Sejauh ini angin berbicara pada waktu. Mengibaskan kabut salju berwarna ungu. Dingin yang menyesapi jalan-jalan beraspal penuh nyeri. Bunga yang bermekaran di bawah langit jingga tanpa hujan yang mengguyur biru dihamparan padang tandus pilu.
Oh, badai tengah berkecamuk senja ini, menukik dan menghardik penggembala bermata buta. Jingga dan senja, keduanya tak lagi ada. Mega telah menutup barisan langit berlatar abu, mendung.
Ada secarik kertas terhempas, menyisir daun-daun kering jalanan tempat kita mengadu lara. Terbang jauh mengudara, mencari satu warna, Jingga.
Jingga, angin dan kupu-kupu, sayap den gemerlap, hujan dan kesepian, semua mengharu biru di rumah kenangan. Menunggu langkahmu bergerak membuka pintu. Menanti suaramu menyapa dipuncak rindu. Jingga, sapa aku!
18 Februari 2015
Aku masih diam ditempatmu meninggalkan jejak. Berjam-jam lamanya aku diam. Apakah kau tahu, rindu yang seperti apakah yang ingin aku perlihatkan padamu? Ah, tapi sepertinya itu tak akan membuatmu menoleh dan sejenak mendengarkan apa yang ingin aku katakan. Aku pun melangkah, aku menghampirinya.
19 Februari 2015
Aku melihatnya. Ya, dia yang hampir tiga tahun ini mengharapkan kedatanganku. Dia yang begitu berlebihan menyembunyikan rasa itu. Aku beku. Masih dengan bahasaku, aku begitu menggebu menceritakan semua tentangmu, tentang kerinduan-kerinduan yang tak sempat aku tumpahkan padamu. Dia diam, dia tersenyum, dia masih sama, dia selalu berbicara dalam kalimat tanpa kata-kata, tapi aku dapat mengenalinya, aku mengartikan ekspresi itu. Dia cemburu.
Hingga kita melihat hamparan laut pada malam itu, aku masih beku, diam termangu ditempatku. Tepat di belakangku, dia menatapku. Kita bercengkrama tanpa kosakata. Dia padaku dan aku padamu. Aku mencoba mensejajarkan garis pandang, dia menghampiriku. Dia menatapku dari dekat, aku menghiraukannya. Lalu kita mulai berbaur dengan hamparan laut dan nyiur di pesisir, membiarkan diri ini larut dan tertidur pada hamparan alam dan payung teduh semesta. Kita bahagia.
Hingga waktu menetaskan kalimatnya, aku kehilangan semestaku yang berpayung teduh. Dia yang menamaiku biru. Usai sudah, semuanya berlalu.
Mulanya, dia tak mengharapkan kedatangan kedua ini. Sesuatu yang menurutnya “tiba-tiba”, karena rasa masih berjelaga di dadanya. Dia menemuiku dalam sorot mata yang lain. Dia terpaksa. Dalam keterpaksaan, aku masih bersikeras dengan egoisme diri. Memaksanya tinggal, namun dia membelakangiku dan aku memunggunginya. Semua hambar, kosong. Namun, aku masih bersiap di kotanya, mencoba berpacu dengan adrenalin waktu. Jumat, sabtu, minggu, senin. Satu malam dengannya, namun tiga hari dalam kesendirian. Terkungkung dalam bejana penuh amarah. Aku menumpahkan amarah itu lewat kata-kata, membunuhnya dalam bahasa. Hingga senja yang menamai dirinya jingga, mengajakku berjalan sore itu. Ya, pada sore yang ketiga di hari minggu, aku baru berkelana dengan semesta. Aku berpesta dengan debur ombak dan keramaian alam, lalu jingga menghardikku karena aku baru menyapanya kali ini. Aku begitu terpukau kala itu. Hingga larut malam aku masih terpaku dan bercinta dengan kesendirian di tepi pantai. Indah.
Senin, aku berpacu dalam pijaran mentari kala itu. Menyebrangi laut, memecah biru, berteriak di lepas samudera hingga berbaur dengan alam berpasir putih dan menyelami seluk beluk latarnya yang kokoh dan rimbun berwarna hijau. Aku, laut, dan kesendirianku. Lengkap sudah, akupun berlalu, mulai lagi merenda kenangan, walau tanpa kupu-kupu merah jinggaku dan tanpa dia yang memanggilku biru.

No comments:
Post a Comment