Sudah sangat lama, sejak terakhir kali aku duduk diam menatap kekosongan di depan mata. Hening yang sejatinya adalah gambaran dari sesuatu yang hilang dari balik rasa. Kau tahu? Aku sudah memetik banyak bunga indah setelahmu. Memajang koleksi kupu-kupu cantik, dan membiarkan kumbang-kumbang juga datang untuk menerangi gelapnya hati. Ada banyak “gemerlap cinta” di balik palsunya senyuman itu. Namun, “ruang” terasingku semakin menganga dalam kekosongan yang tidak pernah bisa aku mengerti.
Ada banyak nama dalam daftar kata “setiaku”. Nama-nama yang aku urutkan satu-satu dalam catatan masalalu. Jingga, Biru, Cina, Sunda, Merah dan Abu-abu, hingga mungkin Mejiku Hibiniu. Semua berjejer di depan pintu rasaku yang riuh ricuh. Sampai aku kadang-kadang lupa untuk menandainya sebagai rindu.
Aku terlalu bangga dengan banyak kelap-kelip rasa disekelilingku. Koleksi-koleksi keindahan yang sejatinya hanyalah fatamorgana yang aku rindukan dari masa kecil yang abu-abu. Pelukan, perhatian dan kecupan yang hilang pada fase dimana seharusnya aku tumbuh dalam kasih. Aku lalu haus akan apa yang hilang dimasa itu. Aku mengejarnya, hingga lupa untuk membingkai sebuah komitmen dalam rumah tangga. Aku tidak menyukainya.
Aku mungkin tumbuh dengan membawa banyak luka, hingga aku takut untuk percaya bahwa aku akan “baik-baik” saja jika kelak aku mengarungi bahtera yang tidak searah dengan apa yang ingin aku tuju. Aku tidak mau “melangkah” pada jalan yang tidak pernah aku pilih. Aku ingin memilih bahagiaku sendiri. Tersenyum dengan banyak kenangan manis dan bunga-bunga mekar yang sebenarnya hanyalah siluet-siluet palsu yang aku mainkan di balik layar kesepian.
Biru, diantara semua warna itu, kini aku tengah merindukanmu. Kau yang memanggilku biru, namun kini aku yang mengenangmu sebagai biru dihatiku. Warna lain yang mengisi buku harianku yang saat itu mendung dan kelabu. Aku mengenangmu bukan dari apa yang terlihat oleh mata, layaknya banyak kupu-kupu koleksiku, namun aku memahatmu dalam rasa tanpa rupa. Mungkin karena itulah aku tak pernah bosan mengingatmu, meski kadang-kadang memang benar-benar “kasih” yang aku rasakan, tanpa adanya sensasi kupu-kupu diperutku.
Aku selalu nyaman dengan percakapan-percakapan kita yang terbatas. Kalimat-kalimat murni yang memang kau kirimkan dari hati. Aku selalu merasa “hidup” ketika pertama kali kau mengagumiku dalam “senja”. Dalam dunia maya yang memang tidak bisa kita kenali secara kasat mata. Aku suka melihatmu berjuang kala itu, hingga membuatku “datang” pada fase dimana kamu begitu tidak nyaman. Aku tidak pernah tahu, rasa apa yang aku miliki terhadapmu, sebab semua terlalu berbeda dengan rasa-rasa lain yang aku sebut nafsu. Denganmu, aku hanya ingin tumbuh. Denganmu, aku bahagia ketika kau hanya menjadi pengagumku.
Kau mungkin ingat, ketika pertama kali kita bertemu. Aku hanya ingin diam memandangi laut, tanpa mau berkata-kata lebih banyak. Kau mungkin tahu, mulanya aku hanya sebongkah es yang tidak pernah bertanya lebih banyak tentang “duniamu”. Aku adalah kata-kata melankolis yang hanya ingin mengalir dalam melodi-melodi tragedi dibanding senyum sumringahnya pelangi. Aku hanya ingin duduk diam dalam kesedihanku dan kau mengagumiku dari jauh. Aku belum sembuh dari onak, pengabaian masa kanak-kanak.
Aku tak pernah tahu bagaimana seharusnya bereaksi. Wajahku datar tanpa ekspresi, namun jiwa meronta-ronta penuh kemarahan dan haus kasih sayang.
Biru, masihkah ada waktu untuk kita bisa bertegur sapa?
Aku hanya ingin bercerita tentang matahari terbit dan terbenam, atau tentang apa yang berkeliaran dikepalaku tentang banyaknya kisah-kisah kehidupan. Aku hanya suka menelurkan kata-kata dan kau mengeraminya hingga menetaslah melodi keindahan itu. Aku suka kau mengagumiku seperti dulu. Mengagumi karya bukan rupa. Menghargai apa yang aku munculkan dari hati, bukan yang fana lewat fisik semata.
Biru, mungkin aku hanya butuh “penghargaan” dan mungkin kamulah yang paham akan apa yang aku butuhkan. Aku tidak menyukai kata “cantik” atau “tampan”, sebab kita tidak pernah bisa memilih “cangkang” yang harus kita kenakan dalam kehidupan. Aku lebih menyukai apa yang tersembunyi di balik “cangkang” itu, sebab itulah sejatinya diri kita yang sebenarnya. Dan kau telah menghargaiku apa adanya, melalu karya dan rasa, bukan rupa dan kepalsuan dari gemerlapnya huru hara dunia.
Biru, aku ingin mendengarmu mengucapkan selamat malam. Selamat malam yang kau sampaikan dari jauh melalui ombak yang tak pernah bisa lagi aku sentuh. Atau “Selamat Pagi” yang telah pergi ketika aku menjadi “saksi” ketika kau tengah menautkan hati. Atau bahkan kata “Selamat Datang” yang benar-benar sudah terbuang ketika “cincin hitam” itu tergantikan oleh “cincin putih” yang memang seharusnya engkau pilih.
Sayang, aku pamit malam ini. Pamit sebagai “Aku” yang pernah ada dihidupmu. Agar kita bisa saling sapa sebagai dua orang yang berbeda. Bukan lagi sebagai aku dan kamu, atau Biru dan Jingga. Aku ingin kita berkenalan sebagai dua orang tanpa nama, sehingga kata “Hai” dan “Apa kabar” menjadi pembuka bagi mereka yang sebelumnya terluka dan berduka.
Sampai jumpa.
“Aku ingin menjadi asing, agar tidak terasing dimatamu yang bagiku tak pernah asing.”


No comments:
Post a Comment