Friday, December 30, 2011

Sajak Penghibur

Seringkali waktu bergelung pada awan

Membekukan wajah pucat yang nyinyir

Dan berteriaklah angin panji-panji

Pada gumpalan arus nyawa yang terhujat

Mengerutkan embun di lepas pantai sekarat

Dan rembulan terhunus parang penyempitan

Penyempitan lingkaran norma dan logika

Yang berbaris di ujung pusat pusara

Pada riang panah prajurit yang mengempis

Prajurit akherat yang mencambuk ujung pecut

Dan wanita lugu terlunta dilorong samudera

Terbelenggu rantai sutera bermahkota

Sedang jiwanya tercabik taring-taring serigala

Yang berjalan pada tarian detik

Hingga sihiran airmata mengubah panorama

Bergaung, mengutuk makian hina

Dari dukun manusia intelek

Dari serbuan serdadu tanpa pangkat

Dari lolongan sahabat dilepas kota malam

Dari setiap elemen bumi yang berdzikir

Semua bersatu menghunus wanita tak berbaju

Wanita bertelanjang tanpa jubah kebaikan

Yang batinnya tengah berperang dan menyerang

Yang nafasnya tengah berburu ketenangan

Dia bersekutu pada terang ilmu Tuhan

Dia berpeluru sendu pada untaian baris Al-Qur'an

Lalu, masihkah hidupnya terkucil kalimat kerdil??

Yang terlontar dipengadilan tanpa hakim

Terludahi cibiran basi sekeras besi

Hingga terisak di lautan kering bergerigi

Melemah dihamparan tombak yang runcing

Berusaha kuat memeluk takbir-takbir akhir

Yang seakan berlari menepi

Menjauh dari potret bernoda yang sengsara

Penuh dosa....

No comments:

Post a Comment