Sunday, July 15, 2018

JULI 2018



   
Bulan Juli ini cukup sibuk untukku berkutat pada masalah pekerjaan, sehingga aku tidak sempat mengurus hal-hal kecil yang semestinya menjadi prioritas, seperti memberikan kado ulang tahun untuk orang lain yang spesial. Pada awal bulan Juli pasca libur lebaran, aku harus mulai mengejar target produksi, sehingga aku melakukan aktivitas di lapangan dengan cukup padat, berangkat pagi dan pulang malam. Lalu tanggal 8-9 Juli, aku membantu sepupu yang mau nikah dan tadinya aku dipaksa jadi pagar ayu, namun beruntung hal itu tidak jadi, karena aku kurang suka berada di keramaian dan diam berjam-jam dengan memakai makeup, sedangkan aku masih harus mengejar target produksi.

Tanggal 10-13, aku harus mengikuti acara “Fundamental Training Leader”, yaitu sebuah training yang dikhususkan untuk para leader, mulai dari Agency Manager, Senior Agency Manager dan Agency Director. Acara ini diadakan di Yello Hotel yang terletak di dalam gedung Paskal Hyper Square. Para peserta yang berasal dari luar kota atau yang berasal dari Bandung Timur diberikan penginapan gratis oleh kantor di hotel ini. Yello hotel merupakan salah satu hotel yang baru saja dibangun dan merupakan saudaranya POP Hotel (maksudnya merupakan hotel-hotel yang dimiliki oleh sebuah perusahaan yang sama).
Aku sangat suka desain dari POP dan Yello Hotel. Meski terbilang hotel yang ekonomis (kisaran 300-500 ribu/malam), namun warna khas dan desain dari hotel tersebut sangat segar, minimalis dan modern. Jika POP Hotel identik dengan warna hijau dan kamar mandi mini (berbentuk kapsul berdiri), lain halnya dengan Yello Hotel yang identik dengan warna kuning, namun kamar mandi lebih besar dibandingkan POP Hotel. Salah satu yang menarik dari Yello Hotel adalah sandal kamarnya yang unik, seperti sepatu bustong tapi bertali dan berwarna kuning. Hal ini terlihat unik, mengingat hampir disemua hotel, termasuk hotel bintang lima, sandalnya ya begitu-begitu saja dan tidak ada terobosan baru.
Entah kenapa diantara semua hotel yang pernah aku singgahi, termasuk hotel bintang lima sekalipun, aku lebih suka hotel yang identik dengan warna cerah, fresh dan unik. Fasilitas dihotel bintang lima yang mewah, banyak fasilitas yang ditawarkan dan banyak pelayanan ekstra memang sangat menyenangkan, namun suasananya sangat membosankan. Dengan cat berwana krem dan gorden cokelat, semua tampak monoton.

    Oke, kembali lagi pada training yang aku ikuti selama empat hari, tiga malam itu, acaranya benar-benar full, mulai jam 09.00-22.00 dan hampir setiap malam aku tidak bisa tidur cepat karena harus mengerjakan tugas. Para peserta training ini sungguh luar biasa dan kebanyakan adalah senior-seniorku yang telah melanglang buana kemana-mana dengan penghasilan fantasitis. Aku yang masih berusia di bawah tiga puluh tahun dengan stasus Agency Manager baru tiga bulan sungguh merasa insecure berada di tengah-tengah mereka. Namun, aku bisa banyak belajar dari pengalaman para senior terutama belajar dari mereka yang bisa bangkit saat berada dalam titik terendah hidup.

    Dalam pelatihan ini, para leader diajarkan untuk memanage para agennya, aktivitas hariannya dan banyak hal tentang sistem, sehingga pekerjaan seorang leader bisa terencana dengan baik. Pada hari ketiga, para peserta diberikan waktu selama 45 menit untuk melakukan kanvasing (menemui orang-orang yang tidak dikenal) dan mencatat nama serta nomor telpon sebanyak-banyaknya. Dalam sesi ini, aku menang karena mengumpulkan 100 nama. Nama-nama tersebut berasal dari pegawai hotel, tamu hotel, pengunjung mall, dll dan setiap orang yang aku temui, aku minta nomor-nomor yang ada di Hpnya. Alhasil terkumpullah 100 nama dan itu sangat menyenangkan, karena aku belajar tentang keberanian, mengatasi rasa malu, dan juga belajar menggunakan strategi yang kreatif untuk mencapai target.

    Mulanya aku berencana membeli kado saat break acara pelatihan, namun acaranya sangat padat. Hingga pelatihan berakhir pada hari jumat, dan aku tiba di rumah pada malam hari, aku tidak sempat lagi menulis apa-apa untuk ucapan ulang tahun atau sekedar menulis pengalaman di blog. Aku sangat lelah dan langsung beristirahat.

    Hari sabtunya, aku masih sangat lelah dan masih harus mengurusi masalah bisinis baju, sepatu dan rencana waralaba kuliner, di samping target di dua perusahaan tempatku bekerja (Perusaan B/kerugian dan Z/life). Hari sabtu juga merupakan ulang tahunku dan biasanya aku sangat suka Triple Cake Harvest, namun karena tidak sempat lagi ke sana karena weekend macet dan delivery tidak bisa sampai ke sini, akhirnya kembali pada kue lama kesukaanku di Holland, yaitu Chocolate Cherry Cake.
Bu Heni pernah bertanya kepadaku saat aku akan membeli kue di Harvest,
“Kenapa Indri yang beli? Seharusnya mama atau papa yang beliin buat Indri?”
Aku lalu teringat ucapan seorang pembicara saat acara MDRT, yaitu Imakulata yang mengatakan bahwa kita tidak perlu merengek untuk meminta kebahagiaan kepada orang lain, tapi selama kita bisa membahagiakan diri sendiri, ya lakukanlah. Itu yang sering dilakukan Imakulata dengan membeli bunga untuk diri sendiri.

    Perkataan Bu Heni memang bisa aku jawab, namun sepanjang jalan pulang hingga hari sabtunya, aku memikirkan kata-kata itu. Aku jadi merasa kasihan dengan diriku sendiri. Saat susah atau senang, jarang sekali orang menunjukkan kepedulian secara nyata kepadaku. Jika mengingat saat ada sahabat sakit atau di rawat, aku selalu ingin jadi orang pertama yang nengok dan memberikan kepedulian. Saat ada yang ulang tahun, aku selalu ingin memberikan kejutan untuk mereka, apapun bentuknya, aku ingin mereka tahu bahwa aku peduli. Tapi, saat aku di posisi itu, saat aku tabrakan, saat aku tipes, dll tak ada satupun teman atau sahabat, atau pacar nongol untuk menunjukkan kepeduliannya. Di saat seperti itu, hanya keluarga inti dan keluarga jauh yang masih peduli untuk datang.
Dan di saat ulang tahun lebih parah lagi, tapi ya sudahlah sebenarnya aku tidak pernah mempermasalahkan itu, karena aku tidak ingin balasan apapun atas apapun yang aku lakukan, tapi karena ucapan Bu Heni lah, aku jadi memikirkan tentang diriku sendiri, “Ko kasihan sekali ya aku!”

Malam harinya, aku bermimpi dengan seseorang dan aku tahu bahwa dia berulang tahun pada hari ini (15 Juli 2018), dan lagi-lagi, hari ini aku membantu ibu membuat tumpeng, membagikannya dan menemani teman juga yang datang ke rumah untuk berobat herbal ke tempat praktek yang berada tidak jauh dari sini. Hari ini juga Pa X nelpon berkali-kali untuk memastikan usaha kuliner yang harus launching pada hari rabu. Dan karena hal ini, aku tidak mengucapkan sepatah katapun ucapan selamat ulang tahun padanya (selain karena whatsapp diblockir). Aku berencana memberikan hadiah besok setelah selesai meeting dan prospek, semoga masih sempat atau memang harus disempat-sempatkan. Tapi, pertanyaanya untuk apa? Simple, untuk kebahagiaan diri sendiri, cukup.

Dan dari sekian banyak kesibukan, target, kesedihan dan puncak insecurities ku di bulan Juli, ada kejutan indah dari-Nya, tepat setelah aku selesai berdoa dengan airmata berurai, tiba-tiba Pa X menelpon dan mengatakan padaku bahwa rekannya yang punya pengaruh setuju untuk membuat kartu asuransi kecelakaan diri yang berbentuk seperti kartu ATM dengan gambar partai atau ormas atau organisasi tertentu dengan manfaat kartu selama satu tahun, adanya penggantian biaya pengobatan karena kecelakaan, adanya santunan meninggal dunia karena kecelakaan dan meninggal dunia biasa dengan biaya hanya 10.000 per kartu. Targetku  adalah menjual minimal 10.000 kartu, karena komisi kartu ini adalah sebesar 25% dan itu adalah target sementaraku pada akhir bulan Juli di Perusahaan B/Kerugian), selain target dari kartu-kartu pelajar plus asuransi di sekolah-sekolah yang tinggal panen saja, karena aku sudah memasukkan propoasal jauh-jauh hari. Sedangkan untuk di Perusahaan Z/Life, targetku jauh lebih besar dan waktu untuk mencapai target sudah tinggal menghitung hari. Ada kontes bulan Juli yang sedang aku incar, yaitu Honda Brio atau uang tunai Rp. 125.000.000,00 dan ini hanyalah kontes bulanan dan bukan komisi utama serta bukan kontes internasional trip utama ke Rovaniemi atau trip kedua ke Turki. Aku sedang mengincar kontes bulan ini, bukan mobilnya, tapi uang tunainya, cukup. Dan untuk itu, aku harus kerja cerdas, tekun dan mati-matian untuk mendapatkannya, serta aku harus mengesampingkan dulu hal-hal yang berkaitan dengan perasaan yang ujungnya menjadikan suasana hati mellow dan tidak bersemangat untuk bergerak.

Menjadi seorang leader alangkah lebih baik jikalau isi dompetnya, timnya dan semuanya memang sudah menunjukkan bahwa dia seorang leader. Dan Bulan Juli ini adalah anak tangga pertama atau pondasi bagiku untuk memantapkan diri sebagai seorang leader. Menemui orang minimal enam orang per hari dan closing (mendapatkan nasabah) sehari satu sudah aku lakukan, namun aku msih perlu meningkatkan case size agar bisa cepat mencapai target besarku di akhir Desember, yaitu uang tunai Rp. 200.000.000, 00 plus internasional trip, aamiin.

    “Penjual bunga itu telah pergi. Puisi-puisinya ia jadikan pelipur lara yang ia baca sendiri tatkala kesepian. Tak ada lagi kelopak-kelopak mawar yang esok lusa layu tatkala sudah dipetik dari pohonnya. Tak ada lagi pecundang yang menghitung rintik-rintik hujan yang jatuh di balik jendela dari orang yang bersikukuh diam di dalam apartemen tua untuk membeku di dalamnya.
Tak ada lagi! Tak ada siapapun di sana! Selamat jalan, sampai jumpa di masa depan!”

Hello-Adelle
Hello, it's me
Halo, ini aku
I was wondering if after all these years
Aku bertanya-tanya apakah setelah bertahun lamanya
You'd like to meet, to go over everything
Kau mau bertemu, menimbang segalanya
They say that time's supposed to heal ya
Orang bilang seharusnya waktu tlah menyembuhkanmu
But I ain't done much healing
Tapi aku tak banyak sembuh
Hello, can you hear me?
Halo, bisakah kau mendengarku?
I'm in California dreaming about who we used to be
Aku di Kalifornia sedang memimpikan kita yang dulu
When we were younger and free
Saat kita belia dan bebas
I've forgotten how it felt before the world fell at our feet
Aku tlah lupa seperti apa rasanya sebelum dunia bersujud di bawah kaki kita
There's such a difference between us
Begitu banyak perbedaan di antara kita
And a million miles
Dan jarak yang membentang

II
Hello from the other side
Halo dari sisi lain
I must've called a thousand times
Aku pasti tlah menelpon ribuan kali
To tell you I'm sorry, for everything that I've done
Tuk meminta maaf, atas semua yang tlah kulakukan
But when I call you never seem to be home
Tapi saat kutelpon, sepertinya kau tak pernah di rumah
Hello from the outside
Halo dari luar sini
At least I can say that I've tried
Setidaknya aku bisa mengatakan bahwa aku tlah berusaha
To tell you I'm sorry, for breaking your heart
Meminta maaf padamu, karena tlah menghancurkan hatimu
But it don't matter, it clearly doesn't tear you apart anymore
Tapi tak masalah, jelas-jelas semua itu tak lagi menyiksamu

Hello, how are you?
Halo, bagaimana kabarmu?
It's so typical of me to talk about myself, I'm sorry
Aku masih seperti dulu, suka bicara tentang diriku sendiri, maaf
I hope that you're well
Kuharap kau baik-baik saja
Did you ever make it out of that town
Pernahkah kau keluar kota itu
Where nothing ever happened?
Dimana tak ada apa-apa?
It's no secret
Bukanlah rahasia
That the both of us are running out of time
Bahwa kita berdua kehabisan waktu

So
Maka

Back to II

Ooooohh, anymore
Ooooohh, lagi
Ooooohh, anymore
Ooooohh, lagi
Ooooohh, anymore
Ooooohh, lagi
Anymore
Lagi








Tuesday, July 3, 2018

Agency Manager

    
Akhir tahun lalu, aku sempat mendua dari perusahaan kuning dengan masuk ke anak perusahaan BTN,  hal ini aku lakukan karena dua perusahaan ini bergerak dibidang yang sangat berbeda, sehingga produknya bisa saling melengkapi saat aku menawarkan kepada calon nasabah, namun setelah resmi berhenti dari perusahaan kuning, aku ditawari untuk masuk ke Perusahaan asal Swiss dengan posisi cukup menggiurkan, yaitu Agency Manager.
Hanya untuk diketahui,  urutan posisi jabatan pada tahun kemarin adalah:

  1. Agency Director (AD) = Posisi tertinggi
  2. Area Sales Manager (ASM)
  3. Direct Manager (DM)
  4. Unit Manager (UM)
  5. Executive Financial Consultant (EFC)

Sedangkan urutan posisi jabatan pada tahun ini diubah, menjadi:
  1. AD = Posisi tertinggi
  2. SAM
  3. AM (Agency Manager)
  4. EFC
Posisi AM saat ini serupa posisi DM pada tahun lalu.

    Mulanya,  tawaran dari perusahaan ini aku abaikan,  karena aku ditawari lagi untuk masuk pada perusahaan lama, namun karena jenjang karier di Perusahaan Swiss lebih baik dibanding perusahaan lama,  akhirnya aku memutuskan untuk menerima tawaran menjadi Agency Manager.

    Menjadi AM disaat teman-temanku diperusahaan lama masih dalam posisi EFC, bahkan leaderku ada yang downgrade, membuat aku cukup bangga, namun ternyata tantangan saat menjadi AM  tidaklah mudah.

    Pertama,  menjadi seorang leader sudah harus memiliki sebuah tim yang benar-benar produktif. Walaupun aku sudah merekrut seorang Kepala Sekolah dan Direktur disebuah perusahaan,  namun jarak cukup menyulitkan untuk melakukan meeting dan evaluasi setiap saat. Timku berada di Jakarta,  sedangkan meeting seringkali diadakan di Bandung. Aku merekrut juga orang-orang muda yang berdomisili di Bandung,  hanya saja komiten mereka tidak sekuat orang berumur yang sudah memiliki kewajiban sebagai kepala keluarga.

    Kedua,  target produksi juga lebih besar dibanding saat menjadi EFC.  Hal ini bukan sesuatu yang berat jika setiap hari memang benar-benar beraktivitas menemui orang minimal lima. Peluang mereka masuk akan lebih besar jika kita menemui orang sebanyak-banyaknya dan melakukan followup.

    Ketiga,  tidak sedikit orang yang benci saat aku langsung berada diposisi AM, salah satunya adalah teman lama di Perusahaan Kuning dan ditambah beberapa orang di Perusahaan sekarang.
Seperti cerita AD ku tadi saat kita meeting, ada EFC yang protes dengan aku yang sekarang berada di posisi AM,  namun produksiku tidak lebih baik dari dia. Mendengar hal itu, aku tidak marah sama sekali,  aku justru berterimakasih karena itu sudah menjadi pecut untukku agar bisa berlari lebih kencang. Perlu diakui,  aku memang belum benar-benar fokus, ditambah kemarin-kemarin, orang yang aku prospek memang sedang mempersiapkan diri untuk lebaran, sehingga tidak berpikir untuk menabung, karena banyak pengeluaran.

    Setelah meeting tadi siang, aku seperti terbangun kembali. Aku harus bisa berprestasi seperti diperusahaan lama. Aku harus fokus. Memang sejak masuk pada bulan April 2018 di sini,  aku belum bisa optimal, karena merangkap pekerjaan, entah itu di anak perusahaan BTN, juga sebagai wirausaha. Tapi setelah mendapatkan tamparan cukup keras, aku mulai sadar, bahwa aku punya tanggung jawab yang besar,  terutama terhadap AD yang merekomendasikan aku untuk langsung berada di Posisi AM.

    Alhasil,  setelah pulang meeting dan mampir ke Bank BCA sebentar, sorenya aku beraktivitas kembali. Aku menemui lima orang dari jam 16.00-18.15. Dua orang sudah memutuskan jadi nasabah (yang satu bayar hari kamis), dua lagi jadi agen,  dan satu orang menolak.

    “Hasil tidak akan mengkhianati ikhtiar”
Aku setuju dengan kalimat ini. Seringkali kita mengeluh karena hasil tidak sesuai yang diharapkan,  padahal ikhtiar kita belum maksimal. Dan satu hal yang harus diingat adalah kita tidak boleh membenci orang yang mengkritik kita atau iri dengan kita,  karena kadang-kadang kita bisa berprestasi setelah menerima kritikan pedas dari mereka.

    Terimakasih untuk hari ini,  terutama untuk AD ku yang selalu yakin bahwa aku bisa menjadi yang terbaik meskipun dalam hal usia,  aku jauh lebih muda dibanding rekan-rekanku AM dan beberapa EFC senior. Terimakasih juga sudah mendaftarkanku training khusus leader, pada tanggal 10-13 Juli 2018 di salah satu hotel di Bandung,  karena tidak semua orang diberikan kesempatan untuk ini dan training ini free, meskipun ada denda Rp. 1.000.000 untuk yang batal hadir,  namun hal ini wajar, karena perusahaan pasti sudah booking beberapa kamar untuk peserta, ballroom untuk acara, dll.

    Terimakasih juga pada-Nya yang selalu memberi kesempatan luar biasa dalam hidup ini dan juga pada Orangtua yang selalu ada dalam suka dan duka. Tahun ini insyaallah aku dapat trip ke Turki dan juga komisi sesuai dengan yang diharapkan. Aamiin.

“Ketika kau menginginkan sesuatu, Alam Semesta akan bersatu untuk membantumu menggapainya” - The Alchemist

Sunday, July 1, 2018

LIA




Kapal berlabuh di atas muara tanpa kata-kata.
LIA!
Jika esok pintu terbuka segera, akan aku tanyakan tentang rembulan yang tak ingin kembali pada sarang bumi.
Dedak kopi mengendap di dalam cangkir teh hangat. Tapi,  itu bukan kopi, bukan pula teh!
Dan mata masih mengais-ngais resah pada jembatan yang hampir roboh di atas sungai tanpa nama.
Mungkinkah esok,  kaki-kaki itu segera berlari?  
Dan “LIA” masih jelas terbaca dalam reruntuhan puing-puing kapal tua?

Matanya berkaca-kaca,  mungkin ada yang dikenang dalam ejaan L-I-A yang dia baca.
Atau bisa saja ada yang ditunggu dan diharapkan datang tatkala kapalnya mulai karam.

LIA, bulan Juli telah datang!
Tengoklah bumi sekali-kali.
Barangkali di sana masih ada puing-puing yang bisa kau rakit lagi.
Tak usah berlayar! Tak perlu menyebrangi!
Rakit saja, biarkan ia utuh lagi!

Thursday, June 28, 2018

JEMBATAN SENYUM


Jembatan senyum dan kayu-kayu yang berpesta haru.
Apalagi?
Apa yang bisa menggerakan kaki-kaki terluka melintasi deras dan kerasnya hidup?

Kasih adalah penggerak,
Tulus adalah penyeimbang,
Dan senyum serta rasa sayang itu adalah nyawa tanpa batasan energi.

Aku hidup lagi!
Berjalan tanpa sepasang kaki,
Berpegangan tanpa jari-jari tangan,
Melihat dengan mata buta.
Tapi,  kali ini aku benar-benar bahagia.

Cinta ada di mana-mana!
Di rambut-rambut beruban yang tak bisa lagi disebut hitam.
Di wajah-wajah keriput yang masih berjalan penuh harapan.
Di aliran-aliran darah yang mengalir satu sama lain.
Di sewujud kata ikhlas yang kerapkali bergembira saat terlepas dari muara ketulusan.

Bahagia ada dimana-mana!
Bukan lagi hanya ada pada batas antara nafsu dan keinginan memiliki yang tak bisa dimiliki!

Cinta dan bahagia kerapkali berkata bahwa mereka ada di mana-mana!
Bukan disebatas interaksi fisik dan gejolak-gejolak hati yang ujungnya menyakiti.
Bukan disurat-surat yang mengatasnamakan kata "menyayangi", namun tak abadi.

Cinta dan bahagia adalah yang tak bisa kau eja oleh lidah kelu dan mata buta seorang budak asmara.

Cinta dan bahagia adalah rasa yang kau hirup tatkala senyuman-senyuman tulus bermunculan atas nama pengorbanan dan tumbuh di atas ejaan-ejaan yang tak pernah ingin ada balasan.

Cinta dan bahagia adalah kesatuan penggerak yang kelak akan kau pahami tatkala kedua kaki berdiri di tepi bibir jurang itu..
Ketika sepasang kaki dihadapkan pada pilihan antara menyerah atau mati!
Kau akan mengerti..
Cinta dan bahagia atau nafsu dan seteru itu tidak sama.

Rasakan lagi,  berulang-ulang..
Sampai kau tau ke mana arah jalan pulang!

Selamat berjalan pada jembatan usia yang siap merengkuh asa.

HAPPY 30TH BIRTHDAY DARL,  I HOPE YOU HAPPY FOREVER 😘😘.

Tuesday, June 26, 2018

PILGUB 2018





    PILGUB 2018 akan dilaksanakan besok dan dari awal,  saya sudah menjatuhkan pilihan pada Ridwan Kamil. Alasan sederhananya karena Kang Emil sudah membuat Kota Bandung menjadi lebih maju dan indah,  sehingga harapan saya, beliau bisa membuat Jawa Barat juga lebih tertata.

    Berbeda dengan Partner bisnis saya,  Pa X dan kawan-kawannya yang membela mati-matian pasangan calon No 3. Alasannya banyak,  bahkan tadi beliau mengirimkan video yang menjelek-jelekkan Kang Emil, dengan mengait-ngaitkan Lucinta Luna dengan pidatonya. Entahlah, selain itu mereka bilang kalau sampai Ridwan Kamil menang,  maka nanti Jokowi ada peluang besar jadi presiden lagi. Nah, urusan presiden, saya memang masih pilih Pak Jokowi, meskipun banyak dijelek-jelekan, tapi saya akan pilih Pak Jokowi nanti saat pilpres.
    
    Besok saya jadi saksi untuk pasangan nomor satu dan saya juga memilih nomor satu. Saya tidak ingin debat dengan Pa X yang meminta untuk memilih nomor tiga. Saya jawab iya saja,  beres tapi pilihnya tetap nomor satu. Hehehe

Sunday, June 24, 2018

TMT

    


Berawal dari tahun lalu ketika kepala panti asuhan mengenalkanku dengan pengusaha itu, sebut saja Pa X. Kita bertiga kemudian berencana untuk melakukan kerjasama. Mereka tertarik dengan susu kedelai buatanku, selain itu Pa X juga ingin agar aku membantunya untuk memulai usaha kuliner dan membuka cafe,  namun semua rencana ditahun kemarin hanya tinggal rencana, semuanya tidak diwujudkan.

    Kemudian pada tahun ini secara tak terduga,  Pa X menghubungiku dan mengatakan bahwa dia ingin memulai usaha kuliner dengan sistem waralaba. Dia yang membayar 5 tempat usaha,  peralatan, dan semua modal yang dibutuhkan, sedangkan ide usaha dan pengelolaan semua diserahkan kepadaku. Aku diberi tanggung jawab untuk memegang kendali,  termasuk kerjasama dengan mitra usaha dan pegawai.

    Dari rencana tersebut,  kita kemudian sering bertemu untuk membicarakan kelanjutan usaha dan survey lapangan,  namun lambat laun, dia yang sudah beristri berniat untuk poligami. Dia kemudian ingin dikenalkan dengan teman-temanku. Mulanya aku melontarkan sikap sangat tidak setuju tentang poligami, terutama dia sembunyi-sembunyi dari istrinya, tapi dia terus berargumen, hingga pada suatu waktu dia melihat foto-fotoku bersama teman-teman saat fitness dan aku menceritakan tentang temanku yang tak lain adalah seorang janda, dia kemudian ingin agar aku mengenalkannya pada janda itu. Alhasil,  hari itu temanku datang saat aku sedang makan siang bersama Pa X. Aku lalu pulang karena harus menjemput keponakan, sedangkan Pa X dan A pergi shopping.

    Dari pertemuan itu,  A bercerita bahwa Pa X menawarinya apapun yang dia mau di mall dan A hanya membawa sepatu seharga Rp.  400.000,00. Pa X sudah berani pegang tangan dan meminta A untuk jadi pacarnya, namun A mengatakan “Jalani saja dulu”. A sedikit kaget saat Pa X mengatakan bahwa dia tidak berani bersikap begitu jika dengaku (tidak berani pegang tangan).  A kemudian protes, kenapa terhadapnya, Pa X berani bersikap demikian? Pa X tak bisa menjelaskan.

    Pertemuanku dengan Pa X masih intens, meski rencana usaha kuliner ditunda setelah lebaran,  namun aku mulai join dengan usaha distronya karena temanku I membutuhkan supplier baju. Aku pun jadi sering ke outlet Pa X. Dia memiliki konveksi,  beberapa distro khusus pria dan grosir yang tersebar diberbagai kota. Dia juga supplier bagi toko-toko baju yang tidak memproduksi baju sendiri.

    Hingga pada hari kamis,  aku bertemu lagi dengan Pa X,  dia mengajakku pergi ke tempat wisata esok harinya. Aku mengiyakan dan ingin mengajak teman-teman dan adikku. Pa X setuju.

    Hari jumat,  seperti yang telah direncanakan,  aku mengajak adik dan dua anaknya,  A dan juga B (dua-duanya janda dan mereka masih saudara jauh).  Namun, A kemudian membatalkan setelah mengetahui aku mengajak adik.

Kita berencana berangkat setelah shalat jumat,  namun setelah semua siap, Pa X tiba-tiba membatalkan dengan alasan ada saudaranya dari Jakarta datang.

Aku tak percaya begitu saja,  aku tahu pasti alasan dia membatalkan adalah karena A tidak ikut. Aku sangat kecewa saat itu, karena keponakan-keponakanku batal jalan-jalan.

    Sore harinya, aku melihat postingan foto A dan B di facebook tengah jalan-jalan di mall. B kemudian minta maaf karena tidak mengajakku,  alasannya karena dadakan setelah Pa X membatalkan acara tadi.
Malam harinya, Pa X minta maaf kepadaku karena membatalkan acara hari ini,  namun tak pernah aku balas.

    Hari sabtu,  aku, adik dan dua anaknya kemudian pergi juga jalan-jalan tanpa Pa X dan pulang tengah malam. Rasanya sangat menyenangkan walaupun sangat lelah.

     Pa X kemudian mengajakku makan pada hari minggu sekalian pergi ke outletnya. Dan hari ini aku baru tahu satu hal yang sangat mengejutkan. Pa X menceritakan bahwa pada hari jumat,  setelah dia membatalkan acara denganku, Pa X sebenarnya mengajak A untuk pergi dengannya. A kemudian setuju dan dia mengajak B. Namun, tiba-tiba Pa X membatalkan, padahal A dan B sudah menunggunya di jalan. Whatsapp Pa X kemudian diblokir oleh A.

    Dari situ aku benar-benar kecewa dengan A dan B. Mereka seperti menikamku dari belakang. Pantas saja dari hari Jumat hingga tadi aku posting di FB,  B seperti merasa bersalah.
Pa X juga kemudian tahu bahwa A punya banyak pacar dan tidak memberi kepastian kepada satupun diantara mereka. Pa X bahkan pernah mengajak A ke Bali hanya untuk mengetes dia,  apakah dia wanita baik-baik atau bukan.

    Dari situ,  aku kapok mengenalkan teman pada teman, karena sebelum kasus ini,  aku juga pernah punya teman C yang dikenalkan pada D untuk kerjasama travell. C meminjam uang kepada D melalu perantara aku dan aku diberi komisi oleh C. Namun,  setelah aku kenalkan C kepada D langsung (melalui whatsapp dan tidak pernah bertemu) , mereka kemudian kerjasama lagi dengan uang pinjaman yang lebih besar tanpa sepengetahuanku. Tapi, akhirnya D cerita setelah uangnya di C macet sampai sekarang.

    Hingga kasus sekarang antara aku,  Pa X dan A sebenarnya sedikit membingungkan. Aku dan Pa X hanya partner bisnis, namun Pa X selalu sembunyi-sembunyi dari keluarga dan karyawannya saat harus komunikasi dengaku,  padahal statusku bukanlah pacarnya. Seperti hari tadi saat aku harus ke outletnya setelah kita makan siang, aku diturunkan lebih dulu sebelum mobilnya parkir di depan outlet. Lalu dia akting di depan karyawannya saat bertemu denganku seolah-olah memang kita baru saja bertemu di outlet, padahal beberapa menit lalu dita makan siang bareng. Padahal Pa X tidak perlu bersikap seperti itu,  karena akupun menganggapnya seperti partner bisnis dan seperti orang tua sendiri. Dan karena sikapnya ini, A juga merasa aku dan dia seperti saingan untuk mendapatkan Pa X.

    Tidak. Aku ingin mengatakan itu Pada Pa X atau A. Aku tidak ingin jadi “Pelakor”, apalagi hanya karena alasan uang. Allah Maha Pemberi Rezeki dan hanya Allah yang bisa membolak-balikan hati manusia. Jika sekarang Pa X baik terhadapku,  itu karena Allah yang membolak-balikan hatinya sehingga jadi baik, dan bisa saja suatu hari Allah membalikkannya lagi. Aku hanya ingin bergantung kepada Allah, bukan kepada makhluk. Aku tidak ingin seperti A yang mengandalkan dukun dalam segala hal dan mengandalkan banyak laki-laki yang menyukainya tanpa memberi kepastian sedikitpun.
    

*Nulis sepanjang ini di smartphone.
Foto-foto hari Sabtu dan tadi.
































Monday, June 18, 2018

19 Juni



19 Juni, rindu berkecamuk pada tahun ke enam di kalender.
Sesegera mungkin,  “harap” tergeletak bersama bangkai-bangkai tanpa nyawa.
Dia bersikukuh tinggal dibalik tembok tanpa jendela.
Dan pintu berdiri kokoh dengan rantai dan gembok-gembok tanpa kunci.

Wajahnya kian terlupa,  suaranya nyaris sirna!
Tapi, hatinya masih tertinggal dalam jiwa.
Di dalam jantung tempat kehidupan dipompa dalam darah.
Dia masih bersikukuh tinggal sebagai pendatang yang pertama.

6 tahun!
Dan angin menerbangkan kalendernya.
Melupakan angka 19 yang tertambat di bulan juni.
Dan judul-judul tentang selimut berbulu angsa terbuka lagi.
Ada namanya,  ada kisahanya, ada semua yang aku rahasiakan dari purnama.
Jingga..


(Happy 6th Anniversary dear,  i miss you)