakutan.
“Maaf, mau bertemu siapa ya? Darimana?”
Ibuku tampak tidak mengenali tamu yang datang ke rumah. Aku juga belum berani melihat ke luar, sebab aku masih belum tahu tentang siapa tamu yang datang.
“Perkenalkan bu, saya Joseph dan ini putri saya Suri. Kita datang ke sini untuk bertemu putra ibu yang memiliki tahi lalat di bawah bibir sebelah kiri dan berkacamata.”
Mendengar ucapan tamu tersebut, ibuku tampak kebingungan dan kemudian memanggilku untuk keluar.
“Ndi kadieu sakedap! (Ndi kesini sebentar)”
Aku kemudian menghampiri ibu, sebab aku takut kalau-kalau tamu tersebut berniat jahat kepada keluargaku.
Jantungku kemudian berdebar-debar tak karuan melihat dua orang yang tengah berdiri di depan pintu. Satu laki-laki bule dan satu orang perempuan yang juga terlihat bule ada di depan mataku. Perempuan berambut coklat dengan kulit putih bershih, hidung mancung, bibir tipis dan tubuh semampai itu kini tersungkur dengan mata berkaca-kaca.
“Oh my God, this is a miracle!!!”
Aku dan ibu kemudian merasa aneh menyaksikan tingkah tamu tersebut yang tidak biasa. Beberapa menit kemudian ayahku datang dan menanyakan ada perlu apa kepada tamu tersebut. Ayahku juga mempersilakan mereka masuk untuk menjelaskan maksud dan tujuan mereka datang kesini.
“Perkenalkan Pa, Saya Joseph dan ini putri saya Suri. Saat ini istri saya sedang koma di rumah sakit karena kecelakaan. Dia orang Indonesia. Maaf, sebetulnya saya ingin menjelaskan sesuatu yang mungkin terdengar agak mustahil. Tapi, kami ingin memastikannya sehingga kita datang jauh-jauh datang dari London untuk mencari alamat ini. Kita cukup kesulitan untuk menemukan rumah ini, tapi Suri terus meyakinkanku bahwa mimpi dia dan ibunya itu pasti benar.”
Ayahku kini terlihat masih belum mengerti apa maksud Pak Joseph dan Suri datang kemari. Namun, sebelum ayahku bertanya kepada mereka, Suri kemudian mulai berbicara.
“Saya mau menikah dengan dia!”
Suri menunjuk ke arahku tanpa berpikir panjang. Aku hampir tersedak karena kaget. Bukan hanya aku yang terkejut, ayah dan ibuku juga menganggap mereka sudah gila.
“Tapi…”
Belum selesai ayahku berbicara, Suri tiba-tiba memotong pembicaraan.
“Anda pasti akan mengatakan bahwa dia perempuan bukan? Tapi, Anda harus tahu bahwa sekarang dia adalah laki-laki dan saya bisa menjamin bahwa apa yang datang dalam mimpiku dan ibuku selama satu bulan ini pasti tidak salah. Kami bahkan sudah menjadi mualaf. Bukan hanya itu, saya tahu bahwa anak anda saat ini sedang terlilit hutang sebanyak satu millyar. Apa semua ucapan saya ada yang keliru? Mohon dikoreksi.”
Mulutku seakan terkunci saat mendengar ucapan dari Suri. Ibu kemudian menarik tanganku dan mengajakku berbicara dikamar. Ibu kemudian memastikan kebenaran tentang semua yang dikatakan oleh Suri. Aku yang bingung harus memulai dari mana untuk menjawab pertanyaan ibu, kemudian membuka baju untuk memperlihatkan perubahan fisik yang terjadi padaku. Ibu terperanjat tidak percaya. Ia sampai menggeleng-gelengkan kepala dan mengucek-ngucek matanya untuk memastikan bahwa dia sedang tidak bermimpi.
“Subhanallah!! Allohuakbar!! Kuasa Allah”
Ibu tidak bisa berkata-kata lagi selain hanya memuji kuasa Allah yang telah membuat semua hal mustahil ini terjadi.
Aku dan Ibu kemudian kembali ke ruang tamu untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku lalu bercerita keanehan-keanehan ketika aku tersesat sampai di makam Mahmud, dan setelah aku mencari tahu tentang tempat itu, konon tempat itu nyaris seperti Makkah, sebab dulu ada wali Allah yang mengambil tanah di dekat Ka’Bah dan menaburkannya dikampung Mahmud, sehingga tempat itu terbilang suci. Selain itu, masyarakat di kampung Mahmud juga hidup sangat sederhana, dengan tidak membangun rumah dari beton, tapi hanya rumah panggung. Disana juga tidak ada hiburan sama sekali, sebab menurut mereka hidup itu sementara dan hiburan-hiburan hanya akan membuat kita terlena dan lupa akan kematian. Itulah sekilas tentang kampung dan makam Mahmud yang aku ketahui dari internet. Namun, Ibu bersikukuh bahwa apa yang terjadi tidak ada kaitannya dengan tempat tersebut. Ibu hanya mengatakan bahwa semua adalah kuasa Allah, sebab dia hanya tinggal berkata, “Jadi!”, maka jadilah sesuatu itu.
“Jadi, maaf maksud kedatangan bapak ke sini untuk menikahkan anak bapak dengan anak saya? Saya tidak bisa menjawabnya jika masalahnya adalah pernikahan, sebab semua keputusan ada ditangan anak saya. Selain itu, adanya perubahan jenis kelamin ini juga harus diuruskan secepatnya ke pengadilan.”
Pak Joseph tersenyum mendengar ucapan ayah saya. Dia kemudian melihat ke arah Suri. Dengan mata berkaca-kaca, Suri mencoba meyakinkan aku dan keluargaku bahwa dia sedang tidak main-main.
“Saya bukan hanya ingin menikah dengan dia, tapi saya mau melunasi hutang-hutangnya. Saya juga berencana membeli tempat ini. Saya ingin dia bisa mewujudkan apa yang selama ini dia mohonkan kepada Tuhan. Saya dan ayah saya hanya perantara. Ini mungkin kasih sayang dari Tuhan untuk hamba-Nya. Tuhan tidak pernah salah. Bukankan ini adalah jawaban dari doa yang selama ini dipanjatkan?”
Mendengar ucapan Suri, refleks aku bersujud. Tangisku pecah, betapa luar biasanya Allah ketika berkehendak. Aku tidak bisa menengadah lagi. Aku terlalu jatuh cinta kali ini kepada-Nya. Orangtua kemudian merangkulku. Kita menangis bersama-sama.
33 tahun aku hidup dalam keterasingan. Dalam kepura-puraan untuk menjadi orang lain. Bersembunyi ketika mencintai. Berkorban materi ketika ingin memiliki. 33 tahun dimana airmata sudah menjadi lautan kesedihan dimana aku selalu diingatkan tentang ketidakmungkinan. Dan kini, kuasa-Nya berbicara lebih nyaring dari logika-logika manusia yang terbatas. Aku menyaksikan keajaiban itu hari ini, menit ini, detik ini, ketika senyum Suri membangunkanku untuk mulai meminang masa depan, kebahagiaan. Suri, bidadari itu bernama Suri.
Suri, apa yang harus aku lakukan untuk percaya akan semua ini? Untuk yakin bahwa aku tidak sedang bermimpi atau berimajinasi. Jelaskan padaku bahwa semua yang terjadi adalah nyata dan bukan pura-pura. Suri, inikah wujud asli dari seorang bidadari? Senyummu adalah nyawa lain yang bersarang diteluk bumi. Aku ingin membingkaimu pada lukisan keajaiban yang dikirimkan Tuhan hari ini. Suri, aku tidak bisa berkata-kata lagi. Aku terlalu bahagia, sampai-sampai aku mengira sudah mati.
Suri..
Suri..
Suri..
Aku jatuh hati!
Bersambung…


No comments:
Post a Comment