Tuesday, March 31, 2020

KENARI


Memegang bulan di atas pundak langit, pada purnama yang tengah menggenapi cahayanya dalam ayunan mendung. Aku terbelalak, menimang apa yang telah dipinang oleh malam. Cahaya, silauan yang memancar di balik jendela kaca. Kenari, aku menjatuhkan namanya diantara bilik rahasia. Membuatnya berkicau pada dahan dan ranting-ranting tersembunyi di dalam gua. Hasrat umpama rindang dedaunan dan kicauan mesra burung-burung yang tengah berkelana.

Sayup-sayup menorehkan cerita pada jalanan tempat ilalang memadu rekah dengan daun-daun senja. Pada sebait kata-kata tempat angin memayungi langit berwarna jingga. Aku tengah mengagumi barisan awan yang berarak. Meneriaki sejumput harapan yang masih saja kalah oleh resah. Seperti senyap yang masih berdiri di atas palung rindu, aku pun beku.

Burung-burung masih saja berterbangan dengan leluasa. Mereka menjumpai rasa pada koridor yang bisa terlihat oleh setiap pasang mata yang memandangnya. Mereka memadu kasih pada bulan purnama yang bertandang di depan teras pagi. Menjemput setitik harapan yang dititipkan matahari di atas petala langit. Bahagia, seperti alur dongeng yang mengisahkan cerita manis sang putri raja. 

Kenari, hujan kali ini terdengar begitu sendu. Siluet gerimis tak bisa lagi bersalaman dengan damai yang tak pernah bisa dibeli dua kali. Di balik sangkar yang begitu sangar, kebebasan terpenjara lebih awal. Senja memisahkan harapan dari takdir yang telah ditulis Tuhan. Aku patuh, meski hatiku runtuh.

Kenari, ajari aku berkicau dengan lebih lembut. Ajari aku memahami tentang kerumunan rasa yang meronta-ronta di depan pagar rahasia. Ajari aku untuk mengerti, kenapa aku berbeda dengan panas matahari dan kenapa aku tak sama dengan terang bulan. Ajari aku untuk bisa duduk di tempat seharusnya aku bersemayam.

Hujan mengakhiri bulan Maret dengan pukulan begitu kejam. Mengelabui sakitnya dan merampas tenang yang mulai terbiasa menghilang dalam diam. Dan esok akan datang begitu saja, menelurkan makian atau tarian pertolongan. Seperti bahasa senja yang seringkali diutarakan dalam doa. Kenari, aku butuh harapan. Aku perlu tangan-tangan Tuhan. Aku terlalu kecil untuk bisa menaklukan rasa takutku menjemput bulan baru di atas jurang kematian. Aku butuh jawaban, keajaiban..

Thursday, March 19, 2020

TARIAN SENYAP



Tarian sepasang cincin kini mulai mengaduk-aduk rasa yang tengah mengamatinya di depan layar kaca. Ada yang masih mengintip diam-diam di balik senyap malam. Menelanjangi matanya dan mengingat kembali barisan percakapan yang masih terekam dalam kidung kerinduan.

Dia duduk di depan antrian para pencari jawaban. Menggerakan jari jemarinya di atas keyboard dengan mata tertuju ke depan layar komputer. Aku mengamatinya, pada jarak yang hanya dipisahkan oleh belaian udara.
Lalu ada yang berdegup tanpa persetujuan, jantung yang meronta di balik dada dan hati yang berbisik dengan hati-hati. Hari itu, sosoknya mengendap dalam lamunan, memecahkan sunyi dan mengantri tanpa permisi pada episode-episode cuplikan mimpi.

    Dan kemudian dia datang ke tempat di mana hatiku bersarang. Jantungku nyaris terbelah menjadi dua dan hampir saja kaca-kaca jendela pecah berhamburan. Aku terkesima! Aku tak menyangka langkahnya akan mengudara dan jatuh di depan kedua mata. 

    Sepanjang waktu, gugup mengalirkan keringat dingin, membuat lidah kelu dan menelurkan kekakuan. Untung saja sosok yang dia bawa menjejaki hari, mampu menenangkan sedikit rasa takutku menyembunyikan gejolak dan buncahan-buncahan hati.
Namanya, nomor handphonenya dan instansi tempat dia bekerja kemudian dia utarakan di atas kertas, dalam surat penawaran yang baru aku temukan beberapa hari di atas tumpukan berkas-berkas.

    Aku mendapatinya diantara degup jantung yang semakin tak berirama. Pada percapakan-percakapan biasa yang kaku dan baku, aku mengenalnya dalam gambaran yang masih buram. Hingga kemudian aku melihatnya dalam balutan penuh doa. Pesta yang kemudian aku tahu adalah akhir dari sebuah pencarian. Dia tampak begitu bahagia. Dan senyum pahit kembali menghampiriku dengan terpaksa. Merebut harapan dari tangan sang penyair yang hanya mampu merangkai kata-kata. 

Aku lalu membuka kembali kenangan dan mendapati betapa harapan teramat mahal untuk bisa aku beli. Dan ikatan yang baru saja aku mulai seringkali berakhir tanpa ada satupun kesempatan untuk bisa memiliki.  

Monday, March 9, 2020

KEDATANGAN HENING




    Kemarin badai datang di tengah gagap gempitanya bahagia. Wanita dengan hijab dan helm yang masih dipakai dikepalanya dengan tergesa-gesa memesan banyak sekali sepatu dan tas. Aku dan ibu sampai kewalahan menyiapkan pesanannya, menjawab pertanyaannya seputar harga dan juga tawar menawar dengan dalih dia akan menjadi reseller. Perasaan siapa yang tidak senang, ketika uang hampir terkuras oleh biaya rawat inap Rumah sakit Santosa, lalu tiba-tiba ada pembeli datang dan hendak membeli banyak sekali sepatu?
Ucapan subhanallah terus terucap dibibir ketika sepatu-sepatu itu dihitung dan dimasukan kedalam dus. Baru satu jam yang lalu sebelum pembeli datang, saudaraku yang bekerja di RS Santosa memberitahu harga obat yang harus dibeli nilainya jutaan dan aku langsung membayarnya karena obatnya harus diminum malam ini juga. Betapa kalutnya pikiran ketika setelah ini ada beberapa tahap proses penyembuhan yang harus dijalani, seperti operasi dan cuci darah, sedangkan BPJS tanteku baru selesai pada tanggal 20 Maret (karena diubah dari BPJS PT ke Mandiri dan sudah berhenti ketika keluar bekerja pada bulan Agustus 2019).

    Aku mengira kedatangan pembeli ini adalah sebuah keajaiban. Wajahku berseri-seri di tengah rasa lelahnya malam kemarin. Tapi, belum selesai sepatunya dimasukan ke dalam karung, pembeli tersebut meminta ijin membeli ayam goreng terlebih dahulu dan aku mengijinkannya karena letak tempat ayam gorengnya adalah di samping toko sepatuku. Tidak ada kecurigaan sedikitpun ketika dia masih belum kembali ke toko karena sebelumnya dia berkata bahwa akan makan ayam gorengnya di tempat dan dia juga hendak memindahkan motornya karena hujan.

    Satu jam kemudian, ketika ibu meminta uang untuk membeli ayam goreng, aku kaget karena dompetku tidak ada. Setelah isi tas dikeluarkan semua, ternyata hp Vivo lamaku juga tidak ada. Aku dan ibu panik, lalu kita mendatangi pedagang ayam goreng dan wanita tersebut tidak ada dan tidak pernah membeli ayam goreng.

    Setelah menutup toko, aku berangkat ke Polsek dan pulang sekitar pukul 00.00. BAP dijadwalkan hari rabu karena polisi khawatir aku kelelahan. 
Sepanjang jalan, aku menahan diri untuk tidak menangis. Aku bukan menangisi uang yang ada di dompet, tapi HP dan Flashdisk yang aku simpan di dalam dompet sungguh menyimpan banyak data penting, dan bukan hanya itu, di dalamnya banyak sekali foto-foto kenangan yang tidak pernah aku upload ke media sosial. Aku takut data-data tersebut disalah gunakan, karena di HP tersebut ada banyak data penting milik orang lain juga, tapi yang paling aku syukuri, ada beberapa data yang aku masukan ke dalam brankas file.

    Di tengah musibah ini, aku masih bisa bersyukur, karena dua HP ku (HP Vivo yang baru dan HP Outdoor) dan tempat kartu (KTP,STNK,NPWP,ATM,Kartu Kredit, Kartu Asuransi, dll) masih ada di dalam tas. Meskipun, sewaktu-waktu aku masih saja bersedih karena kehilangan banyak sekali moment berharga yang tersimpan di dalam HP yang aku abadikan sejak 2017. Moment di masalalu yang tidak mungkin bisa aku alami kembali. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Mau tidak mau, aku harus belajar ikhlas di dalam menerima kejadian ini. Aku sangat berterimakasih kepada keluarga dan teman-teman yang membantuku sejak malam kemarin. Semoga pencuri tersebut segera diberi hidayah dan kelimpahan rezeki agar dia bisa menghentikan kebiasaannya dalam mencuri dan mengubahnya dengan mencari rezeki yang halal. Aamiin.

Hening datang ketika lelah terlambat menyambut dengan berdiri..
Kesadaranku hilang, sampai malam berlari menjemput dini hari!
Jam delapan malam dan mimpi buruk baru saja dimulai!
Aku mengemas kepanikanku!
Dan dia bertepuk tangan dalam kemenangan!

Aku panik!!
Sekali lagi panik!!
Sebab apa yang dulu tersembunyi
Kini mulai bisa diendus pagi..

Foto pencurinya (Saat aku merekam video dan dia tidak sadar, lalu videonya aku screnshoot)





   

Friday, March 6, 2020

LEDAKAN KEAJAIBAN


    Di atas ranjang itu, tubuh-tubuh terbaring tak berdaya, wajahnya pucat, dengan jarum infus tertancap ditangannya. Ini hari ketiga aku berada di RS Santosa dengan sekelumit cerita di dalam kepala yang tidak habis-habisnya selesai begitu saja. Di depanku terbaring seorang ibu dengan semangat hidup yang luar biasa tinggi, ia sedang di kemoterapi. Ia sudah menang melawan rasa takutnya akan operasi, kemoterapi dan berbagai proses penyembuhan lainnya yang akan kau temui di setiap tempat dengan nama rumah sakit.

    Aku sudah terbiasa dengan “proses”, dengan perjuangan yang tak lelah aku jalani sejak masuk sekolah dasar. Dan aku tahu bagimana rasanya terasing dalam kebisingan harap dan gaduh yang seringkali mereka sembunyikan di balik layar. 
Sesaat aku melihat wajah-wajah bertopeng manis menampakkan kepalsuan itu. Tangan-tangan yang masih saja enggan untuk menggenggam dan hati yang juga kerap iri dengan sebuah pencapaian diri.

    Aku sedang bernostalgia dengan drama yang tahun lalu tertulis dalam diariku. Masa kecil yang kadang-kadang menjadi cuplikan dari lamunan pahit tempatku memintal rasa sakit. Runtutan tragedi yang masih saja mengendap dalam ingatan, namun aku lepaskan satu persatu dari rumah “perasaan”.

    Bukan aku yang kini terbaring di ranjang itu. Bukan aku yang kini tak berdaya menunggu  tetesan demi tetesan cairan infus yang masuk ke dalam tubuh. Bukan pula aku yang harus berdamai dengan rasa takut ketika mendengar kata “operasi” dan “cuci darah”.
Tapi, peranku kali ini hanyalah sebagai pejuang rupiah ketika kartu sakti bernama “BPJS” miliknya tak bisa mengulurkan tangan dan bersalaman dengan bagian administrasi rumah sakit. Ketika masa tunggu 14 hari menjadi terlalu lama untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Ketika kartu sakti itu hanya bisa mampir lagi setelah masa tunggu 14 hari, maka dengan ucapan “bissmillah”, maka aku berdiri di barisan paling pertama untuk menolongnya.

    Ada tatapan sinis dari beberapa pasang mata yang memelukku dengan sandiwara terhebat dan ucapan “terimakasih”. Ada pula doa-doa ikhlas yang diberikan dengan bingkisan syukur dan lukisan kebahagiaan. Semua bersatu menjadi melodi dengan not-not yang berbeda untuk  menghasilkan sebuah lagu. Aku menikmati setiap alunannya. Aku terharu dengan skenario hidup Sang Pemilik Kehidupan. Aku kembali mengenal-Nya lewat kejaiban-kejaiban yang dipertontonkan malam kepada rasa putus asa. Aku kembali melihat kasih sayang-Nya.

    Di tengah kekalutan pikir pada malam yang begitu sunyi, aku lalu mendapati pagi menghampiriku dengan sekelumit masalahnya yang harus segera dipecahkan. Aku menatap hening yang tergesa-gesa hendak merenggut nyawa. Aku melihat semuanya sebelum keajaiban datang memberikan segelas penawar hidup.

    Aku semakin mengerti tentang apa itu “kasih”. Aku menjadi paham, kenapa “yakin” bisa menyalakan cahaya pada malam yang gelap gulita. Aku tak ingin lagi membelakangi dan meninggalkan-Nya yang sampai detik ini merindukanku di ujung senja tanpa batas.
Aku pun kini merindu-Nya. Rindu yang tak pernah Dia sela karena “terlambat”. Rindu yang tak pernah Dia acuhkan karena pernah “berkhianat”.

    Aku ingin memeluk-Nya lagi di tengah ledakan-ledakan keajaiban. Aku ingin Dia merasakan debaran jantungku dan gagap gempitanya hati yang mendapati rahmat datang melimpah ruah. Aku ingin Dia melihat rasa syukur yang memenuhi isi kepalaku. Aku ingin Dia kembali berlari ketika aku datang kepada-Nya dengan berjalan. Aku ingin kerinduan ini menetap selamanya dalam perasaan. Aku ingin memberikan kado “terimakasih” dengan sujud-sujud malam yang tak sekedar gerakan penggali “pahala”. Aku ingin memberi pelukan rasa sayang dengan perut-perut kelaparan yang tak meminta imbalan syurga. Aku ingin memberikan rasa hormat dengan uluran-uluran tangan kepada dhuafa yang tidak bertopengkan “riya”. 
   
    Aku ingin memulai lagi semuanya, di atas sajadah yang dulu aku gadaikan di dalam istana kemaksiatan. Aku ingin memulainya kembali, sebelum malaikat-malaikat-Nya memaksaku pergi dari hingar bingar dunia malam. Aku ingin kembali dan belajar pelan-pelan untuk mengerti bagaimana cara “mencintai”.





Sunday, March 1, 2020

Perjalanan Menjemput Malam


    Ada yang menamakan dirinya senja, ketika malam baru saja mengatupkan kelopaknya di bawah nirwana. Langit memucat dan jam dinding berlarian mematuk hening. Tinggal satu putaran lagi, dan lembaran keajaiban akan melepaskan tudung kepalanya. Ada riak-riak cemas berkerumun di atas sajadah. Melafalkan rasa takut yang berkejaran di setiap titik sujud.

    Aku takjub memandang isi langit. Ada lembaran-lembaran noktah sejarah bercerita kepada sejumput rasa putus asa. Kisah ketika Ibrahim menolak bantuan Jibril tatkala dirinya hendak dibakar hidup-hidup. Kisah ketika Musa menengadah ke atas langit tatkala hamparan laut mulai menjumpai barisan umatnya yang tertindas.
Ada kobaran rasa yakin berpijar di dalam dada Ibrahim. Ada tekad menyala diantara kedua mata Musa. Mereka menghamba kepada Sang Pemilik Jagat Raya. Mereka berserah kepada Sang Maha Rahman dan Rahim. Mereka telah menang pada babak di mana seharusnya rasa takut menjajah diri.

    Berjalan bersama barisan para nabi, mataku lantas berkaca-kaca. Dzikirku hanya pemanis bibir yang dilantunkan berulang-ulang tanpa rasa yakin. Shalatku ibarat gerakan-gerakan tak bernyawa yang hanya mementingkan bilangan rakaat tanpa rasa taat. Muhasabah dan tangisan malamku hanyalah drama yang dimainkan ketika putus asa mencekik kelamnya lara.
Aku kehilangan “ruh” dimana aku biasa bermunajat penuh kepada-Nya. 
Lalu, dimanakah aku bisa menjumpai-Nya malam ini? Sedang batinku masih saja dipenuhi rasa takut kepada makhluk.

    Dimanakah iman aku letakkan saat ini? Apakah iman hanya aku sisipkan diantara kalimat syahadat yang entah kapan terakhir kali aku ucap? Apakah iman hanyalah identitas yang bisa dengan mudah mereka lihat hanya dengan membaca KTP? Apakah iman selemah itu? Atau justru akulah yang masih belum beriman?

    Ada banyak teka-teki di dalam isi kepalaku. Ada gaduh yang jelas-jelas menampakkan diri saat ini. Harus bagaimanakah aku berjalan lagi? Haruskah aku menelan jam dinding itu bulat-bulat? Agar waktu bisa berhenti tepat di atas jantungku yang telah letih berdegup dengan cepat. Dimanakah aku bisa mengunci hidup? Dan memetik rasa damaiku sendiri tanpa perlu meminjamnya.

    Bicaralah! Aku sedang tidak baik-baik saja. Rona-rona senja mulai luput dari hadapan mata dan malam akan segera menemuiku sesaat lagi. Aku takut menjemput pagi. Aku tidak mau memeluk fajar dan menyambut bulan baru diantara tekanan hidup.
Kenapa hati menjadi serapuh ini? Padahal masih ada sedikit sisa yakin yang aku endapkan di bawah terang bulan. 

    Mereka tak pernah tahu, ada benang kusut yang belum selesai aku rapikan untuk memintal baju. Mereka tak pernah tahu, ada jam-jam malam yang kerap kali mencekik rasa takutku untuk melihat esok hari dengan wajah berseri-seri. Mereka tak pernah tahu dan mungkin tak ingin tahu bahwa separuh nyawaku berada di bawah galian tanah.

    Tuhan, aku ingin Kau memelukku sekali lagi! Aku ingin Kau menceritakan tentang megahnya alam semesta dan rumitnya otak manusia! Aku ingin Kau meneriakiku dan berkata bahwa ubun-ubun setiap manusia berada ditangan-Mu! Aku ingin Kau menumbuhkan kembali rasa yakin itu dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja! 

    Tuhan, terimakasih! Terimakasih telah mengajariku cara menjemput malam dan berkenalan dengan pagi. 
Tuhan, beri aku keajaiban tanpa harus tersesat pada pertikaian waktu!
Beri aku kepastian tentang akhir dari gelisah dan resah!
Beri aku keberanian untuk merebut kembali harapan!
Beri aku kehidupan tanpa beban!
Beri aku kemenangan!
Kedamaian!
Kebahagiaan!