Sunday, December 24, 2017

SAMPAH



Selama ini aku mengira tak ada yang lebih busuk dibanding kotoran,  namun ternyata aku salah, karena ternyata sampah lebih busuk dari yang aku kira. Berbekal label “bekas” dan bisa didaur ulang,  membuatnya bisa dimiliki oleh siapapun yang membawanya.

Thursday, November 16, 2017

AMPAS KOPI


Menyeduh yang tak bisa diseduh lagi,
Seperti ampas kopi.
Seperti baunya yang masih melekat,
Seperti hitamnya yang tetap pekat.

Kadang-kadang hujan berjatuhan terbalik,  ke atas langit.
Membasahai apa yang sulit untuk dibasahi.
Menumbuhkan akar yang tak pernah tumbuh lagi.

Seperti seekor kupu-kupu yang termenung tadi malam,
Membasahi lagi dedak yang tertinggal di dalam gelas-gelas lama.
Bisakah diseduh lagi?

Kalau memang tak pernah bisa,  kenapa dedak mesti tertinggal di sana?
Menyisakan sesuatu yang lebih pekat daripada hitamnya.
Kenapa menatap dedak seperti menatap bayangan-bayangan yang kerap bergentayangan?

Banyak kata “kenapa” bergumul bersama ampas yang tak bisa lagi "menetas".
Seperti “sisa” yang masih saja menjadi “sisa”.

Kenapa? 

Sunday, November 5, 2017

GELAS-GELAS KOSONG




    Minumlah segelas air yang tak pernah kau tuangkan ke dalam gelas, lalu berteriaklah bahwa air itu kurang atau tidak enak sama sekali. Berteriaklah semaumu, tanpa pernah ingin kau ketahui darimana aku mendapatkan air itu, berapa lama aku mengisinya dan apa saja yang telah aku korbankan hanya demi mengisi gelas-gelas kosong yang kau kumpulkan di atas perutku yang sudah kelaparan sejak lama.

    Apa yang kau ketahui tentang kasih sayang? Tentang sebuah ikatan darah yang selayaknya saling membahagiakan?
Kau hanya akan berbicara tatkala gelas-gelas itu lupa aku isi atau isinya tak seperti yang kau mau, namun ketika semua gelas telah selesai aku penuhi, kau tak pernah berbicara sama sekali.

    Ikatan ini hanya sekedar “darah” yang sulit untuk dicuci. Bahkan sejauh apapun aku berlari, namamu tak luput untuk mengikuti.
Aku lelah seperti ini. Dibelai oleh caci maki dan dinina bobokan oleh tamparan-tamparan meremehkan.

    Lihat sedikit senyumku, coba rasakan! Bisakah sekali saja kau bersikap seperti lilin? Mengorbankan dirinya untuk menerangi orang lain? Bisakah??
Bisakah sekali saja kau tak mengeluarkan kata-kata berbisa dan menjatuhiku hukuman mati?
Bisakah kau melihatku seperti seorang bayi yang tak bisa apa-apa dan tak tau apa-apa sehingga tak perlu lagi kau teriaki?

    Aku berusaha menghidupkan damai dalam kobaran api ini, hanya saja kau tak pernah benar-benar ingin berdamai dengan kemarahan yang kau ciptakan sendiri. Dan seringkali aku menjadi sasaran dari peluru-pelurumu yang meluncur tanpa kendali.

    Jelaskan padaku bahwa kau bukanlah setan yang harus aku takuti sepanjang waktu! Jelaskan padaku seberapa besar kau menyayangiku dibalik kara-kata kasar itu?
Jelaskan!
Karena gelas-gelas itu mulai aku kosongkan kembali..
Aku pergi!

Wednesday, October 18, 2017

17



           
            Mereka berlari seperti singa-singa lapar. Mengaum tanpa mau mendengar sepatah katapun yang aku ucapkan. Beberapa pasang mata terlihat berpijar dan hendak membakarku hidup-hidup. Taring-taringnya yang runcing dan kuku-kuku yang tajam hendak mencengkram, mencabik-cabik dan mengoyak tulang-belulangku tanpa ampun.

            Dan pagi ini terasa begitu panjang, seperti layaknya seorang terdakwa yang tengah duduk dikursi hijau. Namun yang berbeda di sini adalah tidak adanya seorang pengacara yang membela ataupun hakim sebagai penengah, tapi yang ada hanyalah jajaran jaksa-jaksa penuntut yang merasa tuduhannya benar dan ingin segera memberikan hukuman seberat mungkin.

            Aku mengakui kesalahan itu, meskipun banyak sekali yang menghujam ke dalam dada, seperti tuduhan-tuduhan yang tak pernah aku lakukan, ataupun pernyataan-pernyataan dariku yang mereka sangkal habis-habisan.

            Dan pagi itu sungguh bersimbah darah. Aku tak berdaya berada diantara kawanan singa-singa lapar. Aku lalu pulang dengan sayatan-sayatan penuh luka, sementara mereka tengah bersorak sorai dalam pesta.

            Jalanan kini tak seindah biasanya. Tak ada tawanya yang biasa meredam kebisingan suara-suara yang tak pernah ingin aku dengar. Tak ada tangisnya yang biasa aku seka bersama dingin malam yang datang tiba-tiba. Tak ada candanya yang seringkali mengentikan badai luka.

            Aku merangkulnya dalam bahasa diam. Dalam kata-kata yang hanya serupa isak tangis dalam rindu yang terus terkikis. Kita terasing diantara mereka yang tak pernah tau apa yang telah kita sulam. Kenangan-kenangan manis dan cerita-cerita indah yang kita sampaikan pada langit, semua musnah dalam mulut-mulut singa yang menganga. Dan kau lalu berjalan bersama mereka, meninggalkanku sendiri dihutan belantara dengan sisa-sisa duka.

            Ada apa? Kenapa semua berjalan dengan sangat cepat? Waktu seakan tak memberiku kesempatan untuk bersiap-siap mengucapkan salam perpisahan atau memberiku sedikit jeda untuk merangkai beberapa tangkai bunga yang baru saja aku petik.

Bahagia lalu berserakan, seperti istana pasir yang dibangun ditepi pantai lalu dilanda ombak besar. Hancur, runtuh, dan tak ada puing-puing untuk bisa dikenang kemudian.

            Foto-fotomu kini menggenapi nyeriku. Seperti lilin yang baru saja dihidupkan di atas peti-peti mati. Aku berduka kali ini, sekali lagi.


Tuesday, September 26, 2017

Teh dan Kopi



Segelas teh hangat tanpa gula.
Dan jam-jam yang lupa untuk dilihat putarannya.
Teh mengusir dingin,  menelisik kesepian,  meminang bulir-bulir impian.
Seperti bayangan yang mengekor kemana kaki melangkah.
Segelas teh hangat tanpa gula. Tak ada aturan,  tak ada perdebatan.
Dia di sana,  memangku,  memeluk,  bertepuk tangan.
Aku suka caranya tersenyum.
Senyuman tatkala aku menyukai senja, lalu dia melukiskan kata-kata.
Seperti ketika aku ingin terbang,  lalu dia menyiapkan sayap.
Kita seiring, tiada geming.

Gelas kedua setelah teh adalah kopi.
Segelas kopi panas dan baunya yang menggugah.
Manis,  hangat, hitam pekat.
Penuh tanda tanya.
Nikmat,  namun dia menggertak.
Sakitnya melilit.
Dedaknya tertinggal.
Tak ada malam berjam-jam untuk terbang.
Tak ada sayap-sayap yang dia siapkan.
Aku menghadap mentari,  dia mengekor rembulan.
Gelasnya digenggaman,  namun tak beriringan.
Kopi..
Masih saja bersikeras dengan hitamnya.
Begitu saja.
Sudah..

Sunday, September 24, 2017

AMPLOP BIRU




    Sudah waktunya, sejak aku menyimpan amplop itu rapat-rapat pada ruang tersembunyi dilemari. Amplop biru berisikan kata “Maukah?” yang berakhir dengan tanda tanya. Dan pada dini hari tadi, amplop biru itu mendapatkan jawaban yang mengejutkan, sampai-sampai warna birunya kini berubah menjadi merah muda. “Ya” akhirnya keluar dari mulutnya setelah bertahun-tahun amplop itu kembali lagi dan lagi beserta jawaban “Tidak”.
***
Saat jingga tak bisa aku lihat lagi. Warnanya pudar, hangatnya berpendar. Ketika tak ada lagi kata “Jingga” pada senjaku yang menua.
Apa yang bisa aku katakan pada langit yang pernah bertanya tentang dia?
Apa yang bisa aku jawab pada dinding-dinding kamarku yang pernah mendengar namanya aku sebut dalam doa?
Tidak ada.
Karena yang ku tahu, tak ada lagi warna jingga yang memantul dalam mataku hari ini. Jingga yang tak pernah bisa pulang kembali seperti merpati.

    Mentari pernah meragukanku tatkala aku ingin terbang menuju langit biru. Mungkin dia melihat ada yang masih membekas dalam lara. Atau barangkali dia pernah mendengar gema dari seribu tanda tanya yang tak pernah bisa dia dibaca.
“Kau itu kelinci!!”
Itu yang seringkali aku dengar dari mulut mentari ketika aku hendak menemui pagi.
“Kelinci??”
Aku lalu merenungkan kata-kata yang keluar dari mulutnya dini hari tadi.
    “Tidak! Aku bukan kelinci..”
    “... Karena aku tidak sedang bermain kali ini dan aku juga tidak sedang memilih. Aku hanya sedang menemui sebagian dari diriku yang ada dalam dirinya yang tak pernah aku temukan pada diri-diri sebelum ini.
Ya, aku memang tidak bisa dikatakan merpati, karena sebelumnya aku senang untuk singgah pada beberapa hati. Hanya saja, tak semua yang aku singgahi itu memiliki apa ya aku sebut “sebagian dalam diriku”. Dan aku melihatnya seperti aku melihat diriku sendiri.”
***
   
Buka amplopnya!
Lihat, tak ada apa-apa di sana!
Kosong..

Seperti ruang gelap tanpa sekat
Aku bisa bebas berlari

Seperti lilin tanpa api,
Utuh..

Baca amplop itu, “BIRU”!
Tapi putih..

Tandai ruangmu, rasakan hangatnya!
Kosong, bebas, utuh, putih.

Aku baru saja memulainya!
Sekarang!
Saat ini!



Bandung, 24 September 2017
Dini hari


Saturday, September 16, 2017

TANAH MERAH BASAH



Dia yang terbaring di sana pernah tahu, bagaimana cara udara menguap melalui rasa. Melalui batas yang tak pernah ada permulaan, kapan dan dimana pertama kali kita bertegur sapa.
Bahkan untuk sekedar mengetahui siapa dia, “rasa” justru hadir lebih dulu untuk memulai perkenalan itu.
Maka dari sanalah, pencarian dimulai, untuk mencari tahu tentang siapa dia..

Waktu bukan batasan, bukan pula alasan untuk mengatakan bahwa “sesuatu” menjadi tumbuh karenannya. 
Pun tentang pertemuan yang seringkali orang sebut sebagai jembatan keterhubungan.
Ternyata tak selamanya begitu. Karena kadang-kadang, ada yang baru saja “dimulai” ketika orang-orang menganggapnya “usai”.
Persoalan ini hanyalah sebuah teka-teki tentang dimensi, ruang dan waktu yang sering orang anggap sebagai tanda tanya tak kasat mata.
Padahal, kalau saja mau, udara bahkan bisa membisikkan kata-kata paling romantis yang tak pernah kita dengar sebelumnya. Dan bunyi-bunyian bisa memberitahu jawaban dari pertanyaan yang sering kita gumamkan seorang diri di malam hari.

“Hilang”. Kadang orang-orang dengan cepat mengatakan bahwa sesuatu telah hilang, ketika dia tidak bisa kita lihat lagi, ketika suaranya tak bisa terdengar lagi dan ketika kita tidak bisa benar-benar bercengkrama seperti biasanya.
Padahal ternyata, yang kita anggap hilang tidaklah benar-benar hilang. Itu hanya seperti air yang tengah berubah wujud, kadang menguap, membeku, bahkan mengembun.
Tak ada yang benar-benar hilang, selain “ujud” dan “rasa” yang mungkin kita anggap tak sama lagi. Seperti ketika kita memeluk sebatang kayu atau memeluk udara yang berhembus. Itu hanyalah sebuah pelukan pada sesuatu yang “padat” atau “hampa”, namun tak akan ada perbedaan ketika kita memeluknya pada bayangan tak kasat mata.  Pada getaran-getaran yang pernah membuncah dalam dada. Pada letupan-letupan dan pada hasrat dimana semua partikel itu pernah terasa saling berdekatan.

Dan pada sesuatu yang hilang, kita baru saja memulai. Tanah merah basah, tangisan yang menjadi-jadi, sekuntum bunga mawar dan ribuan lilin yang menyala bersama doa. Semua seakan menjadi barisan bersenjata di mana “rasa” itu dikawal bersama-sama.

Dan pada dimensi itu, tak ada yang bisa berseteru dengan waktu. Tak ada pula yang mampu besitegang mengatasnamakan “pemilik” utuh dari “tubuh”. 
Tak ada airmata, tak ada rasa sakit dan tak ada pertengkaran, karena yang ada hanyalah kata“hilang” yang mereka sebut sebagai kenang-kenangan.

Hilang sebagai akhir dimana keadilan berdiri sebagai pemenang. Keadilan yang tak meminang dia yang kuat atau dia yang gemulai.
Selesai.

Friday, August 18, 2017

Mama, Dalam Suratku Berjudul “Malu”



Mama, mengapa aku berbeda?Mengapa aku tidak sama seperti Ani? Mengapa Aku tidak bisa seperti Budi?Mengapa aku begini?
Mama, aku ingin memetik sekuntum mawar dipagi hari, seperti Budi.
Bolehkah, ma?
Mama, kenapa kau diam saja?Kenapa kau hanya menangis?

Ma, malam ini langit begitu kelabu. Bukan karena sang rembulan enggan untuk muncul, namun karena cahaya tengah mengasingkan diri dari persemayamannya. Bersembunyi diam-diam dari keramaian dan belajar pelan-pelan untuk bisa menjadi matahari.
Kadang-kadang, ditempat persembunyiannya, seseorang bisa belajar mengenal dirinya sendiri. Berjalan santai tanpa ada lagi topeng dan sandiwara yang kerap kali dimainkan agar orang-orang bisa tertawa dengan senang.

Ma, haruskah aku seperti cahaya? Bahagia ditempat gelapku dengan menjadi sesuatu yang lain dimatamu?
Haruskah aku menghentikan detak jantungku sendiri dan memutus aliran darah yang menyatu dalam darahmu, agar supaya kau terlihat bahagia dan tertawa lepas di atas kepura-puraanku sebagai manusia?

Ma, tatap aku! Hapus airmtamu..
Kadang-kadang ada hal yang tidak bisa aku pilih, seperti ketika aku harus memilih pakaian ditoko baju.
Kadang-kadang, ada begitu banyak pertanyaan yang aku ajukan kepada Tuhan, yang tidak pernah kau ketahui..
Kadang-kadang semua terasa menghimpit dada, seperti ketika banyak sekali kupu-kupu berdesakkan, namun sulit untuk dikeluarkan.
Seperti ketika banyak yang ingin diceritakan, namun tak ada satupun yang mau mendengar.
Seperti pagi tadi, ketika Ani menjadi lain dari biasanya, sedang Budi tak mau berkata apa-apa..

Ma, Aku tengah tersesat disebuah perbatasan..
Diantara aku yang hitam dan aku yang putih.
Diantara aku yang sebenarnya dan aku yang hanya berpura-pura.
Kau ingin mengenalku sebagai apa, Ma?
Aku bisa jadi apa saja, siapa saja! Seperti maumu..
Tapi, sampai kapan?
Bukankah selalu ada “klimaks” dalam setiap pertarungan yang sedang berlangsung?
Bukankah selalu ada “akhir” untuk segala sesuatu yang pernah dimulai?
Dan inilah saatnya..
Saat dimana kau harus tau, siapa aku yang sebenarnya..

Ma, terimakasih untuk tidak berpaling, untuk tetap tinggal ketika orang-orang dengan mudahnya berlari pergi.
Meninggalkan.. ketakutan..
Terimakasih untuk “maaf” tanpa batas yang seringkali aku terabas.
Terimakasih untuk pagi yang seringkali kau berikan “nafas” agar aku terbang bebas.

Terimakasih ma, terimakasih untuk cinta yang sering kali kau panjatkan dalam doa.

Kini, aku mengerti tentang apa yang tak bisa aku pahami..
Kini, aku paham tentang apa yang tak bisa aku genggam..

Tentang kasih yang tak selamanya putih bersih..
Tentang dosa yang tak selamanya terasa menyiksa..

Ma, jangan lagi samakan aku dengan Ani!
Jangan samakan pula dengan Budi!
Karena aku bukan Ani ataupun Budi, yang ber rok mini atau berdasi!

Aku adalah siluet yang seringkali mengikuti kemana hati akan pergi..
Bergerak memutar hingga sampai pada satu titik, dimana tidak ada lagi sebuah gerakan.
Maka, di sanalah aku tinggal!

Tak ada nama atau istilah yang bisa menamaiku dengan tepat.
Seperti ketika setiap pasang mata tak bisa menceritakan bagaimana wujud angin.

Atau seperti ketika seorang anak kebingungan ketika harus menggambarkan apa itu “bau”..

Ma, peluk aku sekali lagi!
Jadikan langit bersimpuh ke dalam laut dan lautan  bersorak sorai memanjat gunung.
Aku ingin berpesta dalam diriku!
Sembunyikan aku!
Dalam sayap-sayap malaikatmu yang berbulu..
Aku malu!

Friday, July 28, 2017

RESONANSI WARNA





  1. MOTIVASI

Kita adalah yin dan yang
Kesatuan yang bergerak memutar
Jiwa yang tidak benar-benar putih
Juga tidak benar-benar hitam..
   
    Sebuah sajak tentang Yin dan Yang terus saya baca berulang-ulang, dihayati dalam hening dengan mata terpejam, dalam diam.
Kadang-kadang diam adalah cara terbaik untuk bisa mengenali konflik dalam diri. Untuk mengenali penghakiman yang tengah terjadi pada diri sendiri. Untuk mengenali di titik mana kita harus mulai bangkit, berlari pergi, dan mengejar mimpi.

Dalam situasi hati yang remang-remang itu, tiba-tiba saya melihat sebuah cahaya yang menyusup dengan begitu halus, seperti sebuah tangan yang menggapai-gapai dengan lembut dan menarik saya ke atas untuk bisa membuka mata dan melihat bahwa matahari akan segera terbit. Dia, Yuliana Sangkono (Pembicara “Sharing and Caring” Life Care di Hotel Vio).

“Hidup itu jangan seperti ANGIN, kita harus punya PRINSIP!”

Kalimat itu ibarat petir di siang bolong, membangunkan saya yang selama ini selalu berteriak-teriak tentang pentingnya antusiasme. Namun, ternyata antusias saja tidak cukup. Ya, dan saya sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ibu Yuli bahwa kita harus memiliki prinsip.  
Saya lalu flashback dan menemukan fakta bahwa selama ini diri saya nyaris seperti angin, berhembus kemana saja tanpa ada tujuan yang jelas, mudah goyah, gampang terbawa arus, tidak tegas dan bergerak tergantung mood, bukan menerapkan sebuah keteraturan.

    “Kunci sukses adalah pergi  ke luar rumah dan temui orang sebanyak-banyaknya. Tidak ada kerja keras tanpa hasil. Dan kerja keras akan terasa begitu indah ketika kita selalu bersemangat. Semangat itu paling penting dalam hidup. Jika kita sedang tidak bersemangat, maka kita harus mencari sosok mentor yang dapat membuat kita bersemangat kembali.”

Aktivitas, itu adalah kunci yang seringkali diberitahukan oleh para senior ketika ditanya bagaimana caranya untuk mendapatkan nasabah, dan ternyata itu pula yang dikatakan oleh ibu Yuli, meskipun ada hal menarik lainnya yang Ibu Yuli tambahkan untuk dapat sukses. Dia mengatakan bahwa semangat itu sangat penting, karena semangat bisa menggerakkan kaki kita untuk pergi ke luar rumah dan mulai beraktivitas. Dan kalimat “tidak ada kerja keras tanpa hasil” menyadarkan saya bahwa saya harus terus beraktivitas dan mencintai prosesnya, karena kita tidak pernah tau pada babak ke berapa kita akan dapat menuai hasil. Ibarat ketika kita tengah mengocok sebuah dadu, kita tidak bisa memastikan, angka berapa yang akan ke luar.

    “Hati, pikiran dan perkataan itu harus selaras, maka kita akan dapat mewujudakan sesuatu yang kita impikan selama ini.”
Yuliana Sangkono

***

  1. MAKSIMAL (Mengeluarkan ide-ide dan Mengatasi rasa malu)

Commonwealth Life bagi saya bukan hanya sebuah tempat yang menggerakkan saya untuk mencari nasabah dan mendapatkan komisi, tapi lebih dari itu,  Commonwealth Life adalah sekolah kehidupan yang menyadarkan saya bahwa masih banyak warna dalam hidup yang bisa saya gunakan untuk melukis sebuah impian, bukan hanya sekedar warna hitam dan putih.

25 years Anniversary (Celebrate The Colors of Life)

Ada sesuatu yang menggebu-gebu saat saya mendengar informasi untuk membuat video ucapan ulang tahun dari Pa Yudi, meskipun informasi tersebut begitu mendadak, namun saya tidak bisa tenang ketika ide-ide yang muncul tiba-tiba tidak bisa dilaksanakan. Bermula dari ide untuk gila-gilaan di pasar minggu yang begitu banyak orang, dengan konsep tertentu dan saya mengajak teman-teman saya, namun mereka ragu-ragu dan akhirnya menolak, hanya karena sebuah kata “MALU”.
Namun, saya tidak menyerah begitu saja. Saya akhirnya mengubah konsep awal dan membuat video yang sederhana, lalu setelah itu saya kirim ke grup. Selesai, dan saya merasa lega setelah ide-ide ke luar di kepala. Masalah malu, itu urusan kedua.

Malam harinya, saya masih kebingungan untuk mencari dresscode yang berwarna-warni, karena saya sadar, saya tidak menyukai baju-baju yang berwarna cerah. Akhirnya hari itu saya putuskan untuk tidak ke mana-mana. Hingga esok harinya, ide gila muncul tiba-tiba dan saya memakai semua property warna-warni yang saya miliki yang tidak pernah dipakai selama ini. Selesai, lagi-lagi rasanya lega dan masalah malu, itu urusan kedua.


    “Kita hanya perlu membayangkan bahwa semua orang yang hadir itu sama. Sama rupa, sama starata, sama-sama menyukai kita, hingga akhirnya rasa percaya diri muncul dan mengikis sedikit demi sedikit rasa malu yang selama ini kita pelihara.”
   
Dan benar saja, hari itu saya bisa mengalahkan rasa malu. Saya juga bisa membuktikan bahwa tidak ada orang yang memiliki kepribadain introvert mutlak 100%, karena kuncinya terletak pada mau atau tidaknya kita berubah. Tidak lebih.

Dan hal kedua yang saya dapat dihari itu adalah memang benar bahwa “Tidak ada kerja keras tanpa hasil”. Saya akhirnya mendapatkan hadiah dari dari apa yang saya lakukan secara optimal. Dan diantara ketiga hadiah itu, ada sebuah buku yang begitu berharga, “Aktifkan Rasa Syukur – Profit, Sukses, Kebahagiaan Terus Mengejar Anda”.

    “… jangan mencemaskan hasil tindakan Anda - berikan saja perhatian pada tindakan itu sendiri. Hasilnya akan datang dengan sendirinya. Ini adalah praktik spiritual yang sangat berkuasa.”
Eckhart Tolle.
    “Kamu dilahirkan dengan sayap. Mengapa kamu lebih suka merangkak menjalani hidup?”
Rumi

  1. SHOW and Tell (Ibu Yani dan Bpk Fari)

Saya begitu tertarik dengan pelajaran di kelas FLC kali ini, bagaimana tidak, “Show and Tell” seperti sebuah ide baru untuk bisa melakukan persentasi dengan cara yang begitu unik. Sebuah keunikan di mana kita tidak harus menjelaskan sesuatu dengan cara yang begitu kaku, seperti ketika harus menjelaskan tentang company profile yang biasanya tidak begitu menarik perhatian calon nasabah dan sangat terdengar membosankan, namun kali ini cara menjelaskannya begitu berbeda dari cara-cara lama. Point-point penting dalam show and tell diantaranya adalah:

  1. Perlihatkan gambar
  2. Buka mindset pendengar
  3. Sentuh emosinya
  4. Buat pendengar berpikir
  5. Buat pertanyaan untuk pendengar (bukan pernyataan, agar tidak terlihat menggurui dan agar lebih komunikatif, serta mengetahui apa yang ada dipikiran pendengar).

Contoh show and tell yang saya lakukan di depan kelas adalah dengan memperlihatkan gambar dua orang anak dengan latar belakang yang berbeda, kaya dan miskin. Saya menamainya Andine dan Jessica.

Seperti sebuah puisi yang saya bacakan penuh emosi dan kesedihan, saya ceritakan kesedihan Andien yang tidak bisa hidup seperti Jessica. Ruangan kelas mendadak hening dan semua peserta seperti menghayati apa yang dirasakan oleh Andien, seorang anak yang tidak mampu mengenyam pendidikan dan kehidupan yang berkecukupan, layaknya Jessica.

Ini adalah cara baru yang membuat semangat saya untuk beraktivitas dan melakukan penjualan muncul kembali dan saya sudah tidak sabar untuk memulainya.

  1. TOUCH and FEEL

Saya tidak peduli siapa yang ada dihadapan saya, kaya atau miskin, memiliki pangkat atau tidak. Saya tidak peduli, karena saya ingin mencoba.

    Di depan seorang direktur utama yang memiliki karyawan lebih dari 800 orang dan seorang pensiunan kepolisian dengan pangkat tinggi, Saya menjelaskan kisah nyata tentang pasangan suami istri yang menghabiskan masa tuanya dengan sangat menyedihkan, padahal ketika mereka masih produktif, anak-anaknya rutin berkunjung dan terkadang tinggal bersama mereka, namun ketika usaha pasangan itu terhenti, dan pasangan suami istri tersebut mulai diserang penyakit, anak-anaknya tidak peduli dan tidak pernah mengunjungi mereka.

    “Penghayatan, intonasi, ekspresi wajah, jeda dan pemilihan kata-kata yang tepat ternyata mampu menyentuh emosi lawan bicara kita.”

    Touch and feel, sentuh dan rasakan. Tidak ada aturan baku bagaimana cara untuk bisa menyentuh emosi seseorang. Semua hanya tentang bagaimana cara paling nyaman bagi kita untuk bisa menjiwai segala sesuatu. Untuk membuat apa yang keluar dari mulut kita beresonansi dengan hati dan pikiran sehingga langsung bisa dirasakan oleh orang yang berada di hadapan kita.

    “Karma biasa mengundang saya menyaksikan pentasnya. Tapi kali ini saya ingin menutup mata. Biarkan suara orkestra menuntun saya pada cerita apa yang sedang bermain. Setiap not menyimpan tragedinya masing-masing. Kau siap?”
Lia Basrie

Baca kembali dua kalimat terakhir sajak di atas, garis bawahi, lalu hayati, maka kita akan tahu bahwa untuk menyentuh sesuatu, tidak hanya dibutuhkan kata-kata dan kalimat yang dikatakan tepat oleh logika, karena ternyata suara yang tanpa kata-kata, bahkan not-not yang tidak semua orang bisa membacanya, bisa memiliki suatu getaran yang mampu menggerakkan segala sesuatu yang berada disekelilingnya.

    “…Biarkan suara orkestra menuntun saya pada cerita apa yang sedang bermain. Setiap not menyimpan tragedinya masing-masing. Kau siap?”

***













   

Thursday, June 29, 2017

ANGKUH


Bersembunyi!
Ini bulan kedua di mana gelap melabuhkan sepi..

Kau tau,  ada yang tak pernah selesai dalam catatanku..
Dengan judul-judul tentang pantai dan laut biru..

Aku bersembunyi,
Seperti kaki-kaki yang lari dari ketakutan akan diri sendiri..

Sepertimu berjalan terbalik diantara pilar-pilar yang pernah mengasingkan kekosongan..
Dan kau tersesat dalam palung yang kau tancapkan sebagai batas..

Angkuh!!
Maumu menjentikkan jari lalu semua menjadi runtuh..

Kau bukan Tuhan..
Dan aku bukan kutukan! 


USAI


Memilih mendengar pada titik ini dan membiarkan mereka menilai pada sudut pandang lain..

Dan monster-monster baru lalu lahir sebagai jelmaan "Aku" dari sudut pandang penilaian mereka kini..

Airmata lantas berkeliaran,  berkelana..
Dan langit menjadi abu-abu..
Haru..

Biar saja aku terbaring ibarat mayat-mayat di kuburan,
Sepi, sunyi dari riuh ricuh keramaian..

Dan Mereka masih bercakap-cakap,  tentang "Aku" yang telah mereka buang..

Bosan!
Aku tak bisa lagi mereka hidupkan..
Bahkan melalui cerita-cerita manis tentang hangatnya pelukan dan kegembiraan..

Aku telah mati,  bahkan di saat nafas masih enggan untuk beranjak pergi..

Mereka menamaiku "bangkai"..
Yang seharusnya dikubur,  lalu selesai!

Usai..

Wednesday, June 28, 2017

Hujan



Kadang-kadang hujan lupa bahwa ia pernah ingin menjadi angin..
Menjadi sesuatu yang mampu bergerak tanpa harus terlihat seperti apa wujudnya..

Kadang-kadang hujan malu untuk datang menyapa,  karena ia takut akan membuat orang lain menjadi basah dan kedinginan..

Hujan tau,  saat ini ia hanya mampu berucap dari jauh dan bergerak pelan-pelan,  karena kadang-kadang ia sadar bahwa ia sedang tidak diharapkan untuk datang..

Sebab apa yang dibawa oleh hujan tak lebih berarti dari kemarau yang
mengibarkan bendera harapan..

Aku hujan,  yang tengah menyalakan lilin di bawah rintik-rintik rindu dan kesedihan..

Mencoba menangkap siluetmu yang dulu riang dan kini hilang..

Kau mungkin sangat marah,  karena aku membasahimu tatkala kau ingin terbang lebih tinggi..

Kau lalu jatuh..
Dan aku tak bisa berbuat apa-apa..

Kau lalu membenciku,  tatkala aku tengah menggapai-gapai awan untuk bisa merengkuhmu..

Aku hujan,  yang kini semakin basah karena merasa bersalah..

Aku hujan,  yang pernah berulah dan salah..

Aku hujan,  yang kini berharap menjadi angin..

Agar kau segera mengering dan  terbang di atas langit..

Aku hujan,  yang merindui masa-masa perkenalanku dengan masalalu..

Kamu..

(Puisi ini khusus untuk sahabatku yang hari ini ulang tahun. Maaf aku lupa,  dan aku juga minta maaf untuk semua kesalahan, sehingga membuat kamu marah dan kecewa)