Saturday, February 18, 2023

SURI (Bagian 2)

 


Sudah tiga bulan sejak kehadiran Suri dan ayahnya ke rumah, aku dan keluarga menjadi sangat sibuk untuk mengurus semua perubahan data diriku, mulai dari perubahan nama, jenis kelamin di KTP, dll, setelah sebelumnya melakukan sidang terlebih dahulu ke pengadilan.

Aku juga harus melakukan sunatan sebagaimana yang diharuskan dalam ajaran islam.

Aku merasa sangat lega karena telah melalu waktu tiga bulan ini dengan banyak kemudahan. Dan kini, tiba waktunya Suri dan keluarganya datang lagi ke rumah untuk membeli tanah milik keluargaku yang akan dijual. Tanah seluas 3520 m² dengan harga per meter Rp. 6.000.000,00 atau dengan total senilai Rp. 21.120.000.000,00. Bukan hanya itu, Suri juga memberiku uang senilai Rp. 2.000.000.000,00, dimana Rp. 1.000.000.000,00 akan aku gunakan untuk membayar hutang-hutangku dan sisanya akan digunakan untuk modal usaha ke depannya.


Suri memberiku waktu selama 10 bulan sejak dia membeli tanah ini dan membayar hutang-hutangku untuk kemudian melangsungkan pernikahan denganku. Dia ingin melatih diriku terlebih dahulu untuk menjadi seorang “laki-laki” dan untuk kembali merintis usahaku secara mandiri. 


Tanganku bergetar ketika pertama kali melihat tumpukan uang sebanyak itu. Suri datang tidak hanya berdua kali ini, tapi Suri datang beserta 10 orang yang diantaranya adalah orangtuanya, notaris, pengacara dan pegawai ayahnya. Dari pihak keluargaku juga sudah berkumpul keluarga besar ayahku, diantaranya satu kakak perempuannya dan 7 orang adiknya untuk transaksi jual beli tanah peninggalan kakekku ini.

Semua wajah tampak berseri-seri, sebab ini adalah waktu yang sangat ditunggu-tunggu sejak tahun 2016 ketika kakekku sudah meninggal dunia dan tanah ini diwariskan kepada anak-anaknya.


Aku masih tidak percaya ketika tumpukan uang itu tampak di depan mataku. Baunya yang khas membuat jantungku berdebar-debar dan pikiranku menjadi melayang-layang membayangkan bahwa sebentar lagi aku akan melunasi semua hutang, memulai kembali usaha, dan bahkan akan menikahi Suri layaknya khayalan seorang pemimpi yang bagi sebagian orang tidak masuk akal.

Aku masih berbunga-bunga karena sekarang aku menjadi seorang milliarder, yang kelak akan memiliki pesantren, panti asuhan dan sekolah bagi yang tidak mampu. Aku juga sudah mencium wangi jok baru mobil yang aku naiki, mencium wangi cat rumah dan kantor baruku tempat aku menghabiskan waktu untuk bekerja dan beristirahat, dan aku sudah tidak sabar melihat ka’bah saat berangkat ibadah haji dengan keluargaku. Disaat aku sedang tersenyum-senyum sendiri, suara seorang laki-laki kemudian membuyarkan semua lamunanku.


“Alhamdulilah ya transaksi jual beli tanah ini sudah selesai. Dan saya di sini juga ingin saudara-saudara menjadi saksi bahwa Suri sudah menyiapkan juga uang sebanyak 2 Millyar untuk Indri (walau namaku sudah diganti menjadi Indra, tapi aku masih tetap ingin dipanggil nama lamaku) yang diperuntukkan untuk membayar hutang dan modal usaha. Selain itu, 10 bulan sejak hari ini, insyaallah pada tanggal 25 Desember 2023, Suri akan menikah dengan Indri dan tanah rencananya juga kami atas namakan saudara Indriani dengan berbagai macam pertimbangan. Itu saja informasi tambahan yang mau saya sampaikan, semoga kita semua diberikan kemudahan dan kelancaran sampai hari H Indri dan Suri menikah, Aamiin Ya Rabbal Alamin.”


Mendengar ucapan dari perwakilan keluarga Suri itu, tiba-tiba tubuhku lemas dan tangis tak kuasa kembali pecah. Aku kaget, bahagia, tidak percaya dan semuanya campur aduk.

Semua orang mengucapkan alhamdulilah dan selamat kepadaku dan terimakasih kepada Suri dan keluarganya. Dan sebelum transaksi jual beli ini berlangsung, aku dan keluarga juga baru mengetahui bahwa ayah Suri adalah salah satu konglomerat di Inggris, jadi sudah tidak aneh jika uang senilai ini sangat mudah bagi mereka. Suri juga merupakan anak tunggal, begitu juga dengan orangtuanya. Aku sangat bersyukur kepada Allah yang terlah memberikan nikmat tak terkira ini. Benar-benar sangat bersyukur.


Sebelum rombongan keluarga Suri pergi, Suri mengajakku berbicara sebentar. Dia mengajakku untuk ngobrol diteras mushola.


“Alhamdulilah ya akhirnya hari ini tiba. Saya sangat bahagia sekali bisa membuat kamu bebas dari hutang dan bisa memiliki tanah ini. Nanti coba kamu rencanakan akan membangun apa di sini. Coba buat proposalnya. Oya, sebelum hari H kita nikah, saya sudah berencana mendaftarkan kamu untuk privat pelatihan militer dan pelatihan untuk menjadi laki-laki, tapi yang terpenting, saya ingin kamu bisa bela diri. Kamu jangan menolak ya mengikuti pelatihan itu. Saya ingin melihat kamu juga bisa kuat secara fisik dan mental.”


Mendengar kata “pelatihan militer” sebetulnya aku kaget, sebab selama ini aku paling tidak suka olahraga atau mencoba hal-hal yang berkaitan dengan fisik. Tapi, aku sadar bahwa aku harus berubah dan keluar dari zona nyaman ini. Akupun mengiyakan permintaan Suri dan kembali mengucapkan terimakasih.


“Aku ga akan nolak apa yang kamu mau selama itu untuk kebaikan bersama. Sekali lagi terimakasih banyak. Aku masih berasa sedang bermimpi. Oya, untuk tempat ini, aku ingin membangun sarana olahraga umum, tapi tidak semua, di belakang aku ingin tetap menjadikannya kebun ditambah kolam pancing. Nanti deh aku rinci dulu ya sebelum aku persentasiin ide-ide aku. Makasih banyak Suri, aku pasti bakal susah tidur malam ini. Makasih banyak.”


Suri tersenyum begitu manis. Rasanya ingin memeluknya dan menari jingkrak-jingkrak karena sekarang aku punya banyak uang. Tapi, aku berusaha mengendalikan diri dan tidak bahagia secara berlebihan. Aku tahu, semua ini adalah kasih sayang Allah, jadi sepatutnya aku berterimakasih seutuhnya kepada Allah.


Aku masih merasa berada di langit ketujuh dan melayang-layang di angkasa ketika mobil Suri dan rombongannya sudah berlalu di depan mata. Aku memandangi tumpukan uang-uang itu. Aku terus tersenyum dan tidak percaya. Aku juga sudah menyiapkan daftar orang-orang yang akan aku temui untuk membayar hutang. Aku berencana mendatangi mereka satu persatu besok. Setelah selesai, aku baru akan merencakan usaha untuk kelangsungan hidupku kedepannya.


Pagi ini, aku mendatangi dulu tiga mantan investor yang berasal dari keluarga ayah dan satu investor dari pihak ibu. Aku mendatangi mereka disertai oleh dua orang saksi dari pihakku.

Aku sungguh tidak percaya bahwa sikap mereka kini berubah 180°. Mereka memelukku erat, mengucapkan terimakasih, meminta maaf dan bersikap sangat ramah. Sikap mereka jauh berbeda ketika usahaku mengalami kerugian.


Sikap serupa, aku dapatkan juga dari mantan-mantan investor lainnya. Mereka girang bukan main. Hingga masuk hari ketiga, aku sudah menyelesaikan semua kewajibanku. Dan kabar baiknya, hutang yang aku perkirakan sebanyak satu millyar, ternyata pada realitasnya adalah Rp.500.000.000,00 dan itupun sebetulnya bukan angka bersih, sebab data yang kami pegang sudah tidak akurat karena yang dihitung dari uang investor tersebut bukan hanya modalnya tapi juga beserta bagi hasil.


Sekarang aku memegang sisa uang dari Suri sebanyak satu koma lima millyar, ditambah tanah seluas 3520 atau senilai Rp. 21.120.000.000,00, dan bukan hanya itu, tadinya ayahku juga akan memberiku uang warisannya, tapi aku menolak karena aku merasa pemberian dari Suri sudah lebih dari cukup. Jadi, aku menyarankan agar uang tersebut dipakai oleh orangtuaku, atau jika orangtua memang ingin memberi kepada anaknya, aku sudah menyarankan agar mereka memberikannya kepada kakak atau adikku.


Setelah selesai melunasi hutang-hutang, aku berencana mengajak orangtua, adik dan kakak untuk berangkat umroh bersama dan beribadah di sana. 

Aku juga meluangkan waktu satu beberapa malam setelah aku melunasi hutang-hutang untuk berdiam diri di masjid untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya.


Aku adalah setitik debu dialam semesta ini. Debu yang kadang-kadang merasa menjadi begitu congkak karena lupa akan Sang Maha Agung pemilik segalanya. Aku sempat jatuh dan putus asa, hingga nyaris menyerah tanpa ingat bahwa kasih-Nya tak akan pernah membiarkanku terlantar seorang diri.

Ya Rabb, kini aku menyaksikan betapa dahsyatnya “Kun Fayakunmu!”. Kuasa tak terbatas yang tidak dimiliki satu makhlukpun dimuka bumi. Kini aku menyaksikan “Rahman dan Rahimmu” yang tanpa batas. Cinta paling tulus diantara semua cinta. Aku merasa tak layak mendapatkan kasih ini, sebab aku sering mengkhianati-Mu. Tapi, hamba benar-benar mengucapkan terimakasih banyak. Terimakasih karena Kau selalu mencintaiku. Ya Rabb, hiduplah dalam hatiku dan jadilah satu-satunya yang aku cintai dalam hidupku. Ya Rabb, hanya Engkaulah cinta sejati yang abadi, kekal dan tidak pernah berubah. Terimakasih Ya Rabb.


Bersambung..

No comments:

Post a Comment