Seringkali waktu bergelung pada awan
Membekukan wajah pucat yang nyinyir
Dan berteriaklah angin panji-panji
Pada gumpalan arus nyawa yang terhujat
Mengerutkan embun di lepas pantai sekarat
Dan rembulan terhunus parang penyempitan
Penyempitan lingkaran norma dan logika
Yang berbaris di ujung pusat pusara
Pada riang panah prajurit yang mengempis
Prajurit akherat yang mencambuk ujung pecut
Dan wanita lugu terlunta dilorong samudera
Terbelenggu rantai sutera bermahkota
Sedang jiwanya tercabik taring-taring serigala
Yang berjalan pada tarian detik
Hingga sihiran airmata mengubah panorama
Bergaung, mengutuk makian hina
Dari dukun manusia intelek
Dari serbuan serdadu tanpa pangkat
Dari lolongan sahabat dilepas kota malam
Dari setiap elemen bumi yang berdzikir
Semua bersatu menghunus wanita tak berbaju
Wanita bertelanjang tanpa jubah kebaikan
Yang batinnya tengah berperang dan menyerang
Yang nafasnya tengah berburu ketenangan
Dia bersekutu pada terang ilmu Tuhan
Dia berpeluru sendu pada untaian baris Al-Qur'an
Lalu, masihkah hidupnya terkucil kalimat kerdil??
Yang terlontar dipengadilan tanpa hakim
Terludahi cibiran basi sekeras besi
Hingga terisak di lautan kering bergerigi
Melemah dihamparan tombak yang runcing
Berusaha kuat memeluk takbir-takbir akhir
Yang seakan berlari menepi
Menjauh dari potret bernoda yang sengsara
Penuh dosa....
No comments:
Post a Comment