Saturday, February 29, 2020

MENGUBAH KEBIASAAN




    Masih di depan layar handphone berukuran 6,53 inci, dengan handsfree terpasang ditelinga, mataku tidak bosan-bosannya menonton anime itu lagi dari episode satu. Ini bukan kali pertama aku menonton sesuatu secara berulang-ulang. Pernah sebelum ini aku keranjingan salah satu drama saeguk Korea yang menceritakan tentang seorang pelukis pada jaman Dinasti Joseon, lalu aku juga hanyut dengan film yang diangkat dari kisah nyata yang menceritakan kisah seorang model dunia yang terkena AIDS di Amerika, dan terakhir aku menyukai serial Mandarin di jaman Dinasti Song. Tidak ada yang aneh dengan film, drama, serial atau anime itu, tapi yang membuatku heran hingga detik ini adalah aku selalu menontonnya berulang-ulang, ketika sebuah tontonan begitu menyentuh perasaanku. Dan setelah menontonnya, aku seakan hanyut ke dalam alur cerita film yang telah aku tonton. Setelah sadar akan hal ini, aku berusaha untuk mengubah kebiasaanku, karena aku pikir aku akan kehilngan banyak waktu jika kebiasaan ini terus dilakukan.

    Belum lama ini, aku membaca sebuah buku yang sangat bagus, berjudul “The Power Of Habit” karya Charles Duhigg. Di dalam buku itu dijelaskan tentang pentingnya sebuah kebiasaan dalam mempengaruhi kehidupan kita. Pernah suatu ketika seorang kakek kehilangan sebagian ingatannya. Dia bahkan tidak bisa menggambarkan denah rumahnya. Dia juga tidak mengetahui di mana letak kamar mandinya. Namun, ketika dia ingin buang air, dia tiba-tiba berjalan ke kamar mandi, padahal baru beberapa menit yang lalu dia lupa di mana kamar mandinya berada. Sang kakek tua juga pernah tiba-tiba membuat istrinya khawatir, ketika suatu pagi, sang istri tidak melihatnya di rumah. Nenek itu kemudian mencarinya kemana-mana. Dia khawatir kalau suaminya tidak bisa pulang karena tidak ingat tempat tinggalnya. Namun, alangkah terkejutnya nenek itu, ketika dia sampai di rumah, dia mendapati suaminya tengah menonton TV.
Dari kejadian ini, seorang peneliti kemudian mengetahui bahwa kakek tersebut bisa mengetahui kamar mandinya di mana dan juga pulang ke rumah tanpa tersesat karena adanya kebiasaan yang berulang-ulang, sehingga tanpa disadari, otak akan dengan mudah menujukkan jalan yang telah terekam di alam bawah sadarnya.

    Hal serupa terjadi pada seekor tikus yang dijadikan objek penelitian, di mana seekor tikus itu di masukan ke dalam sebuah lorong yang di sudut lorong itu disediakan cokelat. Pada awalnya, otaknya bekerja keras untuk bisa menemukan cokelat itu. Tikus terus mencari ke berbagai sisi tanpa lelah, karena bau cokelat itu membuat lelahnya hilang begitu saja. Dan ketika tikus kemudian menemukan cokelatnya, maka ada yang terjadi di dalam otaknya, ada sebuah kepuasan yang mampu mengganti energinya yang hilang karena berusaha mencari cokelat untuk pertama kalinya.
Pada hari-hari selanjutnya, tikus bisa melakukan kegiatan mencari cokelat itu dengan lebih cepat, tanpa kendala dan energi yang dia keluarkan juga tidak terlalu banyak. Tikus bisa menemukan cokelat itu karena adanya kebiasaan yang berulang-ulang, sehingga tanpa dia sadari, dia bisa menemukan apa yang dia cari tanpa perlu bersusah payah berpikir dan mencari.

    Belajar dari beberapa kasus yang ada dalam buku ini (Ada banyak sekali, termasuk kisah pemilik Starbucks, dll), kebiasaan adalah sebuah ukuran yang bisa menentukan kesuksesan seseorang. Bagaimana tidak, sebuah kebiasaan yang buruk jika dilakukan terus menerus, maka kebiasaan tersebut akan mengambil alih bagian di dalam alam bawah sadarnya dan kemudian secara perlahan kebiasaannya menjadi identitas dari orang yang bersangkutan.
Betapa mengerikannya ternyata sebuah kebiasaan secara tidak langsung membentuk pola perilaku kita selanjutnya.

    Kembali kepada kebiasaanku menonton film secara berulang-ulang, sebetulnya aku tidak setiap saat menonton film, karena aku melakukannya jika ada waktu luang, dan kebanyakan adalah ketika menjelang tidur. Tapi, ketika aku menggali kebiasaanku ini lebih jauh, ternyata aku menghabiskan waktu untuk menonton, ketika aku mengalami beberapa kondisi, diantaranya adalah ketika sedang menstruasi (tidak shalat dan suasana hati berubah-ubah), ketika kesepian, dan ketika terlalu banyak pikiran di kepala (entah tentang bisnis atau tentang apapun). Dari sini, aku bisa menarik kesimpulan bahwa aku menonton hanya untuk mengalihkan suasana hati yang sedang aku rasakan. Dengan tontonan yang pas, aku seakan bisa meluapkan apa yang aku mau, namun tidak bisa terwujud dalam kehidupan nyata. Yang aku dapatkan dari menonton adalah sebuah perasaan puas dan lega yang tidak bisa aku temukan dengan kegiatan lain (dalam kondisi tertentu). Aku kemudian sadar, bahwa aku harus mengganti kebiasaan itu dengan sebuah kebiasaan yang bisa memberikan  rasa puas yang sama, dan jawabannya adalah dzikir.

    Aku sudah mengetahui hal ini sejak lama, betapa dzikir bisa memberikan ketenangan lebih besar dibandingkan ketika menonton. Tapi aku tidak menjadikannya sebuah kebiasaan, sehingga dzikir tidak otomatis aku lakukan ketika suasana hati sedang penat dan jenuh.
Aku kemudian memilih istighfar sebagai dzikir yang aku sebut setiap saat, sebab aku sadar bahwa dengan istighfar, dosa-dosa juga bisa terampuni.

    Istighfar memang sungguh dahsyat, karena ketika bersitighfar selepas wudlu, aku bisa melakukan muhasabah diri, mengingat kesalahan-kesalahan di masalalu, dan aku juga bisa berpikir ulang ketika ingin melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat.
Ternyata mengubah satu kebiasaan saja bisa mengubah banyak hal dalam hidup kita. Maka dari itu, sebaiknya kita bisa mengubah kebiasaan yang tidak baik secepatnya, sebelum kebiasaan itu mengubah jati diri kita dimasa depan.

    Sekarang aku bisa bernafas dengan lega, karena dorongan kuat dan obsesi diri untuk menonton sesuatu yang begitu menyentuh perasaan secara berulang-ulang bisa aku alihkan dengan istighfar. Dan alhamdulilah aku mendapatkan ganjaran berupa rasa tenang dan damai yang jauh lebih besar dibandingkan ketika aku menonton film.

"Kebiasaan itu kuat, tetapi halus. Mereka dapat muncul di luar kesadaran kita, atau dapat dirancang dengan sengaja. Kebiasaan sering terjadi tanpa izin kami, tetapi dapat dibentuk kembali dengan mengutak-atik bagian mereka. Mereka membentuk hidup kita jauh lebih dari yang kita sadari — mereka begitu kuat, pada kenyataannya, sehingga menyebabkan otak kita melekat pada mereka dengan mengesampingkan semua hal lain, termasuk akal sehat. ” - Charles Duhigg

Thursday, February 27, 2020

Kolom Pertanyaan




    Tadi malam, ada seseorang yang tidak aku kenal mengirimkan email dan isinya adalah pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya pernah dia tanyakan di Ask.fm, namun tidak pernah aku jawab. Seingatku aku tidak pernah membuat akun Ask.fm, tapi sudahlah mungkin bisa saja aku lupa. Dan orang itu ingin aku menjawab pertanyaan-pertanyaan ini diblogku. Ok, sekarang aku akan menjawabnya.

    “Aku pernah membaca tulisanmu tentang sepatu dan ditulisan itu kamu menjelaskan bahwa sepatu yang kamu sukai adalah boots,  tapi seingatku tahun 2014, kamu keranjingan banget pakai sepatu sport. Nah, sekarang aku ingin tahu sepatu-sepatu sport apa saja yang kamu sukai saat ini?”

Membaca pertanyaan pertamanya membuat aku bertanya-tanya, siapakah orang ini? Karena yang aku baca di emailnya, dia memakai nama samaran dan alamat emailnya pun demikian. Dan sudah bisa ditebak kalau orang ini adalah orang yang mengenalku, entah teman, sahabat, atau mungkin mantan,haha. Oke, menjawab pertanyaannya, langsung saja aku tunjukkan dengan gambar, diantaranya adalah seri Nike Uptempo, Nike lebron, Nike Air Jordan, Nike Jordan 1 High Zoom  Fearless, Nike SB Dunk High Hornet, Nike Air Rift, Nike Lebron, Nike & Adidas Slip On, Asic Gel Lite. 













Secara keseluruhan, aku memang suka dengan sepatu-sepatu basket, meskipun aku tidak bisa bermain basket, tapi aku merasa nyaman menggunaknnya, namun untuk aktivitas sehari-hari, aku lebih banyak menggunakan sepatu slip on yang simple. Aku juga suka dengan sepatu yang unik, seperti sepatu Nike Jordan 1 High Zoom  Fearless yang aku pakai hari minggu, warnanya berubah ketika berada di bawah sinar matahari dan itu sangat unik, disamping sepatunya yang empuk dan solnya yang bagus.

Pertanyaan kedua:
    “Apa yang paling kamu sesali saat ini?”
   
    Banyak, tapi yang pasti aku telah menyia-nyiakan banyak waktu untuk hal-hal yang kemudian merugikan diri sendiri. Kalau bisa memilih, sepertinya aku ingin masuk ke dalam lorong waktu dan kembali ke masa perkuliahanku, karena ada banyak yang ingin aku perbaiki di sana, bukan soal nilai, tapi tentang hubungan persahabatanku yang telah mengacaukan semuanya.

    “Menurut kamu, apakah cinta pertama sangat penting, meskipun secara fisik dia tidak lebih tampan/cantik dari pacar kamu selanjutnya?”

    Kadang-kadang, cinta adalah bagian yang paling kita sesali saat ini, ketika cinta yang dulu kita puja ternyata hanyalah permainan dari hawa nafsu semata. Jadi, menjawab pertanyaan di atas, aku kira cinta pertama itu sangat tidak penting, begitupun dengan cinta-cinta selanjutnya, karena pada dasarnya semua hanya nafsu dan ketika kita sadar, kita telah melewatkan banyak waktu dan kesempatan, sedangkan mereka sudah berlalu begitu saja. Aku bukan pesimis ya, tapi ini adalah sebuah jawaban untuk “cinta yang salah” yang lebih banyak mempertuhankan hawa nafsu di dalamnya.

    “Apakah saat ini kamu sedang merindukan seseorang?”

    Ya, aku merindukan dia yang sudah aku anggap seperti sahabat dan saudaraku. Dia suka membaca tulisan-tulisanku dulu, tapi dia memutuskan silaturahmi karena perasaannya sendiri. Dia menjauh karena menurutnya, saat dia kembali berteman denganku, perasaannya kadang-kadang muncul lagi. Dan menurutku itu sangat konyol. Aku bahkan datang ke pernikahannya dan aku merasa bahagia, tapi kenapa dia masih bersikap seperti itu? Berarti masalah utamanya ada pada diri dia sendiri. Selain itu, aku merindukan dia yang orang-orang sebut “cinta pertama”, tapi saat ingat bahwa dia pernah selingkuh dengan teman kampusnya di Jakarta, rasa rindu itu kemudian hilang begitu saja.

    “Sepatu adalah caraku membahasakan rindu! Apa artinya kalimat itu? Apa itu berkaitan dengan usaha sepatu kamu sekarang?”

    Cinta pertamaku sangat menyukai sepatu. Awal aku bisnis sepatu adalah karena dia dan kita menjalankannya berdua, namun setelah lima tahun kita pacaran, lalu putus, maka aku melanjutkan usaha itu. Membuka toko sepatu adalah salah satu bentuk mengobati kerinduan aku terhadapnya. Melihat sepatu seperti mengingatkan aku kepadanya. Aku mungkin sangat merindukan dia, namun aku tidak pernah mengakuinya. 
Sejak 2016 sampai sekarang kita tidak pernah bertemu lagi dan berkomunikasi, sehingga sangat wajar kalau aku merindukan dia.

    “Ini pertanyaan terakhirku: Apa kamu pernah membenci takdir?”

    Mungkin saat aku berada dalam masa labil, aku pernah membencinya, tapi sekarang aku tidak membenci takdir sama sekali, karena aku sadar bahwa hidup adalah sekumpulan ujian dan ujian setiap orang berbeda-beda, sehingga yang harus aku lakukan adalah berjuang agar lolos dari ujian itu, bukan malah membencinya. Aku harus menjadi pemenang , bukan pecundang.

    Terimakasih sebelumnya telah mengirim pertanyaan-pertanyaan melalui email, semoga terjawab

Wednesday, February 26, 2020

LILIN USIA



Bagaimana rasanya memiliki sayap? Bagaimana rasanya terbang melintasi pagi dan membangun harapan dari anyaman jerami yang dianyam sehelai demi sehelai di atas ranting pohon? Bagaimana rasanya bebas, sedang taring-taring malam tengah bersiap-siap untuk mencengkrammu? 

    Masih sebagai penonton, aku menikmati alur yang disajikan pagi setiap hari. Aku memeluk malam, terjaga dalam gaduh yang tak pernah selesai aku mainkan dalam spasi. 
Kenapa hari-hari menjadi lebih asing daripada belasan tahun yang lalu? Kenapa secepat ini denting waktu mengubah haluan harapan yang lebih dahulu aku sapa dimasalalu?

    Aku membacanya berulang-ulang, kalimat-kalimat pengandaian yang terjebak di batas relung penyesalan. Ada apa? Sepertinya pondasi-pondasi yang dulu berdiri tegak, kini mulai rapuh dimakan rayap. Tawa itu, bising yang tengah mengirimku pada jurang rasa sakit. Sebut saja hari ini adalah apa yang tak pernah aku pikirkan dahulu. Lompatan dari angka-angka yang masih menyala di atas lilin usia. Garis wajah dan simetrisnya yang mulai tak sama. Lekuk tubuh dan pesonanya yang mulai pudar oleh masa.

    Kita tak akan lagi sama, seperti sebutan dan panggilan yang layak aku sebut sebagai petir dari neraka. Aku tak pernah menginginkannya. Hidup telah memperjelas di mana sekarang kita berada, di batas mana!
Aku merasa kalah oleh rasa takutku sendiri. Rasa asing di mana dunia telah berbeda dari apa yang aku lihat dulu. Kenapa sekejam ini putaran waktu menari dalam tariannya? Kenapa gravitasi telah mengendurkan harapanku untuk tetap berjalan dengan sebutan “muda”?

    Kesedihan itu, tawa yang sengaja dikemas agar orang-orang tidak merasa iba. Jalanan yang kusut, dan khayalan-khayalan manis menjadi satu-satunya jalan pintas untuk menghibur hati dari kenyataan yang tak pernah habis-habisnya menyayat diri.

    Riak-riak air dan kerikil yang jatuh di atas bukit masih bisa aku dengar dengan sangat jelas. Suara-suara tangisan bayi yang kini menjadi mainan baru teman-teman sebayaku, mengingatkanku akan waktu yang terus melaju tanpa pernah bisa untuk menunggu.

Kamar-kamar kosong itu, tempat di mana dulu kita berdesak-desakan setiap malam, kini lengang oleh kata-kata kiasan dan debu rindu. 
Kakak! 
Adik!
Dan semua anak-anak itu, kini telah dengan sukarela menjelma menjadi “Ibu”.

    Sedang aku? Aku tertinggal jauh dari gerakan roda para pemimpi. Aku telah melintasi bukit, menaklukan angin, dan meneduhkan panas mentari, namun saat aku kembali, tidak ada satu orang pun di sana. Mereka telah pergi dan aku tidak bisa kemana-mana.

    Aku tertegun, memegang kalender yang aku kira masih berjalan, namun ternyata telah berlalu. Ini adalah kalender belasan tahun yang lalu dan aku masih terjebak di dalamnya.
Jari-jari tanganku bergetar, jantungku berdegup dengan cepat. Aku terdampar di lorong ini!

    Aku hanya bisa menuliskannya. Gaduh yang bersuara dalam hati. Tangisan yang terjebak di koridor waktu dan sunyi yang seringkali memperlihatkan kehampaannya pada langit. 
Dan kini cermin bahkan dapat berterus terang kepada laba-laba yang masih bertengger di sarangnya. Dia mengatakan bahwa penyangga di dinding itu telah retak, dan sebentar lagi dia akan pecah.

    Ada bagian dari waktu yang tidak pernah bisa aku sentuh. Aku hanya mampu melihatnya dari jauh dan menghidupkannya dalam lorong-lorong khayalan, tanpa ada satu pun pemain yang aku kenal di dalamnya. Aku adalah penikmat imajinasi yang tertidur pulas diantara lalu lalang orang-orang yang kerap berterus terang akan hati dan puisi. Aku adalah seekor kupu-kupu yang tertinggal dari kawanannya yang kini telah terbang tinggi. Aku masih saja bergelut dengan daun, rumput dan embun pagi, sedang mereka telah menembus batas awan dan melukiskan betapa indahnya pelangi.

    Aku masih di sini, diantara sekumpulan ulat yang baru saja memiliki sayap. Mereka berbicara dengan bahasa yang tidak mampu aku mengerti. Mereka terbang dengan sayap warna-warni yang tidak aku miliki. Dan kini aku menjadi asing di tempat kelahiranku sendiri. Aku tak kuasa menghijau lagi bersama rumput, atau bermekaran bersama bunga-bunga di musim semi. Aku tak mengenali semua yang aku lihat kali ini!

Monday, February 24, 2020

Nonton Anime "CITRUS"


    Kemarin, saat seharian sibuk karena mengadakan table talk di Ngopdul dan malam harinya mengantar tante aku ke dokter, menjelang tidur aku marathon nonton anime Jepang. Well, semuanya tanpa rencana memang, karena mulanya aku tidak sengaja nonton Citrus episode satu di Youtube dan ternyata lumayan seru, nah esok harinya setelah mengadakan acara, aku jadi ingin nonton Citrus Full Episode Sub Indonesianya dan setelah menemukannya di https://otakudesu.org/anime/chitrus-subtitle-indonesia/, maka aku menyelesaikan menonton anime itu hingga episode 12. Alhasil aku tidur pada pukul setengah dua dini hari. Anime ini memang tidak bisa diterima oleh semua kalangan, tapi kalau untuk sekedar hiburan, apa salahnya? Karena akan ada selalu pelajaran yang bisa kita ambil dari apa yang telah kita tonton, itu pun tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Bagiku, segala sesuatu memang selalu memiliki nilai, jika kita bisa menyimpulkannya dengan pikiran positif. Jadi, aku tidak pernah idealis dalam memilah tontonan, selama apa yang aku tonton tidak menimbulkan efek yang negatif. Oke, mari sekarang kita membahas tentang anime Citrus yang membuat aku ingat terus dua karakternya yang sangat bertolak belakang, yaitu Aihara Yuzu dan Aihara Mei.

    Kisah ini bermula ketika Yuzu harus pindah sekolah, karena ibunya telah menikah lagi. Tanpa diduga, sekolah baru Yuzu adalah sekolah khusus wanita dan peraturan di sekolah itu sangat ketat. Yuzu yang tidak terbiasa dengan aturan, mulai bermasalah ketika ketua Osis yang bernama Aihara Mei memeriksanya ketika hendak memasuki sekolahnya. Adegan Mei yang tengah mencari handphone ini mulanya aku kira sebagai adegan mesum, karena Mei seperti tengah memeluk Yuzu dan meremas pantatnya.haha, dan hal itu juga yang membuat Yuzu kaget, sehingga wajahnya memerah, namun siapa sangka, yang dilakukan Mei hanyalah untuk mencari handphone yang ada di saku jaket milik Yuzu, dan setelah handphonenya ditemukan, maka Mei menyitanya dan berlalu begitu saja dari hadapan Yuzu.
Ini adalah adegan terpenting menurutku yang kemudian mengubah orientasi seksual seorang Yuzu. Oke, sebetulnya yang ingin aku bahas di sini adalah bukan penghakiman tentang orientasi seksual atau beberapa adegan yang vulgar, namun yang membuatku tertarik adalah beberapa kondisi psikologis manusia ketika pertama kali mendapat sentuhan, hingga kemudian jatuh cinta, itu merupakan hal yang luar biasa yang bisa mengubah kehidupan seseorang.

    Mulai saat itu (setelah Mei merazia handphone Yuzu), Yuzu marah terhadap Mei, namun dia juga mulai memikirkan Mei. Dia seperti merasakan sesuatu yang membuat pipinya memerah ketika mengingatnya. Dan ia kembali terkejut ketika pulang ke rumah dan mengetahui bahwa saudara tiri barunya adalah Mei yang merupakan cucu dari kepala sekolah di sekolah baru Yuzu. Ayah tiri Yuzu adalah orang kaya yang memiliki sekolah itu. Perasaan Yuzu menjadi campur aduk, terlebih dia harus sekamar dengan Mei, padahal sikap Mei terlihat biasa-biasa saja dan malah sangat dingin.

    Esok harinya, Yuzu memergoki Mei tengah dicium oleh wali kelasnya yang ternyata adalah tunangan Mei. Yuzu kaget dan berlari dari hadapan mereka. Mei yang melihatnya tidak ada reaksi apapun. Namun, ketika mereka berdua sudah ada di rumah, Yuzu membahas tentang kejadian Mei dicium oleh wali kelasnya dan Yuzu juga mengatakan bahwa wali kelasnya hanya memanfaatkan Mei dan kakeknya untuk mendapatkan jabatan di sekolah itu (Yuzu mengetahui hal ini ketika tanpa sengaja dia mendengar wali kelasnya berbicara dengan wanita lain di balik telepon). Reaksi Mei seperti biasa, datar, dingin, namun wajahnya menyiratkan kesedihan mendalam.

    “Aku tahu!”

Hanya itu yang diucapkan oleh Mei yang membuat Yuzu semakin tidak mengerti dengan Mei.  Tapi, Mei kemudian mendekati Yuzu, lalu mencium bibirnya. Yuzu benar-benar terkejut, wajahnya memerah dan dia semakin merasakan perasaan aneh terhadap Mei yang baru pertama kali dia rasakan. Sedangkan Mei? Dia terlihat biasa saja, dan tidak menunjukan reaksi yang berlebihan. 
Selain terkejut, di sisi lain, Yuzu juga sangat marah dalam hatinya terhadap Mei, karena Mei telah merenggut ciuman pertama yang selama ini Yuzu damba-dambakan akan sangat romantis dengan seorang pria.

    Dari sini, kita bisa melihat dahsyatnya sentuhan pertama, walaupun itu hanya sebatas ciuman, tapi efeknya untuk jangka panjang. Lihat saja sikap Yuzu setelah dicium oleh Mei, dia tidak bisa berhenti memikirkan Mei, jantungnya berdebar-debar ketika di dekat Mei, dan Yuzu juga ketagihan untuk dicium oleh Mei.

    Oya, untuk sekedar diketahui bahwa karakter Yuzu dan Mei sangat bertolak belakang. Yuzu adalah perempuan yang fashionable, suka dandan, girly, supel, tingkat percaya dirinya tinggi, serampangan, tidak menyukai hidup yang membosankan, tapi dia adalah sosok yang setia kawan, sangat memikirkan perasaan orang lain dan rela berkorban, maka dalam serial anime nya, Yuzu selalu full color. Berbeda dengan Yuzu, Mei adalah sosok yang pendiam, monoton, taat pada peraturan, smart, cool, tapi dia juga sosok yang berani, tegas, namun banyak menyembunyikan segala hal, termasuk perasaan, kesedihan dan dia selalu mengalah dalam beberapa situasi tanpa bisa mengutarakan apa yang dia inginkan sebenarnya. Mei juga adalah sosok yang rela berkorban dalam sisi diam dan misteriusnya.

    Dari perbedaan inilah, Mei dan Yuzu bak dua kutub magnet yang berlawanan namun kemudian menjadi sebuah ketertarikan. Mereka seolah mengisi kekosongan masing-masing, meskipun yang sangat ditegaskan dalam serial ini adalah bahwa sebuah hubungan terjadi bukan untuk saling mengisi kekosongan, tapi sosok Mei dan Yuzu seakan memberitahu kita bahwa mereka mendapatkan apa yang selama ini tidak ada dalam diri mereka.

    Bagi pembaca yang penasaran dengan serial ini, aku sarankan untuk menontonnya terlebih dahulu, karena di sini aku tidak akun menceritakan sinopsisnya, atau bahkan full episodenya karena kepanjangan.

    Yuzu dan Mei telah melewati batas norma, entah itu sebagai sesama perempuan, bahkan sebagai saudara tiri dalam lingkungan keluarga barunya. Pengalaman ciuman pertama Yuzu, pengalaman Mei mendapatkan anggota keluarga baru yang sangat perhatian, intensitas pertemuan mereka di sekolah dan di rumah, membuat Yuzu dan Mei kemudian jatuh cinta satu sama lain, meskipun beberapa masalah datang, entah itu dari orang-orang yang menyukai Mei, atau dari orang-orang yang menyukai Yuzu, tapi mereka tidak merubah haluan perasaannya. Mei dan Yuzu kemudian bisa mengungkapkan apa yang selama ini mereka sembunyikan, bahwa mereka saling mencintai.

    Jujur, aku suka alur ceritanya. Aku bahkan menunggu kelanjutan dari anime ini. Aku suka dengan karakter Yuzu yang penuh dengan warna dan terlihat sangat menikmati hidup, karena selama ini mungkin aku lebih mirip dengan sosok Mei yang monoton, cool, kesepian dan banyak menyembunyikan perasaan, sehingga ketika melihat karakter Yuzu, aku seperti melihat sebuah kehidupan yang sempurna dan penuh kebahagiaan. Yuzu bisa menjadi dirinya sendiri tanpa beban. Dia penuh dengan rasa percaya diri, bisa tertawa dengan lepas dan dia sangat polos, namun memiliki pendirian yang kuat. Aku suka dengan sosok Yuzu, karena sepertinya aku tidak bisa hidup seperti itu. Hidupku cenderung membosankan seperti Mei, memendam banyak perasaan, beban masalalu dan aku melihat hidup seakan penuh dengan kesedihan, seperti binar-binar airmata yang sering terlihat dimata Mei, maka seperti itulah aku.

    Apapun itu, anime ini sangat menghibur bagiku, di tengah-tengah aktivitas yang padat dan membosankan. Jadi bagi pembaca yang sedang penat, kesepian dan ingin sedikit melihat tontonan yang berbeda, maka Citrus bisa jadi pilihan.
   
    Relationship arent’t Games! Don’t think of them in such cheap concepts as winning and losing (Hubungan bukan Game! Jangan menganggap mereka dalam konsep murahan seperti menang dan kalah).
-Yuzu lecturing Matsuri, in Chapter 12




Wednesday, February 12, 2020

SETIA



Menyeduh kembali waktu. Februari, hujan dan sisa gerimis yang tertinggal di atas payung kerinduan. Aku masih duduk memandangi malam yang basah. Malam tanpa judul-judul puisi yang membuncah di atas palung kenangan.

Aku adalah pengingat. Perekam jejak dari beberapa pasang kaki yang kerap berteriak tentang jarak. Andai saja aku bisa mendalami hujan dan mengerti tentang keruhnya perasaan, mungkin aku tak akan mengulang-ngulang kenangan yang telah dengan sukarela duduk di atas pelaminan. 

Mereka memadu kasih di atas langit. Mengulum kebahagiaan diantara lentera-lentera yang terluka oleh lara. Dan aku kerap menengadah ke atas langit untuk melihat awan menjatuhkan ceritanya tentang rasa sakit.

Aku memeluk petir, menikmati melodi dari batas-batas kidung yang kini terhenti oleh mendung. Kenapa Februari menyakitiku dengan pedang sepi? Menghadiahiku album yang tak bisa sekalipun memberi senyum.

Waktu memaksaku berhenti! Dan angin menghempaskan setia pada bilik sunyi yang tak pernah mereka tengok sekali lagi. Tapi, aku masih saja menunggu di depan gelas-gelas bertinta emas. Memainkan ranting-ranting kering yang dulu melingkar diantara jemarinya yang bening. Aku merindukannya.

Aku melihat mereka setiap hari, pada lirih yang bertepuk tangan di atas rangkaian upacara adat. Bajunya, wanginya dan kembang-kembang melati yang kerap menandakan bahwa dirinya kini telah dimiliki. Aku melihat sepasang pengantin, berjalan diantara sunyi tempatku meratapi diri sendiri.

Dulu, aku dinamakannya harapan, buncahan yang dirapalkannya setiap malam. Aku adalah surat-surat yang dia simpan di dalam saku kenangan. Akulah lukisan yang mulai pudar oleh debu dan tinta-tinta para pendatang baru. Aku telah dilupakannya begitu saja, begitu mudah.

Pada tulisan-tulisan ini, aku tengah memperlihatkan rasa sakitku sendiri. Mengeja dengan terbata-bata huruf-huruf yang aku rangkai utuh sebagai tragedi. Menuangkan peluh yang tak pernah bisa dimengerti oleh sepasang hati yang tengah memadu kasih. Aku menikmatinya, mengenang hujan tanpa ada satupun sapaan hangat dari malam.

    November telah pergi dan kini aku menikmati jalanan basah di bulan Februari. Apa kabar hati? 
Aku masih saja patah hati..